Anda di halaman 1dari 60

Case Report Session

Tumor Orofaring
Nugra Daary R G 1840312246
Restu Evanila Putri 1840312286

Preseptor :
dr. Sukri Rahman,Sp THT-KL (K) FICS

BAGIAN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG


TENGGOROK BEDAH KEPADA DAN LEHER (THT-KL)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M DJAMIL PADANG
2018
PENDAHULUAN
Latar Belakang
• Tumor orofaring adalah suatu
pertumbuhan jaringan abnormal yang
terjadi pada daerah orofaring

• Orofaring: daerah bibir, 2/3 lidah


anterior, mukosa bukal, dasar mulut,
ginggiva atas dan bawah, trigonum
retromolar, palatum durum, dan palatum
molle
Latar Belakang
Insidensi tumor orofaring:
 Di dunia belum diketahui
 Pada pria yang tertinggi terdapat di Perancis yaitu
sebesar 13.0 per 100.000, dan yang rendah di
Jepang yaitu 0.5 per 100.000
 Pada wanita yang tertinggi di India yaitu 5.8 per
100.000 dan yang rendah di Yugoslavia yaitu 0.2
per 100.000
 Insiden kanker mulut meningkat dengan
meningkatnya umur
 Di Indonesia angka kejadian relatif rongga mulut
sebesar 3,75% dan 90% terjadi jenis squamous cell
carcinoma (SCC).
Latar Belakang
Insidensi tumor orofaring:
 Sundaram dkk tahun 2005 urutan lokasi
terbanyak dari tumor orofaring terdapat
di tonsil 50%, dasar lidah 20%, palatum
mole 10%, vallecula dan epiglottis 10%,
dinding posterior 5 %, dinding leteral 5%.
Batasan Masalah

Penulisan case report session ini terbatas


pada definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi,
gejala klinis, diagnosis, komplikasi,
tatalaksana, serta prognosis tumor orofaring
Tujuan Penulisan
 Sebagai salah satu syarat dalam menjalani
kepaniteraan klinik di bagian THT-KL
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Padang

 menambah pengetahuan tentang tumor


orofaring
Metode Penulisan

Penulisan Case Report Session ini


berdasarkan kumpulan data dari hasil
pemeriksaan pasien, catatan rekam medis
serta bahsan kepustakaan yang merujuk dari
berbagai sumber literatur.
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi orofaring
 Orofaring → bagian tengah dari faring yang
menghubungkan bagian superior nasofaring ke
rongga mulut bagian anterior dan ke hipofaring
bagian inferior.
 Batas posterior : dinding faring posterior, yang
terletak pada bagian anterior fasia prevertebral.
 Batas lateral : fossae tonsil dan pilar, dan dinding
faring lateral.
 Batas superior berdekatan dengan batas inferior
dari nasofaring.
 Secara klinis, orofaring dibagi menjadi empat
subsitus: dasar lidah, palatum mole, fossa tonsil
palatine dan pilar, dan dinding faring
Anatomi orofaring
Anatomi orofaring
 Sebagian besar orofaring diinervasi melalui
persarafan sensorik dan motorik melalui saraf
glossopharyngeal (saraf kranial IX) dan vagus
(saraf kranial X).
 Saraf hypoglossal (kranial XII saraf) menginervasi
persarafan motorik ke dasar lidah.
 Persarafan motorik dan sebagian besar persarafan
sensorik dari palatum mole berasal dari saraf
trigeminal
 Orofaring banyak diperdarahi oleh pembuluh
darah yang kebanyakan berasal dari cabang
arterikarotid eksternal, khususnya faringeal
asenden.
Tumor Orofaring

Tumor orofaring adalah suatu pertumbuhan


jaringan abnormal yang terjadi pada daerah
orofaring. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada
daerah bibir, 2/3 lidah anterior, mukosa bukal,
dasar mulut, ginggiva atas dan bawah, trigonum
retromolar, palatum durum, dan palatum molle.
Epidemiologi
 Di dunia belum diketahui
 Pada pria yang tertinggi terdapat di Perancis
yaitu sebesar 13.0 per 100.000, dan yang
rendah di Jepang yaitu 0.5 per 100.000
 Pada wanita yang tertinggi di India yaitu 5.8
per 100.000 dan yang rendah di Yugoslavia
yaitu 0.2 per 100.000
 Insiden kanker mulut meningkat dengan
meningkatnya umur
 Di Indonesia angka kejadian relatif rongga
mulut sebesar 3,75% dan 90% terjadi jenis
squamous cell carcinoma (SCC).
Etiologi
 Umumnya penyebab yang pasti tidak dapat
diketahui.
 Faktor resiko
◦ Merokok dan alcohol
◦ Mengunyah sirih dan tembakau
◦ Hygiene mulut serta kebiasaan makanan
Patofisiologi
 Asap rokok mengandung sekitar 50 karsinogen dan
procarcinogens → rentan menjadi keganasan
 Alcohol-induced karsinogenesis dimediasi melalui
asetaldehida
 merokok dan ,meminum alkohol berisiko untuk
keganasan kedua, karena mengaktifkan
dehydrogenase. . Alkohol sebagai suatu zat yang
memberikan iritasi, secara teori, menyebabkan
terjadinya pembakaran pada tempat tersebut secara
terus-menerus dan meningkatkan permeabilitas
selaput lendir. Hal ini menyebabkan penyerapam zat
karsinogen yang terdapat dalam alkohol atau
tembakau tersebut oleh selaput lendir mulut
Patofisiologi
 Stadium permulaan (stadium infiltrat) →
pembengkakan + permukaan yang hiperemis.
 Stadium supurasi → daerah tersebut lebih lunak
dan berwarna kekuning-kuningan.
 Pembengkakan peritonsil → mendorong tonsil
ke tengah, depan, bawah, dan uvula bengkak
terdorong ke sisi kontra lateral.
 Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan
→ iritasi pada m. pterigoid interna → trismus.
Gejala Klinis
 Pembengkakan pada daerah peritonsilar
 Rasa sakit di tenggorok yang terus menerus
hingga keadaan yang memburuk secara progresif
 Rasa nyeri terlokalisir, demam tinggi, (sampai
40°C), lemah dan mual.
 Mulut berbau (foetor ex ore), muntah
(regurgitasi) sampai nyeri alih ke telinga
(otalgia).
 Trismus
 Hot potato’s voice
Diagnosis
 Anamnesis
 Pemeriksaan Fisik
 Gejala Klinis
 Pemeriksaan Penunjang
Tatalaksana
 Stadium infiltrasi → antibiotika golongan
penisilin atau klindamisin, dan obat
simtomatik
 Abses → dilakukan pungsi pada daerah
abses, kemudian di insisi untuk
mengeluarkan nanah.
 Tonsilektomi
Komplikasi

 Abses pecah spontan


 Abses parafaring
 Thrombus sinus kavernosus
 Meningitis
 Abses otak
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
No MR : 01.03.19.93
Alamat : Padang
Tanggal masuk : 6 November 2018
ANAMNESIS
Keluhan Utama :
 Nyeri kerongkongan sejak seminggu yang
lalu
ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Sekarang :

 Kerongkongan terasa nyeri sejak seminggu yang lalu


 Nyeri saat menelan ada
 Bengkak pada leher kanan bawah dirasakan sejak
seminggu yang lalu disertai nyeri .
 Nyeri dan sukar membuka mulut ada
 Nyeri dan sukar menggerakan leher tidak ada
 Riwayat ketulangan sebelumnya tidak ada
ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Sekarang :

 Telinga kanan terasa penuh dan • Kejang tidak ada


berdengung • Sesak nafas tidak ada
 Riwayat keluar cairan dari telinga • Gigi goyah tidak ada
kanan dan kiri ada berwarna • Karang gigi pada gigi kanan
kekuningan saat usia 10 tahun belakang atas
 Penurunan pendengaran tidak ada • Bengkak di langit-langit
 Nyeri pada telinga kiri tidak ada mulut di tidak ada
 Nyeri pada hidung tidak ada • Nyeri tulang tidak ada
 Nyeri pada pipi tidak ada • Batuk dan pilek tidak ada
 Nyeri gigi tidak ada • Demam ada
 Penurunan kesadaran tidak ada • Riwayat merokok ada, 1
bungkus perhari
ANAMNESIS
Riwayat penyakit dahulu :
 Pasien pernah keluar cairan dari kedua liang
telinga saat usia 10 tahun
 Riwayat diabetes mellitus tidak ada.
 Riwayat hipertensi tidak ada.

Riwayat penyakit keluarga :


 Tidak ada anggota keluarga yang mengalami
keluhan seperti ini.
ANAMNESIS
Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan
kebiasaan :
 Pasien seorang supir
 Pasien merokok 1 bungkus perhari, sudah
berhenti ketika mulai merasakan bengkak pada
leher kanan bawah
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis :

 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


 Kesadaran : Composmentis kooperatif
 Tekanan darah : 124/72 mmHg
 Frekuensi nadi : 80 x/menit
 Frekuensi nafas : 18 x/menit
 Suhu : afebris
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Sistemik :

 Kepala : normochepal
 Mata : konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik
gangguan gerakan bola mata (-)
 Wajah : tidak ditemukan kelainan
 Thorax : paru dan jantung dalam batas
normal
 Abdomen : dalam batas normal
 Extremitas : akral hangat dan refilling kapiler <2”
Status Lokalis THT -Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Kel kongenital Tidak ada Tidak ada
Daun telinga Trauma Tidak ada Tidak ada
Radang Tidak ada Tidak ada
Kel. Metabolik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tarik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
tragus
Cukup lapang (N) Cukup lapang Cukup lapang

Dinding liang Sempit - -

telinga Hiperemi Ada Tidak ada


Edema Tidak ada Tidak ada
Massa Tidak ada Tidak ada
Status Lokalis THT -Telinga

Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra


Ada / Tidak Ada Ada
Sekret/serumen Bau Tidak ada Tidak ada
Warna Kuning Kuning
Jumlah - -
Jenis - -
Status Lokalis THT -Telinga
Membran timpani
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Warna Putih mutiara Putih, mutiara
Utuh Reflek cahaya Ada , arah jam Ada, arah jam
5 7
Bulging Tidak ada Tidak ada
Retraksi Tidak ada Tidak ada
Atrofi Tidak ada Tidak ada
Jumlah perforasi - -
Perforasi Jenis - -
Kwadran - -
Pinggir - -
Status Lokalis THT -Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Tanda radang Tidak ada Tidak ada
Mastoid Fistel Tidak ada Tidak ada
Sikatrik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Nyeri ketok Tidak ada Tidak ada
Rinne Positif Positif
Tes garpu tala Schwabach Sama dengan Sama dengan
pemeriksa pemeriksa
Weber Tidak ada lateralisasi
Kesimpulan Normal
Audiometri Tidak dilakukan
Status Lokalis THT - Hidung
Pemeriksaan Kelainan Dektra Sinistra

Deformitas Tidak ada Tidak ada


Hidung luar
Kelainan Tidak ada Tidak ada
kongenital

Trauma Tidak ada Tidak ada

Radang Tidak ada Tidak ada

Massa Tidak ada Tidak ada


Status Lokalis THT – Sinus Paranasal

Pemeriksaan Dekstra Sinistra

Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

Nyeri ketok Tidak ada Tidak ada


Status Lokalis THT – Rhinoskopi Anterior
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Vestibulum Vibrise Ada Ada
Radang Tidak Ada Tidak ada
Cukup lapang + -
Cavum nasi (N)
Sempit - +
Lapang - -
Lokasi Tidak ada Tidak ada
Sekret Jenis - -
Jumlah - -
Bau - -
Status Lokalis THT – Rhinoskopi Anterior

Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra

Konka inferior Ukuran eutrofi Eutrofi

Warna Normal Normal

Permukaan Licin Licin

Edema - -

Konka media Ukuran Eutrofi Eutrofi

Warna Normal Normal

Permukaan Licin Licin

Edema - -
Status Lokalis THT – Rhinoskopi Anterior

Pemeriksaan Kelainan

Cukup lurus/deviasi Cukup lurus


Septum Permukaan Licin

Warna Merah muda

Spina Tidak ada

Krista Tidak ada

Abses Tidak ada

Perforasi Tidak ada


Status Lokalis THT – Rhinoskopi Anterior

Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra


Lokasi - -
Massa Bentuk - -
Ukuran - -
Permukaan - -
Warna - -
Konsistensi - -
Mudah digoyang - -
Pengaruh - -
vasokonstriktor
Status Lokalis THT :
Orofaring dan mulut
Pemeriksaan Kelainan

Simetris/tidak Tidak simetris


Palatum mole + Arkus
Warna Merah muda
Faring
Edem Tidak ada

Bercak/eksudat Tidak ada

Dinding faring Warna Merah muda

Permukaan -
Status Lokalis THT :
Orofaring dan mulut
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Ukuran T2 T2
Tonsil Warna Merah Merah
muda muda
Permukaan Tidak licin Licin
Muara kripti Tidak
Melebar
Melebar
Detritus Ada Tidak ada
Eksudat Tidak ada Tidak ada
Perlengketan
Tidak ada Tidak ada
dengan pilar
Status Lokalis THT :
Orofaring dan mulut
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Warna Merah
Hiperemis
Peritonsil muda
Edema Ada Tidak ada
Abses Ada Tidak ada
Lokasi Tidak ada
Tumor Bentuk -
Ukuran -
Permukaan -
Konsistensi -
Status Lokalis THT :
Orofaring dan mulut
Pemeriksaan Kelainan

Gigi Karies/Radiks Ada -


Kesan -
Warna Merah muda + putih
Lidah (dominan)

Bentuk Normal
Deviasi Tidak ada
Massa Tidak ada
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher

Dextra
I : tidak terlihat pembesaran KGB leher, tanda
radang (-).
P :tidak teraba pembesaran KGB leher, nyeri tekan
(-)

Sinistra
I : tidak terlihat pembesaran KGB leher, tanda
radang (-).
P :teraba tidak teraba pembesaran KGB leher,
nyeri tekan (-)
Pemeriksaan Penunjang : laboratorium

 Hb = 15,6 g/dl
 Leukosit = 20.020/mm3
 Trombosit = 275.000/mm3
 Hematokrit = 47 %
 Gula darah sewaktu = 106 mg/dl
 Na = 139 mmol/L
 K = 4,2 mmol/L
 Cl = 109 mml/L
Diagnosis

 Diagnosis : Abses peritonsil dekstra

 Diagnosis banding: -

 Diagnosis tambahan: -
Tatalaksana:

 IVFD RL 8 jam/kolf

 Inj ceftriaxone 2x1 g

 Infus metronidazole 3x500 mg

 Injeksi deksametason 3x5 mg


DISKUSI
DISKUSI
 Seorang pasien laki-laki berusia 45 tahun datang ke IGD
RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan nyeri
kerongkongan sejak 7 hari yang lalu.

 Nyeri kerongkongan dapat disebabkan oleh beberapa


hal, seperti adanya inflamasi, infeksi, tumor, dsb. Pasien
mengeluh nyeri menelan, dan merasakan ada benjolan
pada bagian bawah leher sebelah kanan
DISKUSI
 Pasien mengeluh nyeri menelan, dan merasakan
ada benjolan pada bagian bawah leher sebelah
kanan.

 Daerah leher merupakan bagian yang banyak


terdapat kelenjar getah bening, dimulai dari
submental, submandibula, sepanjang otot
sterncleidomastoideus, supra dan infraklavikula.
DISKUSI
 Adanya benjolan pada leher harus dipastikan
apakah tonsil, atau KGB leher.

 Pasien juga mengeluhkan demam dan telinga


kanan terasa penuh dan berdenging.

 Tidak ada nyeri pada hidung maupun pipi dan


tidak ada darah yang keluar dari hidung
maupun kedua liang telinga.
DISKUSI
 Pasien merupakan rujukan dari Rumah Sakit
Semen Padang. Pasien juga telah mendapatkan
terapi parasetamol dan antibiotik dari
puskesmas sehari sebelum dirujuk ke Rumah
Sakit Semen Padang.

 Diketahui pasien adalah seorang supir dan


perokok aktif kurang lebih 20 batang per hari
dan mulai berhenti ketika pasien merasakan ada
benjolan pada leher kanan bawah.
DISKUSI
 Pada pemeriksaan fisik tenggorok didapatkan arcus
faring tidak simetris denga uvula terdorong ke kiri,
disertai dengan edema. Tonsil kiri dan kanan berukuran
T2 dan T2, dengan kripti yang melebar dan detritus pada
tonsil kanan.
 Didiagnosis dengan abses peritonsil. Abses peritonsil
merupakan salah satu bentuk komplikasi dari tonsilitis
akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus
Weber di kutub atas tonsil.
DISKUSI
 Dalam kasus ini, selain nyeri pada leher sebelah
kanan bawah dan nyeri menelan, pasien
mengeluhkan telinga kanan terasa penuh dan
berdengung.

 Pada kondisi abses peritonsil, gejala odinofagia


(nyeri menelan) yang hebat , biasanya diikuti
nyeri telinga (otalgia) pada sisi yang sama.
DISKUSI
 Kondisi abses peritonsil yang sudah berat bisa
memuncukan gejala tambahan berupa muntah
(regurgitasi), mulut berbau, hipersalivasi, suara
bergumam (hot potato voice), sukar membuka
mulut (trismus), serta pembengkakan kelenjar
submandibular dengan nyeri tekan.
DISKUSI
 Pemeriksaan penunjang berupa laboratorium
rutin menunjukkan leukositosis, sebagai penanda
adanya infeksi yang terjadi dalam tubuh.

 Tindakan yang telah dilakukan berupa IVFD RL


8 jam/kolf, Injeksi ceftriaxone 2x1 g, Infus
metronidazole 3x500 mg, Injeksi deksametason
3x5 mg.
DISKUSI
 Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika
golongan penicilin atau klindamisin.

 Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada


daerah abses, kemudian diinsisi untuk
mengeluarkan nanah. Tempat insisinya adalah di
daerah yang paling menonjol dan dan lunak, atau
pada pertengahan garis yang menghubungkan
dasar uvula dengan geraham atas terakhir pada
sisi yang sakit.
Terimakasih
Lampiran

Anda mungkin juga menyukai