Anda di halaman 1dari 24

KEMUHAMMADIYAHAN

RATNA SARI (170141047)


SELLA (170141066)
SITI MAISYAROH (170141061)
Pengertian muhammadiyah secara
etimologi dan terminologi
Muhammadiyah ( etimologis )

Muhammadiyah berasal dari kata bahasa Arab “ Muhammad ” yaitu nama


Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Kemudian mendapatkan “ ya ‘ nisbiyah ”
yang artinya menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti umat “ Muhammad s.a.w
” atau “ pengikut Muhammad s.a.w ” , yaitu semua orang Islam yang mengakui
dan menyakini bahwa nabi Muhammad s.a.w. Adalah hamba dan pesuruh Allah
yang terakhir.

Dengan demikian, siapa pun juga yang mengaku beragama Islam maka
sesungguhnya merek adalah orang Muhammadiyah tanpa harus dilihat dan
dibatasi oleh adanya perbedaan organisasi, golongan, bangsa, goegrafi, etnis, dan
sebagainya. Hal ini berarti bahwa sesungguhnya orang – orang yang berada di
Jami’iyah Nahdatul Ulama, Persis, pui, al – Irsyad, al – Khairat, Jamiatul
Washliyah, bahkan semua muslim disluruh dunia secara arti bahasa juga oran –
orang Muhammadiyah, karena mereka itu telah berikrar dengan mengucapkan
dua kalimat syahadat dan dengan setia mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw.
Muhammadiyah ( terminologi ).

Muhammadiyah ialah gerakan Islam, Dakwah AMAR Makruf


Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al – qur’an
dan Sunnah, didirikan oleh oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal
8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 8 November
1912 Miladiyah di Kota Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama

Muhammadiyah oleh pendirinya dengan maksud untuk bertafa’ul (


pengharapan baik ) dapat mencontoh dan meneladani jejak
perjuangannya dalam rangka menenggakkan dan menjunjung
tinggi agama Islam semata – mata demi terwujudnya ‘ Izzul Islam
wal Muslimin, kejayaan Islam sebagai realita dan kemuliaan hidup
umat Islam sebagai realita.
Maksud dan tujuan muhammadiyah

1. Menegakkan, berarti membuat dan mengupayakan


agar tetap tegak dan tidak condong apabila roboh,
yang semu itu dapat berealisasikan manakala
sesuatu yang ditegakkan tersebut diletakkan di atas
fontasi, landasan, atau asas yang kokoh dan solid,
dipegang erat – erat, dipertahankan, dibela serta
diperjuangkan dengan penuh konsekuen.
2. Menjunjung tinggi, berarti membawa aatau
menjunjung di atas segala – galanya,
mengindahkan serta menghormatinya.
3. Agama islam, yaitu agama Allah yang diwahyukan kepada para
Rasulnya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa sampai kepada Nabi
penutup Muhammad s.a.w. Sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat
manusia sepanjang zaman, serta menjamin kesejahteraan hakiki duniawi
maupun ukhrawi. rumusan maksud persyarikatan yaitu’ menegakkan dan
menjunjung tinggi agama Islam’ seperti ini searti dan sejiwa dengan
ungkapan untuk menegakkan kalimat Allah atau agama Allah atau Agama
Islam.

4. Terwujud, berarti menjadi satu kenyataan akan adanya atau akan


wujudnya.

5. Masyarakat utama, yaitu masyarakat yang senantiasa mengejar


keutamaan dan kemaslahatan untuk kepentingan hidup umat manusia,
masyarakat yang selalu bersikap takzim terhadap Allah, Tuhan Yang Maha
Kuasa, mengindahkan dengan penuh keikhlasan terhadap ajaran – ajaran-
Nya, serta menaruh hormat terhadap sesama manusia selaku makhluk Allah
yang memiliki martabat ahsanu taqwin.
Adil dan makmur, yaitu suatu kondisi masyarakat yang
didalamnya terpenuhi dua kebutuan hidup yang pokok yaitu,
 Adil, suatu kondisi masyarakat yang positif dari aspek batiniah,
dimana keadaan ini bilamana dapat diwujudkan secara konkrit, riel
atau nyata maka akan terciptalah masyarakat yang damai, aman dan
tentram, sepi dari perasaan terancam dan ketakutan.

 Makmur, yaitu kondisi masyarakat yang positif dari aspek lahiriyah,


yang sering digambarkan secara sedehana dengan rumusan
terpenuhinya kebutuhan sandang, panan dan kesehatan.

 Yang diridhai Allah Subhanahu Wataa’ala, atntinya dalam rangka


mengupayakakan terciptanyanya keadilan dan kemakmuran
masyarakat maka jalan dan cara yang ditempuh haruslah selalu
bermotifkan semata – mata mencari keridhaan Allah belaka.
LATAR BELAKANG BERDIRINYA
MUHAMMADIYAH
FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI
1. FAKTOR SUBYEKTIF
Faktor subyektif yang sangat kuat, bahkan dapat dikatakan
sebagai faktor utama dan faktor penentu yang mendorong
berdirinya muhammadiyah adalah hasil pendalaman K.H.
Ahmad Dahlan terhadap Al-Qur’an baik dalam hal gemar
membaca maupun menelaah, membahas maupun mengkaji
kandungan isinya. K.H Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk
membangun sebuah perkumpulan, organisasi atau
persyarikatan yang teratus dan rapi yang tugasnya
berkhidmat melaksanakan misi dakwah islam amar makruf
nahi munkar di tengah-tengah masyarakat luas.
2. FAKTOR OBYEKTIF
Ada beberapa sifat yang bersifat obyektif yang melatar
belakangi berdirinya Muhammadiyah, yang sebagian
dapat dikelompokkan dalam faktor internal, yaitu faktor-
faktor penyebab yang muncul ditengah-tengah
kehidupan masyarakat islam Indonesia, dan sebagiannya
dapat dimasukkan ke dalam faktor eksternal, yaitu
faktor-faktor penyebab yang ada di luar tubuh
masyarakat Islam Indonesia.
FAKTOR OBYEKTIF YANG BERSIFAT INTERNAL

a. Ketidak murnian amala Islam akibat tidak


dijadikannya Al-Qur’an dan as-sunnah sebagai
satu-satunya rujukan oleh sebagian besar umat
Islam Indonesia.
b.Lembaga pendidikan yang dimiliki umaat Islam
belum mampu menyiapkan generasi yang siap
mengemban misi selaku “khalifahh Allah di atas
bumi”
FAKTOR OBYEKTIF YANG
BERSIFAT EKSTERNAL
a. Semakin meningkatnya gerakan kristenisasi
di tengah-tengah masyarakat indonesia.
b. Penetrasi Bangsa-Bangsa Eropa, terutama
Bangsa Belanda ke Indonesia.
c. Pengaruh daari gerakan pembaharuan
dalam dunia Islam.
Dari sekian faktor yang melatar
belakangi berdirinya
Muhammadiyah Prof. Mukti Ali
dalam bukunya “interpretasi
amalan Muhammadiyah”
menyimpulkan adanya empat faktor
1. yang cukup
Ketidakbersihan menonjol,
dan campur yaitu:
aduknya kehidupan
agama islam di Indonesia.
2. Ketidak effisienannya lembaga-lembaga pendidikan
agama Islam.
3. Aktifitas misi-misi Katholik dan Protestan
4. Sikap acuh tak acuh, malah kadang-kadang sikap
merendahkan dari golongan intelegensia terhadap
Islam.
D. PROSES BERDIRINYA
MUHAMMADIAH
• Kelahiran Muhammadiah
Faktor utama mengapa KHA Dahlan tergerak
hatinya untuk mendirikan gerakan
Muhammadiah adalah kondisi kehidupan
bangsa, yang mana pada masa itu masyarakat
dan bangsa Indonesia terperangkap dalam
kemiskinan politik, sosial, ekonomi, dan rohani
pada saat dijajah VOC/Belanda.
• Diantara para siswa Kweekschool Jehid yang
tiap ahad pagi mengadakan dialog agama
diruang tamu rumah KH. Ahmad Dahlan itu
ada yang memperhatikan susunan bangku,
meja dan papan tulis. Lalu ditanyakan untuk
apa, dijawab untuk sekolah anak-anak
kauman dengan pelajaran agama islam dan
pengetahuan sekolah biasa.
• Setelah teratur benar pelaksanaannya,
lengkap peralatannya, dan kerapian
administrasinya, dan dimintakan kepada
pemerintah Hindi Belanda. Budi Utomo
sanggup membantu pengurusnya.
• Agar ditegaskan apa nama, fungsi, dan
tujuan organisasinya calon pengurus harus
sudah dewasa, dan supaya Budi Utomo
dapat mengurusnya hingga berdiri.
Permintaan itu didukung sedikitnya tujuh
orang anggota biasa Budi Utomo kepada
pengurus Budi Utomo. Karena itu haus ada
tujuh orang anggota Budi Utomo.
• Setelah dimusyawarahkan dengan para santri
KH. Ahmad Dahlan yang telah dewasa.
Akhirnya diproses pengajuan menjadi anggota
Budi Utomo bagi H.Syarkawi, H. Abdulgani,
H. Suja, H. Fakhruddin, dan H. Tamim. Yang
ketujuh adalah K.H Ahmad Dahlan telah
menjadi anggota.
• dipilihlah nama organisasi “Muhammadiah”
yang diharapkan para anggotanya dapat
hidup beragama dan bermasyarakat sesuai
dengan pribadi Nabi Muhammad SAW.
(Sudjak: 17-18).
• Untuk menyusun anggaran dasar
Muhammadiah banyak mendapat bantuan
dari R.Sosrosugondo, guru bahasa melayu
Kweekshool Jetis yang sejak tahun 90 telah
berhubungan dengan KHA. Dahlan yang
dibuat dalam bahasa Belanda dan Melayu.
• Kesepakatan pendirian Muhammadiah itu
sendiri pada 18 November 1912 (Beslit
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 22
Agustus 1914. Statuten Muhammadiah) atau
tanggal 8 Dzulhijjah 1330. (Soeara
Moehammadijah no.6 Juli 1947;57) proses
permintaan pengakuan kepala pemerintah
sebagai badan hukum diusahakan oleh Budi
Utomo cabang Yogyakarta.
• 20 Desember 1992 diajukan surat permohonan
kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda,
agar perserikatan ini diberi izin resmidan
diakui sebagai suatu badan hukum.
• Gubernur Jenderal lalu mengirim surat
permintaan kepada Direktur Van Justitie,
Adviseur Voor Inlandsche Zaken, Residen
Yokyakarta dan Sri Sultan Hamengkubuwono
VI.
• Karena surat permohonan berdirinya
Muhammadiah itu mengenai urusan Islam,
maka pepatih dalem Sri Sultan memberikan
kepada Hoofdn Penghulu, H. Muhammad
Khalil Kamaludiningrat. Setelah dibahas
dalam sidang Raad Agama Hukum Dalem
Sri Sultan, diharapkan para peserta sidang
memberikan pendapatnya.
• Sesudah itu ternyata beberapa anggota Raad
agama yang namanya tercantum dalam
susunan pengurus Muhammadiah menyatakan
keluar dari Muhammadiah dan dari pengurus
Muhammadiah kepada Rijk sbestuurder.
• Resident Yogyakarta Liefrinct, pada tanggal
21 April 1913 menyurati Gubernur Jendral,
bahwa ia menyetujui Muhammadiah itu,
dengan catatan supaya kata-kata “Jawa dan
Madura” diganti dengan “Residentie
Yogyakarta”, daerah kelahirannya.
• Permintaan Gubernur Jenderal memenuhi
saran dan pertimbangan tadi, lalu
meminta kepada Hoofdbestuur
Muhammadiyah supaya kata-kata “Jawa
dan Madura” diganti dengan “Residentie
Yogyakarta” dalam Statuen artikel 2, 4,
dan 7.
• Demikianlah, setelah berproses dengan surat
meyurat selama 20 bulan, akhirnya pemerintah
Hindia Belanda mengakui Muhammadiah
sebagai badan hukum, tertuang dalam
Gouvernement Besluit tanggal 22 Agustus
1914, No. 81, beserta lampiran statutennya.
Tujuannya telah tegas, cara-cara mencapainya
telah terarah,yang akana menghasilkan
berbagai amal usaha.
DAFTAR PUSTAKA

Pasha, Musthafa Kamal dan Darban, Ahmad Adaby. 2009 .


Muhammadiyah sebagai gerakan islam. Jakarta : Penerbit
Surya Mediatama.