Anda di halaman 1dari 29

DASAR PROMOSI KESEHATAN

PABRIK TAHU SUPER INDRA

KELOMPOK 10
APRINA IKA NURRAHMI (1611211062)
F. YOSI IKHSANA (1611211052)
HARYATI PUTRI H (1611216057)
HERLINDA OKTAVIA (1611211025)
Latar Belakang
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, masalah keamanan dan keselamatan kerja merupakan faktor
penting yang harus menjadi perhatian utama semua pihak
Masalah keamanan dan keselamatan kerja menjadi sangat penting, karena dengan terwujudnya
keamanan dan keselamatan kerja berarti dapat menekan biaya operasional pekerjaan. Apabila dalam
melaksanakan pekerjaan terjadi kecelakaaan, maka akan bertambah biaya pengeluaran, yang pada
akhirnya mengurangi keuntungan perusahaan.
Februari 2014, BPS mencatat bahwa presentase industri informal di indonesia mencapai 53,6
%.Besarnya jumlah tersebut seringkali tidak diimbangi dengan perhatian terhadap aspek keselamatan
dan kesehatan kerja karyawan. Lemahnya pengawasan terhadap aspek K3 di industri informal membuat
kecelakaan kerja sering terjadi, hal ini diperparah dengan sulitnya mengakses data mengenai kecelakaan
kerja yang terjadi, sehingga sulit dilakukan evaluasi.Berdasarkan data dari Jamsostek pada tahun

2012, kecelakaan kerja telah menembus angka 103.000 kasus dengan rata – rata pekerja

meninggal 9 orang setiap harinya.


Latar Belakang
International Labour Organization(ILO) melangsir sebuah data yang menyatakan bahwa setiap tahun
Indonesia mendapatkan 99.000 kecelakaan kerja, 70% diantaranya menyebabkan kematian dan

cacat seumur hidup. Fakta tersebut diikuti dengan buruknya sistem manajemen K3 di Indonesia, dimana satu
orang pengawas K3 harus mengawasi 110 orang pekerja.

Salah satu industri informal yang banyak berkembang di masyarakat adalah industri tahu. Bahaya potensial
yang sering terjadi pada pekerja tahu adalah sikap kerja tidak ergonomis, suhu di tempat kerja yang

panas, tumpahan adonan tahu yang panas, paparan cairan asam cuka pada kulit, sanitasi,
pencahayaan dan sirkulasi udara yang buruk. Hal tersebut dapat mengakibatkan beberapa penyakit kerja
seperti gangguan muskuloskeletal, dehidrasi, luka bakar, penyakit kulit dan gangguan saluran pernapasan

Data hasil penelitian pada pabrik pembuat tahu di KSM Mandiri Jomblang Kota Semarang pada tahun 2009
menunjukan sekitar dari 15 pekerja, pekerja yang selalu memakai alat pelindung diri saat bekerja sebanyak 60%,
pekerja yang kadang-kadang memakai alat pelindung diri sebanyak 26,7%, dan pekerja yang tidak pernah memakai alat
pelindung diri sebanyak 13,3%. Jenis APD yang di gunakan adalah sepatu boot sebanyak 80%, sarung tangan sebanyak
6,7%, dan pelindung telinga sebanyak 26,7%. Sebanyak 80% pembuat tahu hanya memakai APD sepatu boot karena
merasa nyaman dan tidak takut terpeleset.
Latar Belakang
Pembuat tahu tidak menggunakan APD sarung tangan, karena dalam proses pembuatan tahu
menggunakan air panas sehingga jika memakai sarung tangan akan terasa lembab, dan sarung tangan
muda sobek. Sedangkan pembuat tahu tidak menggunakan APD telinga karena telinga merasa
berdengung dan menganggu kenyamanan.

Oleh karena itulah diperlukan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi resiko kecelakaan
dalam pekerjaan terutama di industry tahu.APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha
melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan
dengan baik.Dalam melakukan promosi kesehatan ini dilakukan di pabrik tahu yang berada di Siteba,
Padang Timur dikarenakan para pekerja belum mendapatkan pengetahuan dalam keselamatan dan
kesehatan kerja.
Tujuan
Tujuan Umum
Untuk dapat meningkatkan pengetahuan para pekerja pabrik tahu tentang pentingnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) dalam bekerja terutama memakai alat pelindung diri (APD)agar membangun budaya kerja yang selamat, aman, nyaman dan
sehat sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan derajat kesehatan pekerja

Tujuan Khusus

a. Menambah wawasan, pengetahuan dan kesadaranpara pekerja dan pemilik pabrik tahuSuper Indra tentang penerapan K3
ditempat kerja
b. Memberikan informasi kepada pekerja tentang penggunaan APD bagi para pekerja pabrik tahu pada saat mereka bekerja
c. Memberikan informasi kepada pekerja dan pemilik pabrik tahu tentang pentingnya menjaga kesehatan dalam bekerja dengan
cara berperilaku hidup bersih dan sehat salah satunya dengan tidak merokok pada saat bekerja
d. Memberikan informasi kepada pekerja dan pemilik pabrik tahu tentang resiko dan bahaya-bahaya yang ada di tempat kerja
.
Sasaran Promosi Kesehatan Kerja

Pekerja Tidak Memakai APD Seperti Sarung Tangan, Masker, Kaca Mata Pelindung
Selama Bekerja
Sasaran Promosi Kesehatan Kerja

Pekerja Tidak Menggunakan Sepatu Boot Dan Baju


Kegiatan
Kegiatan
Rencana Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/tanggal : Kamis, 9 Agustus 2018
Waktu : 11.00 s/d selesai
Nama Usaha : Pabrik Tahu Super Indra
Jenis Usaha : Industri Rumahan (Informal)
Lokasi : Kampung Koto, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat
Total Pekerja : 30 orang

Kegiatan Penyuluhan
Pelaksanaan Kegiatan
Moderator : F. Yosi Ikhsana
Presentator : a. Aprina Ika Nurahmi
b. Haryati Putri Hasibuan
Dokumentor : Herlinda Oktavia
Data Umum

Nama usaha :Tahu Super Indra


Nama pemilik usaha : Zul Indra
Alamat : Jl. Sawah Liek, Gurun Laweh
Jumlah pekerja : 30 orang
Provinsi : Sumatera Barat
Kab/kota : Padang
Kecamatan : Nanggalo
Kondisi Pabrik Tahu Super Indra
Kondisi Pabrik Tahu Super Indra
Kondisi Pabrik Tahu Super Indra
METODE PRAKTIKUM
Metode Kegiatan

Metode yang digunakan dalam praktikum promosi kesehatan kerja di Pabrik Tahu Super Indra diawali
dengan menggunakan metode observasi, wawancara dengan pemilik pabrik tahu Super Indra lalu
melakukan penyuluhan dengan pemilik dan para pekerja yang ada dilapangan

Jadwal dan Kegiatan

Adapun kegiatan yang dilakukan kelompok untuk praktikum pemberian Promosi Kesehatan Kerja
adalah sebagai berikut:

Tanggal 4 Agustus : Pembuatan surat untuk Pimpinan Pabrik Tahu Super Indra

Tanggal 7 Agustus : Pemberian Surat ke Pimpinan Pabrik Tahu Super Indra

Tanggal 9 Agustus : Praktikum


Metode Kegiatan Wawancara dan Penyuluhan

Cara Kerja Wawancara dan Penyuluhan


Kelompok melakukan observasi terlebih dahulu untuk menyiapkan materi yang akan
disampaikan pada sasaran yang dipandu oleh pemilik pabrik tahu super indra, kemudian
melakukan penyuluhan kepada pekerja pabrik tahu.
Media Promosi Kesehatan Di Pabrik Tahu
Materi Promkes Kerja Pabrik
Tahu
Masalah yang sering terjadi di pabrik tahu
Tinjauan Kegiatan Pembuatan Tahu yang terkait dengan healthy Safety environment :

1. Suhu yang digunakan untuk mengolah kedelai menjadi tahu (pembuatan kedelai menjadi susu kedelai dan
perebusan/pemasakan tahu) ± 400 ̊ C.

2. Pembuangan limbah cair maupun limbah yang berasal selama pemprosesan pembuatan tahu ke area pekerjaan
yang mengakibatkan lantai menjadi licin.

3) Pabrik tahu selama prosesnya menghasilkan suara kebisingan diatas 40 dB.

4) Pekerja yang bekerja selama 10 jam non-stop.

5) Pembakaran kayu bakar menghasilkan asap dan debu halus.

6) Kurangnya kesadaran pekerja akan pentingnya pemakaian APD di tempat kerja

7) Tidak adanya alat pemadam kebakaran , padahal kondisi pabrik tahu mayoritas masih bermaterial papan
dengan indikasi mudah terbakar dengan proses perebusan kedelai yang menggunakan kayu bakar

8) Pekerja yang merokok saat bekerja


Kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang sering terjadi di pabrik tahu Super Indera antara lain:

1. Terpelesat karena lantai yang licin dan pekerja tidak memakai sepatu boot

2. Tangan yang melepuh dikarenakan terkena air panas pada proses perebusan kacang kedelai, memindahkan
Van dari proses perebusan, mengaduk kacang kedelai yang masih panas, menyaring air rebusan kacang
kedelai yang panas dan lain-lain tanpa menggunakan sarung tangan.

3. Terkena uap dan abu panas ke wajah dan badan pekerja dari proses perebusan kacang kedelai yang
menggunakan tungku api berbahan material kayu bakar. Dimana para pekerja biasanya tidak menggunakan
baju dan masker.

4. Kelelahan dan stres kerja karena jam kerja yang dilakukan tidak pada waktu normal yaitu dimulai dari jam
22.00 – 24.00 WIB dilanjutkan dari jam 04.00-11.00 WIB.

5. Dikarenakan jam kerja yang tidak normal, para pekerja mencari solusi dengan cara merokok agar tidak
mengantuk dan bosan. Sehingga dengan perilaku tersebut, memungkinkan para pekerja terkena penyakit
gangguan pernafasan, jantung, dll.
Pemecahan Masalah

1. Suhu yang digunakan untuk mengolah kedelai


menjadi tahu (pembuatan kedelai menjadi susu
kedelai dan perebusan/pemasakan tahu) ± 400 ̊ C.

 Pekerja menggunakan sarung tangan dan


masker untuk mengurangi terjadinya
kecelakaan kerja / sterss kerja yang di
akibatkan karena suhu ruangan yang tinggi

 Meningkatkan lagi kondisi saluran sirkulasi


ruangan pengolahan kedelaii.
2. Lokasi pekerjaan yang licin

Peningkatan limbah buangan


hasil pengolahan kedelai.
Pemakaian sepatu boot dengan
alas karet dan bergerigi.
3. Suara kebisingan diatas 40
dB
Kebisingan pada tingkat ini msh dalam
batas wajar. Kebisingan ini timbul dari mesin
diesel penggiling kacang kedelai dan akan
semakin meningkat apabila terjadi pemadaman
listrik dari PLN, karena penambahan pemakaian
mesin diesel maka dari itu disarankan untuk
menggunakan:

Earplug
Earmuff .
4. Pekerja yang bekerja 10 Jam non-stop

Jenis Hazard yang seperti ini bisa ditangani dengan sistem


admiistratif/ sistem pengaturan jadwal kerja dari para pemilik
usaha, untuk mengurangi tingkat kecelakaan kerja yang terjadi
akibat dari stress kerja yang di alami oleh pekerja.
5. Pembakaran kayu bakar yang menghasilkan asap
dan debu halus

 Pekerja mnggunakan masker dan pelindung


mata untuk mengurangi dampak kesehatan
pada saluran pernafasan dan sistem
penglihatan sebagai akibat dari asap hasil
pembakaran kayu dan debu halus yang
ditimbulkannya.
Contoh Penggunaan Sarung Tangan Dan Masker Pada
Proses Pemilihan Kedelai
6. Tidak adanya alat pemadam
kebakaran

 Menyediakan APAR
 APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
atau fire extinguisher adalah alat yang
digunakan untuk memadamkan api atau
mengendalikan kebakaran kecil.
7. Pekerja yang merokok disaat
bekerja

Memberikan peringatan kepada


pekerja untuk tidak merokok
pada saat bekerja
Pembahasan
Pada saat kelompok melakukan promosi kesehatan kerja, para pekerja dan pemilik pabrik tahu bersikap
terbuka. Namun di karenakan keterbatasan seperti tingkat pendidikan para pekerja yang rendah maksimal
tamatan SMP , membuat para pekerja sulit untuk berkomunikasi dengan penyuluh.

Dilihat dari kondisi tempat kerja dan juga proses dari pekerjaan tersebut sangat mengharuskan
penggunaan APD. Untuk penyedian APD di pabrik itu sendiri sebenarnya belum terpenuhi secara keseluruhan,
yang disediakan oleh pemilik pabrik tahu umumnya seperti sepatu boot namun hanya beberapa yang
menggunakannya.

Pemilik pabrik tahu itu sendiri sebenarnya sudah memberikan pengarahan tentang penggunaan APD
seperti penggunaan sepatu Boot kemudian tentang kesehatan pekerja seperti tidak diperbolehkan merokok pada
waktu bekerja namun dengan tingkat pendidikan rata-rata dari para pekerja tamatan SMP sehingga untuk
menerima atau menjalankan perintah yang sudah diberikan agak sedikit sulit, mereka beranggapan bahwa
penggunaan APD tidak terlalu penting karena mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan yang mereka lakukan
sehari-hari tidak menimbulkan bahaya walaupun tidak menggunakan APD
TERIMA KASIH