Anda di halaman 1dari 19

PERTUMBUHAN EKONOMI

AKUMULASI MODAL : GOLDEN


RULES ( KAIDAH EMAS )

NAMA KELOMPOK 3 :
 CICI SRI MULYANI 175020101111013
 PUTRI PRAMUDYA W 175020101111018
 VITARIANI IING 175020107111003
 RAYHANA SALSABELLA P 175020107111022
Menurut N. Gregory Mankiw : Tingkat
Modal Kaidah Emas adalah nilai kondisi
mapan k yang memaksimalkan konsumsi.
Konsumsi kondisi mapan adalah perbedaan
antara output dan depresiasi. Ketika
membandingkan kondisi mapan, kita harus
ingat bahwa tingkat modal yang lebih tinggi
mempengaruhi output dan depresiasi. Jika
tingkat modal berada dibawah tingkat
kaidah emas, maka kenaikan persediaan
modal akan meningkatkan output lebih
banyak ketimbang depresiasi sehingga
konsumsi meningkat.

2
Untuk menemukan konsumsi tiap pekerja pada kondisi-mapan, kita mulai
dengan identitas pos pendapatan nasional :
y=c+i

dan disusun ulang :


c = y - i.
Persamaan ini menyatakan konsumsi adalah output dikurangi investasi.
Karena kita ingin menemukan konsumsi kondisi-mapan, kita substitusi
nilai kondisi-mapan untuk output dan investasi. Output tiap pekerja pada
kondisi-mapan adalah f (k*) di mana k* adalah persediaan modal tiap
pekerja pada kondisi-mapan. Lalu, karena persediaan modal tidak berubah
pada kondisi-mapan, investasi sama dengan depresiasi dk*. Mensubstitusi
f (k*) untuk y dan dk* untuk i, konsumsi tiap pekerja pada kondisi mapan:
c* = f (k*) - dk*.
c*= f (k*) - dk*.
dk dk
Menurut persamaan ini, konsumsi pada kondisi-
mapan adalah sisa dari output kondisi-mapan
dikurangi depresiasi kondisi-mapan. Ini lebih jauh Output, f(k)
menunjukkan bahwa kenaikan modal kondisi-mapan
memiliki dua efek berlawanan pada konsumsi
kondisi-mapan. Di satu sisi, lebih banyak modal
c *emas
berarti lebih banyak output. Di sisi lain, lebih
banyak modal juga berarti lebih banyak output yang
harus digunakan untuk mengganti modal yang habis
dipakai.
k*emas k
Output perekonomian digunakan untuk konsumsi atau investasi. Di kondisi-mapan, investasi sama dengan
depresiasi. Jadi, kon- sumsi adalah selisih antara output f (k*) dan depresiasi dk*. Konsumsi kondisi-mapan di-
maksimalkan pada kondisi mapan Kaidah Emas. Persediaan modal Kaidah Emas dino- tasikan k*emas, dan
konsumsi Kaidah Emas
adalah c*emas. 4
Kita buat kondisi sederhana yang mencirikan tingkat modal
kaidah emas
ingat kemiringan fungsi produksi adalah produk marjinal modal
MPK. Kemiringan garis dk* adalah d. Karena dua kemiringan ini
sama pada k*emas, kaidah emas dapat dijelaskan dengan
persamaan :
MPK = d.

Pada tingkat modal kaidah emas, produk marjinal modal sama


dengan tingkat depresiasi.

Ingat perekonomian tidak otomatis bergravitasi menuju kondisi


mapan kaidah emas. Jika kita ingin persediaan modal kondisi
mapan tertentu, seperti kaidah emas, kita butuh tingkat tabungan
tertentu untuk mendu- kungnya.

5
Ketika menginginkan
persedian modal pada
kondisi tertentu, dibutuhkan
tingkat tabungan tertentu
untuk mendukungnya

6
KONDISI MAPAN KAIDAH
EMAS : SEBUAH CONTOH
NUMERIK
Fungsi produksi adalah sama seperti
yang dicontohkan sebelumnya
y= 𝑘
Dimana output pekerja adalah akar dari
modal per pekerja. Depresiasi adalah
10 persen dari modal. Pembuat
kebijakan tersebut memilih tingkat
tabungan, sehingga kondisi ini
merupakan kondisi mapan
perekonomian.

7
persamaan berikut berada pada kondisi mapan:

Dalam perekonomian, persamaannya menjadi :

Penguadratan kedua sisi persamaan ini


menghasilkan solusi bagi persediaan modal kondisi
mapan.

8
MEMBANDINGKAN KONDISI
MAPAN

Produk
• Tingkat tabungan menentukan marjinal
Tingkat pertumbuhan
tingkat modal dan output kondisi- output total
modal
(n + g)
mapan. Suatu tingkat tabungan neto dari
tertentu menghasilkan kondisi depresiasi
mapan Kaidah Emas, yang (MPK – d)
memaksimumkan konsumsi per
Ingat bahwa pada kondisi mapan Kaidah Emas,
pekerja. Mari kita gunakan Kaidah
(MPK – d) = (n + g)
Emas untuk menganalisis tingkat
tabungan AS.

9
Jika perekonomian beroperasi
dengan modal lebih banyak daripada
kondisi mapan Kaidah Emas,
maka (MPK – d < n + g)

Jumlah modal pada kondisi mapan Kaidah Emas

Jika perekonomian beroperasi


dengan modal lebih sedikit daripada
kondisi mapan Kaidah Emas,
maka (MPK – d > n + g)

10
Produk marjinal modal Tingkat pertumbuhan
neto setelah depresiasi output total
(MPK – d) (n + g)

• Untuk membuat perbandingan ini di perekonomian AS, kita perlu


• menaksir tingkat pertumbuhan output (n + g) dan produk marjinal
• modal neto (MPK – d). GDP AS tumbuh sekitar 3 persen per tahun,
• jadi, n + g = 0.03. Kita dapat menaksir produk marjinal modal neto
• dari fakta-fakta berikut :

11
1) Persediaan modal sekitar 2,5 kali GDP satu tahun, atau k = 2.5y
2) Depresiasi modal sekitar 10 persen GDP, atau dk = 0.1y
3) Pendapatan modal sekitar 30 persen GDP, atau MPK  k = 0.3y

Kita menyelesaikan tingkat depresiasi d dengan


membagi persamaan 2 dengan persamaan 1:
dk/k = (0.1y)/(2.5y)
d = 0.04
Dan kita menyelesaikan produk marjinal modal (MPK)
dengan membagi persamaan 3 dengan persamaan 1:
(MPK  k)/k = (0.3y)/(2.5y)
MPK = 0.12
Jadi, sekitar 4 persen persediaan modal terdepresiasi tiap tahun, dan
produk marjinal modal sekitar 12 persen per tahun. Produk marjinal
modal neto, MPK – d, sekitar 8 persen per tahun.

12
Kita sekarang dapat melihat bahwa pengembalian modal
(MPK – d = 8 persen per tahun) jauh di atas tingkat pertumbuhan
perekonomian (n + g = 3 persen per tahun).

Ini mengindikasikan bahwa persediaan modal pada perekonomian AS


jauh di bawah tingkat Kaidah Emas. Dengan kata lain, jika AS menabung dan
menginvestasikan bagian yang lebih banyak dari
pendapatannya, ia akan tumbuh lebih cepat dan akhirnya mencapai
kondisi mapan dengan
konsumsi lebih tinggi.

13
TRANSISI MENUJU KONDISI MAPAN KAIDAH EMAS

Sejauh ini, kita mengasumsikan bahwa pembuat kebijkan dapat


dengan mudah memilih kodnsisi mapan perekonomian dan
langsung melompat ke sana. Dalam kasus ini, pembuat kebijakan
akan memilih kondisi mapan dengan konsumsi tinggi kondisi
mapan kaidah emas. Namun, anggaplah bahwa perekonomian
telah mencapai kondisi mapan lain.

14
MEMULAI DENGAN TERLALU BANYAK MODAL
Perekonomian dimulai pada kondisi mapan dengan lebih banyak modal ketimbang yang harus
dimilikinya dalam kondisi mapan kaidah emas. Dalam kasusu ini, pembuat kebijakan harus
mengeluarkan kebijakan yang bertujuan mengurangi tingkat tabungan untuk menurunkan
persediaan modal. Penurunan tingkat tabungan ini akan meningkatkan konsumsi dan
menurunkan investasi. Karena investasi dan depresiasi adalah sama dalam kondisi mapan awal,
maka investasi menjadi lebih kecil dari pada depresiasi, yang berarti perekonomian tidak lagi
berada dalam kondisi mapan. Secara berangsur-angsur, persediaan modal turun, yang
menyebabkan penurunan output, konsumsi, dan investasi. Variabel-variabel ini terus turun
sampai perekonomian mencapai kondisi mapan yang baru. Ketika kita mengasumsikan bahwa
sampai perekonomian mencapai kondisi mapan yang baru. Karena kita mengasumsikan bahwa
kondisi mapan yang baru adalah kondisi mapan kaidah emas, maka konsumsi harus lebih tinggi
dari pada sebelum terjadi perubahan tingkat tabungan, meskipun output dan investasi lebih
rendah.

15
MEMULAI DENGAN TERLALU SEDIKIT MODAL

Ketika perekonomian dimulai dengan modal yang lebih kecil dari pada dalam kondisi
mapan kaidah emas, pembuat kebijakan harus menikkan tingkat tabungan untuk
mencapai kaidah emas. Ketika modal terakumulasi, output, konsumsi, dan investasi
secara bertahap naik, dan akhirnya mendekati tingkat kondisi mapan yang baru. Karena
kondisi mapan semula berada dibawah kaidah emas, maka kenaikan tabungan akhirnya
menyebabkan tingkat konsumsi yang lebih tinggi ketimbang yang telah dicapai
sebelumnya. Untuk mencapai kondsisi mapan yang baru itu membutuhkan periode awal
dimana konsumsi harus dikurangi. Kebalikan dari kasus ketika perekonomian dimulai di
atas kaidah emas. Ketika perekonomian dimulai di atas kaidah emas, mencapai kaidah
emas menghasilkan konsumsi yang lebih tinggi pada seluruh titik waktu. Ketika
perekonomian dimulai di bawah kaidah emas, mencapai kaidah emas perlu menurunkan
konsumsi lebih dahulu untuk meningkatkan konsumsi di masa depan.

16
Ketika memutuskan apakah akan berupaya mencapai kondisi mapan kaidah emas, para
pembuat kebijakan harus memperhitungkan bahwa konsumen sekarang dan
konsumen masa depan tidak selalu orang yang sama. Mencapai kaidah emas berarti
mencapai tingkat konsumsi pada kondisi mapan tertinggi dan sekaligus
menghitungkan generasi mendatang. Tetapi apabila perekonomian pada awalnya
berada di bawah kaidah emas, mencapai kaidah emas perlu meningkatkan investasi
dan dengan demikian mengurangi konsumsi dari generasi sekarang. Pembuat
kebijakan yang lebih peduli pada generasi sekarang ketimbang generasi mendatang
mungkin tidak akan memutuskan untuk mencapai kondisi mapan kaidah emas.
Sebaliknya, pembuat kebijakan yang peduli terhadap seluruh generasi akan memilih
mencapai kaidah emas. Meskipun generasi sekarang akan mengkonsumsi lebih sedikit,
namun jumlah generasi mendatang yang tidak terbatas akan mendapatkan manfaat
dengan bergerak menuju kaidah emas. Jadi, akumulasi modal yang optimal sangat
bergantung pada bagaimana kita memperhatikan kepentingan generasi sekarang dan
generasi mendatang.

17
DAFTAR PUSTAKA

.
Mankiew , N. Gregory. 2006. Teori
makroekonomi. Harvard university :
Erlangga

18
THANK YOU