Anda di halaman 1dari 10

Abdullah S Hemadi*, Ruijie

SALIVARY PROTEINS AND MICROBIOTA AS Huang*, Yuan Zhou and Jing


BIOMARKERS FOR EARLY State Key Laboratory of Oral Diseases &
National Clinical Research Center for Oral

CHILDHOOD CARIES RISK ASSESSMENT Diseases & Department of Pediatric Dentistry,


West China Hospital of Stomatology, Sichuan
University, Chengdu, China Zou, 2017
PROBLEM
1. Dental Caries adalah salah satu penyakit infeksi kronis paling banyak terjadi
pada anak usia dini.
2. Tanpa pencegahan di awal, penyakit infeksi ini dapat merusak jaringan gigi,
bahkan dapat membuat hilangnya gigi.
3. Banyak studi penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
prevalensi karies yang tinggi pada anak usia dini dan jumlah mutans streptococci
and lactobacilli yang tinggi pada saliva atau plak.
MICROBIOTA
MIKROORGANISME SEBAGAI SEBUAH FAKTOR RESIKO TERJADINYA KARIES PADA
ANAK USIA DINI
 Mutans streptococci
 S. mutans dan Streptococcus sobrinus, adalah spesies yang paling sering dihubungkan
dengan lubang gigi pada anak anak.
 Sebuah Penelitian Sistematik Review oleh Thenisch (2006) mendiskusikan tentang Hubungan
antara mutans streptococci di saliva dengan Karies pada Anak Usia Dini (ECC). Penelitian
ini mengemukakan bahwa Adanya mutans streptococci pada Saliva Anak Usia Dini tanpa
karies sangat berhubungan dengan peningkatan Resiko Karies. Penelitian in
mengobservasi jumlah mutans streptococci di saliva (4 laporan; total dari 451 anak)
bahwa resiko dari karies adalah 2.11; 95% CI: 1.47–3.02
MICROBIOTA
Lactobacilli
 Sebagai tambahan mutans streptococci, lactobacilli mempunyai peran dalam progresi karies
, melalui “the production of water-insoluble polysaccharides” yang mendukung perlekatan
bakteri pada permukaan gigi dan bakteri lainnya. Lactobacilli mengisi celah antara bakteri,
memfasilitasi akumulasi plak dan perlekatan bakteri lain di permukaan gigi.
 Lactobacilli mampu mempertahankan asam organik, yang mengubah microenvironment
menjadi asam untuk meningkatkan jumlah mikroflora yang aciduric. Walaupun lactobacilli
mempunyai peran dalam prognosis karies gigi, namun sepertinya tidak mempunyai peran
yang signifikan dalam permulaan proses karies. Oleh karena itu jumlah lactobacilli hanya
berkaitan secara tidak langsung terkait dengan perkembagan karies.
MICROBIOTA
Candida species
 Candida species sering di temukan di kavitas oral dari anak yang mengalami ECC. Candida
albicans menginvasi tubulus dentin dan mensekresikan asam yang meningkatkan
demineralisasi enamel. Fungus jenis ini memiliki kemampuan melekat ke Hydroxyapatite
(HAP), dan melarutkan Kristal HAP dengan melepaskan ion Kalsium . C. albicans relevan
dalam perkembangan phatogenitas karies.
 C. albicans dapat mentoleransi asam kuat, dan dapat menghasilkan asam organik yang
kuat, seperti asam asetat dan piruvat, yang mana lebih efisien untuk menurunkan PH
lingkungan di banding S.mutans yang mensekresikan asam laktat.
 Beberapa penelitian tidak menemukan hubungan yang kuat antara Candida Spp di dalam
saliva dengan tingkatan keparahan karies pada anak dengan ECC. Namun ini tidak
berhubungan dengan Potensialitas jumlah C.Albicans di dalam saliva sebagai predictor
pada ECC.
MICROBIOTA
Prevotella spp
 Tanner dkk (2011) mendapatkan peningkatan prevalensi Prevotella spp. di Secere ECC (S-
ECC) pada 53 anak ,dibandingkan dengan 32 Anak yang free karies menggunakan analisis
microarray.
 Ling dkk (2010) meneliti 60 anak (3-6 Tahun) dengan dan tanpa karies, di dalam
penelitiannya mereka menganalisis microbiome di dalam saliva menggunakan
“highthroughput barcoded pyrosequencing” dan “PCR-denaturing gradient gel electrophoresis”.
Mereka mengobservasi Provetall Spp lebih banyak pada anak yang karies aktif di banding
anak yang free Caries
 Karenanya, Prevotella spp. Lebih memungkinkan sebagai prediktor ECC
SALIVARY PROTEIN
Immunoglobuline
 Salivary immunoglobulins adalah mucosal antibody yang bereaksi pada pertahanan pertama
terhadap karies, ada 2 antibodi utama Immunoglobuline yaitu IgA dan IgG.
 IgA
 IgA merupakan subclass salivary immunoglobuline paling banyak pada saliva yaitu (50-60%)
 IgA dapat menetralisir toksin bakteri dan enzimnya, menurunkan kemampuan bakteri di permukaan gigi secara
fisik yaitu dengan menghalani adhesi bakteri, menghambat metabolisme bakteri, mengurangi hidrofobisitas
bakteri dan menggabungkan atau menggumpalkan bakteri bersama-sama, hal ini sangat membantu proses aksi
antibakteri pada saliva.
 IgG
 Salivary IgG berperan sebagai proteksi di dalam kavitas oral dengan menghambat pertumbuhan sel bakteri,
perlekatan bakteri, dan produksi asam oleh bakteri.
 Sebuah penelitian cross-sectional pada 90 anak menunjukkan bahwa konsenttrasi IgG secara signifikan
meningkat pada ECC. Penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara meningkatnya IgG dan
prevalensi ECC, dimana total jumlah dari IgM sama sekali tidak ada perbedaan antara anak dengan ECC dan
tanpa ECC.
SALIVARY PROTEIN
PRP
 Proline-rich proteins: Human salivary PRPs terdiri dari banyak molekul yang hetrogen, yang banyak
pada saliva, dimana terbagi menjadi 3 grup yaitu : basic PRP (bPRP), acidic PRPs (aPRP) and
glycosylated PRPs.
 aPRPs berperan dalam proses pembentukan pelikel dimana meningkatkan perlekatan S.mutans pada
permukaan HAP.
 aPRPs sangat penting dalam menjaga “supersaturation” kejenuhan ion kalsium yang berhubungan
dengan ion phospat pada saliva. Dengan demikian aPRPs dimungkinan sebagai subtansi alami dalam
menjaga keseimbangan ion kalsium pada saliva.
 Selanjutnya , aPRPs mempunyai peran yang sangat signifikan dalam proteksi permukaan gigi dengan
mengatur pengendapan kalsium phosphate ke dalam enamel gigi.
 Penelitian oleh Bhalla,dkk (2010) menunjukan pengamatan pada saliva ECC, memiliki PRP yang tinggi.
 Mayoritas penelitian mendukung korelasi antara peningkatan kadar PRP dan peningkatan kejadian
ECC, dengan demikian menunjukkan potensi penggunaan PRP sebagai prediktor untuk prognosis ECC.
SALIVARY PROTEIN
Histatin Peptides
 Histatins adalah cationic peptides yang terdiri dari setidaknya 12 peptida dasar yang kaya
akan histidin, ciri strukturnya mulai dari 7 hingga 38 asam amino.
 Bentuk paling sering dari histidine-rich peptides adalah histatin 1, histatin 3 and histatin 5,
with 38, 32 and 24 amino-acid residues.
 Pada penelitian yang panjang, di publikasikan oleh Ao dkk(2017), menemukan bahwa
peningkatan histatin peptide pada saliva berkorelasi dengan meningkatnya insidensi ECC.
 Karena adanya Evidence korelasi konsentrasi histatin dan ECC, Histatins pada saliva dapat
meningkatkan resiko karies pada usia dini.
CONCLUSION
Pada Studi yang di ambil pada penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang
signifikan antara tingginya prevalensi karies pada anak usia dini dengan tingginya
jumlah microbials seperti mutans streptococci, C. albicans dan Prevotella spp.,
kemudian saliva protein yang mengandung IgA, IgG immunoglobulins, PRP dan
histatin peptides, pada saliva bila di bandingkan dengan individu yang bebas
Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian ini, komponen air liur ini dapat
digunakan sebagai biomarker untuk ECC. Sampai saat ini, komponen protein saliva
lainnya yang tidak memiliki hubungan (tidak ada hubungan yang jelas yang
ditemukan antara protein saliva lain dan risiko ECC) pada prediksi risiko karies, dan
jumlah total protein saliva yang lainnya yang ditemukan, tidak berguna dalam
memprediksi risiko karies.