Anda di halaman 1dari 19

Laporan Pemeriksaan

Psikologis
Ruang Melati RSJ Dr. Radjiman
Wediodiningrat

Oleh :
Masita Sylmi Aisyah J01215020
Sayyidah Khalifah J01215034
Ummu Salamah J71215086
Nadya Atikah Putri J71215131
Identitas
• Nama : P H R • Pendidikan terakhir :
• TTL : Singosari, 21 Januari SMP/SLTP
1996 • Pekerjaan : Ibu Rumah
• Umur : 22 tahun 5 bulan 6 Tangga
hari • Status Pernikahan :
• Jenis Kelamin : Perempuan Menikah
• Suku Bangsa : Jawa • Anak ke- : tiga dari empat
• Alamat : Dusun Tejosari bersaudara
Rt.04, Rw. 09 Desa Candi • Hobby : Merajut dan
Renggo Kecamatan Kerajinan Tangan
Singosari, Kabupaten
Malang
Genogram

Keterangan :
: laki-laki : subyek

: perempuan
Observasi Umum
• Kegiatan sehari-hari subjek adalah merapikan
tempat tidur, menyapu, ngepel, membantu
• subjek berpenampilan rapi, terlihat perawat membagikan makanan untuk pasien
bersih yang lain,
• bermain gateng (batu) dengan teman-teman
• subjek menggunakan seragam pasien subjek,
dan sandal jepit, • menonton tv di waktu senggang, mengobrol
• memiliki rambut panjang yang dengan pasien lain di taman bangsal.
terkadang rambutnya di kuncir, • Di siang hari subjek makan siang dan saat
mendengar suara adzan dhuhur subjek izin
kadang di gelung keatas, untuk melakukan shalat dhuhur, pada jam
• Subjek mandi dua kali sehari. setengah satu subjek istirahat di kamar subjek,
biasanya tidur siang selama tiga jam.
• Subjek berkulit sawo matang, rambut
• Pada sore hari subjek bangun dari tidur siang,
hitam, di wajah subjek terdapat kemudian pergi ke kamar mandi untuk mandi
cukup banyak tahi lalat. dan kemudian shalat asar, setelah shalat asar
sambil menunggu makan malam subjek duduk-
• Ketika berjalan subjek terlihat sedikit duduk, mengobrol dengan pasien lain di Taman
membungkuk dan sedikit kaku. Bangsal.
Secara fisik subjek memiliki tinggi • Setelah makan malam subjek minum obat,
badan 156 cm dan berat badan 50 kg. kemudian shalat maghrib dan shalat isya lalu
subjek merebahlan diri di atas tempat tidur dan
tidak lama kemudian subjek tertidur.
Observasi Harian

• 10.45- • 13.00 -
Hari 12.35 WIB Hari 15.00 WIB
Pertama • Jalin Kedua • Obserasi
(22/6) Rapport (23/6) dan
• Observasi wawancara
Observasi Harian

Hari • 08.00 - 11.30


Ketiga • 09.00- 11.15 Hari • 14.00 –
(24/6) • 16.15- 17.02 Keempat 17.05
• observasi (25/6) • Lomba ultah
RSJ Lawang
Studi Dokumentasi
2016 2016-2018 Juni 2018

• Pada pertama kali masuk, subjek • Pasien rawat jalan


• rawat inap di rumah sakit jiwa
didiagnosis menderita paranoid • Sempat putus obat untuk yang kedua kalinya dengan
skizofrenia, ekstrapiramidal and • Akirnya mengalami gejala-gejala diagnosis hebrefrenik skizofrenia
movement disorder (F.20.0 dan halusinasi auditori (F.20.1)
G.25.9).
• Kembali konsumsi obat • mengalami beberapa disabilitas
• subjek mengalami halusinasi
• menikah dalam hubungan dengan realita dan
auditori yaitu bisikan yang
komunikasi serta disabilitas dalam
menyuruh subjek untuk berkunjung
beberapa fungsi (GAF Scale 31).
kerumah mantan pacarnya, bekerja
Pada hari pertama subjek masuk
hingga lelah,
rumah sakit jiwa subjek memiliki
• halusinasi melihat wajahnya sendiri nilai PANSS EC sebesar 25.
di televisi. Ekstrapiramidal yang
• Pada tanggal 9 Juni 2018 dilakukan
dialami oleh subjek seperti kaku
tes ulang tentang PANSS EC sebesar
dan gemetar.
18.
• Keluhan yang muncul pada subjek
adalah sering marah-marah, suka
membanting barang, menuntut
keluarga untuk diberangkatkan ke
jakarta, suka kabur keluar rumah
pakai sepeda motor, merasa diikuti
kuntilanak dan pocong dan merasa
ingin mati.
• Subjek dirawat hingga tanggal 25
Juni 2018, pulang di jemput oleh
ayahnya.
Rangkuman Biografi

Masa Dewasa
Awal
Masa Remaja - Bekerja
- menikah
- Sekolah hanya - Masuk RSJ utk
sampai SMP kedua kalinya
-Diminta orang
Masa Kanak- -Mulai mengalami
kanak gejala-gejala
-Masuk RSJ utk
Belajar pertama kali

mengaji

Masa
Peralihan
Masa
Peralihan

www.free-powerpoint-templates-design.com
Pembahasan Kasus
Subjek dipilih karena dianggap cukup kooperatif dan dapat
berkomunikasi dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil observasi
yang telah dilakukan oleh praktikum sebelumnya. Subjek masuk rumah sakit
jiwa pada tanggal 8 Juni 2018 dengan diagnosis skizofrenia hebefrenik (F.20.1)
dan GAF Scale 31 yang berbunyi beberapa disabilitas dalam hubungan realita
dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi. Dengan nilai skor
PANSS EC pada awal masuk sebesar 25 dan pada tanggal 9 Juni 2018 saat
dilakukan tes ulang menjadi 18. Selama menjalani pemeriksaan, dapat
diketahui bahwa subjek menampakkan perilaku yang mengarah pada
diagnosis skizofrenia hebefrenik, seperti menunjukkan ciri khas pemalu,
senang menyendiri, merasa hampa, tidak mampu melakukan apapun, tertawa
sendiri, berbicara sendiri, proses berpikir mengalami disorganisasi dan
pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren dan ungkapan kata
yang di ulang-ulang. Subjek sering keluar rumah menggunakan sepeda motor.
Halusinasi tidak ditemukan selama pemeriksaan, tetapi pada awal masuk
rumah sakit jiwa subjek mengalami halusinasi auditori dan visual seperti
mendengar suara-suara dan merasa melihat hantu, kuntilanak dan pocong
yang mengikuti dirinya.
skizofrenia hebefrenik
• Gangguan skizofrenia hebefrenik permulaannya
perlahan-lahan dan sering timbul pada masa
remaja atau antara 15—25 tahun. Kepribadian
premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan
senang menyendiri (solitary), namun tidak harus
demikian untuk menentukan diagnosis. Untuk
diagnosis hebefrebia yang meyakinkan umumnya
diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3
tahun lamanya, untuk memastikan bahwa
gambaran yang khas berikut ini memang
bertahan.
• Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat
diramalkan, serta mannerism; ada kecenderungan
untuk selalu menyendiri , dan perilaku menunjukkan
hampa tujuan dan hampa perasaan.
• Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar
(inappropriate), sering disertai dengan cekikikan
(giggling), atau perasaan puas diri (slf-satisfied),
senyum sendiri (self-absorbed smilling), atau oleh sikap
tinggi hati (lofty manner) , tertawa menyeringai
(grimaces), mannerism, mengibuli secara bersenda
gurau(prank), keluhan hipokondriakal, dan ungkapan
kata yang diulang-ulang (reiterated pharases).
• Proses piker mengalami disorganisasi dan pembicaraan
tak menentu (ramling) serta inkoheren.
Belajar Sosial – Albert Bandura
• Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat
berfikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri, sehingga
mereka bukan semata-mata budak yang menjadi objek
pengaruh lingkungan. Sifat kausal bukan dimiliki
sendirian oleh lingkungan, karena orang dan
lingkungan saling mempengaruhi.
• Kedua, Bandura menyatakan banyak aspek fungsi
kepribadian melibatkan interaksi orang satu dengan
orang lain. Dampaknya, teori kepribadian yang
memadai harus memperhitungkan konteks sosial
dimana tingkah laku itu diperoleh dan dipelihara.
Belajar Sosial – Albert
Bandura

Sistem Regulasi Efikasi


Self Diri Diri

Persuasi
Emosi Diri
Sosial
Pembahasan kasus dengan Teori
• Bila ditinjau dari teori kepribadian Albert Bandura
patologi yang terjadi pada subjek disebabkan oleh
ekspektasi hasil yang terlalu tinggi sedangkan efikasi
rendah dan lingkungan tidak responsif sehingga
predikisi hasil tingkah laku awal menunjukkan subjek
depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang
dianggap subjek sulit. Hal ini terjadi karena subjek
pernah memiliki cita - cita menjadi pengusaha yang
sukses di bidang kerajinan tangan (tas rajut) dan ingin
pergi ke Jakarta menjadi selebritis tetapi keluarga tidak
menuruti dan mendukung keinginan untuk menjadi
selebritis, ditambah lagi suami subjek tidak mendukung
subjek untuk membuka usaha tas rajut. Penilaian
subjek terhadap dirinya jika subjek merasa mampu
untuk menjadi selebritis dan pengusaha tas rajut.
• Albert Bandura menyatakan bahwa seharusnya
individu yang memiliki efikasi yang tinggi harus
disertai dengan lingkungan yang responsif.
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan
akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan
itu.emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat
mengurangi efikasi diri.
• Kondisi subjek yang tidak sempurna dalam
belajar sosial pada fase efikasi diri tersebut
memicu gangguan awal seperti merasa hampa,
ambisi dan ekspektasi yang terlalu tinggi untuk
mencapai cita-citanya sehingga berakhir dengan
marah-marah, suka membanting barang, kabur
dari rumah, dan merasa ingin mati meski hanya
sebatas ucapan.
DIAGNOSIS
• Aksis I : F.20.1 skizofrenia hebefrenik
• Aksis II : Tidak ada
• Aksis III : Tidak ada
• Aksis IV : Tidak ada
• Aksis V : GAF = 31 beberapa disabilitas
dalam hubungan dengan realita dan
komunikasi, disabilitas berat dalam
beberapa fungsi.
• PANSS EC : Skor 25 (pada saat masuk RSJ)
Skor 18 (pada hari selanjutnya)
Kesimpulan
Dari hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan praktikum
kepada subjek dan sumber dari data lain di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang, dapat disimpulkan bahwa subjek sudah mendapat
rawat inap sebanyak dua kali dan rutin menjalani rawat jalan ke RSJ Dr.
Radjiman Wediodiningrat. Diagnosis pertama subjek saat rawat inap di RSJ Dr.
Radjiman Wediodiningrat adalah paranoid skizofrenia (F.20.0) dan
extrapyramidal and movement disorder dan unspecified (G25.9). Dan yang
kedua kalinya masuk rumah sakit jiwa, subjek menunjukkan gejala skizofrenia
hebefrenik, yaitu adanya halusinasi auditori dan halusinasi visual, pemalu,
senang menyendiri, sering marah-marah dan membanting barang,
menunjukkan perilaku tidak bertanggung jawab seperti melakukan kegiatan
dan malas untuk menyelesaikannya, merasa hampa, menunjukkan ambisi dan
ekspektasi yang tinggi. Subjek memiliki ambisi yang kuat untuk mencapai
suatu tujuan tertentu, seperti ingin menjadi selebritis di Jakarta, ingin
memiliki usaha tas rajut yang sukses. Dan marah-marah kepada keluarganya
saat keinginannya tidak terpenuhi. Kondisi subjek yang tidak sempurna dalam
dalam tahapan belajar sosial pada fase efikasi diri yang memicu adanya
gangguan psikopatologi.
Saran
Untuk subjek:
a. Diharapkan subjek dapat lebih mengontrol diri dan mengendalikan emosi agar
dapat menstabilkan efikasi diri subjek.
b. Belajar mengenali kemampuan diri supaya tidak memunculkan ekspektasi dan
ambisi yang terlalu tinggi.
c. Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat d. Rutin untuk kontrol
dan meminum obat dari rumah sakit.
Untuk keluarga:
a. Dianjurkan terhadap pihak keluarga khususnya suami untuk lebih mensuport
kegiatan subjek jika positif
b. Dianjurkan agar orangtua tidak memberikan penguatan mengenai
penglihatan-penglihatan atau mimpi-mimpi yang di percayai sebagai
kemampuan indigo subjek.
c. Orangtua disarankan lebih sering memberikan perlakuan realitas mengenai
mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan yang membuat subjek takut.
Untuk Rumah Sakit:
a. Menjaga kondisi kesehatan pasien supaya tidak terkena penyakit lain.
TERIMAKASIH