Anda di halaman 1dari 81

A P R E SE N T A T I O N

REFERAT
HIV Pada Bayi dan Anak

Selasa, 25 September 2018


Preseptor : dr. Rusdi, Sp.A(K)

Kelompok III Dokter Muda IKA


Mentor : dr. Shinta Ayudhia

Bagian Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
2018
KELOMPOK III
Rahmi Fitri 1740312006
Rina Pratiwi Annur 1740312416
Riri Mulyanisa 1740312014
Mutiara Riska Utami 1740312046
Putri Syeli 1740312048
Firlando Riyanda 1740312251
Arjuna Fiqrillah 1740312254
Budi Junio Hermawan 1740312433
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
BAB I
PENDAHULUAN

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas


Latar Belakang
1.1

HIV / AIDS Rentangan MENULAR


gejalanya luas

1985 : find HIV Infeksi virus


Penyebab ↑Dewasa
defisiensi imun

1st 1982 di USA ↑Anak


UNAIDS :
Latar Belakang
1.1 Kasus baru 2016 = 160.000 anak
Anak HIV/AIDS di dunia = 3,1 juta
Pasangan Seksual
Anak HIV/AIDS di dunia = 3,1 juta
Mother-to-child 9% dari semua
MTCT / tahun = 500.000 anak
Penularan transmission kasus infeksi
(MTCT) baru di dunia

dll
Latar Belakang
1.1

15-30 %

5 – 15 %
Tujuan Penulisan
1.1

Menambah pengetahuan
dan memahami tentang
HIV/AIDS pada bayi dari
segi epidemiologi, etiologi,
patogenesis, diagnosis,
tatalaksana dan prognosis
Metode Penulisan
1.1

Metode penulisan makalah ini


berupa tinjauan kepustakaan
yang merujuk kepada berbagai
literatur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas


Definisi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah RNA


retrovirus yang menyebabkan Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS), di mana terjadi
kegagalan sistem imun progresif.

Penyebab terbanyak adalah HIV-1. Virus ini


ditransmisikan melalui hubungan seksual, darah, produk
yang terkontaminasi darah, dan transmisi dari ibu ke
bayi baik intrapartum, perinatal, atau ASI
Epidemiologi

Hal serupa digambarkan dari hasil survey pada tahun


2000 dikalangan ibu hamil di Provinsi Riau dan Papua
yang memperoleh angka kejadian infeksi HIV 0,35% dan
0,25%.

Sedangkan hasil tes suka rela pada ibu hamil di DKI


Jakarta ditemukan infeksi HIV sebesar 2,86%. Berbagai
data tersebut membuktikan bahwa epidemi AIDS telah
masuk kedalam keluarga yang selama ini dianggap tidak
mungkin tertular infeksi.
Etiologi

Berdasarkan laporan Centers for Disease Control and


Prevention (CDC) Amerika, prevalensi penularan HIV
dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru
terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan
bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%, sedangkan
jika sudah ada gejala pada ibu kemungkinan mencapai
50%.
Etiologi...

Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui


transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau
membran mukosa bayi dengan darah atau sekresi
maternal saat melahirkan. Semakin lama proses
kelahiran, semakin besar pula risiko penularan, sehingga
lama persalinan bisa dicegah dengan operasi sectio
caecaria. Transmisi lain juga terjadi selama periode
postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular melaui ASI
dari ibu yang positif sekitar10%.
Human immunodeficiency virus (HIV)
• Virus RNA dari famili retrovirus, subfamili lentiviradae
• 2 serotipe HIV : HIV-1 (seluruh dunia) dan HIV-2 (afrika)
• Virus HIV-1 : berbentuk bulat
• Terdiri atas : bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop)
Bagian Inti (Core)
- Berbentuk silindris
- Tersusun atas 2 untai RNA
- Enzim reverse transcriptase
- Beberapa jenis protein
...Bagian Inti (Core)
Genom RNA Enzim reverse transkriptase

- Terdiri dari gen-gen - Mengubah RNA virus menjadi


- Fgs : memberikan kode untuk DNA saat replikasi virus.
pembentukan protein inti, enzim
reverse transkriptase,
glukoprotein selubung.
- Mengatur sintesis, kemampuan
infeksi, replikasi dan fungsi lain
virus
Bagian Selubung (Envelop)
- lipid dan glikoprotein
(gp41 dan gp120)

Glikoprotein
- Berperan pada proses infeksi
- Memiliki afinitas tinggi
terhadap reseptor spesifik sel
host (gp120-CD4)
GENOM HIV
• mengkodekan komponen
struktural mayor, komponen
fungsional, protein selubung
dan enzim reverse
transkriptase.

• 3 kelompok mayor :
1. Gag
- Protein inti nukleokapsid p55
(protein prekursor)
- p40, p24 (capsid, core antigen)
- p17 (matriks), p7
(nukleokapsid)
...GENOM HIV
2. Pol
- Protein enzim p66
- P51 (reverse transkriptase)
- P11 (protease)
- P32 (integrase)

3. Env
- Glikoprotein selubung lluar (gp120)
- Glikoprotein transmembran (gp41)
- Berasal dari prekursor glukoprotein
(gp160)
Patogenesis HIV
Patogenesis HIV
• Agar (+) infeksi HIV  reseptor - 1 untai DNA  RNA-ase + DNA
spesifik pada sel host : CD4 (>> polimerase  2 untai DNA
sel limfosit T) - DNA pindah dari sitoplasma ke iinti
• Afinitas CD4 terhadap HIV sangat sel
besar (molekul gp120 / - DNA menyisip ke DNA host dgn
glikoprotein) enzim integrase (provirus)
- Provirus dalam keadaan laten,
Replikasi virus (jar limfoid) : repliksi sgt lambat + enzim
-penempelan virus polimerase sel host  mRNA
-diskontinuitas membran sel  - mRNA  memproduksi semua
komponen virus masuk protein virus
- RNA virus + enzim reverse - mRNA + protein virus  partikel
transkriptase  transkripsi menjadi virus  menempel di membran
1 untai DNA sel  proses budding  keluar
Siklus HIV
• Replikasi virus di jaringan limfoid  viremia -> infeksi jaringan
limfoid lain (multipel)  limfadenopati subklinis
• Sel limfosit B memberikan respon imun spesifik HIV  hiperplasia,
proliferasi folikular (>> sel dendrit folikular)  limfadenopati

• Akumulasi sel T-CD4 : dari jar limfoid (proliferasi insitu) + migrasi


limfosit dari luar, shg (+) penurunan sel T-CD4 sirkulasi tiba-tiba
(gejala khas syn infeksi HIV akut)
• Sel limfosit B  >> sitokin
HIV pada CD4
• Infeksi HIV pada sel limfosit T – CD4 :
- Infeksi virus (replikasi virus)
- Perubahan sel T-CD4 (disfungsi CD4)
- Sitolisis (jumlah CD4 berkurang)

• Mekanisme disfungsi dan penurunan jumlah CD4 :


1. Pengaruh sitopatik langsung HIV (single-cell killing)
- Akumulasi DNA virus
- Ggn sintesis protein sel host
- HIV menginduksi T-CD4 utk menghasilkan bahan
toksik
...HIV pada CD4
2. Pembentukan Sinsitium (fusi sel)
- gp120 virus di permukaan T-CD4  sel host menyatu dgn
sel T- CD4 lain yg sehat  membentuk sinsitium  terbentuk
sel datia  kematian sel.
3. Respon imun spesifik, sitotoksisitas seluler
akibat adanya antibodi, NK cell
- Molekul gp120  respon imun yg menyebabkan
sitotoksisitas, kematian sel host setelah berikatan dgn NK cell
- Awalnya, proses ini mengeliminasi HIV( proteksi)  pada
fase lanjut, eliminasi sel terinfeksi HIV menyebabkan ggn
imun berat
4. Apoptosis (kematian sel terprogram)
...HIV pada CD4
5. Mekanisme autoimun
- MHC sbg sel penyaji antigen (+) struktur homolog dgn gp120
dan gp41 (protein envelop HIV)  shg zat imun terhadap
gp120 dan gp41 dapat berikatan dgn MCH  shg
menghalangi fungsi MHC dan sel T-CD4.
6. Anergi (refrakter) krn pengiriman isyarat tidak sempurna
- Molekul CD4 yg telah berikatan dgn gp120, kompleks gp120-
anti gp120  menyebabkan refrakter (tidak dapat diaktifkan,
berfungsi lagi).
7. Ggn fungsi subkelompok sel T, akibat (+) superantigen
-Akibat reseptor antigen sel T-CD4 berikatan dgn MCH yg
telah mengiat antigen atau superantigen
Patofisiologi HIV
• Protein virus sangat imunogenik
(p24 / core antigen, gp41 envelop antigen)
namun respon antibodi bervariasi  bgtg pada
virus load dan imunokompetens host

• Perjalanan penyakit HIV dimulasi saat penularan dan


pasien terinfeksi.

• AIDS = stadium akhir infeksi HIV


...Patofisiologi HIV
1. Window periode
- Setelah infeksi awal HIV, pasien tetap seronegatif beberapa bulan
- Bersifat infeksius
- Klinis infeksi awal HIV dapat timbul 1-4 minggu setelah pajanan

2. Sindroma HIV akut


- Adanya serokonversi dari status antibodi negatif  positif
- Viral like-illness : malaise, demam, diare, limfadenopati dan ruam
makulopapular.
- Dapat terdeteksi HIV (viral load) dgn kadar tinggi di darah perifer.
- Kadar limfosit CD4 turun  kemudian kembali ke kadar sedikit
dibawah normal/semula
...Patofisiologi HIV
3. Fase asimptomatik
- Beberapa minggu setelah infeksi akut
- Awal fase, kadar limfosit CD4 sudah kembali mendekati normal
- Seiring waktu, CD4 menurun scr bertahap
- Virus dan antibodi virus ditemukan di darah
- Replikasi virus di jaringan limfoid

4. Fase simptomatik
- Hitung sel CD4 < 300 sel/ul
- Adanya gejala imunosupresi s/d gejala AIDS
- Klasifikasi CDC utk HIV simptomatik
Perjalanan Klinis HIV
Penularan HIV
 HIV dapat diisolasi dari :
darah, CSS, semen, air mata, sekresi vagina/serviks, urin, ASI
air liur

 Penularan paling efisien : darah, semen

 3 cara utama penularan :


1. Kontak dgn darah
2. Kontak seksual
3. Kontak ibu-bayi
...Penularan HIV

1. Kontak seksual
- Cara paling dominan, pasangan hetero/homoseksual
- Penetrasi vaginal, anal, oral. >> non proteksi

2. Kontak dgn darah, produk darah, organ/jaringan terinfeksi


- Darah donor yang tidak di uji skrining
- Jarum suntik, alat medis invasif lain
- Pengguna NAPZA suntik
- Transplantasi jaringan

3. Kontak ibu-anak
- >90% anak terinfeksi HIV didapat dari ibunya
- Penularan : selama hamil, persalinan, menyusui
- >50% anak terinfeksi meninggal usia <2 tahun
Faktor yang mempengaruhi
penularan HIV ibu ke anak
1. Faktor Ibu
3. Faktor Obstetri
- Jumlah virus (viral load)
- Jenis persalinan
- Jumlah sel CD4
- Lama persalinan
- Status gizi selama hamil
- Ketuban pecah dini
- Penyakit infeksi selama hamil
- Episiotomi, ekstraksi vakum,
- Gangguan payudara
forceps

2. Faktor Bayi / Anak


- Usia kehamilan, BB saat lahir
- Periode pemberian ASI
- Luka di mulut bayi
Waktu dan Resiko penularan HIV ibu ke
anak
• Saat hamil, sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu
dipisahkan oleh plasenta.

• Adanya peradangan, infeksi, kerusakan/ruptur plasenta,


menyebabkan HIV dapat menembus plasenta  penularan
HIV ibu ke anak
...Waktu dan Resiko penularan HIV ibu
ke anak
• Umumnya saat persalinan dan menyusui
• Resiko penularan HIV pada ibu tanpa ART 15-45%.
• Resiko penularan saat hamil 5-10%
• Resiko penularan saat bersalin 10-20%
• Resiko penularan saat menyusui 5-20%
• Resiko penularan keseluruhan 20-50%.
• Apabila ibu tidak menyusui bayinya, resiko penularan HIV
keseluruhan 20-30%,  akan berkurang jika ibu (+) ART
MANIFESTASI
KLINIS
MANIFESTASI
• manifes klinis HIV KLINIS
pada bayi dan
anak hampir tidak
terlihat
• beberapa gejala
klinis yang dapat
di jadikan dasar
untuk
pemeriksaan
labor HIV
Dasar pem. Labor HIV dengan gejala klinis :
• Demam • Otitis media kronik
berkepanjangan / • Gagal tumbuh
demam berulang • Limfadenopati
• Berat badan turun generalisata
yang secara progresif • Kelainan kulit
• Diare persisten • Pembengkakan
• Kandidosis oral / oral parotis
thrush
Infeksi Oppprtunistik untuk pem labor HIV

• Tuberkulosis
• Herpes zoster
generalisara
• Pneumonia
P.jiroveci
• Pneumonia berat
Klasifikasi infeksi HIV

Status infeksi Status klinis

Status imun
KLASFIKASI WHO BERDASARKAN PENYAKIT YANG SECARA
KLINIS BERHUBUNGAN DENGAN HIV

KLINIS STADIUM KLINIS WHO


Asimtomatik 1
Ringan 2
Sedang 3
Berat 4
Diagnosis
Clinical
Stage 1

Stadium
Clinical Klinis Clinical
Stage 4 Infeksi HIV Stage 2
(WHO)

Clinical
Stage 3
Diagnosis secara Klinis

• 2 Tanda Mayor
• 2 tanda Minor
• Pasien imunosupresi yang
tidak diketahui penyebabnya
Tanda
Tanda Minor:
Mayor:
Persistent limfadenopati
Penurunan berat badan atau generalisata.
pertumbuhan abnormal
lambat. Candida mulut atau kerongkongan.

Batuk yang berlangsung lebih dari


Diare yang berlangsung lebih satu bulan.
dari satu bulan.
Ruam gatal luas.
infeksi umum (otitis, sakit
Demam yang berlangsung tenggorokan dll) yang beulang
lebih dari satu bulan. Infeksi HIV yang terkonfirmasi
pada ibu.
Imunological Stage pada Bayi dan Anak HIV

Jumlah CD4 = CD4% X jumlah limfosit


mutlak
Imunological stage
< 12 months 1-5 years 6-12 years
Immune No/mm3 CD4% No/mm3 CD4% No/mm3 CD4 %
category CD4 CD4 CD4

Category 1: >1500 >25% >1000 >25 % > 500 >25%


No
suppression

Category 2 : 750- 1499 15-24% 500-999 15-24% 200-499 15-24%


Moderate (1000) (20%) (650) (20%) (275) (20%)
Supression

Category 3 : <750% <15% <500 <15% <200 <15%


Severe
Supression
Pemeriksaan Penunjang

• Uji serologis
– mengidentifikasi HIV antigen / antibodi yang dihasilkan
oleh respon imun terhadap infeksi HIV
– Metode ELISA
• Tes virologi
– mengkonfirmasi infeksi dan identifikasi bayi yang
membutuhkan terapi anti retroviral (ART)
– Teknik PCR
Kategori Tes yang Tujuan Aksi
Diperlukan
Bayi sehat, ibu Uji virologi umur 6 Mendiagnosis HIV Mulai ARV Bila
terinfeksi HIV minggu terinfeksi HIV
Bayi pajanan HIV Serologi ibu atau Untuk identifikasi Memerlukan tes
tidak diketahui bayi atau memastikan virologi bila
pajanan HIV terpajan HIV
Bayi sehat terpajan Serologi pada Untuk Hasil positif harus
HIV, umur 9 bulan imunisasi 9 bulan mengidentifikasi diikuti dengan uji
bayi yang masih virologi dan
memiliki antibodi pemantauan lanjut.
ibu atau seroreversi Hasil negatif, harus
dianggap tidak
terinfeksi, ulangi
test bila mash
mendapat ASI
Kategori Tes yang Tujuan Aksi
Diperlukan
Bayi atau anak dg Serologi Memastikan infeksi Lakukan uji virologi
gejala dan tanda bila umur , 18 bulan
sugestif infeksi HIV
Bayi umur >9 s/d < Uji virologi Mendiagnosis HIV Bila positif
18 bulan dengan uji terinfeksi segera
serologi positif masuk ke
tatalaksanan HIV
dan terapi ARV
Bayi yang sudah Ulangi uji (serologi Untuk mngeksklusi Anak <5 tahun
berhenti ASI atau virologi) infeksi HIV setelah terinfeksi HIV harus
setelah berhenti pajanan dihentikan segera mendapat
minum ASI 6 tatalaksana HIV
minggu termasuk ARV
Diagnosis HIV
pada bayi dan
anak < 18
bulan
PENATALAKSANA
HIV/AIDS
PADA BAYI dan AN
Semua anak yang terpapar HIV (anak yang lahir
dari ibu dengan infeksi HIV) sejak umur 4-6 minggu
(baik merupakan bagian maupun tidak dari
program pencegahan transmisi ibu ke anak =
prevention of mother-to-childtransmission
[PMTCT])

Setiap anak yang diidentifikasi terinfeksi HIV


dengan gejala klinis atau keluhan apapun yang
mengarah pada HIV, tanpa memandang umur atau
hitung CD4.

PROFILAKSIS KOTRIMOKSAZOL
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PROFILAKSIS KOTRIMOKSAZOL
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PROFILAKSIS KOTRIMOKSAZOL
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Dosis yang direkomendasikan 6–8 mg/kgBB
Trimetoprim sekali dalam sehari. Jika anak alergi
terhadap Kotrimoksazol, alternatif terbaik adalah
memberi Dapson

PROFILAKSIS KOTRIMOKSAZOL
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
ANTIRETROVITAL TERAPI
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
INDIKASI ARV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PILIHAN ARV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PILIHAN ARV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Tuberculosis
Apabila diagnosis TB ditegakkan, terapi TB harus
dimulai lebih dahulu dan ARV diberikan 2-8 minggu
setelah timbul toleransi terapi TB dan untuk
menurunkan risiko IRIS. Pilihan ARV yang
diberikan adalah AZT atau d4T + 3TC + ABC

Tatalaksana kondisi yang terkait dengan


HIV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Meningitis Kriptokokus
Diduga kriptokokus sebagai penyebab jika
terdapat gejala meningitis, seringkali subakut
dengan sakit kepala kronik atau perubahan status
mental. Diagnosis pasti melalui pewarnaan tinta
India pada Cairan Serebro Spinal (CSS). Obati
dengan amfoterisin 0.5–1.5 mg/kgBB/hari selama
14 hari, kemudian dengan flukonazol selama 8
minggu.

Tatalaksana kondisi yang terkait dengan


HIV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Lebih dari 90% bayi PENCEGAHAN
terinfeksi HIV tertular dari
PENULARAN IBU K
ibu HIV positif. Penularan
ANAK
tersebut dapat terjadi pada
masa kehamilan, saat
persalinan dan selama
menyusui. Pencegahan
penularan HIV dari ibu ke
anak (PPIA) atau Prevention
of Mother-to-Child HIV
Transmission (PMTCT)
dapat menurunkan angka
transmisi sampai kurang
dari 2%
Semua ibu hamil di daerah epidemi meluas dan
terkonsentrasi dalam pelayanan antenatal wajib
mendapatkan tes HIV yang inklusif dalam
pemeriksaan laboratorium rutin, bersama tes
lainnya, sejak kunjungan pertama sampai
menjelang persalinan

Untuk daerah epidemi rendah, tes HIV


diprioritaskan untuk ibu hamil dengan IMS dan
tuberkulosis (TB)

Peraturan Menteri Kesehatan No 51/2013


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Peraturan mengenai pengobatan ARV pada ibu
hamil menetapkan bahwa semua ibu hamil dengan
HIV diberi pengobatan ARV segera tanpa
memperhitungkan jumlah CD4 dan umur
kehamilan, serta pengobatan ARV diberikan
seumur hidup.

Persalinan pada ibu dengan HIV dapat dilakukan


secara pervaginam dan pemberian ASI eksklusif
dengan mengikuti syarat-syarat tertentu.

Peraturan Menteri Kesehatan No 51/2013


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PENGOBATAN ARV


PEDOMAN PENGGUNAAN ARV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PEDOMAN PENGGUNAAN ARV
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
PERABDOMINA
PERVAGINAM
L

PERSALINAN AMAN
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
ASI SUSU
EKSKLUSIF FORMULA

PEMBERIAN MAKANAN
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Prognosis

• Ketika anak-anak dengan HIV mendapatkan pengobatan segera maka


anak dapat hidup normal dan lebih baik seperti anak-anak sehat
lainnya.
• Keterlambatan penegakkan diagnosis HIV dan memperoleh
pengobatan akan mempercepat progresi penyakit dan meningkatkan
risiko kematian.
Kesimpulan

• Human Immunodeficiency Virus (HIV) / Acquired Immunodeficeincy


Syndrome (AIDS) merupakan infeksi oleh virus penyebab defisiensi
imun.
• Lebih dari 90% infeksi HIV pada bayi dan anak ditransmisikan oleh ibu
selama kehamilan, kelahiran, atau ASI.
• Perjalanan penyakit HIV dimulai saat terjadi penularan dan pasien
terinfeksi.
• Ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu
ke anak, yaitu faktor ibu, faktor bayi/anak, dan tindakan obstetrik.
• Manifestasi klinis infeksi HIV bervariasi secara luas di antara bayi dan
anak-anak.
• Stadium yang didasarkan pada kondisi klinis terdiri dari 4 stadium.
• Diagnosis secara klinis didapatkan jika ditemukan dua tanda mayor
dan dua tanda minor yang didapatkan pada pasien dengan
imunosupresi yang tidak diketahui penyebabnya.
• Prosedur tes diagnostik diperlukan untuk mengkonfirmasi adanya
infeksi HIV pada usia berapa pun.
• Pencegahan dengan Kotrimoksazol terbukti sangat efektif pada bayi
dan anak dengan infeksi HIV untuk menurunkan kematian yang
disebabkan oleh pneumonia berat.
• Obat ARV berperan untuk menurunkan kesakitan dan kematian.
• Upaya Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) dapat
dilakukan baik pada fase kehamilan, persalinan, maupun pasca
persalinan.
• Pada saat kehamilan, pencegahan dengan penggunaan obat
antiretroviral untuk ibu.
• Pemilihan persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah
mendapatkan konseling lengkap tentang pilihan persalinan, risiko
penularan, dan berdasarkan penilaian dari tenaga kesehatan.
• Pada fase pasca persalinan, pemilihan makanan bayi harus didahului
dengan konseling tentang risiko penularan HIV melalui ASI.
• Ketepatan dalam mendiagnosis dini serta menatalaksana
memperlambat progresi penyakit.
END OF PRESENTATION
TERIMA KASIH 