Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN HASIL Kholidah Zia

Kurniana
OBSERVASI & (J01215017)
Murliana
WAWANCARA (J01215023)
IDENTITAS SUBJEK

 N a ma : AS
 TTL : D s n . K a r a n g B e n d o RT. 0 1 / RW. 0 1 K e c . P o n g g o k K a b .
Blitar
 U mu r : 5 3 Ta h u n
 J e n i s K e l a mi n : Laki-laki
 Suku Bangsa : Jawa
 A g a ma : Islam
 P e n d i d i k a n Te r a k h ir : SD
 Pekerjaan : Petani
 Status Pernikahan : Cerai Hidup ( Duda)
 A l a ma t : Blitar
 Anak ke : 6 d a r i 6 b e r s a u da r a
 Hobby : J a l a n - ja l a n
IDENTITAS ORANG TUA

a. Ayah a. Ibu
Status sebagai ayah kandung Status sebagai ibu kandung

Nama : NS (Alm) Nama : PO (Alm)


Alamat : Blitar Alamat : Blitar
Umur :- Umur :-
Suku Bangsa : Jawa Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan :- Pendidikan :-
Pekerjaan : Petani Pekerjaan : Petani
Tingkat sosial ekonomi : Tingkat sosial ekonomi :
Menengah Kebawah Menengah Kebawah
Keterangan lain : Sudah Keterangan lain : Sudah
Meninggal Meninggal
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN SUBJEK

Nama
dan
Tempa Tahun Tahun Ijazah/Kete
Taraf
t Masuk Keluar rangan
Sekola
h
SD 3
Sumbri
SD 1972 1977 Tidak Lulus
ngin
Blitar
LATAR BELAKANG PENGALAMAN KERJA
RIWAYAT KELUHAN

Subjek di rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman


Wediodiningrat Lawang sebanyak enam kali hingga bulan Juni
2018. Pertama kali subjek dirawat pada 18 Februari 2014,
subjek dibawa ke Rumah Sakit Jiwa dengan keluhan bicara
melantur, mudah emosi, marah-marah kepada orang lain,
keluyuran, ngamuk-ngamuk dan merusak, tidak bisa tidur,
mengganggu dan mengacau, makan minum biasa, kurangnya
perawatan diri. Pasien menyatakn sakit jiwa dan ingin dirawat
di Rumah Sakit Jiwa.
Kedua kali dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena subjek
sulit tidur ketika obat habis, merokok sebungkus 2 hari, tidak
ada suara-suara, subjek membeli obat ke puskesmas tidak ada.
Ketiga kalinya dirawat di Rumah Sakit Jiwa, karena subjek
di rumah marah-marah sampai memukul, banyak utang ke toko-
toko, keluyuran sampai tidak pulang, tidak minum obat 20 hari,
ketika malam hari tidak bisa tidur, ketawa sendiri, mandi dalam
sehari 4 sampai 5 kali sehari, makan tidak teratur.
Keempat kalinya dirawat di Rumah Sakit Jiwa, karena
subjek marah-marah, sakit kepala dan sulit tidur bicara sendiri,
teriak-teriak .
Kelima kalinya dirawat di Rumah Sakit Jiwa, karena subjek
mengancam saudaranya mau dibunuh, ibu jari kaki kanan sakit
tetapi komunikatif, keluyuran, semaput.
Keenam kali subjek dirawat di Rumah Sakit Jiwa, karena
marah-marah keliling kampung sambil minta rokok . Kalau bertemu
dengan keluarganya diajak berantem,diancam mau dibunuh,
bicara sendiri dan tertwa sendiri, sering nyanyi-nyayi.
OBSERVASI HARIAN
(SABTU)
No. Waktu Kegiatan
 Menunggu subjek di bangsal
1. 08.00 – 08.40
Kakak Tua
 Subjek datang di bangsal Kakak
2. 08.40 – 08.45
Tua sendirian sambil merokok
 Subjek melihat observer di
3. 08.45– 08.50 ruang tengah dan menghampiri
observer
 Subjek mengajak observer
4. 08.50 – 09.00 berbicara diluar supaya bisa
merokok dengan bebas.
 Observer melakukan proses
09.00 – 09.40
observasi dan wawancara
10.15 – 11.00  Wawancara dengan subjek
5.
 Observasi perilaku mandi,
15.00 – 19.00 menyiapkan makan, mengikuti
TAK dan meminum obat
 Observasi perilaku subjek saat
6. 08.00 – 09.00
kegiatan TAK
 Proses wawancara dengan
7. 09.00 – 10.00
subjek
 Keluarga pasien lain ada yang
datang berkunjung dan subjek
8. 10.05 – 11.30 berjalan disekitar mereka
supaya diberikan makanan
maupun rokok.
OBSERVASI HARIAN
(MINGGU)
N
o Waktu Kegiatan
.
1 13.00 –  Mengobrol mengenai kegiatan
. 13.40 jalan sehat
2 13.40 –  Proses wawancara dengan
. 14.45 subjek
3 14.45–  Subjek bersih-bersih bangsal
. 15.00 Kakak Tua
4 15.00 –  Subjek menyiapkan makan
. 15.20 malam bersama pasien lain
5 15.20 –  Subjek mengobrol bersama
. 16.00 perawat
6 16.00 –  Pasien makan lalu
. 16.30 membereskan meja makan
OBSERVASI HARIAN
(SENIN)
No. Waktu Kegiatan

1. 07.53 – 08.05  Pemutaran musik dangdut

2. 08.05 – 08.15  Penimbangan berat badan bergantian

 Subjek dan beberapa pasien lain dibawa ke halaman ruang rehabilitasi untuk mengikuti lomba
3. 08.15– 09.00
HUT RSJ

4. 09.00 – 10.00  Subjek berkeliling dan memakan jajanan pasien lain

5. 10.00 – 10.30  Subjek mengikuti lomba tarik tambang dan mengatur teman-temannya di posisi masing-masing

 Bangsal Kakak Tua mendapat juara 2 dalam perlombaan tarik tambang. Subjek maju ke
6. 10.30 – 11.00
panggung untuk berfoto dan berjoget

 Observer bertanya kepada subjek mengenai perasaannya ketika mengikuti lomba dan
7. 11.00 – 11.20
memenangkan lomba
OBSERVASI HARIAN
(SELASA)
No. Waktu Kegiatan
 Observer datang ke bangsal Kakak
 Observer menunggu subjek keluar 12. 15.30 – 15.45
1. 08.00 – 09.00 dari kamar mandi Tua
 Subjek keluar dari kamar mandi  Subjek menyalakan radio sambil
2. 09.00 – 09.05 dalam keadaan badan dan baju basah
13. 15.45 – 16.00 berjoget dan mengajak pasien lain
 Subjek dipanggil untuk mengikuti

3. 09.05– 09.10 evaluasi yang dilakukan oleh dokter untuk ikut berjoget

jiwa dan dokter muda.
14. 16.00 – 16.15 Subjek menyiapkan makanan
09.10 – 09.12  Subjek pergi ke kamar mandi
4.
 Subjek menyuapi pasien yang diikat
 Subjek menggerak-gerakkan bolpoin, 15. 16.15 – 16.20
5. 09.12 – 09.20 termenung, melamun, dan ling lung tangan dan kaki nya
 Keluarga pasien lain datang  Subjek menginstruksikan cuci piring
berkunjung dan subjek segera
16. 16.20 – 16.40
6. 09.20 – 09.25
menghampiri
ke pasien yang lain

 Subjek tersenyum melihat ke arah  Pelaksanaan TAK oleh salah satu


7. 09.25 – 09.35 17. 16.40 – 17.20
jendela
perawat


Subjek menjawab pertanyaan yang
Observasi perilaku subjek saat minum
8. 09.35 – 09.40 diajukan oleh dokter jiwa sambil
18. 19.00 – 19.10
menopang dagu dengan tangan obat
 Subjek menggerakkan kaki kiri terus
9. 09.40 – 09.45 menerus

10. 09.45 – 09.50  Berlari ke kamar mandi

11. 09.50 – 10.45  Proses wawancara dengan subjek


OBSERVASI HARIAN
(RABU)

No. Waktu Kegiatan

 Subjek sedang bersih-bersih ruang


1. 07.45 – 08.00 tengah dan kamar pasien saat
observer datang
 Pelaksanaan TAK oleh salah satu
2. 08.00 – 09.00
perawat

3. 09.00– 09.15  Makan snack bersama

4. 09.15 – 09.20  Subjek mengepel ruang tengah

 Subjek berjalan kearah keluarga


5. 09.20 – 09.30
pasien yang sedang berkunjung
6. 09.30 – 10.40  Proses wawancara dengan subjek
OBSERVASI HARIAN
(KAMIS)

No. Waktu Kegiatan

 Subjek dipotong rambutnya oleh


1. 07.50 – 08.00
salah satu perawat
 Pelaksanaan TAK oleh salah satu
2. 08.00 – 08.40
perawat
 Subjek dibawa ke ruang rehabilitasi
3. 08.40– 12.00
untuk mengikuti pelatihan kerja

4. 13.00 – 14.15  Proses wawancara dengan subjek


AUTOANAMNESA

Pada saat perkenalan subjek menyebutkan nama


lengkapnya dengan baik dan lengkap, subjek mengaku berusia
53 tahun subjek tidak ingat tanggal dan bulan kelahirannya
namun mampu menyebutkan tahun kelahirannya. Subjek anak
bungsu dari enam bersaudara., saudara pertama subjek sudah
meninggal dunia. Subjek dapat menyebutkan nama, urutan
keluarga, usia serta pekerjaan dari ayah ibu dan saudara
dengan baik. Subjek mengaku masuk Rumah Sakit Jiwa
sebanyak enam kali
ALLOANAMNESA

 Narasumber : B
 Hari/Tanggal : Senin, 25 Juni 2018
 Hubungan : Perawat Bangsal Kakak Tua
 Subjek sudah masuk untuk dirawat inap di Rumah
Sakit Jiwa sebanyak lima kali. Ketika di Bangsal Kakak Tua,
kegiatan rutin setiap hari subjek adalah membersihkan kamar,
merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel tanpa harus di
suruh dan sudah dijadikan aktivitas setiap hari. Dan subjek
sering keluar dari bangsal untuk jalan-jalan dan kembali lagi,
subjek mengobrol dengan pasien yang lainnya.
 Subjek sering kembali ke Rumah Sakit Jiwa karena
subjek sulit tidur, mengamuk . Selain itu subjek juga sering sakit
kepala, merasa pusing, teriak-teriak di jalan karena dibilang
hasil mengaritnya tidak sesuai ( tidak cocok ). Selama 20 hari
subjek tidak minum obat, sering keluyuran bahkan tidak bisa
pulang sendirian. Banyak hutang ke toko-toko, ketika minum
obat subjek mengurangi obatnya ketika malam
 Narasumber : F
 Hari/Tanggal : Selasa, 26 Juni 2018
 Hubungan : Perawat Bangsal Kakak Tua
 Subjek sudah bagus dalam melakukan ADL
(Activity Daily Living). Subjek tidak pernah marah-marah lagi,
tidak pernah teriak. Hubungan subjek dengan pasien yang
lainnya sudah baik , berbincang-bincang dengan pasien yang
lainnya, rajin mengepel, nyapu, dan lain sebagainya. Subjek
juga dipilih sebagai chief atau ketua kelas dalam ruangan
bangsal Kakak Tua. Subjek lebih betah di Rumah Sakit Jiwa
dan tidak mau pulang ke rumahnya namun subjek jarang
bergaul dengan pasien lainnya.
STUDI DOKUMENTASI

Subjek masuk ke Rumah Sakit Jiwa sebanyak tujuh kali,


mulai dari tahun 1989, namun pada tahun 1989 belum tercatat
dalam rekam medis, dalam rekam media subjek mulai masuk
RSJ pada tahun 2014, yaitu sebagai berikut:

18 Feb 21 Feb 25 Jul 15 Okt 15 Jan 4 Jun


2014 2015 2016 2016 2018 2018
GENOGRAM
RANGKUMAN BIOGRAFI
Perasaan/  Subjek merasa
 Subjek ayah subjek
NO. Masa/Tahun Peristiwa Penghayatan 1985 sedih dan
meninggal.
terpukul
 Subjek bersekolah dan
 Subjek masuk Rumah Sakit  Marah-marah
belajar mengaji di salah satu  Subjek merasa 1989
1. Anak Jiwa dan keluyuran
pemuka agama di kampung bangga  Subjek merasa
1990  Subjek menikah.
nya. tidak bahagia
 Ketika usia 13 tahun subjek  Subjek merasa
 Subjek merasa  Subjek mempunyai anak.
2. Remaja mencari rumput untuk sapi 1993 bahagia
senang
peliharannya.  Subjek dipasung.  Marah-marah
 Subjek  Sedih karena
 Subjek bercerai dengan
 Subjek bekerja di sawah menyukai 1995 anaknya dibawa
istrinya.
pekerjaan itu istrinya

 Subjek ingin  Marah-marah,


 Sering berganti-ganti  Masuk Rumah Sakit Jiwa keluyuran dan
3. Dewasa mencari 2014
pekerjaan (serabutan) pertama kali ngamuk-
pengalaman
ngamuk
 Subjek merasa
 Subjek pergi ke Malaysia  Sulit tidur,
senang dan  Masuk Rumah Sakit Jiwa
dan bekerja di perkebunan. 2015 ngamuk-
bangga kedua kali
ngamuk
 Subjek bertengkar dengan  Subjek merasa  Masuk Rumah Sakit Jiwa  Keluyuran dan
2016
1980 rekan kerjanya di marah dan ketiga kali marah-marah
perkebunan. jengkel  Masuk Rumah Sakit Jiwa
 Marah-marah
 Subjek pindah tempat kerja keempat kali
 Subjek merasa
dan bekerja di pabrik  Masuk Rumah Sakit Jiwa
senang 2018  Marah-marah
membuat polybag. kelima kali

 Subjek sangat  Marah-marah


 Subjek pergi ke Singapore  Masuk Rumah Sakit Jiwa
1982 menyukai dan ngamuk-
dan bekerja bangunan. keenam kali
pekerjaan itu ngamuk
LANDASAN TEORI

 Definisi Skizofrenia

Eugen Bleuler (1857-1939) adalah orang yang pertama


kali mencetuskan istilah scizofrenia, yang menggantikan
menggantikan demensia prekoks dalam literatur. Skisme
sendiri diartikan sebagai perpecahan antara pikiran, emosi, dan
perilaku pada pasien dengan gangguan ini. Bleuler menyatakan
beberapa gejala fundamental yang terkait dengan skizofrenia.
Gejala tersebut meliputi gangguan asosiasi, gagguan afektif,
autisme, dan ambivalensi yang dirangkum menjadi empat A:
asosiasi, afek, autisme dan ambivalensi
 Teori Albert Ellis
Konsep-konsep dasar terapi rasional emotif ini mengikuti
pola yang didasarkan pada teori A -B-C, yaitu:
A = Activating Experence (pengalaman aktif) Ialah suatu
keadaan, fakta peristiwa, atau tingkah laku yang dialami
individu.
B = Belief System (Cara individu memandang suatu hal).
Pandangan dan penghayatan individu terhadap A .
C = Emotional Consequence ( akibat emosional). Akibat
emosional atau reaksi individu positif atau negative.
Menurut pandangan Ellis, A ( pengalaman aktif) tidak langsung
menyebabkan timbulnya C (akibat emosional), namun bergantung pada B
(belief system). Hubungan dan teori A -B-C yang didasari tentang teori
rasional emotif dari Ellis dapat digambarkan sebagai berikut:
 A --------C
Keterangan :
 ---: Pengaruh tidak langsung
 B: Pengaruh langsung

Teori A -B-C ter sebut , sasaran utama yang harus diubah adalah
aspek B (Belief Sistem) yaitu bagaimana caranya seseorang itu
memandang atau menghayati sesuatu yang irasional, sedangkan
konselor harus berperan sebagai pendidik , pengarah, mempengaruhi,
sehingga dapat mengubah pola piker klien yang irasional atau keliru
menjadi pola pikir yang rasional.
Dari uraian diatas, disimpulkan bahwa permasalahan yang
menimpa seseorang merupakan kesalahan dari orang itu sendiri yang
berupa prasangka yang irasionals terhadap pandangan penghayatan
individu terhadap pengalaman aktif.
PEMBAHASAN KASUS

Subjek dipilih karena sudah dianggap kooperatif dan


dapat bekomunikasi dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat
dari hasil observasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Subjek
masuk ke Rumah Sakit Jiwa pada tanggal 4 Juni 2018 dengan
diagnosis Skizofrenia Hebefrenik.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan,
subjek menunjukkan dengan jelas adanya waham curiga
terhadap saudara-saudaranya, dimana subjek menaruh curiga
bahwa saudara-saudaranya ingin mengambil seluruh hartanya.
Kemudian berdasarkan hasil observasi dan data rekam
medis, subjek sering menunjukkan adanya perilaku kekerasan,
terutama pada orang-orang terdekatnya. Subjek juga
menunjukkan sikap mendominasi dikarenakan posisi nya
sebagai chief di bangsal Kakak Tua.
Kondisi perpecahan pada pikiran, terutama pada
persepsi klien yang mengalami skizofrenia sering dikaitkan
dengan halusinasi. Hal ini diperkuat pendapat Struart (2009);
Townsend (2009); Fontaine (2009) ketika terjadi perubahan
persepsi pada klien skizofrenia bersamaan gangguan dalam
fungsi kognitif secara umum, ditemukan bahwa 90% klien
mengalami halusinasi dan delusi. Pasien dengan skizofrenia
yang mengalami halusinasi akibat kesalahan persepsinya
sering kehilangan control dan mengikuti perintah dari
halusinasinya yang mengakibatkan pasien berperilaku di
luarkendali dan melakukan perilaku kekerasan.
Subjek mengalami gangguan arus pikiran, yaitu
perseverasi dimana subjek selalu berulang kali menceritakan
hal yang sama secara berlebihan. Dimana subjek bercerita
mengenai saudaranya yang mengambil ternak dan motornya,
anaknya yang tidak pernah mengurusi dirinya dan guna-guna
yang dilakukan istrinya.
Selain itu, subjek mengalami asosiasi longgar, dimana
ketika observer menanyakan suatu hal, subjek akan
mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa
yang ditanyakan. Namun subjek tidak mengalami logorea
dimana seseorang akan banyak bicara tanpa kontrol.
Berdasarkan Jurnal Keperawatan Indonesia Vol. 18 No.3, terapi
REBT efektif untuk menurunkan gejala perilaku kekerasan pada
penderita skizofrenia sebesar 48%.
Jensen (2008) menyatakan bahwa respon-respon perilaku
kekerasan mengalami perubahan yang bermakna disebabkan
karena terapi REBT yang diberikan menggunakan pendekatan
kognitif dan perilaku dengan mengemukakan fakta-fakta bahwa
perilaku yang dihasilkan bukan berasal dari kejadian yang dialami
namun dari keyakinan-keyakinan yang tidak rasional. REBT
diberikan bertujuan untuk mengurangi keyakinan irrasional dan
menguatkan keyakinan rasional yang dapat efektif untuk individu
yang marah dan agresif.
Efektifitas terapi REBT untuk menurunkan gejala halusinasi
dengan dibandingkan hasil penelitian terdahulu dapat dilihat
bahwa efektifitas terapi REBT dapat menurunkan halusinasi
sebesar 47%.
KESIMPULAN

Subjek telah keluar masuk RSJ Dr. Radjiman


Wedyodiningrat Lawang sebanyak 6 kali. Saat ini, subjek masuk
pada tanggal 4 Juni 2018. Keponakan subjek (A) menjadi
penanggung jawab subjek yang membawa subjek ke RSJ.
Subjek mengalami waham curiga terhadap saudara-
saudaranya dimana subjek menganggap mereka ingin
mengambil seluruh hartanya. Subjek juga menunjukkan
perilaku kekerasan, terutama terhadap orang-orang
terdekatnya.
Subjek di diagnosis menderita Skizofrenia Hebrefenik ep
berulang (F20.13), yaitu adanya waham, halusinasi
pendengaran dimana dimungkinkan hal tersebut disebabkan
karena kematian orang tua nya, pengalaman selama dipasung
dan kurangnya perhatian dari anaknya.
Subjek memiliki orientasi yang cukup baik, mengalami
perseverasi, asosiasi longgar, inkoherensi dan flag of ideas.
Subjek memiliki harga diri yang cukup baik dan mampu
mengurus dirinya sendiri. Hal tersebut membuat subjek menjadi
chief atau ketua di bangsal Kakak Tua. Subjek bertugas untuk
mengatur dan mengurus pasien yang berada di ruang isolasi.
Subjek memiliki kebiasaan merokok yang
berlebihan. Subjek mampu menghabiskan 5 hingga 20 batang
rokok dalam sehari. Uang yang digunakan untuk membeli rokok
didapatkan dari para pengunjung yang kasihan dengan subjek
dan memberinya uang. Posisi nya sebagai chief juga membuat
ia lebih mudah mendapatkan rokok dari teman-temannya.
Subjek menyatakan bahwa ia lebih nyaman berada di
RSJ daripada berada di rumahnya. Subjek tidak ingin dan
menolak untuk dipulangkan karena subjek merasa kecewa
terhadap anak dan menaruh curiga terhadap saudara-
saudaranya.
Menurut perawat di bangsal Kakak Tua, subjek
mengalami kemajuan yang signifikan dalam perilaku,
kemandirian dan kemampuan merawat dirinya sehingga
seharusnya subjek dapat segera dipulangkan.
SARAN