Anda di halaman 1dari 22

ANAK DENGAN

DHF
Kelompok 3: 1. WIDY PURWA NIM 1620029B
2. FAISAL S. NIM 1620013B
3. SUHARIS NIM 1620027B
4. RUDIANTO H. NIM 1620024B
PENGERTIAN
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah
suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya
adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat
serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2,
DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik
mempunyai tingkatan manifestasi yang
berbeda, tergantung dari serotipe virus
Dengue.
• Demam Berdarah Dengue adalah suatu
penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue terutama menyerang anak-anak
dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak,
disertai manifestasi perdarahan dan
berpotensi menimbulkan renjatan/syok dan
kematian
ETIOLOGI
• Demam dengue dan Demam berdarah dengue disebabkan oleh
virus dengue, yang termasuk dalam group arboviruses (virus yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk asthropod) dan dalam genus
flavivirus, keluarga flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan
diameter 30nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal
dengan berat molekul 4 x 106.
• Penyakit demam berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes
Aegypti yang banyak ditemukan dan hampir selalu menggigit di
dalam rumah pada waktu siang hari (Sumarmo, 1998).
• Dalam laboratorium, virus dengue dapat bereplikasi pada hewan
mamalia seperti tikus, kelinci, anjing, kelelawar dan primate.
Survey epidemologi pada hewan ternak didapatkan antibody
terhadap virus dengue pada hewan kuda, sapi, dan babi.
Penelitian pada antropoda menunjukan virus dengue dapat
bereplikasi pada nyamuk genus Aedes (Stegomyia) dan
Toxorhynchites. (Aru, dkk., 2009)
PATOFISIOLOGI
• Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk
ke dalam tubuh penderita adalah viremia yang
mengakibatkan penderita mengalami demam,
sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal
diseluruh tubuh, ruam atau batuk, bintik-
bintik merah pada kulit (ptekie), hiperemi
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi
seperti pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati (hepatomegali) dan
pembesaran limpa.
• Peningkatan permeabilitas dinding kapiler
mengakibatkan berkurangnya volume plasma,
terjadinya hipotensi, homokonsentrasi dan
hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok).
• Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit lebih
dari 20%) menggambarkan adanya kebocoran
(perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit
menjadi penting untuk patokan pemberian cairan
intravena. Oleh karena itu, pada penderita DHF
sangat dianjurkan untuk memantau hetokrit
darah berkala untuk mengetahui berapa persen
hemokonsentrasi terjadi.
PATWAY
TANDA DAN GEJALA
Demam
• Demam akut dengan gejala yang tidak spesifik,
anoreksi, lemah, nyeri punggung, nyeri tulang sendi
dan kepala. Biasanya berlangsung 2-7 hari.
Perdarahan
• Manifestasi perdarahan pada umumnya muncul pada
hari ke 2-3 demam. Bentuk perdarahan dapat berupa :
uji torniquet positif. Ptekiae, purpura, ekimosis,
epitaksis dan perdarahan gusi, hematemesis melena.
Uji torniquet positif bila terdapat lebih dari 20 ptekiae
dalam diameter 2,8 cm.
• -Hepatomegali
• Ditemukan pada permulaan demam, sifatnya
nyeri tekan dan tanpa disertai ikterus.

• - Renjatan ( Syok )
• Syok biasanya terjadi pada saat demam mulai
menurun pada hari ke-3 dan ke-7 sakit. Syok
yang terjadi lebih awal atau pada periode
demam biasanya mempunyai prognosa buruk.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah :
1. LPB positif.
2. Kadar trombosit darah menurun (trombositopenia)
3. Hematokrit meningkat lebih dari 20%, merupakan
indikator akan timbulnya rejatan.
4. Hemoglobin meningkat lebih dari 20%.
5. Lekosit menurun (lekopenia) pada hari kedua atau
ketiga.
6. Masa perdarahan memanjang.
7. Protein rendah (hipoproteinemia)
8. Natrium rendah (hiponatremia)
9. SGOT/SGPT bisa meningkat
10.Astrup : Asidosis metabolic
b. Urine :
Kadar albumin urine positif (albuminuria)
c. Foto thorax
Bisa ditemukan pleural effusion.
KLASIFIKASI
DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat
beratnya penyakit, secara klinis dibagi menjadi
4 derajat (Menurut WHO, 1986) :
1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa
perdarahan spontan, , trombositopenia dan
hemokonsentrasi.Åuji tourniquet
2. Derajat II
Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan
pada kulit atau tempat lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi
cepat dan lemah, tekanan darah rendah
(hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut,
hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan).
4. Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba
dan tekanan darah tak dapat diukur
KOMPLIKASI

Perdarahan luas
Syok (rejatan)
Pleural Effusion
Penurunankesadaran
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai
berikut :
1. Tirah baring atau istirahat baring.
2. Diet makan lunak.
3. Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa :
susu, teh manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit,
pemberian cairan merupakan hal yang paling penting
bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat,
NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering
digunakan.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi,
pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi
ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari
golongan asetaminopen.
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih
lanjut.
9. Pemberian antibiotik bila terdapat
kekuatiran infeksi sekunder.
10. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi
keadaan umum, perubahan tanda-tanda
vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang
memburuk.
11. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.
• Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di
perawatan intensif dan segera dipasang infus
sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila
tidak tampak perbaikan diberikan plasma
atau plasma ekspander atau dekstran
sebanyak 20 – 30 ml/kg BB.
• Pemberian cairan intravena baik plasma
maupun elektrolit dipertahankan 12 – 48 jam
setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan
telah teratasi nadi sudah teraba jelas,
amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik
20 mmHg, kecepatan plasma biasanya
dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.
• Transfusi darah diberikan pada pasien dengan
perdarahan gastrointestinal yang hebat.
Indikasi pemberian transfusi pada penderita
DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas
secara klinis dan abdomen yang makin
tegang dengan penurunan Hb yang
mencolok.
Pada pasien renjatan :
· Antibiotika
· Kortikosteroid
· Antikoagulasi
CARA PENCEGAHAN
Satu-satunya cara mencegah penyakit DHF dan Chikungunya
adalah dengan membasmi nyamuk pembawa virusnya, termasuk
memusnahkan sarangpembiakan larva untuk menghentikan
rantai hidup dan penularannya. Cara sederhana yang sering
dilakukan masyarakat misalnya:
•- Menguras bak mandi, paling tidak seminggu sekali. Mengingat
nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai dewasa
dalam kurun waktu 7-10 hari.
•- Menutup tempat penyimpanan air
•- Mengubur sampah
•- Menaburkan larvasida.
•-Memelihara ikan pemakan jentik
•- Pengasapan
•- Pemakaian anti nyamuk
•-Pemasangan kawat kasa di rumah.
TERIMAKASIH