Anda di halaman 1dari 24

“Program Jaminan Kecelakaan Kerja

(JKK) BPJS Ketenagakerjaan”

dr Fani Syafani, MKK


Bidang Kebijakan Operasional Program
BPJS Ketenagakerjaan

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat


Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018
Arch Hotel, Bogor
PROGRAM DAN PELAYANAN MANFAAT KEPADA PEKERJA

BPJS KESEHATAN BPJS KETENAGAKERJAAN

Jaminan
Hari Tua
Jaminan Jaminan
Jaminan
Kesehatan Kecelakaan
Pensiun
Kerja
Jaminan
Kematian

PENERIMA BANTUAN IURAN


PEMBERI KERJA
Penduduk Miskin dan Tidak PNS/TNI/POLRI TENAGA KERJA
Mampu DAN PEKERJA
Pasal 5 ayat 4 Perpres 109 tahun Disampaikan pada Rapat Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan Kesehatan, Jaminan
2013 tentang Penahapan Kecelakaan Kerja , jaminan Kecelakaan Lalu Lintas, dan Jaminan Penyakit Akibat Kerja, tanggal
Kepesertaan Jaminan Sosial Akan 27 Februari 2018
Ruang Rapat Direktorat Harmonisasi Peraturan Penganggaran Lantai 19 Gedung Sutikno Slamet
dialihkan ke BPJS Ketenagakerjaan
selambatnya pada tahun 2029
2
Mengenal BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan
(Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan)

Dasar Hukum :  Undang-Undang SJSN No. 40/2004


 Undang-Undang BPJS No. 24/2011
 Peraturan Pemerintah No. 44 /2015
 Peraturan Pemerintah No. 45/2015
 Peraturan Pemerintah No. 46/2015
Status : Badan Hukum Publik
Jenis Organisasi : Institusi Jaminan Sosial
Sistem Koordinasi : Presiden Republik Indonesia
Pelaporan
Mandat : Memberikan perlindungan dasar
kepada seluruh pekerja :
 Jaminan Hari Tua (JHT)
 Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
 Jaminan Kematian (JKm)
 Jaminan Pensiun (JP)

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor 3
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
UU BPJS No. 24 Tahun 2011
SJSN
Jaminan Jaminan

2
Kematian (JK) Hari Tua (JHT)

Perlindungan kesehatan
Jaminan Jaminan
seluruh masyarakat Indonesia
Kecelakaan
Kerja (JKK)
Pensiun
(JP)
Badan
Penyelenggara
Jaminan
Sosial
Perlindungan seluruh pekerja di
Indonesia Indonesia
(UU 24/2011)

Kementerian Teknis

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
4
Program
BPJS Ketenagakerjaan

Peserta Penerima Upah/ Program Khusus Jasa


PU Konstruksi/ JAKON

Peserta Bukan Penerima Peserta Tenaga Kerja


Upah/ BPU Indonesia/ TKI

Termasuk Pekerja Asing Yang bekerja di Indonesia minimal 6 bulan (Undang-Undang


SJSN No. 40/2017)
Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
Filosofi Pemberian Manfaat

Tepat Orang Tepat Manfaat Tepat Waktu


- Saat terjadinya risiko pekerja masih - Manfaat dibayarkan sesuai peraturan
menjadi peserta - Manfaat diberikan sesuai dengan jenis risiko perundang-undangan
- Peserta terdaftar dan telah dibayarkan (kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, atau - Aturan 3 hari (JKM), 5 hari (JHT), 7
iuran pertama dibayar lunas sesuai kematian tidak terkait kerja) hari (JKK) dan 15 hari (JP) setelah
regulasi berkas klaim diterima lengkap

Mencegah Fraud dan mendukung implementasi Good Governance

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
6
Perubahan Paradigma Penyelenggaraan
Program Jaminan Kecelakaan Kerja
Peningkatan Manfaat Program JKK Untuk Kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

Sejak berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 pada tanggal 1 Juli 2015

promotion
Rehabilitation
+ Perawatan
dan Pengobatan
Rehabilitasi Orthose dan
Protose
+ Program
Kembali Kerja
Pengobatan, perawatan dan rehabilitasi medis diberikan sampai sembuh tanpa
batasan biaya sesuai kebutuhan medis di RS Pemerintah Kelas 1.
Pemberian Beasiswa bagi anak peserta yang mengalami cacat total atau meninggal dunia
akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
7
Definisi
Program Jaminan Kecelakaan Kerja

Jaminan Kecelakaan Kerja yang selanjutnya


disingkat JKK adalah manfaat berupa uang tunai
dan/atau pelayanan kesehatan yang diberikan
pada saat peserta mengalami kecelakaan kerja
atau penyakit yang disebabkan oleh lingkungan
kerja (Penyakit Akibat Kerja)

Legal Basis:
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 Tentang
Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
8
Kecelakaan Kerja (KK) adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi
dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan
kerja.

Di tempat kerja
Berangkat kerja
& pulang
(jalur yang
wajar dilalui)

Saat dinas

Penyakit Akibat Kerja (PAK) – Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi
yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
9
Tata Cara Pemberian Manfaat
Formulir pengajuan klaim KK-PAK tersedia di www.bpjsketenagakerjaan.go.id

1a 2a

PU : penerima Upah
BPU : Bukan
Penerima Upah
Disnaker
Jakon: Jasa
Setempat
Konstruksi
Pemberi kerja
Pemberi kerja
Kecelakaan Kerja

Peserta
2 x 24 jam 2 x 24 jam sembuh/cacat
/meninggal

Penyakit Akibat
Kerja Peserta informal/
Peserta informal/
Keluarga peserta
Keluarga peserta
Peserta PU/BPU/Jakon Tahap I: merupakan tahap
Tahap II: merupakan tahap
melaporkan adanya kasus
pengajuan agar diberikannya
kecelakaan dan penyakit yang
manfaat akibat adanya Kecelakaan
diduga Kecelakaan Kerja/Penyakit
Kerja/Penyakit Akibat Kerja
Pasal 43 ayat (2) dan 44 ayat (2) PP 44/2015 Akibat Kerja Pasal 43 ayat (4) dan 44 ayat (4) PP 44/2015

Fasilitas
1b
Pelayanan Manfaat santunan 2b Santuan
Sementara
Kesehatan Tidak
Terdekat Mampu
Bekerja
(STMB)
atau
Beasiswa Pendidikan Anak
Pemberian manfaat perawatan dan Bagi setiap peserta yang meninggal
pengobatan sampai sembuh sesuai Pasti KK/PAK dunia atau cacat total tetap akibat
kebutuhan medis di RS Pemerintah kecelakaan kerja sebesar
Kelas I atau RS Swasta yang setara Rp 12 juta, untuk 1 (satu) orang
anak

Selama kasus masih DUGAAN Kecelakaan Kerja dan/atau Penyakit Akibat Kerja DIJAMIN oleh BPJS Kesehatan – Sesuai perjanjian kerjasama tentang koordinasi pelayanan
kesehatan antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
10
Kadaluarsa Manfaat Kasus Penyakit Akibat Kerja

Sumber :
Pasal 48 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Program Jaminan
Kematian

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
11
PENYAKIT AKIBAT KERJA VS PENYAKIT TERKAIT KERJA
Tidak Dijamin BPJS Ketenagakerjaan Dijamin BPJS Ketenagakerjaan

Work-related Occupational
Diseases (WRD) Diseases (OD)
Terjadi juga pada populasi penduduk Terjadi hanya diantara populasi pekerja

Penyebab multi faktor Penyebab spesifik

Pemaparan di tempat kerja mungkin Adanya paparan di tempat kerja


merupakan salah satu faktor merupakan hal yang penting
Mungkin tercatat dan mungkin dapat Tercatat dan mendapatkan ganti rugi
ganti rugi

Sumber : International Labour Organization (ILO)

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
12
Koordinasi Lintas Institusi

Koordinasi Pelayanan Koordinasi Manfaat

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
13
Alur Koordinasi Lintas Institusi
Kasus

DUGAAN
Terkait kerja Tidak terkait kerja
Terkait kerja

Ada ruda Tak ada ruda Ada ruda


paksa paksa paksa Penyakit

Meninggal Meninggal
Penyakit Penyakit
Dunia Dunia

Meninggal Penyakit
Mendadak Akibat Kerja

Lalu Lintas Terbukti


Non
Tunggal Terkait
Kecelakaan Kerja kerja
Lalu Lintas
Tunggal
Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
14
Biaya
penegakan/investigasi
telah diusulkan sebagai
perluasan manfaat
Daftar Penyakit masih mengacu
Program JKK pada Kepres 22 tahun 1993
(tanggungan BPJS
Ketenagakerjaan ) pada
perubahan PP 44/2015

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
15
Persyaratan Dokumen Pengajuan
PENYAKIT AKIBAT KERJA
1. Mewakili Kondisi Kesehatan 2. Mewakili Kondisi Riwayat 3. Rekomendasi/Penguat
Pekerja Lingkungan Pekerja kesimpulan
• Data hasil pemeriksaan • Data hasil pengujian • Analisis hasil pemeriksaan
kesehatan awal (sebelum lingkungan kerja oleh lapangan oleh Pengawas
pekerjaan di lembaga pengujian Ketenagakerjaan, atau
perusahaan/pemberi kerja), lingkungan kerja baik milik
atau pemerintah maupun swasta, • Keterangan ahli dari dokter
atau yang memiliki kompetensi
• Data hasil pemeriksaan dan/atau sertifikasi terkait
kesehatan berkala • Riwayat pekerjaan pekerja, penyakit akibat kerja;
(pemeriksaan yang dilakukan atau dan/atau
secara periodik selama
pekerja bekerja di • Pertimbangan medis dokter
perusahaan/pemberi kerja, penasehat berdasarkan
atau permintaan pegawai
pengawas ketenagakerjaan.
• Riwayat kesehatan pekerja
(medical record), atau
Sejak tahun 2016:
• Data hasil pemeriksaan
khusus (pemeriksaan terakhir Minimal 1 (satu) dokumen dari setiap kategori kelompok ,
yang dilakukan pada saat artinya minimal ada 3 (tiga) dokumen pendukung.
pekerja sakit)
Untuk mempermudah proses pengajuan kasus penyakit akibat
kerja

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
16
Mekanisme Pertimbangan Medis
Penyakit Akibat Kerja
(jika meragukan)

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
17
Sebaran dan Jumlah Kasus PAK
(berdasarkan data pembayaran klaim BPJS Ketenagakerjaan tahun 2017)

3 1
2
2
1
1
1 1
3

15 19
1

21
21
2 11 2

Tahun 2013 2014 2015 2016 2017


Kasus 21 21 9 10 107

Jenis PAK terbanyak : ganguan otot dan sendi, ganguan kulit, penyakit paru dan saluran nafas, dan kelainan pendengaran

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
18
Hasil Studi BPJS Ketenagakerjaan

• Bersama Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter


Perusahaan Indonesia (IDKI)
– Workshop pembuatan Health Risk Asessment (HRA)
melibatkan Dokter Perusahaan Peserta BPJS
Ketenagakerjaan dari semua sektor, November 2017
– Hazard dominan : kebisingan, kimia, ergonomi
– Potensi tinggi PAK : Noise Induced Hearing Loss (NIHL),
Penyakit Kulit – Kanker Akibat Kimia, dan Hernia Nucleus
Pulposus/Carpal Tunnel Syndrome
Kegiatan workshop HRA diagendakan pelaksanaannya di tahun 2018 dengan melibatkan lebih
banyak perusahaan atau sektor industri untuk menangkap lebih banyak data (pemetaan)
terkait potensi PAK sehingga akan lebih memudahkan dalam proses klaim PAK yang diajukan
perusahaan dan/atau pekerja
Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor 19
Kesimpulan
• Pemberian manfaat Program Jaminan Kecelakaan Kerja
oleh BPJS Ketenagakerjaan hanya bagi tenaga kerja:
– Yang telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan
– Terbukti mengalami kecelakaan kerja dan/atau penyakit
akibat kerja
• Adanya pelaporan terlebih dahulu oleh pemberi kerja bagi
tenaga kerja Penerima Upah, dan pelaporan oleh tenaga
kerja/keluarga bagi tenaga kerja Bukan Penerima Upah
kepada BPJS Ketenagakerjaan dan secara paralel ke Dinas
Ketenagakerjaan setempat.
Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
20
Kesimpulan
• Proses investigasi kasus kecelakaan dan/atau
penyakit tenaga kerja yang diduga sebagai
kecelakaan kerja dan/atau penyakit akibat kerja
membutuhkan koordinasi dengan pihak terkait
termasuk Dinas Ketenagakerjaan setempat.
• Masih adanya regulasi yang membutuhkan
harmonisasi dan koordinasi lintas kementerian

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
21
Usulan dan Rekomendasi

1. Percepatan proses pentahapan kepesertaan untuk menyederhanakan


alur koordinasi lintas intitusi.
2. Adanya harmonisasi dan regulasi terkait jaminan sosial, termasuk adanya
satu pintu institusi yang mengatur jaminan sosial misalnya “Kementerian
Jaminan Sosial” seperti Jerman, Argentina, Swedia, USA, dsb
3. Adanya data risiko bahaya (hazard) penyebab munculnya penyakit akibat
kerja dari seluruh sektor industri dan/atau usaha, untuk
menyederhanakan proses investigasi tanpa menghilangkan prinsip
akuntabel dan reliable  meminimalisir fraud
4. Adanya dukungan regulasi proses reimbursement (penggantian) antar
institusi jaminan sosial (BPJS), untuk mempercepat proses kepastian
penjaminan kepada peserta.
5. Dukungan Sistem Informasi Terintegrasi untuk proses pelaporan, sampai
penagihan pembayaran  validitas data penting untuk proses
pembuatan kebijakan (evidence based policy)

Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
22
Disampaikan pada Pelatihan Diagnosis Penyakit Akibat Kerja, Diklat Kemenkes, tanggal 27 Februari 2018 ,Arch Hotel, Bogor
23
BPJS Ketenagakerjaan
Jembatan Menuju Kesejahteraan Pekerja

Terima kasih
Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan
Gedung Jamsostek
Jl. Jend. Gatot Subroto No. 79
Jakarta Selatan – 12930
T (021) 520 7797
F (021) 520 2310
www.bpjsketenagakerjaan.go.id

Jembatan Menuju Kesejahteraan Pekerja

24