Anda di halaman 1dari 22

Seminar “Peranan Perekayasa Geoteknik dalam Pembangunan Infrastruktur”

TEKNIK SIPIL - UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR (30-03-2017)

MITIGASI LONGSORAN DALAM PERSPEKTIF


REKAYASAWAN GEOTEKNIK

Oleh
DARWIS PANGURISENG
Lektor Kepala
Jurusan Teknik Sipil
Unismuh Makassar

Teacher & Researcher 1


Mitigasi ; Serangkaian upaya untuk
mengurangi risiko bencana, baik melalui
Rekayasa-
wan pembangunan fisik maupun penyadaran
dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.
(UU No.24/2007, psl-1 butir-9)

Geoteknik ; Cabang ilmu teknik sipil Longsor ; Suatu proses perpindahan massa
yang menerapkan ilmu geologi tanah/batuan dengan arah miring dari
terkait pada tahap perencanaan, kedudukan semula, sehingga terpisah dari
pelaksanaan, operasi & maintenance massa yang mantap, karena pengaruh
dalam pekerjaan konstruksi. gravitasi, dengan jenis gerakan berbentuk
(Darwis-1992, Geoteknik Lanjutan) rotasi dan translasi.
(Permen PU No.22/PTR/M/2007, psl-1 butir-2)

Filosofi Geoteknik
2
ILMU, harus punya .........
Obyek..? being, existance (ontos) Obyek kajian Geoteknik (Ontologi) ;
Metode..? how method (episteme) - Daya dukung tanah/batuan & parameter2nya
Manfaat..? value (axios)
- Pemanfaatan geology material utk konstruksi
- Respons tanah/batuan thdp stability disruption
Geoteknik..
- Underground construc. eng. (main/support), dll
Ilmu or Kanal
Geoteknik ; ada, esensial, eksistensial
Ilmu ..?
Metode ilmiah Geoteknik (Epistemologi) ;
- Rasional method; pengemb. ide (Mohr, Coulomb,
Terzaghi, dll)
- Empirical method; pengalaman (KDD by
SPT/DCP, Settlement by SPT/DCP, dll)
- Intuitional method; kepekaan (Cakar Ayam, Soil
Reinforcement, dll)
Geoteknik punya cara/metode membangun teori

Nilai manfaat Geoteknik (Aksiologi) ;


- Economic value (optimasi, efisiensi, dll)
Geoteknik Ilmu..!!! - Social value (safety, kenyamanan, dll)
 Punya Obyek Kajian - Environment value (kelestarian, konservasi,
 Punya Metode membangun teori restorasi, rehabilitasi, dll)
 Punya Manfaat/Nilai Geoteknik support Sustainability Development
Geoteknik bukan kanalisasi ilmu
3
AKSIOLOGI EPISTEMOLOGI
Economic value Rasional method
Social value Empirical method Sub-Bidang Geoteknik
Environmental value Intutional method  Soil Mechanics
 Soil Dynamics
 Soil Behavior
 Soil Stability (Reinforced,
ONTOLOGI Improved, Geotextile, dll)
BC, material use,  Foundation Eng.
soil respons, under  Slope Stability
constr. engineering  Lowland Engineering
 Hydrogeology/Geohydrology
 Rock Mechanics
 Tunnel Engineering., etc

4
KARENA Landasan
Aksiologi Geoteknik ;
Economic value; Social
value; dan Environment
value

MAKA Rekayasa
Geoteknik
Tidak bisa lepas dari
Paradigma MITIGASI

MITIGASI ; Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko


bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana. (UU No.24/2007, psl-1 butir-9)

MITIGASI LONGSORAN ; Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko


bencana longsoran, baik melalui pembangunan fisik (tahan longsor &
menahan longsor) maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana longsor.

5
TAHAPAN KEGIATAN MITIGASI BENCANA LONGSOR :
1. Kegiatan sebelum bencana longsor terjadi (pre-disaster pencegahan)
2. Kegiatan saat bencana longsor terjadi (perlindungan dan evakuasi)
3. Kegiatan tepat setelah bencana longsor berhenti (pencarian dan
penyelamatan)
4. kegiatan pasca bencana tanah longsor (pemulihan/penyembuhan,
perbaikan/rehabilitasi, dan pengembalian fungsi/restorasi)

KEGIATAN MITIGASI BENCANA LONGSOR :


1. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana longsor;
2. Pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
3. Perencanaan partisipatif penanggulangan bencana & pengembangan budaya sadar
bencana longsor;
4. Penerapan upaya fisik, non-fisik, dan pengaturan penanggulangan bencana longsor;
5. Identifikasi & pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana longsor;
6. Pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam di kawasan potensi longsor;
7. Pemantauan terhadap penerapan IPTEK dalam rekayasa tahan & penahan longsor;
8. Kegiatan mitigasi bencana longsor lainnya.

6
Gejala Umum Tanah Longsor :
 Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
 Miringnya pepohonan dan/atau tiang listrik yang ada pada tebing.
 Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
 Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

DEFINISI SAINS :
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa
batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak
ke bawah atau keluar lereng.

DEFINISI YURIDIS :
Longsor adalah suatu proses perpindahan massa tanah/batuan dengan arah
miring dari kedudukan semula, sehingga terpisah dari massa yang mantap,
karena pengaruh gravitasi, dengan jenis gerakan berbentuk rotasi dan
translasi (Pasal 1(2) Permen PU No.22/PRT/M/2007 ttg Pedoman Penataan
Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor)
7
JENIS LONGSORAN TANAH/BATUAN

1. Longsoran translasi ; bergeraknya massa tanah dan batuan


pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang
landai.
2. Longsoran rotasi ; bergeraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk cekung.
3. Pergerakan blok ; perpindahan batuan yang bergerak pada
bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga
longsoran translasi blok batu.
4. Runtuhan batu ; terjadi ketika sejumlah batuan atau material
lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya
terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung.
5. Rayapan Tanah ; tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis
tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Longsor ini hampir
tidak dapat dikenali, setelah waktu lama longsor rayapan bisa
menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring
6. Aliran Bahan Rombakan ; terjadi ketika massa tanah bergerak
didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan
lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya.
8
Permen PU No.22/PRT/M/2007 :
 Lamp. II : Perencanaan tata ruang kawasan rawan bencana longsor
(Penetapan kawasan rawan longsor, zonasi kawasan longsor, stuktur &
pola ruang kawasan rawan longsor).
 Lamp. III : Pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor (Acuan
pemanfaatan, penyusunan program, dan pelaksanaan program
penataan ruang kawasan rawan longsor)
 Lamp. IV : Pengendalian Pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana
longsor (Prinsip pengendalian, acuan perizinan pemanfaatan, insentif
& disintensif, serta sanksi pemanfaatan ruang kawasan rawan longsor)
 Lamp. V : Tata laksana dalam penataan ruang kawasan rawan bencana
longsor (Kelembagaan dalam penataan ruang kawasan rawan
bencana longsor; Hak, kewajiban, dan peran masyarakat dalam
penataan ruang kawasan rawan bencana longsor)
 Lamp. VI : Rekayasa teknik penanggulangan longsor di kawasan rawan
bencana longsor (Rekayasa teknik & Upaya mitigasi bencana longsor

9
PELIBATAN MASYARAKAT DALAM TATA LAKSANA PENATAAN RUANG :
(Lamp. V dalam Permen PU No.22/PRT/M/2007):

1. Konsultasi masyarakat, dengan prinsip dasar :


1) Kesetaraan posisi di antara pihak-pihak yang terlibat;
2) Transparansi dalam pengambilan keputusan;
3) Koordinasi, komunikasi dan kerjasama di kalangan pihak yang terkait
2. Hak Masyarakat ;
1) Menerima informasi terkait pemanfaatan/pengendalian pemanfaatan ruang pada
kawasan rawan bencana longsor
2) Mengetahui secara terbuka pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor
3) Menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari
pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor
4) Memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat
pelaksanaan kegiatan pengendalian kawasan rawan bencana longsor
5) Berperan serta dalam proses pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang kawasan rawan bencana longsor
10
PELIBATAN MASYARAKAT DALAM TATA LAKSANA PENATAAN RUANG :
(Lamp. V dalam Permen PU No.22/PRT/M/2007):

3. Kewajiban Masyarakat ;
1) Menjaga, memelihara dan meningkatkan kualitas ruang lebih ditekankan pada
keikut-sertaan masyarakat untuk lebih mematuhi dan mentaati segala ketentuan
normatif yang ditetapkan dalam pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor, dan mendorong terwujudnya
kualitas ruang yang lebih baik
2) Tertib dalam keikutsertaannya pada proses pengendalian pemanfaatan ruang
kawasan rawan bencana longsor
4. Peran Masyarakat (partisipasi dalam penyusunan, pemanfaatan & pengendalian ruang):
1) Bantuan pemikiran atau pertimbangan (masukan, tanggapan dan koreksi)
berkenaan dengan wujud struktur dan pola ruang di kawasan rawan bencana
longsor.
2) Membantu penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan arahan
pemanfaatan ruang yang telah ditetapkan.
3) Memberi masukan untuk penetapan lokasi pemanfaatan ruang kawasan rawan
bencana longsor.
4) Giat menjaga, memelihara, dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan.
5) Ikut memantau pemanfaatan ruang serta melaporkan penyimpangan pemanfaatan
ruang kawasan rawan bencana longsor.
6) Aktif berpartisipasi dalam pengendalian kawasan rawan bencana longsor.
7) Ikut memperkuat konsolidasi pemanfaatan kawasan rawan bencana longsor untuk
tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.
8) Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor
sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kota/kabupaten.
11
REKAYASA TEKNIK PENANGGULANGAN/PENCEGAHAN LONGSOR
(Lamp. VI dalam Permen PU No.22/PRT/M/2007):

1. REKAYASA TEKNIK
1) Penyelidikan geologi teknik,
2) Analisis kestabilan lereng, dan
3) Analisis daya dukung tanah.
2. UPAYA MITIGASI BENCANA LONGSOR
1) Sebelum Terjadinya Longsor
a) Pemetaan; menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam
geologi di suatu wilayah (masukan kepada masyarakat & pemerintah setempat, dan
data base untuk melakukan pembangunan agar terhindar dari bencana longsor).
b) Penyelidikan; mempelajari penyebab dan dampak bencana longsor, sehingga dapat
digunakan dalam perencanaan penanggulangan longsor, serta rencana
pengembangan wilayah.
c) Pemeriksaan; melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi longsor, sehingga
dapat diketahui penyebab dan cara penanggulangannya.
d) Pemantauan; dilakukan di daerah rawan longsor, agar diketahui secara dini tingkat
bahaya longsor oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
e) Sosialisasi; memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi / Kabupaten / Kota
atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang
ditimbulkannnya.
12
REKAYASA TEKNIK PENANGGULANGAN/PENCEGAHAN LONGSOR
(Lamp. VI dalam Permen PU No.22/PRT/M/2007):

2) Saat & Selesai Terjadi Bencana Longsor


Tanggap Darurat ; kegiatan yang harus dilakukan dalam tahap tanggap darurat adalah
penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah.
Secara garis besar tanggap darurat dapat dibagi atas 2 macam kegiatan, yakni :
a) Perlindungan dan Evakuasi ; Kegiatan saat bencana longsor terjadi.
b) Pencarian dan Penyelamatan ; Kegiatan tepat setelah bencana longsor berhenti.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan tanggap darurat, antara lain:
a) Kondisi medan
b) Kondisi bencana
c) Peralatan
d) Informasi bencana

3) Sesudah Terjadi Bencana Longsor


a) Rehabilitasi; Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial,
ekonomi,dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan
tanah longsor dan teknik pengendaliannya supaya tanah longsor tidak berkembang
dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.
b) Rekonstruksi; Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor
tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh
tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada
jalur tanah longsor hampir 100%.
13
Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Tanah Longsor
1. Lereng tanah/batuan yang terjal
2. Material tanah yang tebal dan kurang padat, atau lereng batuan yang kurang
kuat
3. Getaran-getaran bumi karena gempa, peledakan (bom,dll.)
4. Gangguan geologis (cut & fill, excavation, tunnel, etc)
5. Perubahan kadar air dalam tanah akibat hujan lebat atau kenaikan ketinggian
muka air tanah
6. Erosi yang dapat menghilangkan penopang tanah permukaan
7. Jenis, struktur dan pola tata ruang lahan kawasan rawan longsor
8. Penyusutan muka air danau atau bendungan
9. Pengairan atau tindakan fisik/kimiawi lainnya yang dapat menurunkan
kekuatan tanah dan bebatuan dalam jangka waktu tertentu.
10. Peningkatan beban pada tanah yang disebabkan oleh hujan deras, salju, oleh
penumpukan batu-batu lepas, atau bahan-bahan yang dimuntahkan gunung
api, bangunan, sampah/limbah, tanaman, material timbunan pada tebing, dlsb.
14
RUANG LINGKUP PEMANTAUAN KAWASAN BENCANA
LONGSOR :
1. Perencanaan tata ruang kawasan rawan bencana longsor,
2. Pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor,
3. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana
longsor,
4. Penatalaksanaan penataan ruang kawasan rawan bencana
longsor.

I. Perencanaan tata ruang kawasan rawan bencana longsor,


meliputi ;
1) Penetapan kawasan rawan bencana longsor meliputi: penetapan tipologi kawasan
rawan bencana longsor dan penetapan tingkat kerawanan dan tingkat risiko
kawasan rawan bencana longsor,
2) Penentuan struktur ruang kawasan rawan bencana longsor,
3) Penentuan pola ruang kawasan rawan bencana longsor meliputi penentuan jenis
dan lokasi kegiatan di kawasan budi daya dan kawasan lindung.
15
II. Pemanfaatan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor,
meliputi ;
1) Pemrograman pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor,
2) Pembiayaan pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana longsor,
3) Pelaksanaan program pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana
longsor.
III.Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Rawan
Bencana Longsor meliputi ;
1) Penyusunan arahan peraturan zonasi pada wilayah provinsi dan
penyusunan peraturan zonasi pada wilayah kabupaten/kota,
2) Perizinan pemanfaatan ruang di kawasan rawan bencana longsor,
3) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang di
kawasan rawan bencana longsor.
4) Pengenaan sanksi terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang di kawasan
rawan bencana longsor.
IV.Penatalaksanaan penataan ruang kawasan rawan bencana
longsor meliputi ;
1) Kelembagaan penataan ruang kawasan rawan bencana longsor; serta
2) Hak, kewajiban, dan peran masyarakat dalam penataan ruang kawasan
rawan bencana longsor.
16
BEBERAPA TEKNOLOGI MITIGASI TANAH LONGSOR :
1. Sistem Peringatan Dini Tanah Longsor
1) Pemantauan Pergerakan Tanah

2) Pemantauan Curah Hujan

17
2. Alat Telemetri Pergeseran Tanah, Sistem LVDT (Linier Variable Differential
Transformer) ; digital system berbasis micro controller, dengan dilengkapi
potensiometer yang terpasang pada setiap rentang lintasan area deteksi guna
mengetahui titik mana yang mengalami pergeseran.
3. Slope Monitoring System (SMS), antara lain (mining area) :
1) Crack Meter

2) Wireline Extensometer

3) Slope stability radar

4) Robotic Total Station

5) Vibrating Wireline Piezometer

18
BEBERAPA METODE PERENCANAAN PENAHAN LONGSOR
1. Metode Keseimbangan Gaya :
1) Ordinary Method of Slices (OMS) Method
2) Simplified Bishop Method
3) Simplified Janbu Method
4) Corps of Engineer Method
5) Lowe & Karafath Method
6) Generalized Janbu Method
2. Metode Keseimbangan Gaya & Momen :
1) Bishop’s Rigorous Method
2) Spencer Method
3) Sarma Method
4) Morgenstern-Price Method
3. Program-Program Paket (Software) :
1) Software SLOPE/W 2007 (Metode Fellenius)
2) Software PLAXIS (Metode Mohr-Coulomb)
3) Software Geo 5 (Metode Vesic)
4) Program Analisis Stabilitas Lereng V 3.0 (metode trial and error)
5) Software XSATBL (lereng tebing jalan)
6) dlsb.

19
Ada beberapa tindakan MITIGASI (Pencegahan) Bencana
Longsor, antara lain:
1. Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa
menyerap air).
2. Modifikasi lereng (pengurangan sudut kemiringan lereng sebelum
membangun dan/atau pengamanan lereng).
3. Sistem perkuatan lereng untuk menambah gaya penahan gerakan
tanah pada lereng (Tembok/Dinding Penahan, Angkor, Paku Batuan
(Rock Bolt), Tiang Pancang, Jaring Kawat Penahan Jatuhan Batuan,
Shotcrete, Bronjong, dll).
4. Meminimalkan pembebanan pada lereng.
5. Mengupas material gembur (yang tidak stabil) pada lereng.
6. Penanaman vegetasi dengan jenis dan pola tanam yang tepat.
7. Perlu diterapkan sistem terasering dan drainase yang tepat pada
lereng.
8. Mengosongkan lereng dari kegiatan manusia (tindakan terakhir)

20
Selain istilah MITIGASI BENCANA dikenal pula istilah
ADAPTASI BENCANA

Adaptasi Bencana ; Upaya untuk menyesuaikan diri dengan


lingkungan dengan melakukan perubahan yang mengarah pada
peningkatan daya tahan dan daya lenting terhadap perubahan yang
terjadi pada lingkungan.

ADAPTASI BENCANA LONGSOR ; Upaya untuk menyesuaikan diri


(self purification) dengan lingkungan dengan melakukan perubahan
yang mengarah pada peningkatan daya tahan (carrying capacity)
dan daya lenting (resilience) terhadap perubahan dan pergerakan
tanah (landslide).

21
22