Anda di halaman 1dari 24

Kuliah

ALTERNATIF PENYELESAIAN
SENGKETA

ALTERNATIVE DISPUTE
RESOLUTION (ADR)
DASAR- DASAR
TEKNIK PENYELESAIAN SENGKETA
Penyelesaian sengketa dapat dilakukan melalui jalur:

Litigasi

Non Litigasi
(Alternative Dispute Resolution)
Waktu lama

Mahal Pertikaian
Litigasi

proses
penyelesaian sengketa
melalui
Jalur Pengadilan

Kurang Jujur Kurang Netral


Murah

Hub. baik

Cepat
ADR Sesuai
Kebutuhan

proses
Non Judicial
(luwes) penyelesaian sengketa
di luar Sukarela
Jalur Pengadilan

Netral Rahasia
Dasar Hukum NEGOSIASI, MEDIASI, KONSILIASI
belum ada pengaturan secara tegas, hanya
berpedoman pada ETIKA BISNIS

UU No. 30 Tahun 1999  tentang Arbitrase dan


Alternatif Penyelesaian Sengketa (isinya lebih cocok
disebut UU ttg Arbitrase dan mekanisme proses
penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
Pengertian

 Pranata penyelesaian sengketa alternatif pada dasarnya


merupakan suatu bentuk penyelesaian sengketa diluar
pengadilan yang didasarkan pada kesepakatan para pihak
yang bersengketa.
 Alternatif penyelesaian sengketa bersifat sukarela dan
karenanya tidak dapat dipaksakan oleh salah satu pihak.
 Walau demikian, sebagai suatu bentuk perjanjian (alternatif
penyelesaian sengketa), kesepakatan yang telah dicapai
oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui
forum diluar pengadilan harus ditaati oleh para pihak
Pranata Alternatif Penyelesaian
Sengketa
 Secara umum pranata alternatif penyelesaian
sengketa antara lain :
1. Konsultasi
2. Negosiasi dan Perdamaian
3. Mediasi
4. Konsiliasi dan Perdamaian
5. Arbitrase
Konsultasi

 Pada prinsipnya konsultasi merupakan suatu


tindakan yang bersifat “personal” antara
suatu pihak tertentu (klien) dengan pihak lain
yang merupakan pihak konsultan yang
memberikan pendapatnya kepada klien
sesuai dengan keperluan dan kebutuhan
kliennya. Keputusan tetap berada di tangan
klien.
Negosiasi & Perdamaian

 Negosiasi merupakan komunikasi dua arah


yang dirancang untuk mencapai kesepakatan
pada saat kedua belah pihak memiliki
kepentingan yang sama maupun berbeda.
Negosiasi merupakan sarana bagi pihak-
pihak yang bersengketa untuk mendiskusikan
penyelesaiannya tanpa melibatkan pihak
ketiga.
UU No. 30 Tahun 1999  tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa (isinya lebih cocok disebut UU ttg Arbitrase dan mekanisme
proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase

 Pasal 6 (2) UU No. 30/1999 dikatakan bahwa


para pihak dapat dan berhak untuk
menyelesaikan sendiri sengketa yang timbul
diantara mereka, kesepakatan mengenai
penyelesaian tersebut harus dituangkan
dalam bentuk tertulis dengan melakukan
pertemuan langsung antara para pihak yang
bersengketa dengan tenggang waktu
penyelesaian paling lama 14 hari
Mediasi

 Pasal 6 (3) UU No.30 tahun 1999 “atas


kesepakatan tertulis para pihak” sengketa
atau beda pendapat diselesaikan melalui
bantuan “Seorang atau lebih penasehat ahli”
maupun melalui “Seorang Mediator”.
Mediasi

 Mediasi adalah suatu proses alternatif


penyelesaian sengketa dimana pihak ketiga
yang dimintakan bantuannya untuk
membantu proses penyelesaian sengketa
bersifat pasif dan sama sekali tidak berhak
atau berwenang untuk memberikan suatu
masukan, terlebih lagi untuk memutuskan
perselisihan yang terjadi. Jadi mediator
hanya berfungsi sebagai penyambung lidah
dari para pihak yang bersengketa.
 Mediasi merupakan salah satu bentuk
negosiasi antara para pihak yang
bersengketa, yang melibatkan pihak ketiga
dengan tujuan membantu tercapainya
penyelesaian yang bersifat kompromistis.
Pihak ketiga yang ditunjuk membantu
menyelesaikan sengketa disebut mediator.
 Mediasi mengandung unsur-unsur:
1. proses penyelesaian sengketa berdasarkan
perundingan;
2. mediator terlibat dan diterima oleh para
pihak yang bersengketa di dalam
perundingan;
3. mediator bertugas membantu para pihak
yang bersengketa untuk mencari
penyelesaian;
4. tujuan mediasi untuk mencapai atau
menghasilkan kesepakatan yang dapat
diterima pihak-pihak yang bersengketa guna
mengakhiri sengketa.
 Tugas Mediator:
1. bertindak sebagai seorang fasilitator
sehingga terjadi pertukaran informasi yang
dapat dilaksanakan;
2. menemukan dan merumuskan titik-titik
persamaan dari argumentasi para pihak dan
berupaya untuk mengurangi perbedaan
pendapat yang timbul.
Konsiliasi & Perdamaian

 Konsiliasi dalam UU No. 30/1999 adalah suatu


tindakan atau proses untuk mencapai
perdamaian di luar pengadilan, untuk
mencegah dilaksanakannya proses litigasi
(peradilan). Namun bisa juga terjadi di tiap
tingkat peradilan yang sedang berlangsung,
baik di dalam maupun di luar pengadilan,
kecuali untuk sengketa atau hal – hal yang
telah di putus dan mempunyai kekuatan
hukum tetap.
 Konsiliator berkewajiban untuk
menyampaikan pendapatnya mengenai
duduk persoalan dari masalah atau sengketa
yang dihadapi, alternatif penyelesaian yang
terbaik, apa keuntungan dan kerugian para
pihak, serta akibat hukumnya.
 Konsiliator tidak berhak untuk membuat
keputusan (pasif). Keputusan akan diambil
sepenuhnya oleh para pihak yang dituangkan
dalam bentuk kesepakatan.
Arbitrase

 Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu


sengketa perdata khususnya dibidang
perdagangan di luar pengadilan umum yang di
dasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat
secara tertulis oleh pihak yang bersengketa (Ps 1
angka 1 UU No. 30/1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyesuaian Sengketa).
 Yang termasuk ruang lingkup hukum
perdagangan adalah Perniagaan, Perbankan,
Keuangan, Penanaman modal, Industri, Haki,
dsb.
 Pasal 48 UU No.30/1999 menetapkan bahwa dalam waktu
180 hari (6 bulan) pemeriksaan atas sengketa harus
diselesaikan.
 Dalam hal arbiter / majelis arbitrase tanpa alasan yang sah
tidak memberikan putusan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan maka arbiter dihukum membayar denda untuk
mengganti biaya kerugian yang diakibatkan karena
keterlambatan tersebut kepada para pihak. Kadang
memang pelaksanaan arbitrase lambat tetapi tidak
selambat bila melalui proses pengadilan biasa.
 Kesepakatan dalam arbitrase dapat terjadi melalui
komunikasi tertulis secara modern yang tentunya wajib
disertai suatu catatan penerimaan.
 Arbitrase bersifat Final & Binding (final &
mengikat)
 Pengadilan wajib karena jabatan (ex officio)
menyatakan diri tidak berwenang, bila
terdapat klausula Arbitrase dalam suatu
perjanjian. (Ps.3 UU No 30 tahun 1999)
 Pasal 3 uu No. 30 Tahun 1999
 Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah

terikatdalam perjanjian arbitrase .


 Pasal 4
 Penawaran penyelesaian sengketa melalui arbitrase bisa melalui
telex, telegram, faximile / e-mail. (Ps.4 ayat (3)) UU No
30 Tahun 1999
 Syarat utama untuk dapat dilakukan Arbitrase adalah
adanya suatu perjanjian untuk berarbitrase (pasal 1 ayat
(1)). UU No 30 Tahun 1999
 Perjanjian Arbitrase dibuat dengan akta Notaris yang isinya
memuat (pasal 9 ayat (3)) : UU No 30 Tahun 1999
1. masalah yang dipersengketakan;
2. nama lengkap & alamat para pihak;
3. nama lengkap & alamat arbiter;
4. tempat arbitrase akan mengambil keputusan;
5. jangka waktu 6 bulan penyelesaian masalah dengan cara
arbitrase
6. pernyataan kesediaan dari para pihak yang bersengketa untuk
menanggung segala biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan
sengketa melalui arbitrase.
 Arbiter bisa tunggal atau banyak, tetapi
jumlahnya harus ganjil. Pihak yang
berkeberatan terhadap pengangkatan hakim
arbiter mengajukan hak ingkar paling lama 14
hari sejak pengangkatan
 Semua pemeriksaan sengketa oleh majelis
arbiter dilakukan secara tertutup, karena
arbitrase bersifat konfindensial.
 Terhadap putusan arbitrase dapat diminta
pembatalan bila diduga mengandung unsur-
unsur : Pasal 70 UU Nomor 30 tahun 1999
1. dipergunakan dokumen palsu dalam
persidangan.
2. telah disembunyikan dokumen yang
menentukan.
3. telah dilakukan tipu muslihat oleh lawan.
Terimakasih