Anda di halaman 1dari 31

PEMERIKSAAN

PENUNJANG ASMA
PENGAMBILAN SAMPEL SPUTUM

• Tujuan induksi sputum adalah mengumpulkan sampel yang


cukup dari saluran napas individu yang tidak dapat
mengeluarkan secara spontan.
• Diberikan terapi β2 agonist kerja singkat sebelum dilakukan
induksi sputum, direkomendasikan karena larutan salin
hipertonik dapat menyebabkan bronkokonstriksi pada
penderita asma.
• Konsentrasi larutan salin yang digunakan 0,9%-7%. Konsentrasi
dapat dimulai dengan 3%, berikutnya menjadi 4% atau 5%.
PEMERIKSAAN SPUTUM

Pada pemeriksaan sputum ditemukan:


• Kristal Charcot Leyden  degranulasi dari kristal eosinofil
• Spiral Curschmann  spiral yg merupakan sel cetakan dari
cabang-cabang bronkus
• Creole  fragmen dari epitel bronkus
• Neutrofil & eosinofil yg terdapat pada sputum umumnya
bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang-
kadang terdapat mukus
Spiral Curschmann
Kristal Charcot Leyden
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

• Menyikat gigi sebelum pengambilan sputum


• dianjurkan pasien mengonsumsi air yang banyak
pada malam sebelum pengambilan sputum
• Spesimen bercampur saliva
EOSINOFIL (DASAR TEORI)

• Eosinofil merupakan salah satu dari leukosit yang memiliki


granula dan tergolong dalam granulosit. Granula dalam sel ini
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap eosin sehingga
pada pewarnaan mengambil zat warna asam eosin dan
berwarna merah orange.
• Jumlah normal eosinofil berkisar antara 1-3 sel per-100 leukosit.
• Mempunyai sedikit kemampuan fagositosis
• Peranan utama eosinofil masih belum jelas, hanya dikatakan
terjadi peningkatan jumlahnya apabila tubuh kemasukkan
benda – benda asing, baik suatu protein asing ataupun
parasit yaitu disebut keadaan alergi.
• Selain terdapat di sirkulasi juga dapat tinggal di jaringan –
jaringan pada keadaan alergi, misalnya di mukosa usus,
jaringan paru – paru.
HITUNG EOSINOFIL (ABSOLUT)

• Jumlah eosinofil absolut adalah ukuran jumlah


eosinofil di dalam darah berdasarkan pengukuran
eosinofil diferensial dan jumlah total sel darah putih.
Jumlah eosinofil absolut meningkat pada reaksi
alergi dan hipersensitivitas dan infeksi parasit. Sel ini
juga banyak dijumpai pada infeksi parasit.
HITUNG EOSINOFIL (ABSOLUT)

Prinsip pemeriksaan
• Darah ditambah reagen khusus (tdd larutan eosin 2%, aceton
5 ml, dan aquadest ad 100 ml) maka sel – sel lain akan lisis
sedangkan eosinofil akan terwarnai sehingga dapat dihitung

Prinsip kerja
• Eosinofil dihitung tersendiri dengan larutan pengencer yang
dapat memberi warna merah pada granula eosinofil. Sel – sel
leukosit yang lain serta eritrosit lisis. Perhitungan didasarkan
atas penipisan dan volume cairan dalam kamar hitung

Larutan pengencer ini harus disimpan dalam lemari es, hanya


tahan 1 minggu dan harus disaring sebelum memakainya.
PROSEDUR

1. Mengisi pipet leukosit  darah diisap dengan pipet leukosit


sampai garis tanda 1, kemudian isap larutan pengencer
sampai garis 11, kocok pipet 15-30 detik
2. Mengisi kamar hitung  letakkan kamar hitung yg bersih &
kering dgn kaca penutupnya terpasang, kocok pipet
selama 3 menit terus menerus, buang 4 tetes cairan di
batang pipet ke kertas tissue, sentuhkan ujung pipet ke
permukaan kamar hitung menyinggung pinggir kaca
penutup dgn sudut 30°, biarkan cairan masuk dgn daya
kapilaritasnya, letakkan kamar hitung pada petridish
dengan dasar tissue/kapas basah selama 15 menit
3. Menghitung jumlah sel  Eosinofil dikenali dgn granulanya
yg merah, dihitung dlm seluruh bidang yg dibagi yaitu
dalam 9 mm2 (luas) dan 0,1 mm (tinggi). Menghitungnya
pada mikroskop pada perbesaraan 40x (pada seluruh
kamar hitung)
PERHITUNGAN

4. Perhitungan  Pengenceran darah adalah 10 kali, sel-sel


eosinofil yg dihitung terdapat dalam ruang sebesar 0,9 mm3.
jumlah sel eosinofil yg dihitung dikali 10 x 10 : 9 ialah
jumlahnya per uL darah

- Karena jumlahnya kecil, menghitung sel eosinofil tidak dapat


dilakukan dengan ketelitian spt menghitung leukosit,
kesalahan rata-rata mendekati ± 35%
- Ketelitian menghitung dapat dipertinggi jika menggunakan
kamar hitung yang lebih besar, misal Fuchs-Rosenthal yg
luasnya 16 mm2 & tingginya 0,2 mm. Rumusnya menjadi:
𝑛 𝑥 10
(n= jumlah eosinofil)
3,2
PERHITUNGAN

• Nilai normal : 20 – 350/ mm3


• Peningkatan jumlah eosinofil dapat disebabkan:
- Asma
- Penyakit autoimun
- Eczema
- Leukemia
- Infeksi parasit
• Jumlah eosinofil yg lebih rendah dari normal dpt disebabkan:
- Intoksikasi alkohol
- Produksi berlebihan steroid tertentu ( misal kortisol)
PEMERIKSAAN DARAH

• Pada pemeriksaan darah rutin diharapkan terjadi


peningkatan eosinofil, sedangkan leukosit dapat meningkat
atau normal
• Analisis gas darah umumnya normal, tapi dapat pula
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis
• Kadang pada darah terdapat peningkatan SGOT dan LDH
• Hiponatremia dan kadar leukosit kadang di atas 15000/mm3
 infeksi
• Peningkatan IgE pada waktu serangan dan menurun saat
bebas dari serangan
PEMERIKSAAN FAAL PARU

• Setiap pasien menunjukkan peningkatan resistensi


jalan pernapasan dan penurunan expiratory flow
rate
• FEV1 menurun dan penurunanya sejajar dgn
penurunan FVC
• Peningkatan volume residual (RV) hampir terjadi
pada seluruh asma, kapasitas residual fungsional
(FRC) selalu menurun
• FRC < 1 liter
PEMERIKSAAN PEAK FLOW METER

1. Salam, memperkenalkan diri, mengecek identitas pasien


2. Menanyakan keteraturan pengobatan dan kekambuhan
pada pasien
3. Informed consent mengenai indikasi, manfaat, dan cara
dilakukannya tes ini
4. Persiapan bahan & alat : Alat peak flow meter, mouth
piece, wadah berisi savlon yg telah diencerkan dgn air utk
merendam mouth piece yg digunakan berulang, formulir
pemeriksaan peak flow meter
PEMERIKSAAN PEAK FLOW METER

Teknik pemeriksaan:
1. Letakkan tanda petunjuk pada alat pada angka nol
2. Pasien berdiri tegak dan tarik napas sedalam-dalamnya
3. Masukkan mouth piece ke mulut dan rapatkan. Pastikan
bibir pasien melingkupi sekeliling mouth piece sehingga
tidak ada kebocoran
4. Minta pasien untuk meniup sekuat dan secepat mungkin
dgn tiupan pendek dan tajam, tidak boleh terhalang oleh
lidah
5. Catat angka pada penunjuk
6. Lakukan sebanyak 3 kali
7. Catat angka yang tertinggi
8. Hitung dalam rumus
PEMERIKSAAN PEAK FLOW METER
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
Rumus APE = x 100%
(𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 𝑥 60)
𝐴𝑃𝐸 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚−𝑝𝑎𝑔𝑖
Rumus VAPE = x 100%
½ 𝑥 (𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚+𝑝𝑎𝑔𝑖)

Interpretasi hasil APE:


- Aman : APE 80-100%
- Waspada : APE 50-80%
- Bahaya : APE <50%
Interpretasi hasil VAPE:
- Kontrol asma baik : VAPE <20%
- Kontrol asma tidak baik : VAPE 20-30%
- Asma tidak terkontrol : VAPE > 30%
PEMERIKSAAN IGE TOTAL

• Pemeriksaan kadar IgE total digunakan untuk


menunjang diagnosis penyakit alergi, penyakit
infeksi parasit, dan beberapa jenis penyakit
imunodefisinsi (seperti sindrom Wiskott-Aldrich,
sindrom hiperIgE)
ELISA

• Bertujuan untuk menguji antigen dengan antibodi yang telah


dikenal yg dilabel dgn enzim(Ab-E), atau sebaliknya yaitu
menguji antibodi yg telah dikenal
• Kompleks antigen-antibodi yang terbentuk dipisahkan dari
antigen dan antibodi yang bebas, kemudian diinkubasi
dengan substrat kromatogenik yg tidak berwarna
• Substrat ini kemudian menjadi berwarna karena dihidrolisis
oleh enzim
• Intensitas warna diukur dan menjadi parameter untuk antigen
yang diuji
ELISA
ELISA

• Terdapat 2 metode ELISA:


1. Metode kompetitif, yaitu antibodi spesifik dilekatkan pada
permukaan benda padat (partikel). Serum bersama dengan
Ag-E direaksikan dgn antibodi tersebut. Reaktan kemudian
dicuci dan ditambah substrat kemudian diinkubasi. Hidrolisis
substrat menyebabkan perubahan warna yang dapat dibaca
dengan spekrofometer
2. Metode indirek, yaitu antigen dilekatkan pada permukaan
benda padat (partikel). Spesimen yang mengandung antibodi
direaksikaan dengan antigen tersebut kemudian dicuci.
Antiimunoglobulin yang dilabel enzim ditambahkan, diinkubasi
dan kelebihannya dicuci. Kemudian ditambahkan substrat
kromogenik yg selanjutnya dihidrolisis oleh enzim. Banyaknya
substrat yg dihidrolisis sesuai dengan banyakya enzim yang
menunjukkan banyaknya antibodi dalam spesimen. Stop reaksi
dengan 100 uL 1N H2SO4
PEMERIKSAAN LAB ASMA
ANAK
PEMERIKSAAN FUNGSI PARU

• Terutama bermanfaat apabila ada manifestasi gejala asma


yang tidak khas
• Dapat mengevaluasi satu atau lebih aspek fungsi paru, yaitu
volume paru, fungsi jalan napas, dan pertukaran gas
• Pengukuran yang dilakukan pada anak >6 tahun adalah FEV1
dan VC (dengan spirometer) serta PEF/APE (dengan peak-
flow meter)
• Untuk menilai derajat asma dan respon terapi, PEF harus
diukur secara serial dalam 24 jam
• Metode terbaik utk mengukur nilai diurnal PEF yaitu minimal
selama 1 minggu dan hasilnya dinyatakan sebagai persen
nilai terbaik dari selisih nilai PEF pagi hari terendah dengan
nilai PEF malam hari tertinggi
PEMERIKSAAN FUNGSI PARU

• Pada pemeriksaan spirometri, adanya perbaikan FEV1


sebanyak minimal 12% setelah pemberian bronkodilator
inhalasi dengan/tanpa glukokortikoid mendukung diagnosis
asma
• Untuk mendukung diagnosis asma pada anak:
- Variabilitas PEF atau FEV1 ≥ 15%
- Kenaikan PEF atau FEV1 ≥ 15% setelah pemberian inhalasi
bronkodilator
- Penurunan PEF atau FEV1 ≥ 20% setelah provokasi bronkus
• Penilaian variabilitas sebaiknya dilakukan dgn mengukur
selama ≥ 2 minggu
• FEV1% : rasio FEV1 terhadap FVC
𝐹𝐸𝑉1
FEV1% = x 100%
𝐹𝑉𝐶
PEMERIKSAAN HIPERREAKTIVITAS
SALURAN NAPAS
• Dilakukan dengan uji provokasi bronkus menggunakan
histamin, metakolin, latihan/olahraga, udara kering dan
dingin
• Berguna utk menegakkan diagnosis asma pada pasien
dengan gejala asma tetapi fungsi parunya tampak normal
• Pengukuran ini sensitif terhadap asma, tetapi spesifitasnya
rendah
PENGUKURAN PETANDA INFLAMASI
SALURAN NAPAS NON-INVASIF
• Penilaian inflamasi saluran napas akibat asma bisa dilakukan
dgn memeriksa eosinofil sputum (spontan maupun diinduksi
garam hipertonik). Dapat juga dilakukan dengan mengukur
kadar NO ekshalasi
• Namun hasil ini tidak spesifik untuk asma
PROSEDUR PENGAMBILAN SPUTUM

• Berikan bronkodilator (misalnya salbutamol) untuk


menurunkan risiko wheezing
• Berikan nebulisasi larutan hipertonik (3% NaCl) selama 15
menit atau hingga 5 cm3
• Berikan fisioterapi jika diperlukan, untuk memobilisasikan sekret
• Untuk anak yg lebih besar yg sudah dapat mengeluarkan
sputum, ikuti prosedur di atas
• Untuk anak yg tidak dapat mengeluarkan sputum (misalnya
anak kecil), dapat dilakukan: penghisapan saluran hidung
untuk mengeluarkan sekret hidung, atau aspirasi nasofaring
untuk mengumpulkan spesimen yang diperlukan
PENILAIAN STATUS ALERGI

• Dilakukan dengan uji kulit atau pemeriksaan IgE spesifik dalam


serum, dapat membantu menentukan faktor risiko/pencetus
asma
• Tes alergi untuk kelompok usia <5 tahun digunakan untuk:
- Menentukan apakah anak atopi
- Mengarahkan manipulasi lingkungan
- Memprediksi anak dengan mengi
• IgE total yang tinggi pada usia <1tahun (tetapi tidak saat
lahir) merupakan faktor yang dapat memprediksi tingginya
IgE pada usia 6 & 10 tahun dan berhubungan dgn mengi
berkepanjangan
SKIN PRICK TEST

• Tes ini diindikasikan pada pasien yg diduga memiliki alergi &


sebaiknya dilakukan pada semua anak dengan asma berat
utk menyingkirkan faktor alergi yg mencetuskan asma
• Kelebihan tes ini dibandingkan tes kulit lain diantaranya
gliserin yang stabil jika dibandingkan dgn zat pembawa
berupa air, mudah dilakukan, bisa diulang bila perlu, risiko
terjadinya alergi sistemik sangat kecil, dan mampu dilakukan
<1 jam
INTERPRETASI

• Hasil positif jika terdapat wheal yg gatal dikelilingi eritema di


sekitarnya. Reaksi terlihat dalam 20 menit, max 30 menit
setelah dilakukan Prick Test. Hasil positif jika wheal sebesar 3
mm lebih besar dibanding dgn kontrol negatif
• Menilai ukuran wheal:
- 0 : reaksi (-)
- 1+ : diameter wheal 1 mm > dari kontrol (-)
- 2+ : diameter wheal 1-3 mm > dari kontrol (-)
- 3+ : diameter wheal 3-5 mm > dari kontrol (-)
- 4+ : diameter wheal 5 mm > dari kontrol (-) disertai
eritema
SKIN PRICK TEST