Anda di halaman 1dari 35

ILMU PENDIDIKAN ETIKA DAN PROFESI

FARMASI
“ HAK DAN KEWAJIBAN TENAGA TEKNIS
KEFARMASIAN (TTK)”

KELOMPOK 3 :
1
2
3
4
ETIKA FARMASI

HAK DAN KEWAJIBAN TENAGA


KESEHATAN (TTK)
Etika Profesi

Pengertian Etika
Para ahli --> etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam
pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana
yang buruk.

• Etika atau etik --> Yunani "ETHOS"


= Norma-norma,
Nilai-nilai,

• Kaidah-kaidah dan
Ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik,
Cara Berfikir.
Bentuk Jamak "Etha"
= Adat Kebiasaan.
Etika profesi kefarmasian > cara kita
bagaimana mengetahui (Knowing)
informasi pekerjaan kita sebagai
tenaga profesi farmasi yang
mempunyai moralitas ( dimensi nilai
dari keputusan dan tindakan yang
dilakukan manusia seperti : ‘hak’
,’tanggung jawab’,
‘kebaikan’,’keburukan’, dll)
PRINSIP ETIKA
PROFESI
KEFARMASIAN

Tanggung jawab

keadilan

otonomi

Integrasi moral
Tujuan Kode Etik Profesi Kefarmasian
 Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
 Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para
anggota.
 Untuk meningkatkan pengabdian para anggota
profesi.
 Untuk meningkatkan mutu profesi.
 Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
 Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
 Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan
terjalin erat.
 Menentukan baku standarnya sendiri
Fungsi Kode etik Kefarmasian
#Fungsi:
sebagai perlindungan dan pengembangan bagi
pofesi kefarmasian.
#Kode etik profesi farmasi dibagi menjadi 3
bagian utama yaitu :
Kewajiban terhadap masyarakat dalam
melakukan pekerjaan kefarmasian.
Kewajiban terhadap rekan sejawat.
Kewajiban terhadap rekan kesehatan lainnya.
Kode Etik Tenaga Teknis Kefarmasian adalah
sebagai berikut :

• A. Kewajiban terhadap Profesi :

• 1. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus menjunjung tinggi


serta memelihara martabat, kehormatan profesi, menjaga integritas
dan kejujuran serta dapat dipercaya.
• 2. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian berkewajiban untuk
meningkatkan keahlian dan pengetahuan sesuai dengan
perkembangan teknologi.
• 3. senantiasa harus melakukan pekerjaan profesinya sesuai dengan
standar operasional prosedur, standar profesi yang berlaku, dan
kode etik profesi.
• 4. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian senantiasa harus menjaga
profesionalisme dalam memenuhi panggilan tugas dan kewajiban
profesi.
• B. Kewajiban terhadap teman sejawat :

• 1. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian memandang teman


sejawat sebagaimana dirinya dalam memberikan
penghargaan.
• 2. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian senantiasa
menghindari perbuatan yang merugikan teman sejawat
secara material maupun moril.
• 3. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian senantiasa
meningkatkan kerja sama dan memupuk keutuhan
martabat jabatan kefarmasian, mempertebal rasa saling
percaya didalam menunaikan tugas.
• C. Kewajiban terhadap Pasien atau Pemakai Jasa :

• 1. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus bertanggung


jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan
pelayanan kepada pasien secara professional.
• 2. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus menjaga
rahasia kedokteran dan rahasia kefarmasian, serta hanya
memberikan kepada pihak yang berhak.
• 3. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus berkonsultasi
atau merujuk kepada teman sejawat untuk mendapatkan
hasil yang akurat dan baik.
• D. Kewajiban terhadap Masyarakat :

• 1. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus mampu sebagai suri teladan


ditengah-tengah masyarakat.
• 2. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian dalam pengabdian profesinya
memberikan semaksimal mungkin pengetahuan dan keterampilan yang
dimiliki.
• 3. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus selalu aktif mengikuti
perkebangan peraturan perundang-undangan dibidang kesehatan
khususnya dibidang farmasi.
• 4. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus selalu melibatkan diri dalam
usaha-usaha pembangunan Nasional khususnya dibidang kesehatan.
• 5. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus menghindarkan diri dari
usaha-usaha yang mementingkan diri sendiri serta bertentangan dengan
jabatan kefarmasian.
• E. Kewajiban terhadap Profesi Kesehatan lainnya:

• 1. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian senantiasa harus


menjalin kerjasama yang baik, saling percaya,
menghargai dan menghormati terhapa profesi
kesehatan lainnya.
• 2. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian harus mampu
menghindarkan diri terhadap perbuatan-perbuatan
yang dapat merugikan, menghilangkan kepercayaan,
penghargaan masyarakat terhadap profesi lainnya.
Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan sebagaimana tercantum dalam
Pasal 2 PP Nomor 32 Tahun 1996 adalah :
(1)Tenaga kesehatan terdiri dari :
a. tenaga medis;
b. tenaga keperawatan;
c. tenaga kefarmasian;
d. tenaga kesehatan masyarakat;
e. tenaga gizi;
f. tenaga keterampilan fisik;
g. tenaga keteknisian medis;
Lanjutan
(2)Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi;
(3)Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan
(4)Tenaga kefarmasian meliputi apoteker, analis farmasi, dan asisten
apoteker.
(5)Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan,
entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan,penyuluh kesehatan,
administrator kesehatan dan sanitarian.
(6)Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien
(7)Tenaga ketrapian fisik meliputi Fisioterafis, okupasiterapis, dan
terapis wicara
(8)Tenaga keteknisan medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi
gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatam, refiaksionis optisien,
otorik prostetik, teknisi transfusi, dan perekam medis
Hak-hak tenaga kesehatan

1. Melakukan praktek tenaga kesehatan setelah


memperoleh surat izin tenaga Kesehatan (SID)
& dan surat izin Praktek (SIP).
2. Memperoleh informasi yang benar dan
lengkap dari pasien-keluarga
tentang penyakitnya.
3. Bekerja sesuai standar.
Lanjutan
4. Menolak melakukan tindakan yang bertentangan
dengan etika, hukum, agama, dan hati nuraninya.
5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien,
jika menurut penilaiannya kerjasama dengan
pasien tidak ada gunanya lagi, kecuali dalam
keadaan darurat.
6. Menolak pasien yang bukan spesialisnya kecuali
dalam keadaan darurat atau tidak ada tenaga
kesehatan lain yang mampu menanganinya.
Lanjutkan
7. Hak atas “privasi” tenaga kesehatan
8.Ketentraman berkerja
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan tenaga
kesehatan
10.Menerima imbalan jasa.
Hak-hak Tenaga Teknis Kefarmasian
• Hak untuk mendapatkan posisi kemitraan
dengan profesi tenaga kesehatan lain.
• Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum
pada saat melaksanakan praktek sesuai
dengan standar yang ditetapkan.
• Hak untuk mendapatkan jasa profesi sesuai
dengan kewajiban jasa profesional kesehatan.
Lanjut

• Hak untuk bicara dalam rangka menegakkan


keamanan masyarakat dalam aspek sediaan
kefarmasian dan perbekalan kesehatan.
• Hak untuk mendapatkan kesempatan menambah
/ meningkatkan ilmu pengetahuan baik melalui
pendidikan berkelanjutan (S1), spesialisasi,
pelatihan maupun seminar.
• Hak untuk memperoleh pengurangan beban
studi bagi yang melanjutkan pendidikan ke
jenjang S1 Farmasi
Kewajiban Tenaga Teknis Kefarmasian

Untuk mengatur tenaga farmasi dikeluarkan Peraturan


Pemerintah Nomor RI Nomor 51 Tahun 2009.
Pasal 19
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian berupa :
a. Apotek;
b. Instalasi farmasi rumah sakit;
c. Puskesmas;
d. Klinik;
e. Toko Obat; atau
f. Praktek bersama.
TENAGA KEFARMASIAN
Pasal 33

1. Tenaga Kefarmasian terdiri atas:


a. Apoteker; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian
2. Tenaga Teknis kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari
Sarjana Farmasi,Ahli Madya Farmasi, Analis
Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker.
Lanjutan
Pasal 20
Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker
pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Kefarmasian.

Pasal 24
Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian, Apoteker dapat:
a. mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA;
b. mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat merek dagang lain ataspersetujuan
dokter dan/atau pasien; dan
c. menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada
masyarakat atas resep dari dokter sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Lanjutan
Pasal 27
Pekerjaan Kefarmasian yang berkaitan dengan pelayanan farmasi
pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian wajib dicatat oleh Tenaga
Kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Pasal 28
Tenaga Kefarmasian dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian wajib mengikuti paradigma
pelayanan kefarmasian dan perkembangan ilmu pengetahuan serta
teknologi
Pasal 29
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 diatur dengan Peraturan Menteri.
Lanjutan
Pasal 30
(1) Setiap Tenaga Kefarmasian dalam menjalankan
Pekerjaan Kefarmasian wajib menyimpan Rahasia
Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian.
(2) Rahasia Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian hanya
dapat dibuka untuk kepentingan Pasien, memenuhi
permintaan hakim dalam rangka penegakan hukum,
permintaan pasien sendiri dan/atau berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Rahasia Kedokteran
dan Rahasia Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Lanjutan
Pasal 31
(1) Setiap Tenaga Kefarmasian dalam melaksanakan Pekerjaan
Kefarmasian wajib menyelenggarakan program kendali mutu dan
kendali biaya.
(2) Pelaksanaan kegiatan kendali mutu dan kendali biaya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui audit kefarmasian.

Pasal 32
Pembinaan dan pengawasan terhadap audit kefarmasian dan upaya
lain dalam pengendalian mutu dan pengendalian biaya dilaksanakan
oleh Menteri.
Lanjut
Pasal 33
(1) Tenaga Kefarmasian terdiri atas:
a. Apoteker; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian.
(2) Tenaga Teknis kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari
sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis
Farmasi, dan Tenaga Menengah farmasi/Asisten
Apoteker.
lanjut
Pasal 34
(1) Tenaga Kefarmasian melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian pada:
a. Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi berupa industri farmasi obat, industri
bahan baku obat, industri obat tradisional, pabrik kosmetika dan pabrik
lain yang memerlukan Tenaga Kefarmasian untuk menjalankan tugas dan
fungsi produksi dan pengawasan mutu;
b. Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi dan alat kesehatan
melalui Pedagang Besar Farmasi, penyalur alat kesehatan,instalasi Sediaan
Farmasi dan alat kesehatan milik Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi,dan pemerintah daerah kabupaten/kota;dan/atau
c. Fasilitas Pelayanan Kefarmasian melalui praktik di Apotek, instalasi
farmasi rumah sakit,puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek bersama.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian
dimaksud pada ayat (1)diatur dalam Peraturan Menteri.
lanjut
Pasal 35
(1) Tenaga kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 harus
memiliki keahlian dan kewenangan dalam melaksanakan pekerjaan
kefarmasian.
(2)Keahlian dan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilaksanakan dengan menerapkan Standar Profesi.
(3) Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) harus didasarkan pada Standar Kefarmasian, dan Standar
Prosedur Operasional yang berlaku sesuai fasilitas kesehatan
dimana Pekerjaan Kefarmasian dilakukan.
(4) Standar Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
lanjut
Pasal 38
(1) Standar pendidikan Tenaga Teknis Kefarmasian harus memenuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang
pendidikan.
(2) Peserta didik Tenaga Teknis Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) untuk dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian harus memiliki ijazah
dari institusi pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan.
(3) Untuk dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), peserta didik yang telah memiliki ijazah wajib memperoleh
rekomendasi dari Apoteker yang memiliki STRA di tempat yang
bersangkutan bekerja.
(4)Ijazah dan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib
diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk memperoleh
izin kerja.
Lanjut
Pasal 39
(1) Setiap Tenaga Kefarmasian yang melakukan
Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib
memiliki surat tanda registrasi.
(2) Surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diperuntukkan bagi:
a. Apoteker berupa STRA; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian berupa STRTTK
Pasal 52
1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang melaksanakan Pekerjaan
Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai
tempat Tenaga Kefarmasian bekerja.
2. Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di
Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit;
b. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian
sebagai Apoteker pendamping;
c. SIK bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di
fasilitas kefarmasian diluar Apotek dan instalasi farmasi rumah
sakit; atau
d. SIK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas Kefarmasian.
Pengaturan Praktik Kesehatan
Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Pasal 3 Pengaturan
praktik kesehatan bertujuan untuk :
a. Memberikan perlindungan kepada pasien;
b. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
medis yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi; dan
c.Memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter
dan dokter gigi.
Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009,
dapat diutarakan pada pasal 2 pembangunan kesehatan
diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan,
keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan
terhadap hak dan kewajiban keadilan gender dan non-
diskriminatif dan norma-noprma agama.
Pembinaan dan Pengawasan

• Persyaratan untuk menjadi tenaga teknis


kefarmasian Minimal berijazah (Ahli Madya
Farmasi)
• Demikian pula halnya dalam Strata S1 dan S2
pendidikan farmasi tetap melakukan seleksi yang
sangat ketat baik terhadap nilai akademis dari
para calon, serta persyaratan kesehatan lainnya.
(Risiko yang sangat tinggi bagi profesi tenaga
farmasi menyangkut keselamatan dan kesehatan
pasien serta warga masyarakat luas).
Perlindungan Hukum Tenaga
Kesehatan
• Berkenaan bahwa Indonesia adalah Negara
hukum, sudah barang tentu, semua sikap dan
tindak dalam menjalankan profesinya, harus
berdasarkan hukum atau peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Disamping itu, dalam
rangka memberikan perlindungan hukum pada
saat menjalankan profesinya, hukum, juga selalu
dan harus melihat standard profesi, kode etik,
dan dalam keadaan bagaimana tenaga kesehatan
tersebut dalam bersikap tindak.