Anda di halaman 1dari 19

DK Pemicu 3

Tuberkulosis (TBC)

Kelompok 2 PSIK A 2016


1. Dhanny Pratiwi (11161040000006)
2. Pipit Tina Sari (11161040000008)
3. Febriyanti (11161040000014)
4. Ikhsanul Amal (11161040000019)
5. Intan Fauziyah (11161040000022)
6. Namira Safitri (11161040000031)
7. Pugi Wahyuni (11161040000033)
8. Tutty Alawiyah (11161040000034)
Definisi
Penyakit kronik tuberculosis adalah
penyakit infeksi menular masyarakat
yang berlangsung lama dan bersifat
fatal yang menyebabkan penurunan
fungsi fisik dan mental yang disebabkan
oleh basil gram positif, Mycobacterium
tuberculosis serta membutuhkan
penatalaksanaan jangka panjang
Etiologi

• Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis.
• Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa
minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati dalam
suhu 600C dalam 15-20 menit. Fraksi protein basil tuberkulosis
menyebabkan nekrosis jaringan, sedangkan lemaknya
menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor
terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.
Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan
pemanasan sinar matahari dan sinar ultraviolet
Klasifikasi
• Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
– Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.
– Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,misalnya pleura, selaput
otak, selaput jantung (pericardium)
• Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada Tb Paru:
– Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan fototoraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c)1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman Tb positif.
d)1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya
hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
– Tuberkulosis paru BTA negatif
a) Kriteria diagnostik Tb paru BTA negatif harus meliputi:
b) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
c) FotoFoto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
d) TidakTidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
e) DitentukanDitentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
• Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu:
– Kasus baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
– Kasus kambuh (relaps)= Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh tetapi kambuh lagi.
– Kasus setelah putus berobat (default )= Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2
bulan atau lebih dengan BTA positif.
– Kasus setelah gagal (failure) = Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif
atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
– Kasus lain = kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih
BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan
Faktor Resiko
• Faktor Karakteristik Individu
1. Faktor usia = 75% penderita TB paru adalah usia produktif yaitu usia 15-50
tahun
2. Faktor jenis kelamin = TB paru terbanyak diderita oleh laki-laki karena
sebagian besar laki-laki mempunyai kebiasaan merokok sehingga mudah
terkena TB paru. Selain dari kebiasaan merokok laki-laki lebih beresiko
terkena TB paru dibandingkan dengan perempuan
3. Faktor Kondisi Rumah
• Kepadatan hunian rumah
• Ventilasi rumah
• Status gizi
Manifestasi Klinis
Menurut Wong (2008) tanda dan gejala tuberkulosis adalah:
• Demam
• Malaise
• Anoreksia
• Penurunan berat badan
• Batuk ada atau tidak (berkembang secara perlahan
selama berminggu – minggu sampai berbulan – bulan)
• Peningkatan frekuensi pernapasan
• Ekspansi buruk pada tempat yang sakit
• Bunyi napas hilang dan ronkhi kasar, pekak pada saat
perkusi
• Demam persisten
• Manifestasi gejala yang umum: pucat, anemia,
kelemahan, dan penurunan berat badan
Patogenesis
Manajemen Penyakit TBC
• PENCEGAHAN
1) Identifikasi dan pengobatan dini individu dengan tuberkulosis aktif(TB)
a. Pertahankan indeks kecurigaan TB yang tinggi untuk mengidentifikasikan kasus dengan cepat.
b. Dengan cepat lakukan terapi efektif banyak obat anti TB berdasarkan pada data klinis dan surveilense
resistensi obat.
2) Pencegahan penyebaran doplet infeksius dengan metoda mengontrol sumber dan dengan mengurangi
kontaminasi mikroba di udara dalam ruangan.
a. Lakukan tindakan pencegahan isolasi hasil tahan asam (BTA) dengan segera bagi semua pasien yang
diduga atau dinyatakan mempunyai TB aktif dan mereka yang mungkin infeksius. Tindakan
pencegahan isolasi BTA termasuk penggunaan ruangan pribadi dengan tekanan negatif dalam
hubungannya dengan area disekitarnya dan pertukaran udara minimum 6 kali per jam. Udara dalam
ruangan harus dikeluarkan secara langsung ke luar. Penggunaan lampu ultraviolet atau filter udara
efisiensi partikular yang tinggi untuk menambahkan ventilasi dapat dipertimbangkan
b. Individu yang memasuki ruangan isolasi BTA harus menggunakan respirator partikular disposibel
yang menempel dengan tepat dan benar di wajah
c. Lanjutkan tindakan pencegahan isolasi sampai terdapat bukti klinis penurunan infeksius (yaitu batuk
berkurang secara substansial, dan jumlah organisme pada sputum berikutnya berkurang
3) Surveilens untuk Transmisi TB
a. Pertahankan surveilens terhadap infeksi TB diantara petugas kesehatan (HCW) dengan
pemeriksaan kulit tuberkulin secara periodik,rutin.
b. Pertahankan surveilens terhadap kasus TB diantara pasien dan HCW.
c. Dengan cepat lakukan prosedur penyelidikan kontak diantara HCW, pasien, dan
pengunjung yang terpajan dengan pasien TB infeksius yang tidak diobati
4) Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok populasi
tertentu misalnya: karyawan rumah sakit, Puskesmas, balai pengobatan, penghuni rumah
tahanan, dan siswa-siswi asrama.
5) Vaksinasi BCG (Bacille Calmette Guerin) adalah mikroorganisme Mycobacterium bovis yang
dilemahkan atau dimatikan yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati
penyakit yang menular dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC. Dilakukan
secara intradermal pada bagian lengan atas bayi atau anak. Pada anak dosis 0,1 ml dan bayi
0.05 ml.
6) Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang penyakit tuberkulosis kepada
masyarakat di tingkat Puskesmas maupun di tingkat rumah sakit oleh petugas pemerintah
maupun petugas LSM (misalnya Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Paru
Indonesia PPTI).
• PENYULUHAN
Penyuluhan meliputi informasi lengkap mengenai TBC , bagaimana penyebarannya,
pencegahan infeksi dan pencegahan penularan virus TBC
Pengobatan
Tujuan pemberian OAT adalah untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan,
memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
OAT yang biasa digunakan antara lain :
· Isoniazid (INH)
· Rifampisin (R)
· Pirazinamid (Z)
· Steptomosin (S) yang bersifat bekterisid dan etambutol yang bersifat bakteriostatik.
· EMB (Ethambutol Hydrochloride)

Prinsip pengobatan :
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat dalam jumblah cukup dan dosis
yang tepat sesuai kategori pengobatan.
b. Lakukan pengawasan langsung atau DOT ( directely observed treatment) untuk memastikan
kepatuhan pasien meminum obat.
Pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase, yaitu:
a. Fase awal intensif (2 bulan pertama setiap hari), dengan kegiatan bekterisid untuk memusnahkan
populasi kuman yang membelah dengan cepat. minimal 3 macam obat seperti INH, rifampisin,
pirazinamid, dan etambutol.
b. Fase lanjutan (tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan, kecuali pada TB berat), dengan 2 macam obat
Rifampisin (R) dan INH.
Peran Keluarga
• Berikan dukungan dan motivasi pada penderita supaya mematuhi aturan pengobatan.
• Sampaikan pada penderita bahwa mematuhi aturan pengobatan adalah satu – satunya cara untuk
bisa sembuh dari TBC. Sampaikan juga pada penderita tentang bahaya / akibat yang mungkin terjadi
jika putus pengobatan
Akibat yang mungkin terjadi jika pengobatan tidak tuntas ( putus obat ) antara lain: Penderita tidak
dapat sembuh dari TBC, Penderita dapat menularkan penyakit TBC ke orang lain, Penyakit TBC dapat
kambuh lagi, Munculnya TBC baru dengan kuman kebal obat ( TB MDR ), Penderita harus mengulang
pengobatan
• Tenangkan penderita. Berikan pengertian pada penderita bahwa munculnya efek samping OAT
adalah hal yang mungkin terjadi, karena kuman TB termasuk kuman yang kuat, sehingga harus
dilawan dengan obat yang kuat pula.
• Ajak / antar penderita untuk segera mengkonsultasikan dengan dokter atau petugas kesehatan,
jangan menghentikan pengobatan tanpa anjuran dari petugas.
• Bantu penderita mengatasi rasa malu dan takutnya. Sampaikan pada penderita bahwa penyakit TBC
bh penularannya dan bisa sembuh asalkan mau berobat secara teratur.
• Bantu penderita mengatasi rasa rendah dirinya. Sampaikan pada penderita bahwa dengan penderita
mau minum obat secara rutin, menutup mulut dan hidung saat batuk / bersih, tidak membuang riak
/ dahak sembarangan, merupakan bentuk rasa tanggung jawab penderita untuk mencegah supaya
orang lain tidak ikut tertular.
• Berikan penderita TBC makanan yang bergizi untuk mempercepat penyembuhan penyakit.
• Ajak penderita menerapkan pola hidup sehat : Tidak merokok, Cuci tangan pakai sabun, Cukup
isirahat, Hindari stress
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul akibat TBC antara lain :
a. Hemoptisis
b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial
c. Bronkiestasis
d. Pneumotorak
e. Infusiensi cardio pulmoner
f. Gagal napas
g. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak dan tulang
h. Pleuritis
i. Efusi pleura
j. Emfisema
k. Laringitis tuberculosis
l. Amiloidosis
m. SOPT (Sindrom obstruksi pasca tuberkulosis)
Peran Perawat
• Perawat mampu memberi pendidikan atau penyuluhan keperawatan dan pengobatan Tuberculosis kepada
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat serta bimbingan pembinaan tenaga keperawatan dan kesehatan
lainnya, yaitu mengenai :
1. Tehnik pengumpulan dahak
2. Memperkenalkan kualitas dahak yang baik
3. Mengajarkan cara mengatasi kesulitan mengeluarkan dahak dengan menggunakan metode demonstrasi
• Perawat mampu mengumpulkan data dan berkolaborasi dalam merancang dan menghasilkan serta melakukan
replikasi riset keperawatan pada pasien tuberculosis. Dalam hal ini perawat berperan dalam pencatatan dan
pelaporan tuberculosis, yang meliputi :
1. Pengobatan pasien tuberculosis yang terdaftar 12 – 15 bulan yang lalu.
2. Penemuan kasus baru dan kambuh
3. Pasien yang dirujuk
4. Pengobatan dari pasien pindahan Tuberculosis
5. Efektivitas pengobatan OAT
6. Keteraturan penggunaan OAT
7. Sistem pengawasan dan pendistribusian obat
• Perawat dapat menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab dalah memberikan asuhan keperawatan
Skrining TBC

Berdasarkan BPJS Kesehatan (2014), Skrining Kesehatan dibedakan


menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
• Skrining untuk Preventif Primer-Skrining Riwayat Kesehatan
Skrining Riwayat Kesehatan merupakan bentuk deteksi dini untuk
penyakit yang berdampak biaya besar dan menjadi fokus
pengendalian BPJS Kesehatan yaitu Diabetes Melitus Tipe 2 dan
Hipertensi.
• Skrining untuk Preventif Sekunder Selektif (Peserta RISTI penyakit
kronis berdasarkan hasil Skrining Riwayat Kesehatan dan Deteksi
Kanker)
Deteksi Kanker merupakan bentuk deteksi dini untuk penyakit Kanker
Leher Rahim pada wanita yang sudah menikah dan Kanker Payudara.
• Skrining TB pada orang dewasa dilakukan mulai dari pemeriksaan fisik, fisiologis,
radiologis, dan pemeriksaan darah. Instrument pada skrining (kuesioner)
biasanya mengandung indicator yang berhubungan dengan factor penyebab dan
risiko TB seperti keadaan lingkungan tempat tinggal, pola kebiasaan sehari-hari
(kebiasaan makan, merokok, mengkonsumsi alcohol, dll). Pendiagnosaan TB pada
anak dapat dilakukan pendekatan dengan sistem skoring. Sistem skoring ini
membantu tenaga kesehatan agar tidak terlewat dalam mengumpulkan data
klinis maupun pemeriksaan penunjang sederhana sehingga diharapkan dapat
mengurangi terjadinya underdiagnosis maupun overdiagnosis TB.
• Penilaian/pembobotan pada sistem skoring dengan ketentuan sebagai berikut,
parameter uji tuberkulin dan kontak erat dengan pasien TB menular mempunyai
nilai tertinggi yaitu 3 serta Uji tuberkulin bukan merupakan uji penentu utama
untuk menegakkan diagnosis TB pada anak dengan menggunakan sistem skoring
Tabel 1. Sistem skoring gejala dan pemeriksaan penunjang TB di faskes
Jika > 5 = Probable TB
Metode skrining TBC yang dilaksanakan di Inggris adalah TB Active Case Finding (ACF) dan TB
Awareness Raising.
• TB Active Case Finding
Merupakan strategi untuk mengidentifikasi dan mengobati penderita TB yang tidak segera mencari
perawatan medis, berfokus pada mendeteksi TB paru menggunakan X-ray dada atau melakukan
penyelidikan gejala
AFC dilakukan pada kelompok tenaga professional yang beresiko seperti tenaga kesehatan, orang
yang memiliki hubungan dekat dengan pasien TB (jika dicurigai pasien TB aktif), dan orang dengan
factor resiko sosial seperti tuna wisma, orang yang memiliki masalah dengan alcohol dana tau obat
terlarang, tahanan, dan imigran dari negara yang banyak kasus TB.
• TB Awareness Raising
Bertujuan untuk membuat tenaga kesehatan professional dan masyarakat untuk lebih wapada pada
manifestasi klinis dan epidemiologi kejadian TB. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara
seperti pemberian informasi dan pemberian materi pendidikan tentang TB dalam berbagai format
dan bahasa, menggunakan berbagai bentuk media dan pelatihan-pelatihan.
TERIMA KASIH