Anda di halaman 1dari 18

Unsur-unsur

Kebudayaan Aceh
Oleh: Maharani Yosandra dan Rizky Haidiana
XI MIA 6

SMAN 2 KS CILEGON
Tahun Ajaran 2017/2018
1. Bahasa Alas
Orang Alas berasal dari kabupaten Aceh Tenggara yang
disebut Tanah Alas. Kata “alas” sendiri dalam bahas
Gayo berarti “tikar”, dan nama ini ada hubungannya
dengan keadaan wilayah pemukiman orang Alas yang
terbentang luas seperti tikar terkembang di sela-sela
Bukit Barisan. Jumlah penduduknya diperkirakan sekitar
90.000 jiwa lebih.
Sebagai alat komunikasi sehari-hari orang Alas
menggunakan bahasa sendiri, yaitu bahasa Alas.
Penggunaan bahasa ini dibedakan atas beberapa dialek,
seperti dialek Hulu, dialek Tengah, dan dialek Hilir.
Dengan demikian orang Alas dibedakan berdasarkan
penggunaan dialek bahasa tersebut.
2. Bahasa Aneuk Jamee
Sukubangsa Anak Jamek atau Aneuk Jamee di kecamatan
Samadua dan Manggeng, Kabupaten Aceh Selatan. Jumlah
populasinya diperkirakan sekitar 14.000 jiwa. Aneuk Jamee
dalam bahasa Aceh secara harfiah berarti “anak tamu”
atau pendatang.
Dilihat dari segi bahasa, kosa kata bahasa Aneuk
Jamee yang berasal dari bahasa Minangkabau lebih
dominasi daripada kosa kata bahasa Aceh. Penggunaan
bahasa Aneuk Jamee dibedakan atas beberapa dialek,
antara lain dialek samadua dan dialek Tapak Tuan.
Pengucapan dalam bahasa jamee :
“ Ambo kinin tangah sakola “
keterangannya: Ambo (saya) kinin (kini/sekarang)
tangah(sedang) sakola (sekolah).
3. Bahasa Gayo
Orang Gayo berdiam di Kabupaten aceh Tengah,
sebagian lain di Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh
Timur, terutama di sekitar Danau Laut Tawar. Tempat
bermukim orang Gayo disebut tanoh Gayo (Tanah
gayo). Diperkirakan jumlah orang Gayo seluruhnya
sekitar 120.000 jiwa.
Bahasa Gayo digunakan dalam percakapan sehari-
hari. Penggunaan bahasa gayo dibedakan atas
beberapa dialek, seperti dialek Gayo Laut yang
terbagi lagi menjadi sub-dialek Lut dan Deret, dan
dialek Gayo Luwes yang meliputi sub-dialek Luwes,
Kalul, dan Serbejadi.
4. Bahasa Simeuleu
Sukubangsa ini mendiami Pulau Simeuleudi
Kabupaten Aceh Barat. Jumlah penduduknya
sekarang diperkirakan sekitar 60.000 jiwa. Pulau ini
dikenal pula dengan nama pulau Ue atau pulau
kelapa, karena daerah ini banyak-banyak
menghasilkan kelapa. Nama Simeuleu dalam bahasa
Aceh berarti “cantik”. Pulau Simeuleu dikenal dengan
nama Simalur dan Simalul.
6. Bahasa Gumbak Cadek
Sukubangsa ini dikenal pula dengan nama orang
Muslim Gunung Kong atau Orang Cumbok. Dalam
pergaulan sehari-hari orang Gumbak Cadek
menggunakan suatu bahasa yang merupakan
gabungan dialek Aceh Gayo.
B. Sistem Teknologi dan Peralatan
Orang Aceh terkenal sebagai prajuri-prajurit tangguh
penentang penjajah, dengan bersenjatakan rencong,
ruduh (kelewang), keumeurah paneuk (bedil berlaras
pendek), peudang (pedang), dan tameung (tameng).
Senjata-senjata tersebut umumnya dibuat sendiri.
Sampai sekarang modernisasi dalam bidang teknologi
banyak kelihatan, terutama pada masyarakat yang
tinnggl di pedalaman. Namun demikian, akhir akhir ini
telah mulai ada reaksi terhadap anjuran anjuran
pemerintah untuk menggunakan teknologi modern
dalam hal pertanian, seperti pupuk buatan,
penyemprotan hama dan lain sebagainya.
Mereka juga memiliki pabrik pabrik perinduustrian
yang di dunakan untuk mengolah hasil hasil
perkebunan mereka seperti hasil perkebunan kelapa
sawit, tebu, tembakau, karet dan lain sebaginya
sehingga dapat dikatakkan bahwa teknologi yang
mereka miliki saat ini tidak kalah dengan daerah
daerah yang lain bahkan juga bisa dikatakan lebih maju
dari daerah daerah yang lain.
Dengan singkat, potensi untuk pembangunan daerah
orang aceh, yang untuk sementara terletak dalam
sektor pertanian, cukup ada. Sedangkan untuk sektor
sektor peruamahan penduduk atau pembangunan itu
perlu ditingkatkan.
Sistem Mata Pencaharian (perekonomian)
Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam merupakan salah satu
provinsi terkaya di indonesia. Kesuburan tanahnya telah
menghasilkan berbagai komudotas pertanian unggulan.
Misalnya, padi sayur sayuran dan buah buahan. Bahkan
kabupaten aceh utara telah menjadi lumbung padi di provinsi
tersebut.

1. Bercocok Tanam
Sehingga dengan demikian kebanyakan orang orang Aceh
umumnya hidup sebagai petani. Sektor perkebunan memberi
hasil yang melimpah. Hasil perkebunan tersebut diantaranya
tembakau, kelapa sawit, kopi, karet, kapuk, lada, tebu,
tembakau, nilam, kacang mede dan pinang. Daerah
perkebunan utamanya terdapat di daerah kebupaten aceh
timur. Dikabupaten ini pula dikembangkan industri indutri
perkebunan.
2. Peternakan Sapi dan Kerbau
Peternakan sapi dan kerbau banyak dilakukan penduduk di Aceh.
Hampir setiap rumah penduduk kelihatanya memiliki sapi
maupun kebau. Kebanyakan dari peternak peternak itu
mempunyai tugas khusus untuk menarik bajak, sedangkan fungsi
lainya adalah sekedar untuk desembelih maupun dijual.

3. Berdagang.
Perdagangan merupakan aktivitas terpentig masyarakat aceh.
Yang menjadi objek perdagangan adalah hasil sawah yang
berupa padi dan binatang ternak seperti sapi dan kerbau. Dari
penjualan padi itu mereka belikan bermacam macam kebutuhan
lain. Bagi yang mempunyai hasil ladang, hasilnya itu mereka
jadikan sebagai alat untuk menambah ppenghasilan. Mata uang
boleh dikatakan telah mereka kenal sejak dulu. Pada ssaat ini
mereka tellah dapat mempergunakan bank sebagai tempat
penyimpanan uang dan telah mengenal sistem pembayaran
dengan menggunakan cek.
4. Perindustri
Perindustrian juga sudah sejak lama dibangun di
Aceh. Industri pupuk juga telah lama berkembang
dan sekarang menjadi salah satu indtri terbesar di
Aceh. Pupuk yang dihasilkan itu seperti pupuk AAF
dan PIM. Selain itu, terdapat pula ribuan indutri
rumah tangga. Dikabupaten aceh timur terdapat
beberapa kawasa indutri. Industri yang
dikembangkan antara lain indutri kayu lapis, pabrik
lem, pabrik kertas, pabrik minyak kelapa sawit dan
pengolahan hasil bumi lainya.
5. Nelayan
Diprovinsi ini juga ada kawasan perairan yang kaya
akan sumber daya ikan. Sepanjang pantai timur,
pantai uutara dan pantai barat merupakan perairan
potensial untuk wilayah perikanan. Hasil hasil
perikanannya berupa ikan air laut, ikan air tawar dan
udang. Sehingga sebagian dari mereka juga bermata
pencaharian sebagi nelayan.
Kekayaan provinsi nanggroe aceh darusalam tidak
terlepas dari kandungan bahan mineral yang
terdapat di provinsi ini. Minyak mentah, gas alam
cair, emas dan perak merupakan kekayaan bumi
nanggroe aceh darusalam.
Sistem Kemasyarakatan
Bentuk kesatuan hidup setempat yang terkecil
disebut gampong (kampung atau desa) yang
dikepalai oleh seorang geucik atau kecik. Dalam
setiap gampong ada sebuah meunasah (madrasah)
yang dipimpin seorang imeum meunasah. Kumpulan
dari beberapa gampong disebut mukim yang
dipimpin oleh seorang uleebalang, yaitu para
panglima yang berjasa kepada sultan. Kehidupan
sosial dan keagamaan di setiap gampong dipimpin
oleh pemuka-pemuka adat dan agama, seperti
imeum meunasah, teungku khatib, tengku bile, dan
tuha peut (penasehat adat).
Sistem Pengetahuan dan Pendidikan
Suku Aceh memiliki sistem pengetahuan yang mencangkup tentang
fauna, flora, bagian tubuh manusia, gejala alam, dan waktu. Mereka
mengetahui dan memiliki pengetahuan itu dari dukun dan orang
tua adat.

Pendidikan agama di aceh merupakan pendidikan yang universal


bagi setiap anak sejak umur 7 tahun. Pertama mengikuti pendidikan
di meunasah (madrasah). Setelah di Maadrasah merka melanjutkan
di pesantren sampai berumur 15 tahun keatas.

Disamping pendidikan agama disediakan juga pendidikan umum,


yang dimaksudkan pendidikan yang berada dibawah pengawasan
departemen pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan umum sudah
ada sejak jaman belanda dan lebih meningkat sejak kemerdekaan
indonesia
Sistem Religi
Aceh termasuk salah satu daerah yang paling awal menerima
agama Islam. Oleh sebab itu propinsi ini dikenal dengan sebutan
"Serambi Mekah", maksudnya "pintu gerbang" yang paling dekat
antara Indonesia dengan tempat dari mana agama tersebut berasal.
Agama islam lebih menonjol dalam segala bentuk dan manivestasi
di dalam masyarakat, biarpun pengaruh adat tidak hilang sama
sekali. Pengaruh agama terhadpa kehidupan masyarakat sangat
berhubungan dengan kerohanian dan kepribadian seseorang yang
mempengaruhi sifat kekeluargaan seperti pernikahan, harta waris,
dan kematian. Dengan berlakunya syariah islam di Aceh, maka
seluruh pelanggaran antara orang-orang maupun golongan lebih
banyak diputuskan berdasarkan hukum islam.
Walaupun orang Aceh hampir semuanya beragama islam namun
terdapat juga gereja di Aceh yang umumnyya didirikan oleh Belanda.
Kesenian
Wilayah Aceh kaya akan tradisi dan budaya. Lagu daerahnya
yaitu “Piso Suri” Bungong Jeumpa”. Tarian dari daerah ini
antara lain tari Seudati, tari Saman, tari Meusekat, tari Ular-Ular ,
tari Guel Randai. Tari Seudati merupakan tari yang paling
terkenal, bahkan ke mancanegara. Tari ini dimainkan oleh
beberapa orang. Keunikan tarian ini yaitu ketangkasan,
kecepatan, dan kekompakan para penarinya.
Seni hias khas Aceh yaitu bentuk pilin berganda. Seni hias ini
biasa digunakan pada ukiran kain tenun. Bentuk pilin berganda
terdiri atas susunan lima huruf. Senjata tradisionalnya yaitu
Rencong. Pegangan rencong biasanya terbuat dari besi yang
bertulisan ayat-ayat Alquran. Selain rencong, terdapat pula
kesenian tradisional lainnya, yaitu Pedang Daun tebu (digunakan
oleh panglima perang) dan Rendeuh (digunakan prajurit).
Rumah adat daerah aceh adalah rumoh aceh. Rumoh
aceh inii berbentuk Rumah Panggung yang terbuat
dari kayu meranti. Rumoh aceh terdiri atas tiga
serambi yaitu Seuramoe keu (Serambi deoan), rumah
inong (serambi tengah), dan seuramoe likot (serambi
belakang). Selain itu, terdapat pula rumah adat untuk
menyimpan padi (lumbubg padi), yaitu krong pade
atau berandang. Selain itu, ada juga makanan khas.
Makanan kas tersebut antara lain gulai, timpan,
daging masak pedas, dan masak udang cumi.