Anda di halaman 1dari 24

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana, baik bencana alam maupun karena
ulah manusia. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya bencana ini adalah kondisi
geografis, iklim, geologis dan faktor-faktor lain seperti keragaman sosial budaya dan politik.
Wilayah Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut:
 Secara geografis merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng
tektonik yaitu lempeng benua Asia dan benua Australia serta lempeng samudera Hindia dan
samudera Pasifik.
 Terdapat 130 gunung api aktif di Indonesia yang terbagi dalam Tipe A, Tipe B, dan Tipe C.
Gunung api yang pernah meletus sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600 dan masih
aktif digolongkan sebagai gunung api tipe A, tipe B adalah gunung api yang masih aktif tetapi
belum pernah meletus dan tipe C adalah gunung api yang masih di indikasikan sebagai
gunung api aktif.
 Terdapat lebih dari 5.000 sungai besar dan kecil yang 30% di antaranya melewati kawasan
padat penduduk dan berpotensi terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor pada saat
musim penghujan
Beberapa kejadian bencana besar di Indonesia
antara lain:
 Gempa bumi dan tsunami yang terbesar terjadi pada akhir tahun 2004 yang melanda Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Provinsi Sumatera Utara telah menelan korban yang
sangat besar yaitu 120.000 orang meninggal, 93.088 orang hilang, 4.632 orang luka-luka
 Gempa bumi Nias, Sumatera Utara terjadi pada awal tahun 2005 mengakibatkan 128 orang
meninggal, 25 orang hilang dan 1.987 orang luka-luka.
 Gempa bumi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah terjadi tanggal 27 Mei 2006 mengakibatkan
5.778 orang meninggal, 26.013 orang luka di rawat inap dan 125.195 orang rawat jalan.
 Gempa bumi dan tsunami terjadi pada tangal 17 Juli 2006 di pantai Selatan Jawa
(Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Banjar, Cilacap, Kebumen, Gunung Kidul dan
Tulung Agung) telah menelan korban meninggal dunia 684 orang, korban hilang sebanyak 82
orang dan korban dirawat inap sebanyak 477 orang dari 11.021 orang yang luka-luka.
 dll
Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan krisis
kesehatan akibat bencana, antara lain

 Sistem informasi yang belum berjalan dengan baik


 Mekanisme koordinasi belum berfungsi dengan baik
 Mobilisasi bantuan dari luar lokasi bencana masih
terhambat akibat masalah transportasi
 Sistem pembiayaan belum mendukung
 Sistem kewaspadaan dini belum berjalan dengan baik
 Keterbatasan logistik
• Profesi tenaga kesehatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi,
dimana tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada pemberian pelayanan
dirumah sakit saja melainkan juga dituntut mampu bekerja dalam kondisi
siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara keadaan siaga dan
keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga tenaga kesehatan harus
mampu secara skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini
• Kegiatan pertolongan pelayanan kesehatan dalam keadaan siaga bencana
dapat dilakukan oleh propesi medis dan keperawatan. Berbekal
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang dokter dan perawat
bisa melakukan pertolongan siaga bencana dalam berbagai bentuk
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Bencana?
2. Bagaimana Fase-fase bencana?
3. Bagaimana Kelompok rentan Bencana?
4. Bagaimana Paradigma penanggulangan Bencana?
5. Bagaimana Pengurangan Risiko Bencana?
6. Bagaimana Peran tenaga kesehatan dalam tanggap
Bencana?
7. Bagaimana Jenis Kegiatan siaga Bencana?
8. Bagaimana Managemen Bencana?
9. Bagaimana peran tenaga kesehatan dalam
managemen Bencana?
TUJUAN

1. Tenaga kesehatan dapat mengetahui Bencana.


2 Tenaga kesehatan mengetahui Fase-fase bencana.
3. Tenaga kesehatan mengetahui Kelompok rentan Bencana.
4. Tenaga kesehatan mengetahui Paradigma penanggulangan Bencana.
5. Tenaga kesehatan mengetahui Pengurangan Risiko Bencana.
6. Tenaga kesehatan mengetahui Peran dalam tanggap Bencana.
7. Tenaga kesehatan mengetahui Jenis Kegiatan siaga Bencana.
8. Tenaga kesehatan mengetahui Managemen Bencana.
9. Tenaga kesehatan mengetahui peran tenaga kesehatan dalam
managemen Bencana
Kebijakan Pemerintah dalam
penanggulangan bencana
Kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana sendiri tertuang dalam
undang-undang no 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.
Dalam uu no 24 tahun 2007 tujuan yang dirumuskan adalah:
• Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana
• Menyelaraskan peraturan perundang undangan yang sudah ada.
• Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana ,
terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh
• Menghargai budaya lokal
• Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta.
• Mendorong semangat gotong royong kesetiakawanan dan kedermawanan.
• Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakatt berbangsa dan
bernegara
Regulasi sebelum uu no 24 tahun 2007 hanyalah setingkat keputusan presiden,
antara lain keppres no.3 tahun 2001 tentang badan koordinasi nasional
penanganan bencana dan penanggulangan pengungsi, keppres no 111 tahun
2001 tentang perubahan atas keppres RI no 3 tahun 2001 dan pedoman umum
penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi yang ditetapkan melalui
keputusan sekertaris Bakornas PBP no 2 tahun 2001
Struktur Organisasi PNPB
BENCANA
• Definisi Bencana menurut WHO (2002) adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan gangguan ekologis, hilangnya nyawa
manusia, atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan
kesehatan dalam skala tertentu yang memerlukan respon dari luar
masyarakat dan wilayah yang terkena.
Jenis-jenis bencana:
 Bencana alam (natural disaster), yaitu kejadian-kejadian alami seperti
banjir, genangan, gempa bumi, gunung meletus dan lain sebagainya.
 Bencana ulah manusia (man-made disaster), yaitu kejadian-kejadian
karena perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat udara atau
kendaraan, kebakaran, ledakan, sabotase dan lainnya
Bencana berdasarkan cakupan wilayahnya terdiri atas:

 Bencana Lokal, bencana ini memberikan dampak pada wilayah sekitarnya


yang berdekatan, misalnya kebakaran, ledakan, kebocoran kimia dan
lainnya.
 Bencana regional, jenis bencan ini memberikan dampak atau pengaruh
pada area geografis yang cukup luas dan biasanya disebabkan oleh faktor
alam seperti alam, banjir, letusan gunung dan lainnya.
FASE FASE BENCANA
Menurut Barbara santamaria (1995), ada tiga fase dapat terjadinya suatu bencana
yaitu fase pre impact,impact,dan post impact.
 Fase pre impact merupakan warning phase,tahap awal dari bencana.Informasi
didapat dari badan satelit dan meteorologi cuaca.Seharusnya pada fase inilah
segala persiapan dilakukan dengan baik oleh pemerintah,lembaga dan
masyarakat.
 Fase impact Merupakan fase terjadinya klimaks bencana.inilah saat-saat
dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup.fase impact ini
terus berlanjut hingga tejadi kerusakan dan bantuan-bantuan yang darurat
dilakukan
 Fase post impact merupakan saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan
dari fase darurat.Juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali
pada fungsi kualitas normal.Secara umum pada fase post impact para
korban akan mengalami tahap respons fisiologi mulai dari penolakan
(denial),marah (angry), tawar – menawar (bargaing),depresi
(depression),hingga penerimaan (acceptance).
Permasalahan dalam
penanggulangan bencana
 Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya
 Sikap atau prilaku yang mengakibatkan menurunnya kualitas SDA
 Kurangnya informasi atau peringatan dini yang mengakibatkan
ketidaksiapan
 Ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman
bahaya
KELOMPOK RENTAN BENCANA

Kerentanan adalah keadaan atau sifat (perilaku) manusia atau


masyarakat yang menyebabkan ketidakmampuan menghadapi bahaya
atau ancaman dari potensi bencana untuk mencegah, menjinakkan,
mencapai kesiapan dan menanggapi dampak bahaya tertentu.
Kerentanan terbagi atas:
• Kerentanan fisik
• Kerentanan ekonomi
• Kerentanan social
• Kerentanan lingkungan
PARADIGMA PENANGGULANGAN
BENCANA
Konsep penanggulangan bencana telah mengalami pergeseran paradigm dari
konfensional yakni anggapan bahwa bencana merupakan kejadian yang tak
terelakan dan korban harus segera mendapatkan pertolongan, ke paradigma
pendekatan holistic yakni menampakkan bencana dalam tatak rangka
manejerial yang dikenali dari bahaya, kerentanan serta kemampuan
masyarakat.
Pada konsep ini dipersepsikan bahwa bencana merupakan kejadian yang tak
dapat dihindari, namun resiko atau akibat kejadian bencana dapat
diminimalisasi dengan mengurangi kerentanan masyarakat yang ada dilokasi
rawan bencan serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pencegahan dan
penangan bencana
PETUGAS KESEHATAN SEBAGAI
PROFESI
• Dokter dan Perawat adalah salah satu profesi di bidang kesehatan ,
sesuai dengan makna dari profesi maka seseorang yang telah
mengikuti pendidikan profesi kedokteran dan keperawatan
seyogyanya mempunyai kemampuan untuk memberikan pelayanan
yang etikal dan sesuai standar profesi serta sesuai dengan kompetensi
dan kewenangannya baik melalui pendidikan formal maupun
informal, serta mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan
yang dilakukannya (Nurachmah, E 2004)
Peran Tenaga Kesehatan

• Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial


yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok
sosial. Tiap individu mempunyai berbagai peran yang terintegrasi
dalam pola fungsi individu. Peran adalah seperangkat tingkah laku
yang diharapkan oleh orang lain terhadap kedudukannya dalam
sistem ( Zaidin Ali , 2002,).
PERAN TENAGA KESEHATAN DALAM
TANGGAP BENCANA
• Pelayanan kesehatan tidak hanya terbatas diberikan pada instansi pelayanan
kesehatan seperti rumah sakit saja. Tetapi, pelayanan kesehatan tersebut
juga sangat dibutuhkan dalam situasi tanggap bencana.
• Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan
kemampuan dasar pelayanan kesehatan saja, Lebih dari itu, kemampuan
tanggap bencana juga sangat di butuhkan saaat keadaan darurat. Hal ini
diharapkan menjadi bekal bagi petugas kesehatan untuk bisa terjun
memberikan pertolongan dalam situasi bencana.
• Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan sangat berbeda, kita lebih
banyak melihat tenaga relawan dan LSM lain yang memberikan
pertolongan lebih dahulu dibandingkan dengan tenaga kesehatan, walaupun
ada itu sudah terkesan lambat
JENIS KEGIATAN SIAGA BENCANA

Kegiatan penanganan siaga bencana memang berbeda dibandingkan


pertolongan medis dalam keadaan normal lainnya. Ada beberapa hal
yang menjadi perhatian penting. Berikut beberapa tindakan yang bisa
dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam situasi tanggap bencana.
 Pengobatan dan pemulihan kesehatan fisik
 Pemberian bantuan
 Pemulihan kesehatan mental
 Pemberdayaan masyarakat
Untuk mewujudkan tindakan di atas perlu adanya beberapa hal yang
harus dimiliki oleh seorang tenaga kesehatan, diantaranya:

 Tenaga Kesehatan harus memiliki skill yang baik


 Tenaga Kesehatan harus memiliki jiwa dan sikap kepedulian
 Tenaga Kesehatan harus memahami managemen siaga bencana
MANAJEMEN/ PENGURANGAN
RESIKO BENCANA

Kesiap Siagaan

Tanggap darurat
Pra Saat
Mitigasi
Bencana Bencana

Pencegahan

Pasca Bencana

Rekontruksi
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Bencana alam merupakan sebuah musibah yang tidak dapat diprediksi kapan
datangnya. Apabila bencana tersebut telah datang maka akan menimbulkan kerugian
dan kerusakan yang membutuhkan upaya pertolongan melalui tindakan tanggap
bencana yang dapat dilakukan oleh Petugas Kesehatan.
Keberhasilan penanganan bencana akan berhasil apabila semua unsur terkait saling
berkoordinasi dengan baik.
Kemampuan tenaga kesehatan mempengaruhi keberhasilan penanganan bencana
Saran
Sebagai Tenaga Kesehatan diharapkan bisa turut andil dalam melakukan kegiatan
tanggap bencana. Sekarang tidak hanya dituntut mampu memiliki kemampuan
intelektual namun harus memilki jiwa kemanusiaan melalui aksi siaga bencana.
Diadakannya pelatihan penanganan bencana untuk tenaga kesehatan disemua wilayah
seluruh indonesia