Anda di halaman 1dari 32

PENYALAHGUNAAN ZAT : NAPZA

KELOMPOK 5:
Annazhifa Boestari
Clarissa Pramestya
Desrila Indra Sari
Hertati
Khairunnisa
Serly Berlian
1. Defenisi

Menurut rumusan WHO (Hawari, 1991 dalam Afiatin


2000) mendefinisikan penyalahgunaan zat sebagai
pemakaian zat yang berlebihan secara terus-menerus
atau berkala di luar maksud medik. Sedangkan
Wicaksono (1996), Holmes (1996) dan Hawari (2004)
mendefinisikan penyalahgunaan zat sebagai pola
penggunaan yang bersifat patologik paling sedikit
satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan
gangguan fungsi social dan okupasional (pekerjaan
dan sekolah).
2. ETIOLOGI

1. Faktor Internal
• Faktor Kepribadian
Remaja yang menjadi pecandu biasanya memiliki konsep
diri yang negatif dan harga diri yang rendah.
• Inteligensia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensia
pecandu yang datang untuk melakukan konseling di klinik
rehabilitasi pada umumnya berada pada taraf di bawah
rata-rata dari kelompok usianya.
• Usia
Mayoritas pecandu narkoba adalah remaja. Alasan remaja
menggunakan narkoba karena kondisi sosial, psikologis
yang membutuhkan pengakuan, dan identitas dan
kelabilan emosi
• Dorongan Kenikmatan dan Perasaan Ingin Tahu

Narkoba dapat memberikan kenikmatan yang unik dan terse


ndiri. Mulanya merasa enak yang diperoleh dari coba-coba dan
ingin tahu atau ingin merasakan seperti yang diceritakan oleh
teman-teman sebayanya. Lama kelamaan akan menjadi satu
kebutuhan yang utama.
• Pemecahan Masalah
Pada umumnya para pecandu narkoba menggunakan narkoba
untuk menyelesaikan persoalan
2. Faktor Eksternal
a. Faktor Keluarga
b. Faktor Teman Sebaya
c. Faktor Kesempatan
3. Patofisiologi
a. Melalui saluran pernapasan: dihirup melalui hidung(shabu),
dihisap sebagai rokok (ganja).
• Narkoba yang masuk ke saluran pernapasan setelah melalui hidung atau
mulut, sampai ke tenggorokan, terus ke bronkus, kemudian masuk ke
paru-paru melalui bronkiolus dan berakhir di alveolus.
• Di dalam alveolus, butiran “debu” narkoba itu diserap oleh pembuluh
darah kapiler, kemudian dibawa melalui pembuluh darah vena ke jantung.
Dari jantung, narkoba disebar ke seluruh tubuh. Narkoba masuk dan
merusak organ tubuh (hati, ginjal, paru, usus, limpa, otak, dll).
• Narkoba yang masuk ke dalam otak merusak sel otak. Kerusakan pada sel
otak menyebabkan kelainan pada tubuh(fisik) dan jiwa (mental dan
moral).
2. Melalui saluran pencernaan: dimakan atau diminum (ekstasi,
psikotropika)
• Narkoba masuk melalui saluran pencernaan setelah melalui mulut,
diteruskan ke kerongkongan, kemudian masuk ke lambung, dan
diteruskan ke usus.
• Di dalam usus hakus, narkoba dihisap oleh jonjot usus, kemudian
diteruskan ke dalam pembuluh darah kapiler, narkoba lalu masuk
ke pembuluh darah balik, selanjutnya masuk ke hati. Dari hati,
narkoba diterskan melalui pembuluh darah ke jantung, kemudian
menyebar ke seluruh tubuh. Narkoba masuk dan merusak organ-
organ tubuh(hati, ginjal, paru-paru, usus, limpa, otak, dll).
3. Melalui aliran darah

Jalan ini adalah jalan tercepat. Narkoba langsung


masuk ke pembuluh darah vena, terus ke jantung dan
seterusnya sama dengan mekanisme melalui saluran
pencernaan dan pernapasan.
4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a. Pemeriksaan Urin, Skrining dan Konfirmatori


Kelebihan spesimen urin adalah pengambilannya yang tidak
invasif dan dapat dilakukanoleh petugas yang bukan medis
Pemeriksaan skrining merupakan pemeriksaan awal pada
obat pada golongan yang besar atau metobolitnya dengan
hasil presumptif positif atau negatif.
Pemeriksaan konfirmatori menggunakan metode yang
sangat spesifik untuk menghindari terjadinya hasil positif
palsu
b. Rapid Test
1. Strip/Stick Test
Test ini menggunakan metode imunokromatografi kompetitif
kualitif yang ditandai hasil positif dengan terbentuk hanya 1 garis
yaitu pada area control, dan hasil negative dengan terbentuk 2 garis
yaitu pada area control dan test, dan invalid apabila terbentuk garis
pada test atau garis tidak terbentuk sama sekali.
2. Card Test
Card Test ini sama dilakukan seperti Strip/Stick Test yang sudah
dijelaskan sebelumnya. Yang membedakan, jika Strip/Stick Test ini
dicelupkan pada wadah yang sudah diisi dengan urin, sedangkan
pada Card Test ini urin yang diteteskan pada zona sample sekitar 3-4
tetes urin.
c. Tes Darah
Selain dilakukan pemeriksaan urin dan rapid test seperti
Strip/Stick dan Card Test, dapat dilakukan tes darah.
d. Sampel Rambut
Ada beberapa kelebihan dari analisis rambut bila dibandingkan
dengan tes urin. Salah satunya adalah narkoba dan metabolism
narkoba akan berada dalam rambut secara abadi dan mengikuti
pertumbuhan rambut yang berlangsung sekitar 1 inchi per 60
hari
5. Penatalaksanaan
Penanggulangan masalah NAPZA dilakukan
mulai dari pencegahan, pengobatan sampai
pemulihan (rehabilitasi).
1. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan, misalnya
dengan:
a. Memberikan informasi dan pendidikan
yang efektif tentang NAPZA.
b. Deteksi dini perubahan perilaku.
c. Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to
drugs”) atau “Katakan tidak pada narkoba”.
2. Pengobatan
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi.
Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan
gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
a. Detoksifikasi tanpa subsitusi
Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti
menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat
untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut.
b. Detoksifikasi dengan substitusi
Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis
opiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon
3. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan
secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non
medis, psikologis, sosial dan religi agar
pengguna NAPZA yang menderita sindroma
ketergantungan dapat mencapai kemampuan
fungsional seoptimal mungkin.
6. KOMPLIKASI

ditandai dengan berbagai penyakit fisik seperti,


gangguan tidur, makan, paru-paru, hati dan organ
penting lainnya, tetapi secara psikis, pasien NAPZA
juga tidak jarang mengalami kecemasan yang
berlebih, paranoid, halusinasi dan gangguan psikis
lainnya. Hal ini dapat berakibat pada terjadinya
gangguan mental yang mengikutinya seperti penyakit
jiwa stress, depresi, skizofrenia yang seringkali
menjadi diagnosis ganda bagi pasien NAPZA
7. Prognosis

Fokus awal tujuan pengobatan atau untuk mencapai pantang


melalui pendekatan pengurangan dampak buruk (Denning,
2000), tujuan akhir dari penyalahgunaan zat pengobatan
adalah untuk membantu klien berpartisipasi dalam proses
pemulihan. Pemulihan melibatkan mengubah gaya hidup
seseorang, sikap, kepercayaan, dan perilaku. Tujuan
pemulihan dari gaya hidup ketergantungan obat adalah
mengubah kehidupan seseorang untuk mencapai identitas-
baru yang tidak termasuk penggunaan narkoba
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan
klien tentang identitas klien ( nama klien, jenis kelamin, usia, pendidikan ),
alasan masuk biasanya karena timbul gejala-gejala penyalahgunaan zat
b. Faktor predisposisi
kaji hal-hal yang menyebabkan perubahan perilaku klien baik dari klien
maupun keluarga
c. Fisik
pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ akibat gejala
yang timbul dari penyalahgunaan zat seperti tanda-tanda vital, berat
badan, dan lain-lain.
d. Psikososial
• Genogram
Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan
hubungan klien dan keluarga.
• Konsep diri
Gambaran diri : Klien mungkin merasa tubuhnya baik-baik saja
Identitas : Klien mungkin kurang puas terhadap dirinya sendiri
Peran : Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara
Ideal diri : Klien menginginkan keluarga dan orang lain
menghargainya
Harga diri : Kurangnya penghargaan keluarga terhadap perannya
• Hubungan sosial
Klien penyalahgunaan zat biasanya menarik diri dari
aktivitas keluarga maupun masyarakat. Klien sering
menyendiri, menghindari kontak mata langsung,
sering berbohong dan lain sebagainya.
• Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : Menurut masyarakat,
penyalahgunaan tidak baik untuk kesehatan.
b. Kegiatan ibadah : Tidak lagi menjalankan ibadah
sebagaimana semestinya.
e. Status Mental
• Penampilan.
Penampilan tidak rapi, tidak sesuai dan cara berpakaian
tidak seperti biasanya dijelaskan.
• Pembicaraan
Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah
cepat, keras, gagap, membisu, apatis dan atau lambat.
Biasanya klien menghindari kontak mata langsung,
berbohog atau memanipulasi keadaa, bengong/linglung.
• Aktivitas motorik
Klien biasanya menunjukkan keadaan lesu, tegang, gelisah,
agitasi, Tik, grimasen, termor dan atau komfulsif akibat
penggunaan atau tidak menggunakan.
• Alam perasaan.
Klien bisa menunjukkan ekspresi gembira berlebihan pada saat
mengkonsumsi jenis psikotropika atau mungkin gelisah pada
pecandu shabu.
• Afek
Pada umumnya, afek yang muncul adalah emosi yang tidak
terkendai. Afek datar muncul pada pecandu morfin karena
mengalami penurunan kesadaran.
• lnteraksi selama wawancara
Secara umum, sering menghindari kontak mata dan mudah
tersingung. Pecandu amfetamin menunjukkan perasaan curiga.
• Persepsi.
Pada pecandu ganja dapat mengalami halusinasi pengelihatan
• Proses pikir
Klien pecandu ganja mungkin akan banyak bicara dan tertawa
sehingga menunjukkan tangensial. Beberapa NAPZA
menimbulkan penurunan kesadaran, sehingga klien mungkin
kehilangan asosiasi dalam berkomunikasi dan berpikir.
• lsi pikir
Pecandu ganja mudah percaya mistik, sedangkan amfetamin
menyebabkan paranoid sehingga menunjukkan perilaku
phobia. Pecandu amfetamin dapat mengalami waham curiga
akibat paranoidnya.
• Tingkat kesadaran
Menunjukkan perilaku bingung, disoreientasi dan sedasi
akibat pengaruh NAPZA.
• Memori.
Golongan NAPZA yang menimbulkan penurunan kesadaran
mungkin akan menunjukkan gangguan daya ingat jangka
pendek.
• Tingkat konsentrasi dan berhitung
Secara umum klien NAPZA mengalami penurunan konsentrasi.
Pecandu ganja mengalami penurunan berhitung.
• Kemampuan penilaian
Penurunan kemampuan menilai terutama dialami oleh klien
alkoholik. Gangguan kemampuan penilaian dapat ringan
maupun bermakna.
• Daya tilik diri
Apakah mengingkari penyakit yang diderita atau menyalahkan
hal-hal diluar dirinya.
f. Kebutuhan Persiapan Pulang
Lakukan observasi tentang:
1. Makan
2. BAB/BAK,
3. Mandi
4. Berpakaian
5. lstirahat dan tidur
6. Penggunaan obat
7. Pemeliharaan kesehatan
8. Kegiatan di dalam rumah
9. Kegiatan di luar rumah
g. Mekanisme Koping
Maladaptif.
h. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Klien tentu bermasalah dengan psikososial maupun
lingkungannya.
2. Diagnosa

• Resiko perilaku kekerasan

• gangguan presepsi sensori b.d perubahan sensori

presepsi
3. Intervensi dan implementasi
a. Risiko perilaku kekerasan
• Noc :
1. Menahan diri dari memutilasi
Tindakan pribadi untuk menahan diri dari sengaja melukai
diri sendiri (tidak mematikan)
Indikator:
• Menahan diri dari dari mengumpulkan niat untuk melukai diri
sendiri
• Memperoleh bantuan yang diperlukan
• Memegang janji untuk tidak menyakiti diri sendiri
• Berpartisipasi dalam aktivitas yang meningkatkan kesehatan
Nic :
Perawatan penggunaan zat terlarang
Perawatan bagi klien dan anggota keluarga yang
menunjukan disfungsi akibat penyalahgunaan maupun
ketergantungan zat terlarang.
Aktivitas-aktivitas:
• pertimbangkan adanya penyakit penerta maupun adanya
penyakit jiwa atau kondisi medis menyertai yang
membuat adanya perubahan dlm hal perawatan.
• tingkatkan hubungan saling percaya dengan membuat
batasan yang jelas.
• Dorong pasien untuk menjaga grafik rinci penggunaan zat
untuk mengevaluasi kemajuan
b. gangguan presepsi sensori b.d perubahan sensori presepsi
NOC :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..........x 24
jam, diharapakan gangguan persepsi sensori teratasi.
Kriteria hasil:
• Sensori function : hearing
• Sensori function : vision
• Sensori function : taste and smell
• Menunjukan tanda dan gejala persepsi dan sensori baik :
penglihatan, pendengaran, makan, dan minum baik.
• Mampu mengungkapkan fungsi persepsi dan sensori dengan
tepat
NIC:
• Monitor tingkat neurologis
• Monitor fungsi neurologis klien
• Monitor respon neurologis
• Monitor reflek-reflek meningeal
• Monitor fungsi sensori dan persepsi : penglihatan,
penciuman, pendengaran, pengecapan, rasa
• Monitor tanda dan gejala penurunan neurologis klien
4. Evaluasi
Evaluasi kemamapuan klien dalam mengatasi keinginan
menggunakan zat misalnya dalam pikiran klien sudah
tergambar masa depan yang lebih baik (tanpa zat), hdup yang
lebih berharga dan keyakinan tidak akan lagi menggunakan
zat. Perilaku klien untuk mengatakan tidak terhadap tawaran
penggunaan zat dan menyuruh pergi. Evaluasi apakah
hubungan klein dengan keluarga sudah terbina saling percaya
dan kesempatan untuk saling mendukung melakukan
komunikasai yang lebih efektif untuk sama-sama mengatasi
keinginan menggunakan zat lagi oleh klien, serta masalah
yang timbul akibat penggunaan zat.