Anda di halaman 1dari 17

Sejarah Fisika

Koreksi Alhazan Partikel vs


Teori Cahaya Gelombang
Kelompok 7 :
Lisa Puspitasari (4201414073)
Nur Azizatur R (4201415021)
Banyak yang sependapat jika
fisikawan terbesar sepanjang
sejarah adalah Isaac Newton.

…Namun sebenarnya….

Fisikawan Islam lahir terlebih


dahulu
Koreksi Alhazen
• Peletak dasar ilmu fisika
optik sarjana Islam
Ibnu-al-Haitham atau
yang dikenal dibarat
dengan sebutan
Alhazen
• lahir di Basrah, Irak pada
Siapa dia
965 M
??
Apa yang
dikoreksi
Alhazen ?
Alhazen mengoraksi konsep Ptomeus dan
Euclides tentang penglihatan. Menurut kedua
ilmuwan Yunani itu dijelaskan bahwa mata
mengirimkan berkas-berkas cahaya visual ke
objek penglihatan sehingga sebuah benda
dapat terlihat. Sebaliknya, menurut Ibnu
Haitham, retinalah pusat penglihatan dan
benda bisa terlihat karena memantulkan
cahaya pada retina dibawa ke otak melalui
saraf-saraf optik.
cahaya, mengeluarkan sinar cahaya ke
segala arah, namun hanya satu sinar dari
setiap titik yang masuk ke mata secara
tegak lurus yang dapat dilihat. Cahaya lain
yang mengenai mata tidak secara tegak
lurus tidak dapat dilihat. Dia menggunakan
kamera lubang jarum sebagai contoh, yang
menampilkan sebuah citra terbalik. Teori-

nya dikenal dengan TEORI SINAR

CAHAYA
•Alhazen menganggap bahwa sinar cahaya
adalah kumpulan partikel kecil yang
Teori Cahaya
Mari kita bahas mengenai
sejarah perkembangan teori
cahaya
A. Pendapat para pemikir
kuno
Cahaya bergerak dengan kecepatan yang terbatas.
Hal ini merupakan pendapat yang disampaikan oleh
pemikir dan politikus Empedocles. Kemudian, ada
Aristoteles yang menemukan bahwa pelangi merupakan
hasil pemantulan cahaya oleh titik air hujan. Selanjutnya,
ada Euclid yang mengatakan tentang hukum dari
pemantulan dan beberapa sifat cermin.
B. Teori Tactile
Teori ini menyatakan teori cahaya berdasarkan teori
menyentuh. Jadi, ketika tangan mampu menyentuh suatu
benda, maka mata bisa merasakan atau melihat suatu
benda. Lalu, ada juga teori yang menyebutkan bahwa mata
mengirimkan sinyal-sinyal tak tampak untuk merasakan
sebuah benda.
C. Teori Emisi
Teori emisi bertentangan dengan teori tactile. Teori
ini mengatakan bahwa benda mengirimkan partikel-partikel
ke mata, sehingga mata akhirnya bisa melihat benda
sekitarnya. Akhirnya, teori ini mampu mengalahkan teori
sebelumnya (teori tactile) sampai abad ke 8.
D. Teori Partikel atau Korpuskular

Teori ini dipeloposri oleh Isaac Newton. Newton melakukan penelitian


pada abad ke 17. Newton mengatakan bahwa cahaya terdiri atas
beberapa partikel. Partikel-partikel tersebut dipancarkan ke segala arah.
Kemudian, dia juga menjelaskan tentang fakta bahwa cahaya bisa
dipantulkan. Selain itu, cahaya juga memiliki kelajuan sangat cepat
ketika memasuki medium yang lebih pekat/ padat karena tarikan
gravitasinya lebih besar. akan tetapi, teori cahaya newton digugurkan
oleh teori gelombang Huygen.
E. Teori Gelombang

Teori gelombang merupakan teori yang dipelopori oleh Christian


Huygens (abad 17). Kemudian, teori ini dikembangkan oleh Thomas
Young and Augustin Fresnel. Teori gelombang menyatakan bahwa
cahaya hanya bisa dipancarkan dalam bentuk gelombang. Gelombang
tersebut dipancarkan ke segala arah. Gravitasi tidak mempengaruhi
gelombang cahaya sehingga cahaya bergerak makin lambat jika
memasuki medium yang lebih padat. Gelombang cahaya berinteferensi
seperti gelombang suara. Kemudian, teori gelombang juga mengatakan
bahwa cahaya bisa dipolarisasikan. Teroi ini mengatakan juga bahwa
cahaya membutuhkan media untuk merambat. Teori gelombang
bertentangan dengan teori partikel.
F. Teori Elektomagnetik
James Clerk Maxwell adalah tokoh teori elektromagnetik. Teori ini
menyatakan bahwa gelombang cahaya adalah gelombang
elektromagnetik yang tidak membutuhkan media untuk merambat.
Kelajuan cahaya bisa diprediksi dengan menggunakan beberapa
konstanta listrik dan magnet.

G. Teori Kuantum
Tiga teori digabungkan. Pelopor teori ini yaitu Max Planck dan
Einsten. “Gelombang cahaya tersusun atas paket-paket energy yang
disebut foton pada tahun 1990” (Max Planck). Pada tahun 1905,
Einsten mampu menjelaskan mengenai efek foto listrik dengan teori
kuantum.
Partikel vs Gelombang
Pada abad ke-17, Sir Isaac Newton mempublikasikan
karyanya yang berjudul Optics, memunculkan teori partikel cahaya.
Teori ini menganggap cahaya sebagai berkas partikel yang sangat
ringan yang terpancar dengan kelajuan yang sangat tinggi sehingga
bias sampai pada jarak yang sangat jauh dalam sekjap mata saja.
Dan jika ia menumbuk mata kita maka akan terjadi proses melihat.

Sebagai alternative lain dari teori partikel,


seorang ilmuwan Belanda Christian Huygens
mengusulkan teori gelombang cahaya, bahwa
menurutnya cahaya adalah gelombang yang
menjalar dengan kecepatan tertentu.
Pada abad ke 18 sejumlah ahli beralih ke teori eter.
Terdapat 2 golongan teori yang melibatkan eter kosmik.
1.Eter mengalir keluar dari sumber
2.Eter bergeming tapi bergetar
Beberapa tokoh yang menganut teori eter seperti, Leonhard Euler
yang beragumen bahwa benda bercahaya terdiri atas partikel kecil
yang bergetar bagaikan dawai biola yang terentang. Sebagaimana
dawai biola itu merangsang getaran (longitudinal) yang merambat
didalam udara, demikian juga benda bercahaya merangsang
getaran longitudinal dalam eter.
Eksperimen dan Penunjang
Teori Gelombang Huygens
• Thomas Young (1801).
Percobaan celah ganda dengan menggunakan tangki riak
dan penjelasan yang sederhana, (tidak menggunakan
prinsip Hyugens tapi hanya memakai pengertian selisih
panjang lintasan 2 cahaya) menunjukkan difraksi &
interferensi.

Augustin Jean Fresnel (1821).


Fresnel mengangkat kembali prinsip Huygens dan menyatakan
Gejala bias rangkap pada kristal kalsit adalah gejala polarisasi.
Polarisasi hanya terjadi pada gelombang transversal, sehingga
pendapat ini dianggap menentang teori eter.
Eksperimen dan Penunjang Teori
Partikel dari Newton
• Louis de Broglie (1924)
ketika masih sebagai mahasiswa pasca sarjana University of
Paris, dimana tesis doktoralnya mengemukakan usulan
bahwa benda yang bergerak memiliki sifat gelombang yang
melengkapi sifat partikelnya. 2 tahun kemudian Erwin
Schrodinger menggunakan konsep gelombang de Broglie
untuk mengembangkan teori umum yang dipakai olehnya
bersama dengan ilmuwan lain untuk menjelaskan berbagai
gejala atomik. Keberadaan gelombang de Broglie dibuktikan
dalam eksperimen difraksi berkas elektron pada 1927.

Pada1927, Davisson dan Germer mengkonfirmasi sifat gelombang


dari partikel dengan diffraksi elektron dari kristal tunggal nikel.
Hasil ekspeimen Davisson dan Germer
1.Perilaku gelombang dari elektron yang mengalami diffraksi Bragg
2.Elektron Thermionik yang dihasilkan oleh hot filamen dipercepat
dan difokuskan ke target pada kondisi vacuum.