Anda di halaman 1dari 20

PAJAK PENGHASILAN

Sumber: Erdenebayar, pixabay.com


PETA KONSEP

Pengertian Pajak Penghasilan (PPh)

Subjek Pajak Penghasilan

PAJAK PENGHASILAN Objek Pajak Penghasilan

Bukan Objek Pajak Penghasilan

Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap (BUT)


A. Pengertian Pajak Penghasilan (Pph)

Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima


atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk
apa pun.
Penghasilan dapat dilihat dari sumbernya, antara lain sebagai berikut.
a. Penghasilan dari pekerja (employee income/income from personal
service). Contoh: gaji upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
grafitikasi, uang pensiun.
b. Penghasilan dari kegiatan (action income), yaitu penghasilan yang
diperoleh karena telah mengikuti serangkaian kegiatan, seperti
rapat, sidang, seminar, workshop, pendidikan, pertunjukan, dan
olahraga.
c. Penghasilan dari usaha (business income), yaitu penghasilan yang
diterima melalui usaha yang dilakukan secara terus-menerus, baik di
bidang jasa, produksi, atau perdagangan.
d. Penghasilan dari modal (capital income), yaitu penghasilan yang
berasal dari penggunaan modal.
e. Penghasilan lain-lain (other income), yaitu penghasilan di luar empat
jenis penghasilan di atas. Misalnya royalti, penghargaan,
pembebasan utang, dan hadiah.
Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan kepada badan atau orang
pribadi pada tingkat penghasilan tertentu. Penghasilan yang dikenakan
pajak adalah penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama Tahun
Pajak.
Berikut ini Dasar Hukum Pajak Penghasilan.
a. UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008.
b. Peraturan Pemerintah No. 15/2000 tentang Pajak atas Bunga
Simpanan Anggota Koperasi.
c. Peraturan Pemerintah No. 132/2000 tentang Pajak atas Penghasilan
dari Hadiah.
d. Peraturan Pemerintah No. 149/2000 tentang Pajak atas Uang
Pesangon.
e. Peraturan Menteri Keuangan No. 262/PMK.03/2010 tentang Pajak
atas Penghasilan Lain Selain Penghasilan Gaji.
f. Kepmenkeu No. 564/KMK.03/2004 tentang penyesuaian Penghasilan
Tidak Kena Pajak.
g. Permenkeu No. 137/PMK 03/2005 tentang penyesuaian Penghasilan
Tidak Kena Pajak. Adapun penghasilan untuk kepentingan
pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) dikelompokkan menjadi:
• Global taxation, yaitu penghasilan yang objek pajaknya dikenai
pajak secara umum.
• Schedular taxation, yaitu penghasilan yang objek pajaknya dikenai
pajak bersifat final.
• Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.
B. Subjek Pajak Penghasilan
Subjek Pajak Penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi
untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak
penghasilan.

Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 2 ayat 1, yang menjadi subjek


pajak meliputi:
1. Orang pribadi
2. Warisan yang belum terbagi.
3. Badan.
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT)

Sumber: StartupStockPhotos, pixabay.com


Subjek pajak berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 2 ayat 3
dikelompokkan menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri, Subjek Pajak Luar
Negeri, dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).
1. Subjek Pajak Dalam Negeri
a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau yang
berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan, atau yang dalam suatu Tahun Pajak berada di Indonesia
dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
b. Badan yang berdiri atau berkedudukan di Indonesia, kecuali unit
tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria
tertentu.
c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan untuk
menggantikan yang berhak.
2. Subjek Pajak Luar Negeri

Subjek Pajak Luar Negeri Pasal 2 ayat (4)

• Orang pribadi yang tidak bertempat


tinggal di Indonesia/berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam 12 bulan
• Badan yang tidak berdiri dan tidak
berkedudukan di Indonesia

Yang menjalankan usaha Yang menerima atau memperoleh


atau kegiatan melalui BUT penghasilan dari Indonesia bukan
di Indonesia dari menjalankan usaha atau
kegiatan melalui BUT di Indonesia
Pengecualian Subjek Pajak Luar Negeri berdasarkan UU No. 36 Tahun
2008 Pasal 2, antara lain sebagai berikut.
a. Kantor perwakilan negara asing.
b. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat
lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada
mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama
mereka.
c. Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan.
d. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri.
3. Bentuk Usaha Tetap (BUT)
Bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak berdiri dan tidak
berkedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan di Indonesia.
BUT dapat berupaa tempat kedudukan manajemen, cabang
perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik, bengkel,
gudang, ruang untuk promosi dan penjualan, pertambangan dan
penggalian sumber alam, dan lainnya (lihat buku Modul Menyiapkan
SPT halaman 100)
C. OBJEK PAJAK PENGHASILAN

Objek Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (1)

Dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang:


• Diterima atau diperoleh Wajib Pajak.
• Berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.
• Dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak.

Dengan nama dan dalam bentuk apa pun.


Penghasilan yang termasuk objek pajak, antara lain:
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium,
komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk
lainnya kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan.
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan.
3. Laba usaha.
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta (lihat di
Modul Menyiapkan SPT halaman 101).
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya.
6. Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang.
7. Dividen dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil
usaha koperasi.
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak.
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang
asing.
13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
14. Premi asuransi.
15. Iuran yang diterima atau diperoleh
perkumpulan dari anggotanya yang terdiri
atas Wajib Pajak yang menjalankan usaha
atau pekerjaan bebas.
16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari
penghasilan yang belum dikenakan pajak.
17. Penghasilan dari usaha berbasis syariah.
Sumber: Maklay62, pixabay.com
18. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang yang mengatur
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
D. Bukan Objek Pajak Penghasilan
Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak adalah koreksi fiskal negatif bagi
penerima penghasilan dan koreksi fiskal positif bagi yang membayarkan.
Selengkapnya, bukan termasuk objek pajak penghasilan adalah hal-hal
sebagai berikut.
1. Bantuan atau sumbangan.
2. Harta hibahan.
3. Warisan.
4. Harta, termasuk setoran tunai, yang diterima oleh badan sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau pemerintah,.
6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi.
7. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan
terbatas sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri, koperasi, BUMN atau BUMD
dari penyertaan modal pada badan usaha yang berdiri dan
berkedudukan di Indonesia
8. Iuran yang diterima atau diperoleh dari dana pensiun yang pendiriannya
telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi
kerja maupun pegawai.
9. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam
bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan.
10. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi, termasuk pemegang unit
penyertaan kontrak investasi kolektif.
11. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura
berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia.
12. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
13. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya
14. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu.
E. Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap
(BUT)

a. Penghasilan dari usaha atau kegiatan Bentuk Usaha Tetap tersebut


dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai.
b. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan penjualan barang,
atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan
atau yang dilakukan oleh Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.
c. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau
diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara
Bentuk Usaha Tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan
penghasilan yang dimaksud.
Penentuan Laba BUT

Biaya administrasi kantor Pembayaran kepada kantor Bukan sebagai penghasilan


pusat yang boleh pusat yang tidak boleh BUT, pembayaran dari kantor
dibebankan sebagai biaya dibebankan sebagai biaya pusat

Biaya yang berkaitan • Royalti/imbalan • Royalti/imbalan


dengan usaha atau sehubungan dengan sehubungan dengan
kegiatan BUT penggunaan harta paten penggunaan harta paten
atau hak lainnya atau hak lainnya
• Imbalan sehubungan • Imbalan sehubungan
Besarnya ditetapkan dengan jasa manajemen dengan jasa manajemen
Dirjen Pajak sah lainnya sah lainnya
• Bunga, kecuali bunga bank • Bunga, kecuali bunga
yang berkenaan dengan bank yang berkenaan
usaha perbankan dengan usaha perbankan