Anda di halaman 1dari 16

geriatri

Sistem Kardiovaskular

 Elastisitas arteri menurun  fibrosis


 Penurunan komplians vascular dan myocardial
 Peningkatan fungsi diastolic
 Cardiac reserve turun menyebabkan tensi rendah
selama induksi anestesi
Sistem Pernafasan

 Penurunan elastisitas jaringan paru,


menyebabkan distensi alveoli berlebihan yang
berakibat mengurangi permukaan alveolar
sehingga menurunkan efisiensi pertukaran gas
 Ventilasi masker lebih sulit
 Artritis sendi temporomandibular atau tulang
belakang servikal mempersulit intubasi
 Penurunan progresif reflex protektif laring dapat
menyebabkan aspirasi
Fungsi metabolic dan
Endokrin
 Konsumsi oksigen basal dan maksimal menurun
 Produksi panas menurun, kehilangan panas
meningkat, dan pusat pengatur temperature
hipotalamik mungkin kembali ke tingkat yang
lebih rendah
 Peningkatan resistensi insulin menyebabkan
penurunan progresif terhadap kemampuan
menangani asupan glukosa
Fungsi Ginjal

 Aliran darah ginjal dan massa ginjal


menurun. (massa korteks diganti oleh lemak dan
jaringan fibrotik). Laju filtrasi glomerulus dan bersihan
kreatinin (creatinin clearance) menurun
 Gangguan penanganan natrium, kemampuan
konsentrasi, dan kapasitas pengenceran memberi
kecenderungan pasien usia lanjut untuk mengalami
dehidrasi atau overload cairan.
 Fungsi ginjal menurun, mempengaruhi kemampuan
ginjal untuk mengekskresikan obat.
 Penurunan kemampuan ginjal untuk menangani air
dan elektrolit membuat penatalaksanaan cairan
yang tepat menjadi lebih sulit; pasien usia tua lebih
cenderung untuk mengalami hipokalemia dan
hiperkalmeia. Hal ini diperparah oleh penggunaan
diuretik yang sering pada populasi usia lanjut.
Fungsi Gastrointestinal

 Berkurangnya massa hati berhubungan dengan


penurunan aliran darah hepatik, menyebabkan
Fungsi hepatik juga menurun sebanding dengan
penu-runan massa hati.
 Biotransformasi dan produksi albumin menurun.
 Kadar kolinesterase plasma berkurang.
 Ph lambung cenderung meningkat, sementara
pengosongan lambung memanjang.
Sistem Saraf

 Aliran darah serebral dan massa otak menurun


sebanding dengan kehilangan jaringan saraf.
Autoregulasi aliran darah serebral tetap terjaga.
 Aktifitas fisik tampaknya mempunyai pengaruh
yang positif terhadap terjaganya fungsi kognitif.
 Degenerasi sel saraf perifer menyebabkan
kecepatan konduksi memanjang dan atrofi otot
skelet.
 Penuaan dihubungkan dengan peningkatan
ambang rangsang hampir semua rangsang
sensoris misalnya, raba, sensasi suhu, proprioseptif,
pende-ngaran dan penglihatan.
 Volume anestetik epidural yang diberikan
cenderung mengakibatkan penyebaran yang
lebih luas ke arah kranial, tetapi dengan durasi
analgesia dan blok motoris yang singkat.
Sebaliknya, lama kerja yang lebih panjang dapat
diharapkan dari anestetik spinal.
 Pasien usia lanjut sering kali memerlukan waktu
yang lebih lama untuk pulih secara sempurna dari
efek SSP anestetik umum, terutama jika mereka
mengalami kebingungan atau disorientasi
preoperatif.
Sistem Muskuloskeletal

 Massa otot berkurang. Pada tingkat mikroskopik,


neuromuskuler junction menebal.
 Kulit mengalami atrofi akibat penuaan dan
mudah mengalami trauma akibat pita
berperekat, bantalan elektrokauter, dan
elektroda elektrokardiografi.
 Vena seringkali lemah dan mudah ruptur pada
infus intravena.
 Sendi yang mengalami arthritis dapat
mengganggu pemberian posisi (misalnya,
litotomi) atau anestesi regional (misalnya, blok
subarakhnoid).
Perubahan Farmakologi

 Distribusi dan eliminasi juga dipengaruhi oleh


terganggunya ikatan protein plasma.Albumin yang
cenderung berikatan dengan obat yang bersifat
asam (misalnya barbiturat, benzodiazepin, agonis
opioid), menurun. α1-asam glikoprotein, yang
berikatan dengan obat yang bersifat basa
(misalnya, anestetik lokal), meningkat.
 Perubahan farmakodinamik utama adalah
penurunan kebutuhan anestetik, ditunjukkan oleh
MAC yang rendah. Titrasi hati-hati bahan anestetik
mem- bantu menghindari efek samping dan durasi
yang panjang; bahan kerja singkat seperti propofol,
desflurane, remifentanil, dan suksinilkolin sangat
berguna pada pasien usia lanjut.
 Obat yang secara bermakna tidak tergantung
pada fungsi hepatik dan ginjal atau aliran darah,
seperti mivacurium, atracurium, dan cistracurim
dapat berguna.
Anestesi Inhalasi

 MAC untuk agen inhalasi berkurang sekitar 4% per


dekade umur setelah usia 40 tahun. Sebagai
contoh, MAC halotan pada usia 80 tahun
diharapkan menjadi 0,65 (0,77-[0,77 x 4% x 4]).
 Onset kerja menjadi lebih cepat jika curah
jantung berkurang, tetapi akan lebih lambat jika
terdapat gangguan ventilasi/perfusi yang
signifikan.
 Efek depresan miokardial dari anestetik gas
bertambah pada pasien usia lanjut, sementara
kecenderungan takikardi dari isofluran dan
desfluran mele- mah. Berlawanan dengan
efeknya pada pasien yang lebih muda, isofluran
mengurangi curah jantung dan denyut jantung
pada pasien usia lanjut.
 Pemulihan dari anestesi yang menggunakan
anestetik gas kemungkinan memanjang sebab
peningkatan volume distribusi (peningkatan
lemak tubuh), penurunan fungsi hepatik
(penurunan metabolisme halotan) dan
penurunan pertukaran gas paru.
Bahan Anestesi Non
Volatile
 Pasien usia lanjut menunjukkan kebutuhan dosis
barbiturat, opioid agonis, dan benzodiazepin
yang lebih rendah. Sebagai contoh, umur 80
membutuhkan kurang dari setengah dosis induksi
tiopental dibandingkan dengan kebutuhan pada
umur 20-an.
 Benzodiazepin cenderung berakumulasi dalam
penyimpanan lemak, volume distribusinya lebih
besar pada pasien usia lanjut sehingga eliminasi
dari tubuh juga lambat. Waktu paruh lebih dari 36
jam dapat menyebabkan kebingungan selama
beberapa hari setelah pemberian diazepam.
Pelumpuh Otot

 Penurunan curah jantung dan aliran darah otot


yang lambat dapat menyebabkan
pemanjangan onset blokade neuromuskuler
sampai 2 kali lipat pada pasien usia lanjut.
 Pemulihan dari pelumpuh otot nondepolarisasi
yang tergantung pada ekskresi ginjal (misalnya,
metokurin, pankuronium, doksakurium,
tubokurarin) mungkin tertunda akibat
menurunnya bersihan obat.
 Demikian juga, penurunan ekskresi hepatik akibat
kehilangan massa hati memperpanjang waktu
paruh eliminasi dan lama kerja rokuronium dan
vekuronium.
 Pria usia lanjut dapat menunjukkan sedikit
pemanjangan efek suksinilkolin akibat kadar
kolinesterase plasma mereka yang rendah.