Anda di halaman 1dari 47

NEMATODA JARINGAN

KELOMPOK 4

Afrah Hafizah
Annisa Sarah
Amalia Dwitasari
Cahya Purwaningsih
Nematoda Jaringan/Darah

1. Pemberian nama Nematoda berdasarkan pada tempat


hidupnya di dalam tubuh host atau inangnya

2. NematodaJaringan/Darah adalah cacing nematoda yang


hidup pada saluran limfatik atau darah atau jaringan
tubuh host atau inangnya. Nematoda yang infeksinya
di jaringan tubuh biasanya bersifat parasitic pula pada
hewan, misalnya pada kucing dan anjing
CON’T

1. Nematodajaringan dan darah dicegah dengan melaku


kan tindakan kemoterapi (pengobatan), menghindari
gigitan vektor, memberantas vektor dengan
membersihkan tempat perindukannya dan
menggunakan insektisida maupun senyawa kimia
lainnya.
2. Pengobatan nematoda jaringan dan darah ada yang
langsung membunuh cacing dan beberapa
diantaranyahanya bersifat pencegahan.
3. Penularan nematoda jaringan dan darah melalui
hospes perentara (vektor).Stadium infektif cacing
terbentuk dalam tubuh vektor
Beberapa Spesies Nematoda Jaringan

Wucehereia bancrofti

Brugia malayi

Brugia timori

Loa loa

Onchocerca volvulus
Wuchereria bancrofti

• Hospes : Manusia
• Penyakit : wukereriasis = filariasis
bankrofti
• Penyebaran Geografik:
– Daerah iklim tropis seluruh dunia
Morfologi

• Habitat dalam saluran dan kelenjar limfe


• Bentuk halus seperti benang putih susu
• Cacing betina vivipar mikrofilaria
• Mikrofilaria hidup dalam darah.
– Mempunyai periodisitas nokturna
– Di Pasifik  subperiodik diurna
– Di Muang Thai subperiodik nokturna
W. bancrofti
Morfologi dan Daur hidup W. bancrofti
• Cara infeksi : gigitan nyamuk
vektor yang mengandung
larva filaria stadium III

Diperkotaan • Culex
: quinquefasciatus

Di pedesaan • Anopheles atau


: Aedes
Patologi dan gejala
• Cacing dewasa : klinis

Stadium Stadium
akut kronis hidrokel,
limfedema dan
elefantiasis
limfadenitis dan seluruh
limfangitis tungkai,
retrograd, seluruh lengan,
funikulitis, dan alat
epididimitis dan kelamin,
orkitis kadang-kadang
kiluria
Infeksi Wuchereria bancrofti. Hidrokel
dan lymph scorotum
Diagnosis

• Menemukan mikrofilaria dalam


darah tepi , cairan hidrokel /
Parasitologi cairan kiluria
• Diferensiasi spesies dan stadium
filaria dgn pelacak DNA

• USG pada skrotum


Radiodiagnosis
• Limfosintigrafi

• ELISA
Imunologi • Immunochromatographic
test (ICT)
Pengobatan

• Dietil karbamazin (DEC) 6mg/kg


bb/hari selama 12 hari
• Obat lain : ivermektin
• Efek samping obat:
– Farmakologis : tergantung dosis
– Respons dari hospes : tergantung jumlah
parasit
• Reaksi obat:
– Reaksi sistemik:
– Rekasi lokal :
Epidemiologi

• Di Indonesia:
– di daerah pedesaan > perkotaan
– Kelompok usia produktif
– Berpenghasilan rendah
Brugia malayi dan Brugia timori

• Hospes :
– Brugia malayi :
• Manusia
• Binatang : kucing, kera,
– Brugia timori : Manusia
• Penyakit : filariasis malayi dan
filariasis timori filariasis brugia
• Penyebaran geografis:
– Brugia malayi : Asia
– Brugia timori : Indonesia Timur(
NTT,Timor
Lorosae)
Morfologi dan Daur
hidup

• Habitat : saluran dan kelenjar


limfe
• Halus seperti benang putih susu
• Cacing dewasa :
– B. malayi : ♀ 55 mm x 0,16 mm
♂ 22-23 x 0,09 mm
– B. timori : ♀ 21-39 mm x 0,1 mm
♂ 13-23 mm x 0,08
B. malayi
B. timori
Siklus hisup B. malayi & B.timori
Daur hidup Brugia malayi/B.timori
• Mikrofilaria :
– bersarung,
– ukuran :
200-260 µ x 8 µ(B. malayi) dan
280 - 310 µ x 7 µ(B. timori)
– Periodisitas :
• B. malayi nokturna, subperiodik
nokturna atau non periodik
• B. timori : periodik nokturna
• Vektor :
– B. malayi periodik : An. barbirostris
– B. malayi subperiodik : Mansonia spp.
– B. timori : An. Barbirostris

• Cara infeksi : gigitan nyamuk


vektor yang mengandung larva
filaria stadium III.
Patologi dan gejala
• klinis
filariasis malayi = filariasis timori

Stadium akut : Menahun :


• Serangan demam & • elefantiasis hanya
radang saluran kel. limfe mengenai tungkai
• Limfadenitis kel. limfe bawah bawah
inguinal unilateral
lutut atau lengan
• Limfangitis retrograd
bawah bawah
• Peradangan tampak
sebagai garis merah yg siku.
menjalar kebawah.
Elephantiasis yang disebabkan
oleh B.malayi
Diagnosis

• Gejala klinis
• Diagnosis parasitologi =
filariasis bankrofti
• Radiodiagnosis umumnya tidak
dilakukan
• Diagnosis Imunologi belum
dapat dilakukan
Pengobatan

• DEC dgn dosis 5 mg /kg.bb selama


10 hari
• Efek samping obat jauh lebih berat
daripada filariasis bankrofti
• Untuk pengobatan masal : dosis
rendah jangka panjang(100 mg
/minggu selama 40 minggu) atau
garam DEC 0,2-0,4% selama 9-12
bln.
Epidemiologi

• Hanya terdapat di daerah pedesaan


• B. malayi yang hanya pada
manusia dan B. timori  di daerah
persawahan
• B. malayi manusia dan binatang 
di pinggir pantai atau aliran
sungai, rawa-rawa.
• Peneyebaran bersifat fokal.
Occult filariasis
(tropical pulmonary eosinophilia)

Definisi :
Occult filariasis ialah filariasis limfatik yang
disebabkan oleh penghancuran mikrofilaria
da-lam jumlah berlebihan oleh sis-tem
kekebalan penderita, akibat hipersensitifitas
terhadap anti-gen mikrofilaria.
Penyebaran geografis Indonesia, Singapura,
Vietnam, Muangthai , Afrika dan Curacao.
Patologi dan gejala
klinis
• Gejala klinis:
– Hipereosinofila
– Peningkatan kadar Ig.E
– Kelainan klinis menahun dgn
pembengkakan kel.limfe dan gejala
asma bronkial.
• Patologi :
– Benjolan-benjolan kecil warna kuning
kelabu berisi infiltrasi sel eosinofil
benda Meyers Kouwenaar.
Diagnosis

• Gejala klinis
• Hipereosinofilia
• Peningkatan kadar Ig.E
• Gambaran Rontgen paru
• Menemukan benda Meyers Kouwenaar
pada sediaan biopsi
Pengobatan

• DEC 6 mg/kg bb/hari selama 2-3


minggu
Loa loa

• Hospes : Manusia
• Penyakit : loaiasis = Calabar
swelling
(fugitive
swelling)
• Penyebaran geografik : daerah
katulistiwa berhutan (rain forest)
Afrika tropis bagian Barat
Morfologi dan daur hidup

• Cacing dewasa hidup dalam jaringan


subkutan  Mengeluarkan
mikrofilaria yang beredar dalam
darah pada siang hari
• Mikrofilaria bersarung, dapat
ditemukan dalam urin, sputum,
kadang-kadang dalam cairan sumsum
tulang blakang
• Vektor : lalat Chrysops
Diagnosis

• Menemukan mikrofilaria dalam


darah yang diambil pada siang
hari
• Menemukan cacing dewasa dari
conjunctiva mata atau dalam
jaringan subkutan.
Pengobatan

• DEC 2 mg/kg bb, 3 x sehari sesudah


makan selama 14 hari
• Cacing dewasa pada mata dengan
operasi.
Epidemiologi

• Daerah endemi adalah daerah lalat


Chrysops silacea dan C. dimidiata dgn
tempat perindukan di hutan berhujan
dng kelembaban tinggi
Onchocerca volvulus

• Hospes  Manusia
• Penyakit onkosersiasis, river
blindness,
blinding filariasis
• Penyebaran Afrika, Amerika
Tengah dan
Amerika Selatan
Morfologi dan daur hidup

• Cacing dewasa hidup dalam jaringan


ikat
• Bentuk seperti kawat putih,
opalesen dan transparan
• Cacing betina mengeluarkan
mikrofilaria dalam jar. subkutan 
migrasi ke kulit
• Vektor : lalat Simulium
Patologi dan gejala
klinik
• Ada 2 tipe onkosersiasis
1. Tipe forest  kelainan kulit lebih dominan
2. Tipe savanna kelainan mata yg dominan

• Manifestasi utama berupa kelianan pada


kulit, sistem limfatik dan mata

• Dua macam proses patologi:


– Cacing dewasa dalam jaringan ikat
– Mikrofilaria yg beredar menuju kulit
Con’t...

• Kelainan oleh cacing dewasa disebut


onkoserkoma
• Kelainan oleh mikrofilaria terutama
menge-nai mata gangguan serat-
serat optik dan retina
• Bila menahun kebutaan
• Kulit kehilangan elastisitas
hanging groin
Diagnosis

• Klinis
• Parasitologik : menemukan
mikrofilaria atau cacing dewasa
dalam benjolan sub-kutan.
• USG nodul
• Pelacak DNA dgn teknik PCR dgn
pelacak ONCHO-150
• Mazotti test
Pengobatan

• Ivermectin
• Suramin
Epidemiologi

• Tempat perindukan vektor di


daerah pegunungan yang
mempunyai air sungai yang deras
• Kebutaan pada penduduk yang
berdekatan dgn aliran sungai 
river blindness.
TERIMA KASIH