Anda di halaman 1dari 145

MATERI

KUP, PPSP, PP
HUKUM PAJAK

1. HUKUM PAJAK FORMAL


2. HUKUM PAJAK MATERIIL
HUKUM PAJAK FORMAL

1. UU TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA


CARA PERPAJAKAN (KUP)
2. UU TTG PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT
PAKSA
3. PENGADILAN PAJAK
HUKUM PAJAK MATERIIL

1. UU PAJAK PENGHASILAN
2. UU PPN DAN PPnBM
3. UU PBB
4. UU BEA METERAI
5. PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
6. BPHTB
UU-TENTANG KUP

1. UU NOMOR 6 TAHUN 1983


2. UU NOMOR 9 TAHUN 1994
3. UU NOMOR 16 TAHUN 2000
4. UU NOMOR 28 TAHUN 2007
UU-TENTANG KUP

DISEBUT HUKUM PAJAK FORMAL, KARENA MENGATUR HUKUM


PAJAK MATERIAL DILAKUKAN. HUKUM PAJAK FORMAL MENGATUR
BAGAIMANA TATA CARA DALAM MELAKSANAKAN HUKUM PAJAK
MATERIAL SEPERI PPH DAN PPN. DENGAN DEMIKIAN DALAM KUP
BANYAK DIATUR TENTANG DEFINISI, TATA CARA BAGAIMANA
MELAKSANAKAN HAK DAN KEWAJIBAN BAIK BAGI WAJIB PAJAK
MAUPUN APARAT PAJAK. MISALNYA PENGERTIAN ATAU DEFINISI
PAJAK, BAGAIMANA CARA MENDAFTARKAN DIRI UNTUK NPWP,
PKP, PEMBUKUAN, PENYETORAN PAJAK, MELAPORKAN SPT,
MENGAJUKAN KEBERATAN, BANDING, RESTITUSI. BAGAIMANA
APARAT PAJAK HARUS MENJAGA KERAHASIAAN WP, DLSB.
Pajak
PASAL 1 (1):
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara
yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-
Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Wajib Pajak

PASAL 1 (2):
Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan,
meliputi pembayar pajak, pemotong pajak,
dan pemungut pajak, yang mempunyai hak
dan kewajiban perpajakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
WAJIB PAJAK
Pasal 1 angka 2 UU KUP

ORANG PRIBADI

PEMUNGUT /
PEMOTONG PAJAK
TERTENTU

BADAN

9
DIT. P2HUMAS
SYARAT MENJADI WAJIB PAJAK

Pasal 2 (1):
memenuhi persyaratan:
• subjektif dan
• objektif
UU Tentang PPh
SYARAT SUBJEKTIF
(PASAL 2 UU PPh NO.36/2008)
Pasal 2
(1) Yang menjadi subjek pajak adalah:
a. 1. orang pribadi;
2. warisan yang belum terbagi
sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak;
b. badan; dan
c. bentuk usaha tetap.
SYARAT OBJEKTIF
(PASAL 4 UU PPh NO.36/2008

)
Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
Diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
KEWAJIBAN AWAL

Pasal 2
(1) Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi
persyaratan subjektif dan objektif .......wajib
mendaftarkan diri dan kepadanya diberikan
Nomor Pokok Wajib Pajak.
(2) Setiap Wajib Pajak atau pengusaha yang dikenai
PPN dan PPnBM wajib dikukuhkan sebagai PKP.
(3) Bila tidak dilakukan ayat 1 dan 2 dapat diberikan
secara jabatan
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK
Kewajiban Mendaftarkan Diri

BADAN ORANG PRIBADI

Syarat Objektif
Syarat Subjektif

Wilayah tempat Wilayah tempat


kedudukan tinggal
KANTOR
PELAYANAN PAJAK

14
Pasal 2
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK
Wanita Kawin

Wanita Kawin yg Memiliki Penghasilan

hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau


Penghasilan isteri
dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian
digabung dgn suami
pemisahan penghasilan & harta

NPWP isteri = NPWP suami


(Hak & kewajiban YA TIDAK
perpajakan digabung)
ingin melaksanakan hak &
memenuhi kewajiban perpajakan
bila telah memiliki NPWP terpisah dari hak & kewajiban
sebelum kawin maka harus perpajakan suami
mengajukan penghapusan

bila telah memiliki NPWP


sebelum kawin maka tidak perlu Isteri &suami masing-masing memiliki NPWP,
mendaftarkan diri lagi (Hak & kewajiban perpajakan terpisah)
15
Pasal 2
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK
Anak yang Belum Dewasa

Sesuai UU PPh 1984 dan perubahannya


anak yg belum dewasa
belum berumur 18 tahun
&
belum pernah menikah

kewajiban perpajakan
digabung dgn orang tuanya

NPWP ikut dgn orang tuanya

16
Pasal 2
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK
Warisan Yang Belum terbagi

Warisan yg belum terbagi sebagai


satu kesatuan menggantikan yg
berhak

menggunakan

NPWP dari orang pribadi yg


meninggalkan warisan

diwakili oleh

o salah seorang ahli waris;


o pelaksana wasiat; atau
o pihak yang mengurus harta
peninggalan.

17
Pasal 3
Apakah dengan tidak memiliki npwp dan tidak
dikukuhkan sebagai PKP, kewajiban perpajakannya
hilang?
Pasal 2(4):
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan
NPWPdan/atau mengukuhkan PKP
secara jabatan apabila Wajib Pajak
atau Pengusaha Kena Pajak tidak
mendaftarkan diri.
Pasal2
(4a) diberikan dan dikukuhkan secara jabatan ,
maka kewajiban perpajakan dimulai sejak
saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan
subjektif dan objektif paling lama 5 (lima)
tahun sebelum diterbitkannya Nomor Pokok
Wajib Pajak dan/atau dikukuhkannya sebagai
Pengusaha Kena Pajak.
5 tahun, psl 2(4a) NPWP,PKP SECARA
JABATAN
PSL 2(3)
2% perbulan maks Psl 2(4)
24 bulan, Psl 13(2)
Bab II
penghapusan npwp

Pasal2
(6) Permohonan dengan syarat :
a. WP sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif
b. WP badan dilikuidasi karena penghentian atau
penggabungan usaha;
c. WP but menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia;
atau
d. dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak
KEWAJIBAN MENGISI SPT

Pasal 3(1):
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat
Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan jelas,
dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan hurut
Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan
menandatangani serta menyampaikannya ke kantor
Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
KEWAJIBAN MENGISI SPT

Pasal 3 (1a):
Wajib Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa
asing dan mata uang selain Rupiah, wajib menyampaikan
Surat Pemberitahuan dalam bahasa Indonesia
dengan menggunakan satuan mata uang
selain Rupiah yang diizinkan, yang
pelaksanaannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
KEWAJIBAN MENGISI SPT
Pasal 3(2) :
Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (1a) mengambil sendiri Surat
Pemberitahuan di tempat yang ditetapkan
oleh Direktur Jenderal Pajak atau mengambil
dengan cara lain yang tata cara
pelaksanaannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
KEWAJIBAN MENGISI SPT
Pasal 3(3) :

Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah:


a. untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama
20 (dua puluh) hari setelah akhir
Masa Pajak;
b. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Wajib Pajak orang pribadi, paling lama
3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak;
atau
c. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak badan, paling
lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.
Batas Waktu Penyampaian SPT

Jenis SPT

SPT SPT
MASA TAHUNAN

20 Hari setelah OP : 31 Maret


akhir masa pajak Badan : 30 APril

Apabila bertepatan hari libur bisa hari berikutnya


26
perpanjangan penyampaian spt

Pasal 3 (4)Wajib Pajak dapat memperpanjang


jangka waktu penyampaian Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan, untuk paling lama 2 (dua) bulan
dengan cara menyampaikan pemberitahuan
secara tertulis atau dengan cara lain kepada
Direktur Jenderal Pajak.
perpanjangan penyampaian spt

Pasal 3 (5)Pemberitahuan disertai dengan


penghitungan sementara pajak yang terutang
dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan Surat Setoran
Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan
pembayaran pajak yang terutang
Surat Tegoran atas perpanjangan penyampaian spt

(5a) Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan


sesuai batas waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian
Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4), dapat diterbitkan Surat
Teguran.
SPT dianggap tidak disampaikan spt

Pasal 3 (7) dianggap tidak disampaikan apabila:


a. tidak ditandatangani
b. tidak lengkap lampiran
c. SPT lebih bayar disampaikan setelah 3 (tiga) tahun
sesudah berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak atau
Tahun Pajak, dan .Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis;
atau
d. Surat Pemberitahuan disampaikan setelah Direktur
Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan atau menerbitkan
surat ketetapan pajak.
SPT - dianggap tidak disampaikan spt

Pasal 4 (4a) dianggap tidak disampaikan apabila:


Dalam hal laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4a) diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak dilampirkan pada
Surat Pemberitahuan, Surat Pemberitahuan dianggap tidak
lengkap dan tidak Jelas, sehingga Surat Pemberitahuan dianggap
tidak disampaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (7) huruf b.
SAMPAI DISINI..........................

SYARAT
NPWP PEMBUKUAN
PKP BAHAS ASING
SPT
NPWP,PKP SECARA PENGAMBILAN
JABATAN BATAS PENYAMPAIAN
PERPANJANGAN
TEGORAN
DIANGGAP TIDAK DISAMPAIKAN
PEMBAYARAN DAN PELAPORAN

PASAL 10 (1):
Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor
pajak yang terutang dengan menggunakan
Surat Setoran Pajak ke kas negara dan SSP
(Surat Setoran Pajak) berfungsi sebagai bukti
pembayaran pajak.
PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK

PASAL 9 AYAT 1 KUP:


Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh
tempo pembayaran dan penyetoran pajak
yang terutang untuk suatu saat atau
Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak,
paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat
terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak.
Pembayaran Pajak
Paling lambat tgl 15 bulan berikutnya:
1. PPh Pasal 25 (angsuran bulanan)
2. PPN dan PPnBM
Paling Lambat tgl 10 Bulan berikutnya:
1. PPh Pasal 21 dan Pasal 26
2. PPh Penghasilan Pasal 22;
3. PPh Pasal 23 dan 26
4. PPh Pasal 4 ayat (2)
5. PPh Pasal 15
Apabila bertepatan hari libur bisa hari setelahnya.
Pembayaran dilakukan dengan Formulir
SSP ke Bank/Ktr Pos
35
PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK

SURAT PEMBERITAHUAN
(PASAL 1 AYAT 11, 12,13 KUP)
11. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh
Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan
penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek
pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/ atau harta
dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
12. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat
Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak.
13. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah
Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau
Bagian Tahun Pajak.
PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK

SAAT PELAPORAN
(PASAL 3 AYAT 3 KUP)
Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah:
a. untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling
lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak;
b. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3
(tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau
c. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak badan, paling lama 4 (empat)
bulan setelah akhir Tahun Pajak.
PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK

SANKSI TIDAK MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)


(PASAL 7 AYAT 1 KUP)
dikenai sanksi administrasi berupa denda:
1. Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai,
2. Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat
Pemberitahuan Masa lainnya,
3. Rp1.000.000,00 (satu Juta rupiah) untuk Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak badan
4. Rp100.000.00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak
orang pribadi.
SANKSI ADMINISTRASI ATAS KETERLAMBATAN atau TIDAK
ENYAMPAIKAN SPT
Pasal 7 (1) UU KUP

WP TERLAMBAT/
TIDAK MENYAMPAIKAN

SPT SPT
MASA TAHUNAN

SPT PPN : Rp. 500.000 OP : Rp. 100.000


SPT Lain : Rp. 100.000 Badan : Rp. 1.000.000
39
PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK

TIDAK DIKENAKAN SANKSI TERHADAP:


(PASAL 7 AYAT 2 KUP)
Pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak dilakukan terhadap:
a. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia;
b. Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas;
c. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga
negara asing yang tidak tinggal lagi di Indonesia;
d. Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di
Indonesia;
e. Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha
lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang beriaku;
f. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi;
g. Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya
diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan; atau
h. Wajib Pajak lain yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
Surat Tagihan Pajak
PASAL 1 AYAT 20 KUP TTG STP

Surat Tagihan Pajak adalah surat


untuk melakukan tagihan pajak
dan/atau sanksi administrasi
berupa bunga dan/atau denda.
Surat Tagihan Pajak (STP)
TIMBULNYA/TERBITNYA STP ?
PASAL 14 AYAT 1 KUP:
(1) Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan
Surat Tagihan Pajak apabila:

a. PPh dalam tahun berjalan tidak atau kurang


dibayar;
b. dari hasil penelitian terdapat kekurangan
pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis
dan/atau salah hitung;
c. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi
berupa denda dan/atau bunga;
SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)

TIMBULNYA/TERBITNYA STP ?
PASAL 14 AYAT 1 KUP:
d. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP, tetapi tidak
membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak, tetapi tidak tepat
waktu;
e. pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, selain:
1. identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (5) huruf b Undang-Undang Pajak Pertambahan
Nilai 1984 dan perubahannya;atau
2. identitas pembeli serta nama dan tandatangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b dan huruf g
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya,
dalam hat penyerahan dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak
pedagang eceran;
STP

TIMBULNYA/TERBITNYA STP ?
PASAL 14 AYAT 1 KUP:
(1) f. Pengusaha Kena Pajak
melaporkan faktur pajak tidak sesuai
dengan masa penerbitan faktur
pajak; atau
g. Pengusaha Kena Pajak yang gagal
berproduksi dan telah diberikan
pengembalian Pajak Masukan
sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 ayat (6a) Undang-Undang
Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan
perubahannya.
STP

TIMBULNYA/TERBITNYA STP ?
PASAL 9 AYAT 1 KUP:
Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo
pembayaran dan penyetoran pajak yang bagi masing-
masing jenis pajak, paling lama 15 (lima belas)
hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya
Masa Pajak

STP timbul karena keterlambatan


STP

KEDUDUKAN HUKUM STP PASAL 14 AYAT 2 KUP:

Surat Tagihan Pajak sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) mempunyai
kekuatan hukum yang sama dengan
surat ketetapan pajak.

KEDUDUKAN HUKUM STP = SKP


SANKSI DALAM STP ?

PASAL 14 (3) :
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam
SuratTagihan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat)
bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau
berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat
Tagihan Pajak.
SANKSI STP ?

PASAL 14 (4) :
Terhadap pengusaha atau Pengusaha Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, huruf e,
atau huruf f masing-masing, selain wajib menyetor
pajak yang terutang, dikenai sanksi administrasi
berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar
Pengenaan Pajak.
SANKSI DALAM STP ?

PASAL 14 (5) :
Terhadap Pengusaha Kena Pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf g dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
per bulan dari jumlah pajak yang ditagih kembali,
dihitung dari tanggal penerbitan Surat Keputusan
Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai
dengan tanggal penerbitan Surat Tagihan Pajak, dan
bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Sanksi STP Pasal 14 (1) KUP

PASAL 14(1)
PASAL PASAL 14(1)
HURUF G
HURUF D, E
14 (1) DAN F
huruf a
dan b

2 % dari yang
2%, 24 bln, + 2% dari dpp
ditagih kemblali
pokok,
Pasal 14(4) Pasal 14(5)
Psl 14(3)
TIMBULNYA/TERBITNYA STP ?

PASAL 14 (6) :
Tata cara penerbitan Surat Tagihan Pajak diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.
SKPKB
(PASAL 12 KUP)
Pasal 12 (1) KUP,
Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya
surat ketetapan pajak.
(2) Jumlah Pajak yang terutang menurut Surat
Pemberitahuan yang disampaikan oleh Wajib Pajak adalah
jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
(3) Apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti
jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar, Direktur
Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang.
SKPKB
(PASAL 13 KUP)
Pasal 13 (1) KUP Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah
saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak,
bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, Direktur Jenderal
Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar dalam hal-hal sebagai berikut:
a. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau
keterangan lain pajak yang terutang tidak atau
kurang dibayar;
b. apabila Surat Pemberitahuan tidak
disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah
ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada
waktunya sebagaimana ditentukan dalam
Surat Teguran;
SKPKB
(PASAL 13 KUP)
Pasal 13 (1) KUP Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah
saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, Direktur
Jenderal Pajak dapat menerbitkan
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dalam hal-hal
sebagai berikut:
c. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau
keterangan lain mengenai Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah ternyata tidak
seharusnya dikompensasikan selisih
lebih pajak atau tidak seharusnya
dikenai tarif 0% (nol persen);
SKPKB
(PASAL 13 KUP)
Pasal 13 (1) KUP :
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya
pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar dalam hal-hal sebagai berikut:
d. apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 atau Pasal 29 tidak dipenuhi sehingga
tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang; atau
e. apabila kepada Wajib Pajak diterbitkan Nomor
Pokok Wajib Pajak dan/atau
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara
jabatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (4a).
Sanksi SKPKB

Kelpaaan PASAL 13 PASAL 13(1) PASAL 13(1) PASAL (13) (1) PASAL 13(1)
Pertama: (1) HURUF HURUF e HURUF b HURUF C HURUF d
Tidak a
menyanpaikan
SPT/SPT tidak
benar

PPN PPh
PPh /PPN / /PPn.BM Sendiri
PPn BM PPh PPh
Sendiri PEMOTONG/ PPh
PEMUNGUTA PEMOTONG/
N PEMUNGUTA
N
Kenaikan BUNGA 2% KENAIKA KENAIKA KENAIKA
200% SEBULAN KENAIKAN N 100% KENAIKA
N 100% N 100%
MAX 24 50% N 50%
(Psl 13a) BLN
Psl. 13 (2) Psl. 13 (3) a Psl. 13 (3) b Psl. 13 (3) c Psl. 13 (3) b Psl. 13 (3)56a
Sanksi SKPKB

Kelpaaan Diterbitkan Berdasarkan SPT tidak di- Berdasarkan Kewajiban:


Pertama: NPWP/ hasil sampaikan hasil
Pasal 28
Tidak NPPKP pemerik- da-lam pemeriksaan,
menyanpaikan PPN/PPn BM :
dan
Secara saan/ket. lain jangka waktu
SPT/SPT tidak - tidak Pasal 29
Jabatan pajak yg yg di-
benar seharusnya tidak dipenuhi
teru-tang tentukan
tidak/ku-rang dalam surat dikompensasika
dibayar tegoran n
- tidak
seharusnya
dikenakan
PPN tarip PPh
0%
PPh /PPN / /PPn.BM Sendiri
PPn BM PPh PPh
Sendiri PEMOTONG/ PPh
PEMUNGUTA PEMOTONG/
N PEMUNGUTA
N
Kenaikan BUNGA 2% KENAIKA KENAIKA KENAIKA
200% SEBULAN KENAIKAN N 100% KENAIKA
N 100% N 100%
MAX 24 50% N 50%
(Psl 13a) BLN
Psl. 13 (2) Psl. 13 (3) a Psl. 13 (3) b Psl. 13 (3) c Psl. 13 (3) b Psl. 13 (3)57a
SKPKB
(PASAL 13 KUP)

Pasal 13 (2) KUP, Jumlah kekurangan pajak yang


terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan
huruf e ditambah dengan sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama
24 (dua puluh empat) bulan, dihitung sejak saat
terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak,
bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan
diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.
SKPKB
(PASAAL 13 KUP)

Pasal 13 (3) KUP; Jumlah pajak dalam Surat Ketetapan Pajak


Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b, huruf c, dan huruf d ditambah dengan sanksi
administrasi berupa kenaikan sebesar
a. 50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak
atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak;
b. 100% (seratus persen) dari Pajak Penghasilan yang
tidak atau kurang dipotong, tidak atau kurang dipungut,
tidak atau kurang disetor, dan dipotong atau dipungut
tetapi tidak atau kurang disetor; atau
c. 100% (seratus persen) dari Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
yang tidak atau kurang dibayar.
SANKSI TIDAK MENYAMPAIKAN SPT TAHUNAN
(PASAL 13 KUP)

(4) Besarnya pajak yang terutang yang diberitahukan


oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuan
menjadi pasti sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan apabila dalam
Jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), setelah saat terutangnya pajak atau
berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak tidak diterbitkan surat ketetapan pajak.
SANKSI TIDAK MENYAMPAIKAN SPT TAHUNAN
(PASAL 13 KUP)

(5) Walaupun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar tetap dapat diterbitkan ditambah
sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48%
(empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang
tidak atau kurang dibayar, apabila Wajib Pajak
setelah jangka waktu tersebut dipidana karena
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau
tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap.
DALAM JANGKA WAKTU 5 TAHUN BISA
DIPERIKSA. PASAL 13(1)

TIDAK DIPERIKSA DALAM 5 TAHUN DIANGGAP


PASTI , PASAL 13(4)

ADA TINDAK PIDANA PERPAJAKAN DALAM 5


TAHUN, PASTI TIDAK BERLAKU, DENDA 48%,
PASAL 13(5)
SANKSI TIDAK MENYAMPAIKAN SPT TAHUNAN
(PASAL 13 KUP)

(6) Tata cara penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang


Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat(5) diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.
SKPKB
(PASAL 13 A KUP)

Pasal 13 KUP; Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak


menyampaikan Surat Pemberitahuan atau
menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya
tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan
keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tidak
dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tersebut pertama
kali dilakukan oleh Wajib Pajak dan Wajib Pajak tersebut
wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang
terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan
sebesar 200% (dua ratus persen) dari jumlah pajak yang
kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar.
SKPKB
(PASAL 13 A KUP)

Pasal 13 KUP;
Wajib Pajak –alpa - tidak menyampaikan
Surat Pemberitahuan - tidak dikenai
sanksi pidana -pertama kali dilakukan- sanksi
administrasi kenaikan 200% (dua ratus
persen) – pokok - SKPKB-
SKPKBT
(PASAL 15 KUP)

Pasal 15(1) KUP:


Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dalam
jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya
pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun
Pajak, atau Tahun Pajak apabila ditemukan data baru
yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang
terutang setelah dilakukan tindakan pemeriksaan
dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan.
TIDAK DIPERIKSA
DALAM 5 TAHUN
DIANGGAP PASTI ,
PASAL 13(4)

Setelah 5 tahun dari 5


tahun diatas ada Kenaikan 100% , pasal
novum , skpkbt, pasal 15 (2)
15(1)
SKPKBT
(PASAL 15 KUP)

PASAL 15 (2) kup;


Jumlah kekurangan pajak yang terutang
dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan ditambah dengan sanksi
administrasi berupa kenaikan sebesar
100% (seratus persen) dari jumlah
kekurangan pajak tersebut.
SKPN
(PASAL 17 A KUP)

Pasal 17 A (1) KUP:


Direktur Jenderal Pajak, setelah melakukan
pemeriksaan, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Nihil apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak
yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang
terutang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada
kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak.
SKPLB
(PASAL 17 KUP)

Pasal 17 (1) KUP: Direktur Jenderal Pajak, setelah


melakukan pemeriksaan, menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila jumlah kredit
pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar
daripada jumlah pajak yang terutang.
PERMOHONAN PEMBETULAN ATAS
KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

PASAL 16 (1) KUP:


Atas permohonan Wajib Pajak atau karena
jabatannya , Direktur Jenderal Pajak dapat
membetulkan surat/ketetapan pajak, yang dalam
penerbitannya terdapat:
 kesalahan tulis,
 kesalahan hitung, dan/atau
 kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan.
PERMOHONAN PEMBETULAN, KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

YANG DAPAT DIBETULKAN Pasal 16 (1)


a. SKPN, SKPKB, SKPKBT, SKPLB
b. Surat Tagihan Pajak;
c. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak;
d. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga;
e. Surat Keputusan Pembetulan;
f. Surat Keputusan Keberatan;
g. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi;
h. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi;
i. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak; atau
j. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak.
PERMOHONAN PEMBETULAN KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

RUANG LINGKUP PEMBETULAN:


a. kesalahan tulis, antara lain kesalahan yang dapat berupa nama,
alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak, nomor surat ketetapan pajak,
jenis pajak, Masa Pajak atau Tahun Pajak, dan tanggal jatuh tempo;

b. kesalahan hitung, antara lain kesalahan yang berasal dari


penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkalian dan/atau
pembagian suatu bilangan; atau
c. kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan, yaitu kekeliruan dalam
penerapan tarif, kekeliruan penerapan persentase Norma
Penghitungan Penghasilan Neto, kekeliruan penerapan
sanksi administrasi, kekeliruan Penghasilan Tidak Kena Pajak,
kekeliruan penghitungan Pajak Penghasilan alam tahun berjalan,
dan kekeliruan dalam pengkreditan
pajak.
PERMOHONAN PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN SANKSI ADM ATAU
PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

Pasal 36

(1) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas


permohonan Wajib Pajak dapat :
a. mengurangkan atau menghapuskan
sanksi administrasi berupa bunga, denda,
dan kenaikan yang terutang , dalam hal
sanksi tersebut dikenakan karena
kekhilafan Wajib Pajak atau bukan
karena kesalahannya;
PERMOHONAN PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN SANKSI ADM ATAU
PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

Pasal 36

(1) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas


permohonan Wajib Pajak dapat :
b. mengurangkan atau membatalkan surat
ketetapan pajak yang tidak benar;
c. mengurangkan atau membatalkan Surat
Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 yang tidak benar;atau
PERMOHONAN PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN SANKSI ADM ATAU
PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

Pasal 36

(1) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas


permohonan Wajib Pajak dapat :
d. membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau
surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan
yang dilaksanakan tanpa :
1. penyampaian surat pemberitahuan
hasil pemeriksaan;atau
2. pembahasan akhir hasil pemeriksaan
dengan Wajib Pajak.
PERMOHONAN PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN SANKSI ADM ATAU
PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

Pasal 36
 Permohonan Pengurangan atau penghapusan sanksi
adm, pembatalan STP dan SKP hanya dapat diajukan
oleh Wajib Pajak paling banyak 2 (dua) kali.
 Permohonan pembatalan hasil pemeriksaan hanya
dapat diajukan oleh Wajib Pajak 1 (satu) kali.
 proses paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal
permohonan.
PERMOHONAN PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN SANKSI ADM ATAU
PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK YANG TIDAK BENAR

Pasal 36
 Tidak diterbitkan keputusan dalam 6 bulan dianggap
dikabulkan
 Beda permohonan pembetulan pengurangan dan
penghapusan sanksi adm?
Pasal 36 (Ayat (1)-Penjelasan

• Dalam praktik dapat ditemukan sanksi administrasi yang dikenakan


kepada Wajib Pajak tidak tepat karena ketidaktelitian petugas pajak
yang dapat membebani Wajib Pajak yang tidak bersalah atau tidak
memahami peraturan perpajakan. Dalam hal demikian, sanksi
administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan yang telah
ditetapkan dapat dihapuskan atau dikurangkan oleh Direktur
Jenderal Pajak. Selain itu, Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya
atau atas permohonan Wajib Pajak dan berlandaskan unsur
keadilan dapat mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan
pajak yang tidak benar, misalnya Wajib Pajak yang ditolak
pengajuan keberatannya karena tidak memenuhi persyaratan
formal (memasukkan surat keberatan tidak pada waktunya)
meskipun persyaratan material terpenuhi.
Pasal 36 (Ayat (1)-Penjelasa
• Demikian juga, atas Surat Tagihain Pajak yang tidak benar
dapat dilakukan pengurangan atau pembatalan oleh
Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya atau atas
permohonan Wajib Pajak. Dalam rangka memberikan
keadilan dan melindungi hak Wajib Pajak, Direktur Jenderal
Pajak atas kewenangannya atau atas permohonan Wajib
Pajak dapat mernbatalkan hasil pemeriksaan pajak yang
dilaksanakan tanpa penyampaian surat pemberitahuan
hasil pemeriksaan atau tanpa dilakukan pembahasan akhir
hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak. Namun, dalam hal
Wajib Pajak tidak hadir dalam pembahasan akhir hasil
pemeriksaan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan,
permohonan Wajib Pajak tidak dapat dipertimbangkan.
PERMOHONAN KEBERATAN

Pasal 25 KUP

(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya


kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu:
a. SKPKB;
b. SKPKBT;
c. SKPN;
d. SKPLB; atau
e. Pemotongan atau pemungutan pajak
oleh pihak ketiga.
SYARAT PENGAJUAN PERMOHONAN KEBERATAN

Pasal 25 ayat 2 sd 9)
1. Tertulis
2. Dalam jangka waktu 3 bulan tmt skp
3. Melunasi pajak paling sedikit sebesar yang disetujui dalam
pemeriksaan
4. Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan
keberatan, tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak
tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan.
5. Keberatan ditolak atau dikabulkan sebagian, dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh
persen).
PENYELESAIAN PROSES KEBERATAN

Pasal 26
 Paling lama 12 (dua belas) bulan
 Keputusan dapat mengabulkan
seluruhnya, sebagian, menolak
atau menambah.
 Lewat 12 bulan, keputusan
belum ada, dianggap diterima.
PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

PASAL 18 (1) KUP:


(1) Dasar Penagihan Pajak:
 STP,
 SKPKB
 SKPKBT
 Surat Keputusan Pembetulan,
 Surat Keputusan Keberatan,
 Putusan Banding,
 Putusan Peninjauan Kembali
5. PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

PASAL 19 KUP:
 Keterlambatan denda 2% per bulan.
 Boleh mengangsur atau menunda pembayaran
dengan tetap membayar bunga 2% per bulan
5. PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

PASAL 20 KUP:
(1) Atas Jumlah pajak yang masih harus dibayar,
sesuai STP, SKPKB, SKPKBT, Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali yang
tidak dibayar sesuai dengan jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) atau
ayat (3a) ditagih dengan Surat Paksa.
5. PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

PASAL 9 KUP:
(3) STP, SKPKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat
Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, Putusan
Peninjauan Kembali, harus dilunasi dalam jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.
(3a) Bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di
daerah tertentu, jangka waktu pelunasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diperpanjang paling lama menjadi 2 (dua) bulan yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
5. PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

PASAL 20 KUP:
(2) Selain Surat Paksa. Penagihan dapat dilakukan dengan cara “penagihan
seketika dan sekaligus” apabila:
a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk
selama-lamanya atau berniat untuk itu;
b. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang
dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan
kegiatan perusahaan atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia;
c. Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan
membubarkan badan usaha atau menggabungkan atau memekarkan
usaha, atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau yang
dikuasainya, atau melakukan perubahan bentuk lainnya;
d. Badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau
e. Terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak
ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan.
Sampai disini tgl 13 feb 2012
5. PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

PASAL 20 KUP:
(2) "penagihan seketika dan sekaligus" adalah tindakan
penagihan pajak tanpa menunggu tanggal jatuh
tempo pembayaran.
5. PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (PPSP)

hak mendahului
Pasal 21 KUP
(1) Negara mempunyai hak mendahulu untuk utang
pajak atas barang-barang milik Penanggung
Pajak.
5. DALUARSA PENAGIHAN

Pasal 22
(1) Hak penagihan menjadi daluwarsa setelah
melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak
penerbitan STP, SKPKB,SKPKBT Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan , Putusan
Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.
5. DALUARSA PENAGIHAN TIDAK BERLAKU:

Pasal 22
(2)
a. diterbitkan Surat Paksa;
b. Wajib Pajak mengakui utang pajaknya
c. diterbitkan SKPKB atau SKPKBT karena
melakukan tindak pidana.
d. dilakukan penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG
PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA
PELAKSANA TINDAKAN PENAGIHAN - JURU SITA

PASAL 1(6) UU PPSP:


Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan
pajak meliputi:
 penagihan seketika dan sekaligus,
 pemberitahuan Surat Paksa,
 penyitaan dan LELANG;
 penyanderaan
JURU SITA

PASAL 1(9) UU PPSP:


Penagihan seketika dan sekaligus:
adalah tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan
oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa
menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang
meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak,
masa pajak, dan tahun pajak;
JURU SITA

PASAL 1(10) UU PPSP:


Surat Paksa:
Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang
pajak dan biaya penagihan pajak;
JURU SITA

PASAL 1(12):
Penyitaan adalah tindakan Jurusita Pajak
untuk menguasai barang Penanggung Pajak,
guna dijadikan jaminan untuk melunasi
utang pajak menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
JURU SITA

PASAL 1(14):
Lelang adalah setiap penjualan barang di muka umum
dengan cara penawaran harga secara lisan dan
atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat
atau calon pembeli;
JURU SITA

PASAL 1(18):
Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu
kebebasan Penanggung Pajak dengan
menempatkannya di tempat tertentu;
TUGAS JURU SITA

Pasal 5 UU PPSP

(1) Jurusita Pajak bertugas :


a. melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika
dan Sekaligus;
b. memberitahukan Surat Paksa;
c. melaksanakan penyitaan atas barang
Penanggung Pajak berdasarkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan; dan
d. melaksanakan penyanderaan berdasarkan Surat
Perintah Penyanderaan;
PENAGIHAN SEKETIKA DAN SEKALIGUS

Pasal 6 UU PPSP

(1) Jurusita Pajak melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus


tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran berdasarkan
Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus yang
diterbitkan oleh
Pejabat apabila :
a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk
selama-lamanya atau berniat untuk itu;
b. Penanggung Pajak menghentikan atau secara nyata
mengecilkan kegiatan perusahaan, atau
pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia, ataupun
memindahtangankan barang yang dimiliki
atau dikuasainya;
PENAGIHAN SEKETIKA DAN SEKALIGUS

Pasal 6

(1) Jurusita Pajak melaksanakan penagihan seketika dan


sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo
pembayaran berdasarkan Surat Perintah Penagihan
Seketika dan Sekaligus yang diterbitkan oleh
Pejabat apabila :
c. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan
membubarkan badan usahanya atau
berniat untuk itu;
d. badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau
e. terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh
pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda
kepailitan.
SURAT PAKSA

Pasal 8

Surat Paksa diterbitkan apabila :


a. Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak sampai
dengan tanggal jatuh tempo pembayaran dan kepadanya
telah diterbitkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau
surat lain yang sejenis;
b. terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan penagihan
seketika dan sekaligus; atau
c. Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana tercantum dalam keputusan persetujuan
angsuran atau penundaan pembayaran pajak.
PENYERAHAN SURAT PAKSA

Pasal 10

(1) Surat Paksa diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan


pernyataan dan penyerahan Surat Paksa kepada
Penanggung Pajak.
PENYITAAN

Pasal 11

Pelaksanaan Surat Paksa tidak dapat dilanjutkan dengan


penyitaan sebelum lewat waktu 2 (dua) kali 24
(dua puluh empat) jam setelah Surat Paksa diberitahukan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.
PENYITAAN

Pasal 12

(1) Apabila utang pajak tidak dilunasi oleh Penanggung


Pajak dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11, Pejabat menerbitkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan.
DIKECUALIKAN DARI PENYITAAN

Pasal 15

(1) a. pakaian dan tempat tidur,


b. persediaan makanan dan minuman
c. perlengkapan Penanggung Pajak yang bersifat dinas;
d. buku-buku yang bertalian dengan jabatan atau
pekerjaan
e. peralatan dalam keadaan jalan tidak lebih dari Rp.
20.000.000,00 (sepuluh juta rupiah); dan
f. peralatan penyandang cacat yang digunakan
PEMBLOKIRAN BANK

Pasal 17 UU PPSP

(1) Penyitaan terhadap deposito berjangka, tabungan,


saldo rekening koran, giro atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu dilaksanakan dengan
pemblokiran terlebih dahulu.
PENCABUTAN SITA

Pasal 22 UU PPSP

(1) Pencabutan sita –


 Penanggung Pajak telah melunasi biaya
penagihan pajak dan utang pajak
 berdasarkan putusan pengadilan
LELANG

Pasal 25 UU PPSP

(1) Apabila utang pajak dan/atau biaya penagihan pajak


tidak dilunasi setelah dilaksanakan penyitaan,
Pejabat berwenang melaksanakan penjualan secara
lelang terhadap barang yang disita melalui Kantor
Lelang.
PENCEGAHAN
Pasal 29 UU PPSP

Syarat:
 utang pajak minimal Rp.100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) dan
 diragukan itikad baiknya dalam melunasi utang pajak.
PENCEGAHAN
Pasal 30

(1) Pencegahan- berdasarkan keputusan


Menteri Keuangan.
PENYANDERAAN
Pasal 33

(1) syarat:
 utang pajak minimal Rp. 100.000.000,00 (seratus
juta rupiah) dan
 diragukan itikad baiknya dalam melunasi
utang pajak.
PENYANDERAAN
Penyanderaan - dilaksanakan berdasarkan Surat
Perintah Penyanderaan yang diterbitkan oleh Pejabat
setelah mendapat izin tertulis dari Menteri atau
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 14 TAHUN 2002
TENTANG
PENGADILAN PAJAK
PENGERTIAN BANDING

Pasal 1 (6) UU No.14/2002


upaya hukum terhadap suatu keputusan
yang dapat diajukan Banding.
6. PERMOHONAN BANDING terhadap:

 Keputusan keberatan atas:


 skpn,
 skpkb,
 skpkbt,
 skplb dan
 pemotongan atau pemungutan.
6. PENGAJUAN PERMOHONAN BANDING

Pasal 27 kup

(1) Diajukan kepada badan peradilan pajak


atas Surat Keputusan Keberatan.
(3) Diajukan secara tertulis dalam bahasa
Indonesia dengan alasan yang jelas paling
lama 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan
Keberatan diterima dan dilampiri dengan
salinan Surat Keputusan Keberatan
tersebut.
6. TERTANGGUHNYA JANGKA WAKTU PELUNASAN

Pasal 27
(5a) Jangka waktu pelunasan
pajak ,tertangguh sampai
dengan 1 (satu) bulan sejak
tanggal penerbitan Putusan
Banding.
6. PERMOHONAN BANDING S

Pasal 27 (STATUS UTANG PAJAK)


(5b) Jumlah pajak yang belum dibayar pada
saat pengajuan permohonan keberatan
tidak termasuk sebagai utang pajak.
(5c) Jumlah pajak yang belum dibayar pada
saat pengajuan permohonan banding
belum merupakan pajak yang terutang
sampai dengan Putusan Banding
diterbitkan.
6. SANKSI PERMOHONAN BANDING DITOLAK

Pasal 27
(5d) denda sebesar
100% (seratus
persen)
6. KEPUTUSAN BANDING –imbalan bunga

Pasal 27 A KUP
(1) Apabila pengajuan keberatan,
permohonan banding, atau permohonan peninjauan
kembali dikabulkan sebagian atau seluruhnya,
menyebabkan kelebihan pembayaran pajak,
kelebihan pembayaran dimaksud dikembalikan
dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua
persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh
empat) bulan .
7. GUGATAN

Pasal 23 kup
(2) Gugatan Wajib Pajak terhadap:
a. pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, atau
Pengumuman Lelang;
b. keputusan pencegahan dalam rangka
penagihan pajak;
7. GUGATAN

Pasal 23 kup
(2) Gugatan Wajib Pajak terhadap:
c. keputusan yang berkaitan dengan
pelaksanaan keputusan
perpajakan, selain yang
ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1)
dan Pasal 26; atau
7. GUGATAN

Pasal 23 kup
(2) Gugatan Wajib Pajak terhadap:
d. penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat
Keputusan Keberatan yang dalam penerbitannya
tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang
telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan hanya dapat diajukan
kepada badan peradilan pajak.
7. GUGATAN

pasal 1 UU no. 19/2000 ttg ppsp


22. Gugatan atau Sanggahan adalah upaya hukum
terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau
kepemilikan barang sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.
9. PENCATATAN DAN PEMBUKUAN

Pasal 28 KUP
(1) WP OP dan WP Badan di Indonesia wajib
menyelenggarakan pembukuan.
(2) WP OP boleh dan cukup hanya dengan pencatatan dan
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto
9. PENCATATAN DAN PEMBUKUAN

Pasal 28 KUP
(3) mencerminkan keadaan usaha yang sebenarnya.
(4) menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan mata
uang rupiah, bahasa Indonesia atau
dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri
Keuangan.
(5) prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual dan stelsel kas.
(6) Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun
buku harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal
Pajak.
(7) Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan
mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan
dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat
dihitung besarnya pajak yang terutang.
10. PEMERIKSAAN

Pasal 1 ayat 25 dan 29 ayat 1 KUP KUP:


pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
dan/atau untuk tujuan lain
10. KEWAJIBAN SAAT DIPERIKSA

PASAL 29 (3) KUP:


a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau
catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen
lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh,
kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang
terutang pajak;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki
tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan
guna kelancaran pemeriksaan;dan/atau
c. memberikan keterangan lain yang diperlukan.
10. WEWENANG PEMERIKSA

Pasal 30
(1) melakukan penyegelan tempat atau ruangan
tertentu serta barang bergerak dan/atau tidak
bergerak.
10. HASIL PEMERIKSAAN PAJAK (PASAL 13 KUP)

Pasal 13 KUP;
SKPKB
 SKPN
 SKPKBT
 SKPLB
10. PENYIDIKAN

Pasal 43A

(1) pemeriksaan bukti permulaan - penyidikan


tindak pidana- informasi masyarajat
10. PENYIDIKAN

Pasal 44

(1) Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan


hanya dapat dilakukan oleh Pejabat pegawai Negeri
Sipil (PPNS)
11. SANKSI-SANKSI

Pasal 38
Setiap orang yang karena kealpaannya :
 tidak menyampaikan SPT,
 menyampaikan tidak benar,
 bukan perbuatan pertama kali,
 didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak
terutang dan paling banyak 2 (dua) kali atau
 dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan
atau paling lama 1 (satu) tahun.
11. SANKSI-SANKSI

Pasal 39 – pendaftarkan diri, npwp


Pasal 39 A – faktur pajak
Pasal 41-sanksi untuk aparat pajak dari psl 34
Pasal 41 Pasal 41 B-pemberian keterangan
Pasal 41 C-sanksi pasal 35 A
PENINJAUAN KEMBALI (PK) KE MAHKAMAH AGUNG

UU NO.14 TH 2002
TENTANG
PENGADILAN PAJAK

Pasal 77
(3) Pihak-pihak yang ber-sengketa dapat
mengajukan peninjauan kembali atas
putusan Pengadilan Pajak kepada
Mahkamah Agung.
PENINJAUAN KEMBALI (PK) KE MAHKAMAH AGUNG

• Peninjauan kembali dapat diajukan


oleh DJP maupun oleh WP.
• Hanya dapat diajukan satu kali.
12. RESTITUSI
(PASAL 11 KUP)

1) Atas permohonan Wajib Pajak, kelebihan pembayaran pajak


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, Pasal 17B, Pasal 17C,
atau Pasal 17D dikembalikan, dengan ketentuan bahwa apabila
ternyata Wajib Pajak mempunyai utang pajak, langsung
diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak
tersebut.
12. RESTITUSI
(PASAL 17 KUP)

(1) Direktur Jenderal Pajak, setelah melakukan pemeriksaan,


menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila jumlah
kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada
jumlah pajak yang terutang.
LARANGAN BAGI FISKUS
• Pasal 34
(1) Setiap pejabat dilarang memberitahukan
kepada pihak lain segala sesuatu yang
diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh
Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau
pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
TERIMA KASIH
Penerimaan Pajak (Triliun Rupiah)
1200

1000

800

600

400

200

0
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012