Anda di halaman 1dari 21

Presentasi Journal Reading

“Prevalensi Hipertensi Pulmonal pada COPD”

Pembimbing:
dr. Samuel M. Baso, Sp.PD. FINASIM

Muhamad Agung Supriyanto


20180811018112
JOURNAL READING
Abstrak
Latar Belakang: penyakit paru obstruktif kronik merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada orang
dewasa di seluruh dunia. Hipertensi pulmonal (PH) adalah gangguan parah yang didefinisikan sebagai suatu
keadaan dimana tekanan arteri pulmonalis rata-rata ≥25 mmHg saat istirahat. hipertensi pulmonal dapat terjadi
sebagai suatu penyakit yang terisolasi atau sebagai konsekuensi dari sejumlah penyakit yang mendasari ,seperti
gagal jantung dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Tujuan dari studi kami adalah untuk mempelajari
prevalensi hipertensi paru pada pasien PPOK dan untuk menyoroti pentingnya diagnosis dini hipertensi pulmonal
untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Metode: Ini adalah studi observasional berdasarkan rumah sakit retrospektif yang dilakukan di Integral Institute of
Medical Sciences dan Research of Lucknow UP, selama 1 st Januari sampai 31 st Desember 2017. Sebanyak 210
pasien dievaluasi terkait adanya hipertensi pulmonal menggunakan sinar-X dada, elektrokardiogram,
echocardiography 2D.

Hasil: Studi terbaru mengungkapkan bahwa 38,02% pasien dari berbagai tingkat keparahan PPOK memiliki temuan
hipertensi pulmonal, yang mirip dengan hasil prevalensi penelitian sebelumnya.

Kesimpulan: Prevalensi PH pada pasien dengan PPOK adalah 38,02%. Dimana PH memiliki peranan penting terkait
prognosis pasien PPOK, oleh sebab itu PH ini perlu dievaluasi sesegera mungkin pada pasien-pasien dengan
COPD.

Kata kunci: echocardiography 2D, PPOK, hipertensi pulmonal


Pendahuluan
Penyakit paru obstruktif kronik Estimasi Epidemiologi WHO
merupakan penyebab utama pada tahun 2020:
morbiditas dan mortalitas pada orang
dewasa di seluruh dunia. • COPD menjadi penyebab utama
kematian ketiga didunia .
Hipertensi pulmonal (PH)
adalah gangguan yang didefinisikan •COPD menjadi penyebab utama
sebagai suatu keadaan dimana kecacatan kelima didunia.
tekanan arteri pulmonalis rata-rata
≥25 mmHg saat istirahat.
Pendahuluan
Metode diagnostik terpilih untuk PH adalah kateterisasi
jantung kanan (invasif), maka dipakailah Transthoracic Doppler
Echocardiography dengan sensitivitas yang baik (83%), spesifisitas
yang wajar (72%) dan korelasi 0,7 dengan pengukuran invasif.
Dalam echocardiograms, tekanan sistolik arteri pulmonalis adalah
parameter yang paling sering digunakan.
PH sendiri merupakan komplikasi serius dari COPD dengan
prognosis yang buruk.
Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari


prevalensi hipertensi pulmonal pada pasien PPOK dan
untuk menyoroti pentingnya diagnosis dini hipertensi
pulmonal untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
METODE

Observational retrospektif RS 210 pts


(Integral Institute of Medical
Sciences dan Research Lucknow
UP (1 januari-31 Desember 2017)

Evaluasi PH: Xray dada, 192 pts


(in) 18 pts (ex)
elektrokardiogram,
echocardiography 2D.
5 pts (cardiac
disease)
Total sampel: 210 pts
13 pts (2Decho:
poor window)
Inclusion & Exclusion Criteria
• COPD klinis (emfisema & • Pasien dengan bronchial asma,
tuberkulosis paru (sekarang atau
kronik bronkitis) masa lalu), penyakit paru-paru
konfirmasi spirometri interstitial, penyakit katup, gagal
FEV1 / FVC <0,7. ventrikel kiri akut dan edema paru
sekunder penyebab lain
hipertensi, penyakit jantung
iskemik, kardiomiopati), hipertensi
paru primer, bronkiektasis

in ex
Tes Fungsi Pulmoner
HELIOS 401
Spirometer • FEV1 60- 80% dari prediksi
mild

COPD didiagnosis dan


diklasifikasikan sesuai • FEV1 40-59% diprediksi
dengan pedoman BTS (BTS
moderat
pasca bronkodilator FEV1
/ FVC <70% dan FEV1
<80% prediksi)
• (FEV1 <40% prediksi
severe
Echocardiography
Semua pts: transthoracis
echocardiography
Scanning 2D: parasternal
long, short axis, apical,
subcostal

LV Dimensi: panduan M-mode

TRV measured: CWD

Echo: sistem ultrasonografi yang tersedia secara komersial


(Vivid saya, GE Healthcare, Sedikit Chalfont, UK), dengan
transduser 2,5 MHz.
Tekanan Sistolic Pulmoner

ePASP = 4 * TRV2 + RAP ePH jika mereka memiliki


ePASP >40mmHg. Jika data pada
RAP hilang, gradien tekanan
trikuspid> 36mmHg (TRV> 3,0 m/s)
kriteria yang digunakan sebagai
• d IVC ≤21 mm dan “sniff test” gantinya. Partisipan dengan TRV
> 50% = RAP 3 mmHg. terlalu kecil untuk diukur atau tidak
•d IVC IVC >21 mm dan “sniff dapat dimasukkan dalam
test” < 50% = RAP 15 mmHg. prevalensi analisis sebagai non-
kasus, mereka dianggap memiliki
tekanan paru normal.
Investigasi lainnya

• Hb, TC, DC, ESR


• Darah urea, kreatinin serum
• FBS / PPBS / RBS
• Pewarnaan gram sputum dan AFB
• Total absolute eosinofil
• Urine Albumin / Gula / Mikroskop
Analisis Statistik

Data dianalisis dengan menggunakan software


SPASS. Mean ± SD dihitung, dan t-test berpasangan
diterapkan. P-nilai d”0,05 dianggap sebagai signifikan
secara statistik, nilai d” 0,01 sebagai sangat signifikan
dan nilai d”0,001 sebagai paling signifikan
Hasil
Klasifikasi COPD berdasar jenis COPD terkait kategori jenis
kelamin dan usia penderita kelamin

•53 subyek: 44 (L) dan 9 (P) • 167 pts


•Usia 40-86 tahun
Mild Laki-laki (86,97%)
•62 subyek: 51 (L) dan 11 (P)
•Usia 48-86 tahun
Mod • 25 pts
•77 subyek: 73 (L) dan 4 (P)
•Usia 43-79 tahun
Perempuan (13,02%)
Severe
Hasil

Mild COPD pts: Mod COPD pts: Mild COPD pts: Mod COPD pts:
19 (35,84 %) 26 (41,93%) 20 (37,73 %) 27 (43,54%)

Severe COPD pts: Severe COPD pts:


74 (38,53%) 31 (40,25%)

Temuan RA dilatation on 2D echo Temuan RV dilatation on 2D echo


Hasil

Mild COPD pts: 21 Mod COPD pts: 25


(39,62 %) (40,32%)

73 pts (38,02 %) Severe COPD pts:


positif PH dari total 27 (35,06%)
192 sampel pasien
COPD

Temuan PH on 2D echo
Diskusi
Keterbatasan Studi

Keterbatasan penelitian ini adalah ukuran


sampel yang kecil, studi hanya dilakukan di
rumah sakit, dan kateterisasi jantung kanan
dan pengukuran tekanan arteri pulmonalis
yang merupakan standar emas untuk menilai
hipertensi pulmonal tidak dilakukan karena
keterbatasan rumah sakit.
KESIMPULAN

Prevalensi PH pada pasien dengan COPD


adalah 38,02%. Tidak ada korelasi yang
signifikan antara adanya PH dan stage GOLD,
keparahan obstruksi bronkus dan kehadiran
polisitemia. PH penting dalam prognosis
pasien PPOK, oleh karena itu harus dievaluasi
pada banyak pasien COPD.
REFERENSI

Vivek Katiyar, rajesh Kumar Khare. Prevalence of


Pulmonary Hypertension in COPD.
International Journal of Advances in Medicine.
2018; 5 (2):356-360.
TERIMA KASIH