Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

Bell's Palsy

Dibuat oleh:
dr.Welvira Handayani

Pembimbing:
dr. Meigy

RSAU dr. Esnawan Antariksa


Identitas Pasien

Nama : Ny. S
Umur : 59 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Cawang
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal Masuk : 4 Oktober 2018
Tanggal Keluar : 4 Oktober 2018
Anamnesis

Keluhan utama : Mulut mencong ke kanan sejak 1 hari yang


lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien mengeluhkan mulut mencong ke kanan sejak 1 hari yang lalu. Keluhan dirasakan
terutama saat pasien berkumur-kumur di pagi hari dan merasakan air keluar dari mulutnya. Di
pagi hari saat bangun pagi , mulut penderita mencong ke kanan, mata kiri tidak menutup
sempurna sehingga terasa perih dan berair, pipi terasa kencang. Sisi wajah sebelah kiri terasa
tebal, kaku, dan bergerak sendiri. Makan baik, bila minum air sering keluar dari sisi mulut
sebelah kiri. Tidak ada keluhan nyeri di sekitar telinga kiri. Riwayat keluar cairan dari telinga
kiri tidak ada, tidak ada gangguan pendengaran. Keluhan pusing berputar, gangguan
pendengaran, rasa makanan berkurang, demam, batuk, pilek tidak ada. Pasien memiliki
riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu :
•Riwayat keluhan yang sama sebelumnya tidak ada.
•Riwayat diabetes, hipertensi, dan trauma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Hanya penderita yang sakit seperti ini.

Riwayat Alergi : disangkal

Riwayat Sosial :
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Kebiasaan pasien setiap hari
adalah pergi ke pasar jam 5 pagi dan jarang menggunakan helm.
Pasien sering tidur di lantai dan menggunakan kipas angin.
Pemeriksaan Fisik

Status Generalis

Mata : ca -/-, ikterik -/-


a. Keadaan umum : tampak sakit ringan THT : dalam batas normal, tidak terdapat
pembengkakan atau massa pada kelenjer parotis
b. Tanda vital Thorax : Cor : S1S2 normal, murmur (-)
· Tekanan darah : 130/90 mmHg Pulmo : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
· Nadi : 98 x/menit Abdomen : distensi (-),bising usus normal, hepar
· Pernafasan : 22 x/menit dan lien tidak teraba
· Suhu : 36.9oC Ekstremitas : dalam batas normal.

c. Kepala
· Bentuk : normocephal
· Simetris : simetris
· Nyeri tekan : tidak ada
- Ekspresi wajah : kesan wajah lumpuh sebelah kiri
Pemeriksaan Fisik

Status Neurologis
GCS : E4M6V5 (15)
Gerakan Abnormal : -
Leher : sikap baik, gerak
baik ke segala arah
Tanda Rangsang Meningeal : -

Nervus Kranialis
N. I (olfaktorius) : normal
N. II (optikus) : visus normal, ukuran isokor
N. III, IV,VI (okulomotorik,trochlearis, abdusens) : tidak dilakukan
N. V (Trigeminus) : tidak dilakukan
N.VIII ( Vestibulokoklearis ) : tidak dilakukan
Pemeriksaan Fisik

Nervus Kranialis

N.VII (Fasialis)
Pasif
- Kerutan kulit dahi : asimetris, kiri kerutan dahi terlihat
datar
- Kedipan mata : asimetris, kiri tidak dapat menutup
sempurna Aktif
- Lipatan nasolabial : asimetris, kiri lebih datar · Mengerutkan dahi : (+) (-)
- Sudut mulut : asimetris, kiri lebih rendah · Mengangkat alis : (+) (-)
· Menutup mata : (+) (-)
· Meringis : (+) (-)
· Menggembungkan pipi : (+) (-)
· Gerakan bersiul : (+) (-) sulit dilakukan
· Daya pengecapan lidah 2/3 depan : tidak ditemukan kelainan
· Hiperlakrimasi : tidak ditemukan
· Lidah kering : tidak ditemukan
Pemeriksaan Fisik

Nervus Kranialis

N.IX,X (Vagus) N. XI (Assesorius) N.XII ( Hipoglosus )


- Perasaan lidah (1/3 - Mengangkat bahu
belakang) : - (m.trapezius) : baik - Pergerakan
- Refleks menelan: baik - Menoleh lidah : baik
(m.sternokleidomastode - Disatria : baik
us) : baik
Motorik
a.Gerakan
: gerakan abnormal (-)
b.Kekuatan : 5555 5555
5555 5555
c.Tonus otot : Normotonus Normotonus
Normotonus Normotonus
d.Trofi : Eutrofi Eutrofi
Eutrofi Eutrofi
Refleks fisiologis: Refleks Patologis:
a.Ekstremitas atas a.Hoffman Trommer : -/-
Refleks biseps b.Babinski : -/-
: ++/++ c.Chaddock : -/-
Refleks triseps : d.Oppenheim : -/-
++/++
e.Gordon : -/-
b.Ekstremitas bawah
f.Schaefer : -/-
Refleks patella :
g.Gorda : -/-
++/++
Refleks archilles : ++/++
Sensorik
◂ Rangsangan raba : normoestesia/normoastesia
◂ Rangsangan nyeri : normoalgesia/normoalgesia
◂ Rangsangan suhu : tidak dilakukan
◂ Propioseptif : normal
◂ Diskriminasi dua titik : tidak dilakukan
Diagnosis
Diagnosa klinis : Bell’s Palsy Sinistra

Diagnosa topis : Paralisis N.VII perifer sinistra

Diagnosa etiologi : Idiopatik

Fungsional : Penurunan kemampuan


fungsional dalam melakukan aktivitas sehari-hari
(makan/mengunyah, minum/berkumur, tersenyum)

Terapi
Medikamentosa : Non medikamentosa :
• Methylprednisolone 3x4 mg - Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang
• Mecobalamin 3x 1 tab penyakit dan pengobatan yang diberikan.
• Neurodex 1x1 tab - Kompres air hangat pada bagian yang sakit +/- 20
menit
Prognosis - Massage wajah kearah atas.
- Dianjurkan untuk menjalani fisioterapi.
Ad vitam : dubia ad bonam - Mata ditutup saat tidur
Ad fungsional : dubia ad bonam
PENDAHULUAN
Bell’s palsy (BP) :
•paresis nervus fasialis perifer
•bersifat akut
•penyebabnya tidak diketahui pasti (idiopatik)

• Insiden BP dilaporkan sekitar 40-70% dari


semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut

• Terdapat 10–30 pasien per 100.000 populasi


per tahun dan meningkat sesuai pertambahan
umur
Quality Standards Subcommittee of the American
Academy of Neurology (AAN) :
steroid merupakan obat yang efektif dan antiviral
(asiklovir) merupakan obat yang mungkin efektif dalam
meningkatkan probabilitas pemulihan fungsi nervus fasialis
TINJAUAN PUSTAKA
Bell’s palsy adalah kelumpuhan nervus fasialis perifer (N.VII),
terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik) atau tidak menyertai penyakit lain yang dapat
mengakibatkan lesi nervus fasialis

• Insiden BP dilaporkan sekitar 40-70% dari semua


kelumpuhan saraf fasialis perifer akut

• Prevalensi rata-rata berkisar antara 10–30 pasien per


100.000 populasi per tahun dan meningkat sesuai
pertambahan umur

• terbanyak pada usia 21–30 tahun.

• Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria

• adanya riwayat terpapar udara dingin seperti naik


kendaraan dengan kaca terbuka, tidur di lantai atau
bergadang sebelum menderita bell’s palsy
Patofisiologi Bell’s Palsy

◂ Patofisiologi pasti dari Bell’s palsy belum jelas.


◂ Nervus fasialis yang melewati tulang temporal merupakan kanalis fasialis.
Berdasarkan teori, proses edema dan iskemi dihasilkan dari kompresi oleh
nervus fasialis yang berada di tulang kanalis. Bagian pertama dari kanalis
fasialis, segmen labirin, merupakan bagian yang paling sempit, foramen
meatal hanya berdiameter 0,66 mm. Ini merupakan tempat tersering dari
terjadinya kompresi nervus fasialis pada Bell’s palsy.
◂ Bell’s palsy didefinisikan sebagai idiopatik. Namun ada beberapa teori yang
mengatakan penyebab dari Bell’s palsy adalah infeksi virus, iskemik dan
herediter.
Etiologi Bell’s palsy

Bell’s palsy dapat disebabkan oleh inflamasi pada nervus fasialis di ganglion
genikulatum. Reaksi inflamasi ini menyebabkan terjadinya kompresi dan
kemungkinan bisa menyebabkan iskemik dan demielinisasi. Secara umum, Bell’s palsy
didefinisikan sebagai idiopatik. Namun ada beberapa teori yang mengatakan
penyebab dari Bell’s palsy adalah infeksi virus, iskemik dan herediter.
Gambaran Klinis

Manifestasi motorik :
· Bell’s palsy biasanya mengalami kelemahan pada satu wajah.
Kelemahan bersifat luas, mulai dari tidak bisa menutup sebelah mata.
· Alis turun
· Ektropion pada kelopak bawah
· Synkinesis

Manifestasi sensorik:
· Gangguan mengecap
· Nyeri dibelakang telinga

Manifestasi parasimpatik:
· Penurunan produksi air mata
· Hipersalivasi
Diagnosis

PEMERIKSAAN
ANAMNESIS
FISIK

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
NEUROLOGI PENUNJANG
Istirahat
terutama pada
keadaan akut
Kortikosteroid :
• steroid sangat efektif dan harus digunakan
untuk meningkatkan kemungkinan pemulihan
kembali fungsi nervus fasialis.
• Dosis : 60 mg/hari selama 5 hari lalu
dilakukan penurunan dosis dalam waktu 5
hari berikutnya yaitu diturunkan 10 mg/hari
Terapi Medikamentosa
Antiviral :
•Dosis Acyclovir diberikan 400 mg 5 kali sehari
selama 10 hari atau Valaciclovir 500 mg 2 kali
sehari selama 5 hari
•Bell’s palsy awitan awal  antiviral yang
Fisioterapi dikombinasikan dengan steroid tidak
meningkatkan probabilitas pemulihan kembali
nervus fasilalis >7%
Prognosis

Prognosis Bell’s palsy baik yaitu sekitar 80-


90% penderita sembuh dalam waktu 6
minggu sampai tiga bulan tiga bulan tanpa
ada kecacatan

Penderita yang berumur 60 tahun atau


lebih, mempunyai peluang 40% sembuh
total dan beresiko tinggi meninggalkan
gejala sisa
Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan,
maka penderita cenderung meninggalkan
gejala sisa
Hanya 23 % kasus Bells palsy yang
mengenai kedua sisi wajah

Bell’s palsy kambuh pada 10-15 % penderita

Sekitar 30 % penderita yang kambuh


ipsilateral menderita tumor N. VII atau
tumor kelenjar parotis
Terima Kasih