Anda di halaman 1dari 63

PRINSIP DAN ATURAN

PENSELEKSIAN
PENYEBAB DASAR
KEMATIAN
dr. Yuslely Usman, M.Kes

DISAMPAIKAN DALAM PERTEMUAN EVALUASI


SURVEILANCE KEMATIAN Jakarta, 16 OKTOBER 2018
OUTLINE

1. Definisi penyebab dasar kematian


2. Prinsip umum
3. Rule 1
4. Rule 2
5. Rule 3;
6. Modifikasi Rule:
 Rule A
 Rule B
 Rule C
 Rule D
 Rule E
 Rule F
7. HIGHLY IMPROBABLE
8. Nature of Injury
9. Malignancy
DEFINISI PENYEBAB DASAR KEMATIAN

Definisi Penyebab dasar kematian sesuai dengan


WHO adalah

 (a) Penyakit atau cedera yang merupakan awal dari


sekuensi/kronologis terjadinya penyakit yang
menyebabkan langsung terhadapat kejadian
kematian
atau
 (b) keadaan kecelakaan atau kekerasan yang
menghasilkan cedera yang fatal menyebabkan
kematian
FROMAT PENULUSAN PENYEBAB DASAR
KEMATIAN
LANGKAH PENYEDIAAN DATA PENYEBAB
KEMATIAN
MENINGGAL DI PELAYANAN MENINGGAL DI LUAR
KESEHATAN PELAYANAN KESEHATAN
 SERTIFIKASI MEDIS  AUTOPSI VERBAL
PENYEBAB  SERTIFIKASI PENYEBAB
 PENGKODEAN ICD KEMATIAN
DIAGNOSA DAN KONDISI  PENGKODEAN ICD
DIAGNOSA DAN KONDISI
 SELEKSI KODE PENYEBAB
DASAR KEMATIAN  SELEKSI KODE PENYEBAB
DASAR KEMATIAN
 ENTRI DATA;  ENTRI DATA;
 TABULASI DATA  TABULASI DATA
 STATISTIS PENYEBAB  STATISTIS PENYEBAB
KEMATIAN B KEMATIAN KEMATIAN
KONSEP PENYEBAB DASAR KEMATIAN

 Jika hanya ada satu diagnosis penyebab kematian,


penyebab kematian tersebut ditulis pada garis 1a
dari sertifikat.
 Jika dua tau lebih kondisi yang secara langsung
berkontribusi terhadap kematian, harus dituliskan
secara berkaitan dalam bagian I dari sertifikat
dengan penyebab dasarnya di tulis pada baris
terbawah.
 Tentukan semua kode diagnosis/kondisi yang
tertulis dalam sertifikat
 Untuk mentabulasi dan membuat laporan,
tentukan/pilih kode penyebab dasar kematian
underlying cause sesuai aturan ICD-10
KONSEP PENYEBAB DASAR KEMATIAN

 Jika hanya satu penyebab kematian yang dituliskan


makan penyebab ini yang akan ditabulasikan

 Jika lebih dari satu penyebab kematian yang


dituliskan, langkah pertama dalam penseleksian
penyebab dasar kematian adalah menentukan
rangkaian penyebab kematian yang ditulis pada
baris paling bawah pada bagian I dari sertifikat
dengan menerapkan Prinsip Umum atau Rule seleksi
1, 2 dan 3
PRINSIP BERURUTAN (SEQUENCE)

Istilah “berurutan” mengandung arti dua atau lebih kondisi


yang tertera dalam baris-baris pada bagian I sertifikat,
setiap kondisi atau diagnosis menjadi penyebab akibat
dari kondisi atau diagnosis pada baris terbawah yang
dituliskan pada Bagian I.

I (a) Bleeding of oesophageal varices I85.0


(b) Portal hypertension K76.6
(c) Liver cirrhosis K74.6
(d) Hepatitis B B18.8

Hepatitis B menyebabkan semua kondisi atau


diagnosis di atasnya
PRINSIP BERURUTAN (SEQUENCE)

Jika lebih dari satu penyebab kematian tertulis dalam satu


baris pada sertifikat, hal ini memungkinkan adanyan lebih dari
satu urutan yang dituliskan, seperti contoh dibawah ini:

I (a) Coma ( R40.2)


(b) Myocardial infarction (I21.9) dan
cerebrovascular accident (I51.6)
(c) Atherosclerosis (I70.9) Hypertension (I10)

• atherosclerosis (menyebabkan) myocardial infarction (menyebabkan) coma;


• atherosclerosis (menyebabkan) cerebrovascular accident (menyebabkan) coma;
• hypertension (menyebabkan) myocardial infarction (menyebabkan) coma;
• hypertension (menyebabkan) cerebrovascular accident (menyebabkan) coma
PRINSIP UMUM (GENERAL PRINCIPLE)

Prinsip Umum meyatakan: ketika jika lebih dari


satu kondisi atau diagnosis yang tertera dalam
sertifikat, kondisi atau diagnosa yang tertulis
pada baris terbawah pada Bagian I sertifikat
bagian, akan diseleksi sebagai penyebab dasar
jika dapat menyebabkan semua diagnosa atau
kondisi yang berada di atasnya.
PRINSIP UMUM

Contoh:
I (a) Hepatic failure K72.9
(b) Bile duct obstruction K83.1
(c) Carcinoma of head of pancreas K25.0

Carcinoma pangkreas (bagian kepala) menyebabkan


terjadinya obstruksi saluran empedu dan akhirnya
menyebabkan kegagalan hepar
Pilihlah carcinoma of head of pancreas (C25.0) sebagai
penyebab dasar kematian
PRINSIP UMUM

I (a) Abscess of lung (J85.2)and septicaemia


(A41.9)

(b) Lobar pneumonia (J18.1)

Pilihlah lobar pneumonia (J18.1) sebagai


penyebab dasar terjadinya abses paru dan
sepsis, dimana keduanya berhubungan
dengan adanya lobar pneumonia
PENGGUNAAN
RULE 1, RULE 2 DAN RULE 3
 Prinsip umum tidak diterapkan seperti pada dituliskan lebih
dari satu kondisi yang dituliskan pada baris paling bawah
bagian I atau kondisi paling bawah tidak dapat sebagai
penyebab semua diagnose atau kondisi di atasnya.
 Jika Prinsip umum tidak dapat diterapkan, seleksi penyebab
dasar harus menerapkan rule seleksi 1 , jika tidak juga bisa
diterapkan maka gunakan rule seleksi 2.
 Kondisi yang telah diseleksi dengan menggunakan rule
maupun prinsip umum perlu dilihat lagi apakah penyebab
dasar yang telah dipilih tersebut dapat menyebabkan urutan
(sequence) kejadian dengan bagian II atau pada baris yang
sama pada bagian I. Jika ada kemungkinan tersebut maka
rule seleksi 3 diterapkan dan penyebab aslinya akan diseleksi
sebagai penyebab dasar kematian.
RULE SELEKSI 1

Jika ada lebih dari satu rangkaian dalam


kondisi yang diutamakan, maka pilihlah awal
rangkaian yang ditulis pertama.
atau
jika kondisi tertulis pada baris paling bawah
tetapi tidak ada hubungan sebab akibat
dengan kondisi lain yang di atasnya pilihlah
salah satu dari kondisi yang lain.
RULE SELEKSI 1

1. Contoh Rule 1:
I (a) Bronchopneumonia (J18.0)
(b) Cerebral infarction (I63.9) and hypertensive heart
disease (I11.9)

Ada dua urutan atau rangkaian yang dituliskan pada


bagian pertama sertifikat yaitu:
1. Bronchopneumonia disebabkan cerebral infarction
dan
2. bronchopneumonia disebabkan hypertensive heart
disease.

Pilih cerebral infarction (I63.9) karena rule 1 menyatakan


pilihlah rangkaian kondisi yang pertama (first-mentioned)
RULE SELEKSI 1

2. Contoh Rule 1:

I (a) Oesophageal varices (I85.9) and congestive


heart failure (I50.0)
(b) Chronic rheumatic heart disease (I09.9) and
cirrhosis of liver (K74.6)
chronic rheumatic heart disease tidak dapat membuat
oesophageal varicearices tetapi chirhosis of liver menyebabkan
Oesophageal dan juga dapat membuat congetstive heart failure

Pilih chirhosis of liver (K74.6) karena rule 1 menyatakan pilihlah


kondisi yang lain yang dapat sebagai sebab diagnosa atau kondisi
lain diatasnya jika tidak ada hubungan sebab pada diagnosis yang
ditulis paling bawah
RULE SELEKSI 2

Jika tidak ada rangkaian kondisi yang


mengakhiri pada sertifikat, pilihlah first-
mentioned condition (kondisi yang ditulis
pertama)
RULE SELEKSI 2

Contoh Rule 2:

I (a) Pernicious anaemia (D51.0) and gangrene of foot


(R02)
X
X
(b) Atherosclerosis (I70.9)

Tidak ada rangkaian kondisi yang menyebabkan


pernicious anaemia, yang ada pada kondisi bagian
pertaman sertfikat. Pilihlah pernicious anaemia
(D51.0). first-mentioned condition
RULE SELEKSI 2

2. Contoh Rule 2:

I (a) Fibrocystic disease of the pancreas (E84.9)

(b) Bronchitis (J40) and bronchiectasis (J47) X

Tidak ada rangkaian kondisi yang dituliskan. Pilihlah


Fibrocystic disease of the pancreas (E84.9) sebagai
penyebab dasar.
RULE SELEKSI 3

Jika kondisi dipilih dengan menggunakan


General Principle atau rule 1 atau rule 2 akan
terjadi suatu konsekwensi langsung terhadap
kondisi-kondisi lainnya, baik pada bagian I atau
bagian II, maka pilihlah kondisi dasarnya
RULE SELEKSI 3: ASUMSI KONSIKUENSI
LANGSUNG YANG MEMPENGARUHI KONDISI LAIN

1. Kaposi's sarcoma, Burkitt's tumour dan malignant


neoplasm of lymphoid lainnya, haematopoieti dan
related tissue, yang berkode C46.- atau C81-C96,
harus disebabkan oleh HIV jika HIV nya dituliskan.

Contoh:
I (a) Kaposi's sarcoma (C46.1)
II AIDS (B24)

Pilihlah HIV disease resulting in Kaposi's sarcoma


(B21.0) sebagai penyebab dasar kematian (original)
RULE SELEKSI 3: ASUMSI KONSIKUENSI
LANGSUNG YANG MEMPENGARUHI KONDISI LAIN

2. Penyakit infeksi yang dikalsifikasikan pada kode


A00-B19, B25-B49, B58-B64, B99 or J12-J18 akan
ada disebabkan oleh HIV jika HIV tertulis dalam
sertifikat..
Contoh:
I (a) Tuberculosis (A16.9)
II HIV (B24)

Pilihlah HIV disease resulting in mycobacterial


infection (B20.0) sebagai penyebab dasar kematian
(original)
RULE SELEKSI 3: ASUMSI KONSIKUENSI
LANGSUNG YANG MEMPENGARUHI KONDISI LAIN

3. Komplikasi pasca operasi tertentu (pneumonia


(jenis apapun), perdarahan, tromboflebitis, emboli,
trombosis, septikemia, henti jantung, gagal ginjal
(akut), aspirasi, atelektasis dan infark) dapat
dianggap sebagai konsekuensi langsung dari
operasi, kecuali jika operasi dilakukan lebih empat
minggu atau lebih sebelum kematian

Contoh:
I (a) Septikemia (A41.9)
II. Appendectomy

Pilihlah Unspecified Appendicitis ( K37)


sebagai penyebab dasar kematian (original)
RULE SELEKSI 3: ASUMSI KONSIKUENSI
LANGSUNG YANG MEMPENGARUHI KONDISI LAIN

4. P neumonia pada J12-J18 harus dianggap


sebagai konsekuensi nyata dari kondisi yang
mengganggu sistem kekebalan tubuh.
Pneumonia pada J18.0 dan J18.2-J18.9 harus
dianggap sebagai konsekuensi yang jelas dari
akibat penyakit (seperti neoplasma ganas dan
malnutrisi) dan penyakit yang menyebabkan
kelumpuhan (seperti perdarahan serebral atau
trombosis), serta kondisi pernapasan yang
serius, Penyakit menular, dan luka serius.
Pneumonia pada J18.0 dan J18.2-J18.9, J69.0,
dan J69.8 juga harus dianggap sebagai
konsekuensi nyata dari kondisi yang
mempengaruhi proses menelan.
RULE SELEKSI 3: ASUMSI KONSIKUENSI
LANGSUNG YANG MEMPENGARUHI KONDISI LAIN

5. Penyakit atau kondisi "embolik" dapat dianggap


sebagai konsekuensi langsung dari trombosis vena,
flebitis atau tromboflebitis, penyakit jantung katup,
fibrilasi atrium, persalinan atau operasi apapun. .
6. Setiap penyakit yang digambarkan sebagai
sekunder harus dianggap sebagai akibat langsung
dari penyebab utama yang paling mungkin terjadi
pada sertifikat
7. Anemia sekunder atau unspecified, kekurangan gizi,
marasmus atau cachexia dapat dianggap sebagai
konsekuensi dari setiap neoplasma ganas.
RULE SELEKSI 3: ASUMSI KONSIKUENSI
LANGSUNG YANG MEMPENGARUHI KONDISI LAIN

8. Pielonefritis apapun dapat dianggap sebagai


konsekuensi dari penyumbatan urin dari kondisi seperti
hiperplasia prostat atau stenosis ureter.
9. Sindrom nefritis dapat dianggap sebagai konsekuensi
dari infeksi streptokokus (demam berdarah, sakit
tenggorokan streptokokus, dll.).
10. Dehidrasi dapat dianggap sebagai konsekuensi dari
penyakit menular usus (intestinal infectious disease)
11. Operasi pada organ tertentu harus dianggap sebagai
konsekuensi langsung dari setiap kondisi operasi
(seperti tumor atau cedera ganas) dari organ yang sama
yang dituliskan di manapun pada sertifikat.
ATURAN MODIFIKASI

 Penyebab kematian yang dipilih belum tentu merupakan


kondisi yang paling berguna dan informatif untuk tabulasi.
Misalnya, jika senility atau beberapa penyakit umum seperti
hipertensi atau aterosklerosis telah dipilih, ini kurang
berguna dibandingkan manifestasi atau hasil penuaan atau
penyakit telah dipilih.
 Aturan modifikasi berikut ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kegunaan dan ketepatan data kematian dan
harus diterapkan setelah pemilihan penyebab dasar kematian.
 Beberapa aturan modifikasi memerlukan penerapan lebih
lanjut dari aturan seleksi, yang tidak akan sulit bagi coder
yang berpengalaman, namun penting untuk melalui proses
seleksi, modifikasi dan, jika perlu, pemilihan kembali.
MODIFICATION RULES

Rule A - Senility and other ill-defined conditions

Rule B - Trivial conditions

Rule C - Linkage

Rule D - Specificity

Rule E - Early and late stages of disease

Rule F - Sequelae
RULE A. SENILIT Y AND OTHER ILL-
DEFINED CONDITIONS

Bila penyebab yang dipilih termasuk ill-defined


dan kondisi lain ada dituliskan pada sertifikat,
pilih kembali penyebab kematian seolah-olah
kondisi ill-defined tidak dilaporkan, kecuali jika
kondisi tersebut memodifikasi pengkodean.

Kondisi berikut dianggap ill-defined: : I46.9 (Cardiac arrest, unspecified); I95.9


(Hypotension, unspecified); I99 (Other and unspecified disorders of circulatory
system); J96.0 (Acute respiratory failure); J96.9 (Respiratory failure,
unspecified); P28.5 (Respiratory failure of newborn); R00-R94 or R96-R99
(Symptoms, signs and abnormal clinical and laboratory findings, not elsewhere
classified). Catatan: bahwa R95 (Sudden infant death syndrome) tidak
dianggap ill-defined.
RULE A. SENILIT Y AND OTHER ILL-
DEFINED CONDITIONS
Contoh rule A:
I (a) Senility (R54) dan hypostatic pneumonia (J18.2)
(b) Rheumatoid arthritis (M06.9)

Pilih Senility sebagai tentative UCoD dengan menggunakan Rule 1


Merujuk ke aturan modifikasi bahwa seolah olah senility tidak
dilaporkan. Pilih kembali tentative UCoD Rheumatoid arthritis
(M06.9) dengan mengaplikasikan general principle (prinsip umum)

I (a) Senility (R54) dan hypostatic pneumonia (J18.2)


(b) Rheumatoid arthritis (M06.9)
RULE B. TRIVIAL CONDITIONS

Dimana penyebab yang dipilih adalah kondisi


sepele yang tidak mungkin menyebabkan
kematian dan kondisi yang lebih serius
dituliskan, pilih kembali sebab yang
mendasari seolah-olah kondisi sepele tidak
dilaporkan.
Jika kematian adalah hasil reaksi buruk
terhadap pengobatan kondisi sepele, pilih
reaksi yang merugikan.
RULE B. TRIVIAL CONDITIONS

Contoh rule B:
I(a) Ingrowing toenail (L60.0) dan acute renal
failure (N17.9)
Pilih Ingrowing toenail (L60.0) sebagai tentative UCoD dengan
menggunakan Rule 2
Merujuk ke aturan modifikasi bahwa Ingrowing toenail termasuk
hal yang sepele, Pilih kembali tentative UCoD acute renal failure
(N17.9) sebagai tentative UCoD dengan menggunakan
general principle (prinsip umum)

I(a) Ingrowing toenail (L60.0) dan acute renal


failure (N17.9)
RULE C. LINKAGE

 Bila penyebab yang dipilih dikaitkan dengan ketentuan


dalam pengklasifikasi atau catatan yang digunakan
dalam pengkodean penyebab penyebab kematian dengan
satu atau lebih kondisi lain pada sertifikat, pilihlah kode
kombinasi.
 Bila keterkaitan hanya untuk kombinasi satu kondisi
yang lebih spesifik dari yang lainnya, pilih kondisi
kombinasi hanya jika bila hubungan kausal nyata benar
atau dapat disimpulkan dari penerapan aturan seleksi .
 Jika terjadi pertentangan, hubungan dengan kondisi yang
akan dipilih jika penyebab awalnya dipilih belum
diltuliskan. Buatlah hubungan lebih lanjut yang
memungkinkan .
RULE C. LINKAGE

Contoh Rule C:
I (a) Cerebral infarction (I63.9)
(b) Hypertension (I10)
(c) Atherosclerosis (I70.9)

Atherosclerosis, dipilih sebagai tucod menggunalan


prinsip umum. Karena atherosclerosis links dengan
hypertension, dimana links ini juga links dengan
cerebral infarction, maka pilih cerebral infarction
(I63.9) sebagai UCoD
RULE D. SPECIFICIT Y

Dimana penyebab yang dipilih menggambarkan


suatu kondisi secara umum dan kondisi lain
dengan istilah yang memberikan informasi
yang lebih tepat tentang site atau alamiah
dituliskan pada sertifikat, lebih memilih istilah
yang lebih informatif. Aturan ini akan sering
berlaku bila istilah umum menjadi kata sifat
RULE D. SPECIFICIT Y

Contoh Rule D:
I (a) Pericarditis (I31.9)
(b) Uraemia (N19)

Kode UCoD adalah uraemic pericarditis (N18.8).karena


uraemia bermodifikasi dengan pericarditis menjadi
lebih spesifik yaitu uraemic pericarditis (N18.8)
RULE E. EARLY AND LATE STAGES OF
DISEASE

Dimana penyebab yang dipilih adalah tahap


awal suatu penyakit dan tahap yang lebih maju
dari penyakit yang sama dituliskan pada
sertifikat, maka kode ke tahap yang lebih
maju. Aturan ini tidak berlaku untuk bentuk
"kronis" yang dilaporkan karena bentuk "akut"
kecuali klasifikasi tersebut memberikan
instruksi khusus terhadap efek yang
ditimbulkannya.
RULE E. EARLY AND LATE STAGES OF
DISEASE
1. Contoh Rule D:
I (a) Tertiary syphilis (A52.9)
(b) Primary syphilis (A51.0)
Kode tertiary syphilis (A52.9) dipilih sebagai UCoD.

2. Contoh Rule D:
I (a) Chronic myocarditis (I51.4)
(b) Acute myocarditis (I40.9)

Kode acute myocarditis (I40.9)dipilih sebagai UCoD.


RULE F. SEQUELAE

Dimana penyebab yang dipilih adalah bentuk


awal dari kondisi yang diklasifikasi terpisah
"Sequelae of ..." , dan ada bukti bahwa
kematian terjadi akibat efek residual dari
kondisi ini dan bukan dari fase aktifnya, kode
Ke kategori "Sequelae of ..." yang sesuai.
RULE F. SEQUELAE

Contoh Rule F:
I (a) Hydrocephalus (G91.9)
(b) Tuberculous meningitis (A17.0)

Kode UCoD adalah sequelae of tuberculous


meningitis (B90.0).
ASSUMPTION OF INTERVENING CAUSE

Pada beberapa sertifikat medis, satu keadaan


dapat diindikasikan sebagai akibat yang lain,
namun bukanlah sekuel langsung yang lain.
Dalam kasus seperti itu Anda dapat
mengasumsikan adanya kondisi lain yang
belum dilaporkan (intervening). Coders
seharusnya hanya mengasumsikan penyebab
intervening untuk tujuan menafsirkan urutan
dan tidak boleh sebagai penyebab kematian.
ASSUMPTION OF INTERVENING CAUSE

Contoh
I (a) Mental retardation (F79.9)
(b) Premature separation of placenta (O45.9)

Penting untuk mengasumsikan adanya birth


trauma, anoxia atau hypoxia sebagai kondisi
intervening antara mental retardation dan
premature separation of placenta (The underlying
cause)
HIGHLY IMPROBABLE

Terkadang urutan sekuensi yang dituliskan sangat tidak


mungkin. Perhatikan bahwa acute or terminal circulatory
disease yang dilaporkan disebabkan oleh: neoplasma
ganas, asma atau diabetes mungkin sebagai urutan yang
mungkin terjadi bila terjadi di bagian I sertifikat.

Contoh:
 Tetanus disebabkan malignant neoplasm of the lung
Highly improbable (b)
 Diabetes disebabkan malignant neoplasm of the
pancreas Acceptabel sequence (e)
 Fractured pelvis disebabkan epilepsy Acceptabel
sequence (n) (1)
NATURE OF INJURY

 Kode untuk penyebab eksternal (V01-Y89) harus


digunakan sebagai kode penyebab dasar dan yang
ditabulasikan untuk kasus kematian akibat cedera,
keracunan dan konsekuensi lain dari penyebab
eksternal.
 Disarankan agar kode dari Bab XIX (S00 -T98) harus
digunakan sebagai tambahan untuk mengidentifikasi
sifat cedera.
 Bila lebih dari satu jenis cedera pada satu bagian tubuh
(S00-S99, T08- T35, T66-T79), dan tidak ada indikasi
yang jelas mengenai penyebab kematian, Anda harus
menerapkan Prinsip Umum dan peraturan pemilihan
dengan cara yang biasa.
NATURE OF INJURY

Contoh 1:
I (a) Haemorrhagic shock
(b) Peritoneal haemorrhage
(c) Rupture of liver
(d) Road traf fic accident
pilihlah rupture of liver (S36.1), sebagai akibat external
cause (Road traf fic accident ) yang menyebabkan kematian.
Contoh 2:
I (a) Peritonitis
(b) Rupture of stomach and transverse colon
(c) Road traf fic accident
Pilihlah rupture of stomach (S36.3), sebagai akibat
external cause (Road traf fic accident ) yang menyebabkan
kematian. Sesuai dengan rule 1 yaitu first-mentioned sequence
EXTERNAL CAUSES

 Kode external causes (V01-Y89) harus menjadi


penyebab dasar kematian dan ditabulasi jika kondisi
yang menyebabkan kematiannya termasuk dalam
BAB XIX Injury, poisoning and certain other
consequences of external causes).
 Jika kondisi penyakit diklasifikasikan pada kelompok
BAB I-XVIII, maka kondisi penyakit itu sendiri yang
menjadi penyebab dasar dan kategori dari kelompok
Bab external causes, jika ada, dijasikan sebagai
kode tambahan.
EXTERNAL CAUSES

Contoh 1:
I (a) Asphyxiation (T71)
(b) Intentional self-harm by hanging, strangulation and
suf focation (X70.98)

pilihlah Intentional self-harm by hanging, strangulation


and suf focation (X70.98)
sebagai UCoD.
MALIGNANT NEOPLASMS

Jika malignancy sebagai penyebab dasar


kematian, ada 4 faktor harus dilengkapi
dalam kode penyakitnya.
Yaitu:
1. Site of the neoplasm
2. Morphology of the neoplasm
3. Behaviour of the neoplasm
4. The site is the primary site or a metastasis
MALIGNANT NEOPLASMS

Multiple Site.
Contoh:
I (a) Cancer of stomach
(b) Cancer of breast
kode UCoD adalah malignant neoplasms of independent
(primary) multiple sites (C97 ),

Contoh 2:
I (a) Leukaemia
II Carcinoma of breast
Kode leukaemia (C95.9) menjadi UCoD karena Ca
Mammae ada dibagian II. Multiple sites, hanya berlaku jika site
yang berbeda pada bagian I sertifikat.
INFECTIOUS DISEASES AND MALIGNANT
NEOPLASMS
 Kadang kala efek dari chemotherapy terhadap
immune system, beberapa pasien cancer menjadi
terinfeksi penyakit infeksi dn meninggal oleh
karenanya. infectious disease yang termasuk pada
A00-B19 atau B25-B64 yang ditimbulkan oleh cancer
mungkin saja dapat terjadi baik di. bagian I maupun
di bagan II

Contoh: I (a) Zoster (B02.9)


(b) Chronic lymphocytic leukaemia (C91.1)
Kode chronic lymphocytic leukaemia (C91.1) sebagai
UCoD
INFECTIOUS DISEASES AND MALIGNANT
NEOPLASMS

Kecuali penyakit human immunodeficiency


virus [HIV], tidak ada penyekit infeksi ataupun
parasit yang menyebabkan cancer dianggap
sebagai UCoD.

Contoh: I (a) Hepatocellular carcinoma


(C22.0).
(b) Hepatitis B virus (B16.9)
Kode hepatocellular carcinoma (C22.0)
sebagai UcoD
SERTIFIKAT PENYEBAB KEMATIAN
PERINATAL
SERTIFIKAT PENYEBAB KEMATIAN
PERINATAL
a) Penyebab utama bayi:
…………………………………………………..

b). Penyebab lain bayi ;


…………………………………………………….

c). Penyebab utama ibu;


…………………………………………………..

d). Penyebab lain ibu ;


…………………………………………………….
SERTIFIKAT PENYEBAB KEMATIAN
PERINATAL
Kondisi ibu yang mempengaruhi infant atau
janin, yang dituliskan pada baris (c) dan (d),
harus berkode pada kategori, P00-P04 dan
kode ini tidak digunakan pada baris (a) dan
(b). Kondisi infant atau fetus, baris (a),
dapat berkode selain P00-P04 (selalunya
P05-P96 (Perinatal conditions) atau Q00-
Q99 (Congenital anomalies).
Hanya ada satu kode yang diisi pada baris
(a) dan (c), tetapi untuk (b) dan (d)
sebanyaknya kode kondisi yang ditemuan.
PERINATAL MORTALIT Y: GUIDELINES FOR
CERTIFICATION AND RULES FOR CODING
Rule dalam penseleksian kasus Perinatal:

Rule P1. Mode of death or prematurity


entered in section (a).
Rule P2. Two or more conditions entered in
sections (a) or (c).
Rule P3. No entry in sections (a) or (c).
Rule P4. Conditions entered in wrong section
RULE P1. MODE OF DEATH OR
PREMATURIT Y ENTERED IN SECTION (A).

Rule P1. Mode of death or prematurity


entered in section (a).
Jika gagal jantung atau jantung, asfiksia atau
anoksia (ada kondisi di P20.-, P21.-) atau
prematuritas (setiap kondisi pada P07.-)
dimasukkan pada bagian (a) dan kondisi bayi
selain bagian (a) di bagian (b), kode yang
disebutkan pertama pada baris b ini seolah-
olah telah dimasukkan sendiri di bagian (a) dan
kondisi yang benar-benar masuk pada bagian
(a) seolah-olah telah masuk dalam bagian (b).
RULE P1. MODE OF DEATH OR
PREMATURIT Y ENTERED IN SECTION (A).

Rule P1. Mode of death or prematurity entered in


section (a).
Contoh P1:
Liveborn; meninggal pada umur 4
(a) Prematurity P07.3 (Q05.9)
(b) Spina bifida Q05.9 (P07.3)
(c) Placental insufficiency P02.2
(d) —
Prematurity dikode pada bagian (b) and spina
bifida pada bagian (a). Sehingga yang ditabulasi
adalah Spina bifida (Q05.9)
RULE P2. T WO OR MORE CONDITIONS
ENTERED IN SECTIONS (A) OR (C).

 Rule P2. Two or more conditions entered in sections (a) or


(c).

Jika dua atau lebih kondisi yang ditulis pada bagian (a) atau
bagian (c), pilihkan the first-mentioned dari yang ada. Masukkan
pada baris (a) dan (c) dan yang lainnya masukkan ke baris (b)
atau (d).
Lahir mati; meninggal sesat sebelum lahir.
(a) Severe fetal malnutrition (P05.0) (P05.0)
Light for dates (P07.1)
Antepartum anoxia (P20.9)
(b) — (P20.9),
(P07.1)

(c) Severe pre-eclampsia (P00.0) (P00.0)


Placenta praevia (P02.0)
(d) (P02.0)
RULE P3. NO ENTRY IN SECTIONS (A) OR
(C).

Rule P3. No entr y in sections (a) or (c).


 Jika tidak ada yang ditulis di baris (a) tetapi ada kondisi
infant atau fetus di baris (b), pilihlah yang ditulis pertama
pada baris (b) dan pindahkan ke baris (a). Jika tidak ada yang
dituliskan pada baris (a) atau baris (b), Jika tidak ada yang
ditulis pada baris (a) atau (b), kode lah P95 (Fetal death of
unspecified cause) jika lahir mati atau kodelah P96.9
(Condition originating in the perinatal period, unspecified)
untuk lahir hidup yang dituliskan pada baris (a).
 Hal yang sama. Jika tidak ada yng dituliskan pada baris (c)
tetapi ada kondisi maternal pada baris (d), pilihlah yang
ditulis pertama dan tuliskan di baris (c). ; jika tidak ada
dituliskan baris (c) atau (d) gunakan buat kode sendiri
misalnya xxx.x pada baris (c) untuk menandakan tidak ada
kondisi maernal yang teridentifikasikan.
RULE P3. NO ENTRY IN SECTIONS (A) OR
(C).

Contoh Rule P3. No entr y in sections (a) or (c ).:


Lahir hidup; meninggal umur 15 menit
(a) — P10.4
(b) Tentorial tear (P10.4) P22.0
Respiratory distress syndrome (P22.0)
(c) xxx.x
(d) —
Tentorial tear ditempatkan pada baris (a) dan xxx.x
untuk kode baris (c).
RULE P4. CONDITIONS ENTERED IN
WRONG SECTION
Rule P4. Conditions entered in wrong section

 Jika kondisi maternal (kondisi P00-P04) yang


dituliskan pada baris (a) atau baris (b), atau kondisi
infant atau fetus yang dituliskan pada baris (c) atau
(d), kodelah kondisi pada bagian yang tepat.
 Jika kondisi infant atau maternal salah masuk
dalam baris yang seharusnya yaitu dimasukkan
dalam baris (e), kodelah kondisi tambahan yang di
(e) pada baris (b) atau (d).
RULE P4. CONDITIONS ENTERED IN
WRONG SECTION
Contoh Rule P4. Conditions entered in wrong section

Lahir mati; meninggal setelah tanda lahir


(a) Severe intrauterine hypoxia (P20.9)
(P20.9)
(b) Persistent occipitoposterior (P03.1)
(c) — P03.1
(d) — P03.2
(e) Difficult forceps delivery (P03.2)

Persistent occipitoposterior (P03.1) dikode pada


baris (c); difficult forceps delivery (P03.2) dicode pada
baris (d).
MARI BERLATIH