Anda di halaman 1dari 17

Pembuahan, Nidasi, Plasentasi

MARLINA PUTRI P
11.2016.112
Spermatogenesis dan Oogenesis
PEMBUAHAN (FERTILISASI)
enzim

Glikoprotein

Enzim dikeluarkan 
Pada saat sperma menembus zona pelusida, terjadiglikoprotein berikatan
reaksi korteks ovum. satu
Spermatozoa
Granulayang
korteks
telah
dimasuk
dalam keovum
vitelus
(oosit
kehilangan samadengan
sekunder)membran
berfusi lain membran
cegahyg
nukleusnya; ovum
tinggal
hanya pronukelusnya,
plasma sel, sehingga
sedangkan
enzimekor
di dalam
spermatozoa
granula-granuladibuahi > 1 sperma
dan mitokondrianya
dikeluarkan secaralain
berdegenerasi.
Masuknya
eksositosis
spermatozoa
ke zonakepelusida.
dalam vitelus
Hal ini
membangkitkan
menyebabkan glikoprotein
nukleus ovum di yang
zona masih
pelusida berkaitan
dalam metafase
satu sama
untuklain
proses
 mencegah
pembelahan
ovumselanjutnya.
dibuahi lebih dari 1
sperma.
 Setelah pembuahan terjadi, pembelahan zigot dimulai
 Hasil konsepsi bergerak mencapai kavum uterus 3-4 hari
oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba
dan kontraksi tuba
Mengapung bebas 3-4 hr, terus
membelah

 Jadi janin

Jadi plasenta
NIDASI

Sel trofoblas  sekresi enzim


pencerna protein sel
endometrium
2 lapisan
trofoblas :
korion
 Invasi trofoblas
Trofoblas ke a.dengan
berkaitan spiralis tidak terjadi
keberhasilan nidasi, produksi hormon,
 arus uteroplasenta
peningkatan ↓ maternal ke dalam plasenta
aliran darah
 sindrom preeklamsia
 menginduksi
Trofoblas terbentuk plasenta
 produksi hormon mensekresi
human substansi
chorionic gonadotropin
vasoaktif
(hCG) dimulai (↑ ± hari ke 60 ) hipertensi
memastikan maternalmenerima
endometrium
 merusak
proses implantasi a. spiralis  tersumbat 
infark plasenta
Kelainan optimalisasi aktivitas trofoblas dalam proses nidasi akan berlanjut
 Invasi trofoblas tidak terkontrol  mola hidatosa,
menimbulkan berbagai masalah pada kehamilan
koriokarsinoma
PLASENTASI

Proses
Plasenta merupakan kelanjutan
pembentukan
proses fertilisasi dan nidasi
struktur dan
jenis plasenta

Plasenta terdiri dari 2 sel:


1. Sitotrofoblas : sekresi faktor – faktor pertumbuhan
12 – 18 hormon steroid, neuropeptida,
2. Sinsisiotrofoblas : pembentukan
sitokin, faktor pertumbuhan, minggu
pituitary- like hormon
setelah
fertilisasi
 Berkembangnya korion membentuk
rongga dalam desidua
 Korion meluas dan menggerus dinding
kapiler desidua  darah ibu mengisi
rongga
 Tonjolan jaringan korion membentuk
jari-jari yang menjulur ke genangan
darah ibu
 Janin ikut mengirim kapiler ke
tonjolan korion  membentuk villi
plasenta
 Setiap villi plasenta berisi kapiler
janin, dikelilingi 1 lapisan tipis
jaringan korion (memisahkan darah
janin dan darah ibu)
 Chorion frondosum dng
decidua basalis membentuk
PLACENTA
 Chorion laeve dgn amniotic
membrane bersatu membentuk
selaput ketuban
Arus Darah Utero-plasenta

 Janin & plasenta dihubungkan oleh 2 arteri &


1 vena
 Talipusat berisi massa mukopolisakarida; bag
luar : epitel amnion
 Pembuluh darah tali pusat berbentuk heliks
 flexible dan terhindar torsi
 Pada akhir kehamilan, TD arteri: 70/60
mmHg, vena : 25 mmH
 Arus darah tali pusat aterm: 350 ml/menit.
Arus uteroplasenta aterm 500-700 ml/menit
Transfer Plasenta

 Difusi sederhana : membrane semipermeable, oksigen


terjadi pertukaran akibat perbedaan kadar janin dengan ibu

 Difusi terfasilitasi : perbedaan gradien kadar zat & juga dapat


terjadi akselerasi akibat peran reseptor dan enzim, misalnya:
perbedaan kadar glukosa antara ibu dan janin

 Transpor aktif : menggunakan energi, misalya: asam


amino & vitamin

 Pinositosis : pada transfer zat bermolekul besar,


molekul ditelan ke dalam sel & kemudian diteruskan dalam
sirkulasi janin, seperti IgG, fosfolipid, lipoprotein
Fungsi Plasenta

 Transfer O2 dan CO2


 Meski pO2 janin dan ibu sama tapi HbF janin
memungkinkan penyerapan O2 dari plasenta tinggi
 Perbedaan tekanan oksigen 5 mmHg antara ibu dan janin
dapat terjadi pertukaran CO2 pada plasenta
 Keseimbangan asam basa
 Utilisasi glukosa, cadangan glikogen
 Penyaluran trigliserida, asam amino, globulin imun
Selaput dan Cairan Amnion

 Jaringan avaskular lentur kuat (kolagen dari sel


mesenkim)
 Mengandung banyak sel janin (lanugo, vekniks
kaseosa)
 Menghasilkan sitokin untuk melawan bakteri dan zat
vasoaktif untuk mengatur peredaran darah dan tonus
pembuluh lokal
 Volume aterm 800 ml, pH 7,2
 Janin meminum 500 ml/hari
 Setelah 20 mgg produksi dari urin janin. Sebelumnya
berasal dari rembesan kulit, selaput dan plasenta
 Deteksi dini kelainan kromosom pada 12-20 minggu