Anda di halaman 1dari 22

MOLA HIDATIDOSA

DEFINISI

• Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang


berkembang tidak wajar dimana kadang ditemukan
janin ataupun tidak ditemukan janin dan hampir
seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa
degenerasi hidropik.
• Mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa
gelembung–gelembung putih, tembus pandang,
berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari
beberapa milimeter sampai satu atau dua sentimeter.
GAMBARAN MOLA HIDATIDOSA
ETIOLOGI

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor –


faktor yang dapat menyebabkan antara lain :
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik
sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari Tropoblast
3. Keadaan sosioekonomi yang rendah
4. Paritas tinggi
5. Kekurangan protein
6. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum
jelas.
GAMBARAN GROSS MOLA HIDATIDOSA
EPIDEMIOLOGI

• Insidensi mola hidatidosa di Indonesia adalah 1 dari 100


kehamilan
• Angka kejadian mola sangat bervariasi di setiap negara
• Jenis mola yang ditemukan :
15-20% mola komplit

2-3% mola parsial


PATOGENESIS

Dikenal dua tipe mola hidatidosa :


Mola Komplit
• Mola ini dihasilkan dari dari pembuahan satu atau
dua sperma pada ovum yang telah kehilangan semua
kromosomnya.
• Semua materi kromosom berasal dari sperma
• Pada 90% kasus, satu sperma terlibat dan kariotipe
mola adala 46,XX dan pada 10% 46,XY.
• Dapat dibagi menjadi :
 Androgenetic : kromosom berasal dari ayah saja
Bersifat homozigot: duplikasi dari haploid
kromosom ayah
Bersifat heterozigot: berasal dari dua haploid
kromosom ayah
Biparental : kromosom berasal dari paternal dan
maternal, namun terjadi kesalahan ekspresi dari
kromosom yang berasal dari maternal, sehingga
kromosom paternal menjadi lebih dominan
Mola Parsial
• Mola ini dihasilkan oleh pembuahan sebuah ovum
oleh dua sperma
• Terdapat jaringan janin
Jenis kromosom yang didapat 69,XXX atau 69,XXY
Diakibatkan oleh karena hasil pembuahan dari
oosit yang bersifat haploid dan adanya duplikasi
dari paternal kromosom haploid (dispermi)
Bahkan dapat ditemukan tetraploidi
FAKTOR PREDISPOSISI

• Kehamilan di usia terlalu muda atau tua.


• Riwayat kehamilan mola sebelumnya.
• Kontrasepsi oral.
• Merokok.
• Defisiensi kadar beta karoten.
MANIFESTASI KLINIS

• Amenore
• Muntah karena hamil ,sering kali berat
• Pembesaran uterus biasanya besar daripada kasus
kehamilan normal.
• Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan
tidak terdengar bunyi jantung janin sekalipun uterus
sudah membesar setinggi pusar atau lebih.
PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
- Amenore
3. Laboratoris
- Mual muntah Kadar β-hCG : Lebih dari
- Perdarahan pervaginam normal
- Perut terasa lebih besar
- Tidak terasa pergerakan 4. USG :
anak Tidak tampak kantung
janin maupun bagian dari
2. Ginekologis janin. Seluruh cavum uteri
- Uterus lebih besar dari berisi gambaran vesikuler
lamanya amenore
- Tanda pasti kehamilan :
Negatif
Diagnosis Pasti
- Hasil pemeriksaan Patologi Anatomi :
- tampak vili korealis besar,bulat, hidropik, avaskuler, sisterna
(+), proliferasi sel sito dan sinsitio trofoblas dengan inti atipik
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium
•Pemeriksaan kadar -hCG , Peningkatan hCG
melebihi 100.000 mlU/mL (untuk melihat adanya
potensi keganasan dan follow up)
•Kadang ditemukan anemia dan koagulopati.
•Pemeriksaan fungsi hati
•Pemeriksaan serum kreatinin dan Blood Urea
Nitrogen (BUN)
•Pemeriksaan hormon tiroid jika didapatkan adanya
tanda-tanda toritoksikosis
Pemeriksaan radiologi (Ultrasonography)
•Mengidentifikasi gambaran mola (terdapat gambaran
yang spesifik, seperti sarang tawon atau badai salju) –
pada mola komplit tidak didapatkan gambaran janin,
namun pada mola parsial dapat ditemukan gambaran
janin
•Melihat ada tidaknya kista lutein
DIAGNOSIS BANDING

• Kehamilan ganda
• Abortus
• Hidroamnion
• Kario Karsinoma
KORIOKARSINOMA

• Koriokarsinoma merupakan tumor ganas yang terdiri dari


lapisan – lapisan sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblast
• Metastasis sering kali terjadi pada tahap dini
• Tempat metastasis paling sering adalah paru – paru ( sekitar
75% ) dan vagina ( sekitar 50%)
TATALAKSANA UMUM

• Penatalaksanaan kasus mola hidatidosa tidak


boleh dilakukan di fasilitas kesehatan dasar, ibu
harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih
lengkap.
• Yang perlu diperhatikan :
Stabilkan kondisi pasien
Persiapkan darah untuk kepentingan transfusi
Koreksi keadaan koagulopati
Tangani hipertensi yang terjadi
Observasi kemungkinan terjadinya krisis tiroid
KOMPLIKASI

• Perdarahan.
• Perforasi uterus spontan atau iatrogenik.
• Emboli sel trofoblas.
• Keganasan berupa penyakit trofoblas ganas.
• Tirotoksikosis.
PROGNOSIS

• Prognosis mola hidatidosa umumnya baik


• Risiko untuk kejadian mola hidatidosa berulang
adalah 1.2-1.4%
DAFTAR PUSTAKA

• Cunningham FG, Lenevo KJ, Bloom SL, et al. Williams


Obstetrics. 23rd ed. New York: McGraw-Hill Medical;
2010.
• Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku
Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar
dan Rujukan. 1st ed. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia; 2013.
• Stanford Medicine. Gestational Trophoblastic Disease
Facts; 2014. [cited 3 November 2018]. Available from:
http://cancer.stanford.edu/gynecologic/gtd/facts.html
• Hydatidiform mole :
http://emedicine.medscape.com/article/254657-
overview