Anda di halaman 1dari 43

BIOKIMIA SALIVA

Oleh :

Drg. Rochmad Koesbiantoro, M.Kes.


Pendahuluan

 Saliva terdiri dari 99% cairan dan 1%


bahan solids (padat),yaitu elektrolit dan
protein, yang memberi karakteristik
viskositas saliva.
 Istilah saliva mengacu pada cairan (fluid)
di dalam mulut yang kontak dengan gigi
dan mukosa mulut yang sering disebut
‘whole saliva’.
 Normalnya produksi harian ‘whole saliva’
berkisar antara 0.5 sampai 1.0 liter.
 90% ‘whole saliva’ dihasilkan oleh 3 (tiga) pasang
glandulla salivarius mayor
 Glandulla parotis
 Glandulla submandibularis
 Glandulla sublingualis
 Sekresi dari glandulla salivarius minor di
dalam mukosa mulut (labial, lingual, palatal,
buccal, glossopalatina dan glandulla
retromolar) jumlahnya < 10% sekresi saliva.
 ‘whole saliva’ juga berasal dari sumber non
glandulla seperti cairan crevicular gingival
yang jumlahnya tergantung pada status
periodontal pasien.
 ‘Whole saliva’ mengandung sejumlah besar
cel – cel epithelium dari mukosa mulut dan
jutaan bakteri, sehingga terlihat keruh
(cloudy) berbeda dengan glandulla saliva yang
terlihat jernih (transparant) seperti air.
Anatomi Glandulla Salivarius

Glandulla parotis:
 Merupakan glandulla saliva yang paling besar.
 Murni kelenjar serosa murni yang
memproduksi saliva kaya amilase (amylase
rich saliva)
 Terletak paling luar di belakang telinga,
jumlahnya 2.
 Bermuara pada duktus Stensen (Stensen's
Duct) (Parotid Papilla)
Glandulla Submandibularis
 Glandulla salivarius terbesar kedua.
 Merupakan kelenjar campuran (Mixed
gland).
 Terletak di bagian posterior dasar mulut
dibawah ramus mandibula, bersebelahan
dengan medial mandibula & pembungkus di
sekitar batas posterior otot mylohyoid.
 Mempunyai muara duktus Warton (Wharton's
Duct)
Glandulla Sublingualis
 Glandulla salivarius terkecil (dibandingkan parotis
dan submandibullaris)
 Kelenjar campuran, tetapi sel - sel sekret mukus
lebih dominan.
 Terletak di bagian anterior dasar mulut antara
mukosa dan otot mylohyoid.
 Bermuara pada saluran kecil (duktus rivinus) yang
terletak di sepanjang lipatan sub-lingual & sering
melalui duktus yang lebih besar (duktus bartholin)
yang terbuka dengan saluran wharton.
Glandulla Salivarius Minor

 Terletak di bawah epitel pada semua


daerah mukosa mulut dan orofaring.
 Jumlahnya ± 450 – 750 di dalam rongga
mulut.
 Terdiri dari :
- Glandulla Bucalis
- Glandulla Palatinalis
- Glandulla Lingualis
- Glandulla Labialis
Multifunctionality
Amylases, Cystatins, Carbonic anhydrases,
Histatins, Mucins, Histatins
Peroxidases Anti- Buffering
Bacterial
Cystatins, Amylases,
Mucins Anti- Mucins, Lipase
Viral Digestion
Salivary
Functions Mineral-
Anti-
Fungal ization Cystatins,
Histatins
Lubricat- Histatins, Proline-
Tissue ion &Visco- rich proteins,
Amylases, Coating elasticity Statherins
Cystatins, Mucins,
Proline-rich proteins, Statherins Mucins, Statherins
Fungsi Utama Saliva

 Cairan atau pelumas (Fluid or Lubricant)


Saliva melapisi mukosa & membantu melindungi iritasi
secara mekanis, kimiawi, dan termal; membantu aliran
udara lancar, bicara & menelan.
 Buffering
Saliva membantu menetralkan pH plak setelah makan,
mengurangi demineralisasi yang disebabkan asam
bakteri yang dihasilkan selama metabolisme gula.
 Remineralization
Saliva banyak mengandung ion – ion, yang memudahkan
remineralisasi gigi.
 Digestion
• Memecah pati/ starch (amilase)
• Memecah lemak/ Fat-lingual (lipase)
• Sifat pelembab dan pelumas : memungkinkan
pembentukan dan menelan bolus makanan.
 Anti-microbial action
• Lysozyme,lactoferrin,sialoperoxidase melawan
mikroorganisme patogenik spesifik.
• Immunoglobulins melawan berbagai
mikroorganisme.
 Cleansing
membersihkan makanan dan membantu
menelan.
 Agglutination
immunoglobulins terutama secretory IgA
menyebabkan aglutinasi mikroorganisme
spesifik, mencegah melekat ke jaringan
mulut.
Mucins merupakan aglutinin spesifik dan
mikroorganisme aggregat.
 Pembentukan Pellicle (Pellicle formation)
Berasal dari protein saliva, membentuk barrier
difusi sebagai pelindung asam dari plak.
 Taste
Saliva memiliki konsentrasi rendah natrium
klorida, gula, urea dll yang memungkinkan
persepsi rasa terjadi. Ini bertindak sebagai
pelarut yang memungkinkan pencampuran dan
interaksi makanan dengan kuncup rasa
 Keseimbangan air (Water balance)
Osmoreceptor bertindak sesuai keadaan hidrasi
tubuh untuk mengirimkan informasi ke
hipotalamus.
 Perbaikan jaringan (Tissue repair)
Berbagai macam growth factors yang
mengaktifkan peptida dan protein terdapat
dalam jumlah kecil dalam saliva. Ini
menginisiasi pertumbuhan & differensiasi
jaringan,serta menyembuhkan luka.
Regulasi Sekresi Saliva

Sinyal aferen dari reseptor sensoris di rongga mulut


Trigeminal, facial, glossopharyngeal
nerves

Nuclei salivarius di medulla oblongata

Serabut saraf parasimpatik Serabut syaraf simpatik

Glandulla salivarius
 Sekresi saliva juga dikendalikan oleh kondisi refleks.
 Selain menerima impuls dari aferen, nukleus saliva juga
menerima impuls dari pusat otak yang lebih tinggi yang
menyebabkan pelepasan berbagai neurotransmiter yang
menghasilkan efek fasilitasi atau penghambatan.
 Akibat mekanisme kontrol, unstimulated saliva
terhambat saat tidur, ketakutan & depresi mental.
Struktur Unit Kelenjar Saliva
Proses Pembentukan Saliva
 ***Saliva mengandung
banyak K+ , HCO3– dan
sedikit Na+ , Cl–
dibandingkan cairan
plasma.
 ** Saliva dihasilkan oleh sel
– sel acinar yg
komposisinya hampir sama
dengan plasma. Di dalam
duktus saliva, komposisi
saliva berubah oleh
absorbsi Na+ dan Cl– dari
saliva dan sekresi K+ dan
HCO3– kedalam saliva.
 ** Absorbsi Na+ dan sekresi
K+ meningkat karena
aldosteron.
Komposisi elektrolit saliva
 Aldosteron meningkatkan
K+ dan menurunkan reabsorbsi sodium dan sekresi
konsentrasi Na+ di dalam potassium dan bicarbonate.
saliva.
Variasi Osmolalitas dan Komposisi Ion
composition dengan Kecepatan Aliran

***Pada keadaan istirahat aliran


saliva lambat. Komposisi ion
adalah sebagai berikut :
- Na dan Cl: 15 mmo/l,
- K: 30 mmol/l,
- HCO3: 50 mmol/l
***Jika kelenjar saliva distimulasi
secara maksimal dan aliran
meningkat. Konsentrasi ion
akan berubah, dimana
konsentrasi Na dan Cl
adalah ½ atau 2/3
konsentrasi plasma dan
konsentrasi K sebanyak 4
kali konsentrasi plasma.
*** Duktus salivarius relatif
impermeable terhadap air
*** Saliva dalam kondisi larutan
hipossmotik

Dampak reabsorbsi sodium terhadap


sekresi potassium
Produksi Saliva
 Saliva yang di produksi oleh kelenjar saliva
 Unstimulated salivation (Glandulla saliva
dalam keadaan istirahat)
 Produksi 1.5 liter per hari
 Glandulla salivarius utama : memproduksi
90% saliva
 Glandulla Submandibularis dan
sublingualis : 70% saliva
 Stimulated salivation
 Produksi saliva meningkat 5 kali lipat
 Glandulla Parotis memproduksi mayoritas
saliva
Flow rate (ml/min)
WHOLE PAROTID SUBMANDIBULAR

RESTING 0.2-0.4 0.04 0.1

STIMULATED 2.0-5.0 1.0-2.0 0.8

pH 6.7-7.4 6.0-7.8
Flow Rate of Saliva
unstimulated

stimulated

0.5
ml / min

0.4
0.3
0.2
0.1
0.0
20-39 yr 40-59 yr > 60 yr
Age
KOMPOSISI SALIVA
Komponen Anorganik
Komponen Saliva
Calcium dan Phosphate
 Mencegah kerusakan enamel gigi
 Calcium
 1.4 mmol/lt. (1.7 mmol/lt. dalam stimulated saliva)
 50% dalam bentuk ion
 sublingual > submandibular > parotid

 Phosphate
6 mmol/lt. (4 mmol/lt. dalam stimulated saliva)
 90% dalam bentuk ion

 pH 6 - hydroxyapatite tidak larut


 Peningkatan pH - presipitasi garam calcium =>
dental calculus
Hydrogen Bicarbonate
 Buffer ion
 Jumlahnya sedikit pada unstimulated saliva, meningkat dengan kecepatan
aliran saliva
 Meningkatkan pH stimulated saliva mencapai 8
 pH 5.6 merupakan pH kritis untuk kerusakan enamel gigi
 Pertahanan terhadap asam yang dihasilkan bakteri kariogenik
 Diproduksi secara terus menerus dari CO2 oleh carbonic anhydrase
Ion – Ion Lainnya
 Fluoride
 Konsentrasinya rendah, mirip dengan plasma
 Thiocyanate
 Antibacterial (mengoksidasi hypothiocyanite dengan
active oxygen yang dihasilkan oleh bacteri peroxida
dan lactoperoxidase)
 Konsentrasi tinggi => menurunkan insidensi caries
 Pada perokok – konsentrasi meningkat.

 Sodium, potassium, chloride


 Lead, cadmium, copper
 Dapat menunjukkan konsentrasi sistemik- diagnostics
Komponen Organik
Komponen Saliva
Komponen Organik Saliva
 Mucins
 Proline-rich proteins
 Amylase
 Lipase
 Peroxidase
 Lysozyme
 Lactoferrin
 Secretory IgA
 Histatins
 Statherin
 Blood group substances, sugars, steroid hormones, amino
acids, ammonia, urea
Mucins
 Dihasilkan oleh sel – sel acinar kelenjar
submandibularis,sublingualis dan beberapa kelenjar
saliva minor.
 Molekul asimetris dengan struktur terbuka da acak.
 Inti Glycoproteins - protein dengan rantai samping
oligosaccharide menempel dengan ikatan glikosidik.
 Senyawa hydrophillic
 Mempunyai sifat unik (elastisitas tinggi, daya gesekan,
dan kelarutan rendah.)
Mucin saliva utama:
 MG1-melekat erat permukaan gigi, berperan
terhadap pembentukan pellikel enamel,
sehingga melindungi permukaan gigi dari
serangan kimia dan fisik termasuk asam.
 MG2-juga melekat pada permukaan gigi namun
mudah terlepas, membantu pembersihan
bakteri mulut melalui agregasi.
Fungsi Mucin
 Melapisi jaringan (Tissue Coating)
 Protektif terhadap jaringan keras dan lunak.
 Berperan penting dalam pembentukan acquired
pellicle
 Molekul antimikrobial pada permukaan mukosa.
 Lubrication
 Meningkatkan kualitas pelumas (kekuatan film).
 Kekuatanfilm menentukan seberapa efektif
permukaan bergerak.
 Aggregasi sel – sel bakteri
 Bakteri yang melekat mucins menghasilkan surface
attachment, atau
 Mucin yang melapisi bakteri tidak dapat melekat
permukaan.
 Adhesi bakteri
 Mucin oligosakarida meniru permukaan sel mukosa.
 Bereaksi dengan bakteri adhesin, sehingga
menghalangi pertumbuhan bakteri.
Amylases
 Dihasilkan oleh sl – sel acinar kelenjar saliva mayor.
 mengkatalisis starch polisakarida lainnya menjadi
glukosa & maltosa.
 Calcium metalloenzyme.
 Parotid; 30% total protein dalam parotid saliva.
 Fungsi digestif – tdk aktif dalam perut, menghasilkan
disakarida bakteri penghasil asam.
 Terdapat juga dalam air mata, serum, bronkus, dan
sekresi urogenital pria dan wanita.
Lingual Lipase
 Disekresi oleh kelenjar sublingualis dan parotis.
 Berperan dalam fase awal pencernaan lemak.
 Menghidrolisis trigliserit rantai sedang dan panjang.
 Berperan penting dalam digestion pencernaan lemak susu pada
bayi baru lahir.
 Hidrofobik tingkat tinggi.
Statherins

 Dihasilkan oleh sel – sel acinar acinar kelenjar saliva.


 Peptida asam yang mengandung banyak proline,tyrosine
dan phosphoserine.
 Menghambat presipitasi garam calcium phosphate dari
saliva supersaturated (jenuh) & menhambat
remineralisasi.
 Garam calcium phosphate pada enamel gigi larut pada
pH dan kekuatan ion tertentu.
 Pelumas yang efektif untuk permukaan gigi sehingga
melindunginya dari kekuatan fisik.
Protein Kaya Proline (Proline rich
Proteins/ PRPs)
 PRPs sangat asimetris.
 Terdapat pada awal pembentukan pelikel email dan
pelikel tahap lanjut.
 2 types:
 Basa
 Asam
 Kedua tipe (asam dan basa) adalah produk sekretori
kelenjar salivarius major.
 PRPs asam berikatan dengan hydroxyapatite dan
mencegah presipitasi calcium phosphate dan
melindungi permukaan email serta mencegah
demineralisasi.
 PRPs juga melekat pada bakteri mulut streptokokus
mutans.
Lactoferrin
 Protein terikat besi (Iron-binding protein).
 Mencegah zat besi Prevents iron from being used
by microorganism that require it for metabolism
 Nutrisi untuk imunitas (iron starvation)
 Mikroorganisme E. Coli dapat beradaptasi
terhadap zat besi dengan memproduksi
enterochelins.
 Mengikat zat besi lebih efektif daripada lactoferrin.
 Enterochelins kaya besi (iron-rich enterochelins) kemudian direabsorbsi bakteri.

 Lactoferrin, dengan atau tanpa besi, dapat


didegradasi oleh bakteri protease.
Lysozyme
 Protein enzimatik bermuatan positif yang mengikat
anion saliva dari berbagai jenis senyawa
(bikarbonat, fluorida, iodida, nitrat) dan
membentuk kompleks yang mengikat dinding sel
bakteri & merusak kestabilan dinding sel.
 Terdapat pada beberapa organ dan cairan tubuh.
 Disebut juga muramidase.
 Dibutuhkan untuk metabolisme glukosa pada
bakteri.
 Menyebabkan aggregasi, berperan dalam
membersihkan bakteri di dalam rongga mulut.
Histatins
 Golongan protein kaya histidin (histidine-
rich proteins).
 Bentuk utama di dalam rongga mulut
adalah histatin 1,histatin 3 and histatin 5.
 Mengikat hydroxyapatite dan mencegah
presipitasi calcium phosphate dari saliva
jenuh dan berperan dalam remineralisasi.
 Inhibitor potensial pertumbuhan Candida
albicans.
Cystatins
 Inhibitor cysteine-proteases.
 Terdapat dalam berbagai cairan tubuh.
 Cegah protease yang berpotensi berbahaya
pada jaringan lunak rongga mulut.
 Protektif terhadap proteolisis yang tidak
diinginkan
 Bakteri protease
 Leukosit lisis
 Menghambat presipitasi calcium phosphate.
 Meningkatkan saturasi saliva dengan kalsium
dan fosfat, sehingga melindungi permukaan
gigi.
Sistem Peroksidase Saliva

 Sialoperoxidase (SP, saliva peroksidase)


 Dihasilkan oleh sel – sel acinar kelenjar parotis.
 Juga terdapat dalam saliva submandibularis.
 Mudah terabsorbsi ke berbagai permukaan
rongga mulut.
 Myeloperoxidase (MP)
 Dari leukosit masuk melalui crevicullar gingiva.
 15-20% peroksidase total dalam “whole saliva”.