Anda di halaman 1dari 27

Anti Tuberculosis

Dr. Christianto Sandjaja


Tuberculosa

• Penyakit yang sudah lama ditemukan


• Menjadi masalah di Indonesia
Obat-obat Anti Tuberculosis
• First Line Drug • Second Line Drug
– INH – PAS
– Rifampisin – Etionamid
– Pirazinamid – Sikloserin
– Etambutol – Kapreomisin
– Streptomisin – Kanamisin
OBAT-OBAT FIRST LINE
Isoniazid (INH)
• Obat sintetik yang diperkenalkan tahun 1953
• Mekanisme Kerja:
– Bakterisid menghambat sintesa asam mikolat
• Aktivitas antimikroba:
– M. Tuberculosis yang sedang tumbuh aktif
– M. Kansasii & M. Xenopi
• Penggunaan Klinik:
– TBC Paru & Luar Paru
Isoniazid (INH)
• Farmakokinetik:
– Oral & Parenteral  baik
– Makanan & Antasid penyerapan distribusi ke seluruh jaringan
tubuh
– Kadar obat dalam cairan serebrospinal ±20%
– Dapat menembus sawar uri
– Metabolisme di hepar
– Ekskresi dlm urin
– Waktu paruh tergantung ras
• Efek Samping:
– Neuritis perifer, parestesi = “stocking gloves”
– Pencegahan diberi piridoksin
– Meningkatkan transaminase
– Hepatotoksik tergantung umur
– Drug Fever, agranulositosis, kelainan kulit, vaskulitis, nyeri sendi
Rifampisin
• Derivat semi sintetik rifamycin B  Streptomyces
mediterranei
• Digunakan tahun 1968
• Mekanisme kerja:
– Bakterisid menghambat sintesa DNA
• Aktivitas anti mikroba:
– Efektif  kuman gram + & -
– M. tuberculosis, M. leprae, M. kansasii, M. marinium,
M. scrofulaceum, M. xenopi
• Penggunaan Klinis:
– TBC paru & Luar paru, Meningitis TBC, Lepra
Rifampisin
• Farmakokinetik:
– Oral: penyerapan baik, makanan menghambat penyerapan
– Tersebar di seluruh jaringan tubuh  cairan c.s & saliva
– Menembus sawar uri
– Metabolisme di hepar
– Ekskresi melalui feses (sbgn besar)
– T ½ lebih panjang kalau ada ggn hepar
• Efek Samping:
– Mual, muntah, nyeri abdomen, “Flu Like Syndrome”
– Peningkatan transaminase, kelainan darah
– Metabolisme dari bbrp obat dipercepat: metadon,
warfarin, glukokortikoid, estrogen, dll.
– Metabolit dari obat ini menyebabkan urin, saliva, air mata,
keringat  merah orange
Etambutol
• Ditemukan thn 1961
• Mekanisme kerja:
– Bakteriostatik, diduga menghambat transfer asam
mikolat ke dinding sel
• Aktivitas anti bakteri:
– Efektif hanya terhadap mycobacteria: M.
tuberculosis, M. kansasii, M. scrofulaceum
• Penggunaan klinis:
– TBC, pengganti PAS
Etambutol
• Farmakokinetik:
– Oral: 80% diserap
– Tersebar di seluruh jaringan tubuh
– Menembus sawar uri
– Konsentrasi obat dalam paru > serum
– Ekskresi  urin
– T ½ : 4 jam
• Efek Samping:
– Yg ptg  Retrobulbar neuritis  penurunan visus
– Yg lain  pruritus, nyeri sendi, ggn GIT, malaise, sakit
kepala, disorientasi, halusinasi, hiperurisemia & ggn
sensibilitas
Pirazinamid
• Derivat nikotinamid
• Disintesa thn 1952
• Mekanisme Kerja: belum diketahui
• Aktivitas antimikroba:
– Oleh enzim pirazinamidase  asam pirazinoat yg
aktif sebagai anti TBC
Pirazinamid
• Farmakokinetik:
– Oral  penyerapan baik
– Tersebar di seluruh jaringan tubuh dan cairan CNS
– Metabolisme di hepar
– Ekskresi  urin
– T ½ : 10-16 jam
• Efek samping:
– Hepatotoksik
– Peningkatan asam urat  artralgia
– Nausea, vomitus, disuria, malaise & demam
Streptomisin
• Antibiotik gol aminoglikosid
• Aktivitas antimikroba:
– Efektif  M. tuberculosis, M. kansasii
• Farmakokinetik:
– Diberikan IM
– Ekskresi  ginjal
– T ½ : 2-3 jam
• Efek Samping:
– Sakit kepala, prestesi mulut & ekskremitas
– Ototoksik & nefrotoksik
– Reaksi anafilaksis, kelainan darah
OBAT-OBAT SECOND LINE
Etionamid
• Efektif untuk M. tuberculosis & M. leprae
• Oral  penyerapan baik
• Metabolisme di hepar
• Efek samping:
– Ggn GIT
– Hepatitis
– Neurotoksik
Sikloserin
• Antibiotik  streptomyces orchidaceus
• Oral  baik
• Distribusi ke sluruh cairan tubuh
• Menembus sawar otak
• Efek samping:
– Ggn SSP: somnolen, psikosis akut, konvulsi
PAS
• Bakteriostatik lemah
• Oral  perlu dosis besar 10-12 gr / hari
• Efek samping:
– Ggn GIT
– Kelainan darah
– Kelainan kulit
Kapreomisin
• Antibiotik  streptomyces capreolus
• Pemberian IM
• Efek samping:
– Nefrotoksik
– Ototoksik
– Hipokalemi
– Kelainan darah
– Ggn Fs hepar
Kanamisin
• Golongan aminoglikosida
• Pemberian IM
• Efek Samping:
– Ototoksik
– Nefrotoksik
Regimen pengobatan TBC yg
direkomendasikan oleh WHO
Kasus Baru dengan BTA +

Berat Badan Intensif Lanjutan

Harian Harian Intermiten

2RHZE 4RH 4R3H3


< 50 kg
(450/300/1500/800) (450/300) (450/600)

2RHZE 4RH 4R3H3


> 50 kg
(600/300/2000/1200) (600/300) (600/700)
Regimen pengobatan TBC yg
direkomendasikan oleh WHO
Kasus Relaps / Gagal dengan BTA +

Berat Badan Intensif Lanjutan

Harian Harian Intermiten

2RHZES +
(450/300/1500/800/750) 5RHE 5R3H3E3
< 50 kg
1RHZE (450/300/800) (450/600/1200)
(450/300/1500/800)
2RHZES +
(600/300/2000/1200/750) 5RHE 5R3H3E3
> 50 kg
2RHZE (600/300/1200) (600/700/1600)
(600/300/2000/1200)
Regimen pengobatan TBC yg
direkomendasikan oleh WHO
Kasus dengan BTA -

Berat Badan Intensif Lanjutan

Harian/Intermiten Harian Intermiten

2RHZ / 2R3H3Z3 2RH 2R3H3


< 50 kg
(450/300/1500) (450/300) (450/600)

2RHZ / 2R3H3Z3 2RH 2R3H3


> 50 kg
(600/300/2000) (600/300) (600/700)
Obat-obat lain yang dikembangkan
• Derivat kuinolon
• Roksitromisin
• Rifabutin
• Paromomisin
• Klofazimin
Rifabutin (Ansamisin)
• Aktivitas = Rifampisin
• Resistensi silang terhadap rifampisin
• Efektif untuk terapi pencegahan dan
pengobatan infeksi disseminated atipik
mycobacterium
• Lebih banyak dipakai pd penderita AIDS + TBC
yg mendapat antiretroviral
• Kurang menginduksi sitokrom P-450
(dibanding rifampisin)
Klofazimin
• Anti lepra, dpt digunakan utk TBC yg multidrug
resisten
• Di Indonesia sedang dikembangkan DOTS Plus
untuk yg multidrug resisten:
– Kanamisin
– Sikloserin
– Etionamid
– Levofloksasin
– Pirazinamid
– Etambutol