Anda di halaman 1dari 15

UJI DISOLUSI PARTIKULAT

Kelompok IV :
Dwi Desti Kristia Wati A 173 006
Dwinto Saktian Putra A 173 015
Noer Eka Lestari A 173 033
Pradika Handiwianta A 173 036
Reka Melda Tamara A 173 037
Yosy Murniaty E Pasaribu A 173 026
Mira Enmiliana A 131 073

http://www.free-powerpoint-templates-design.com
Untuk mempelajari pengaruh keadaan
bahan baku obat yaitu teofilin anhidrat
TUJUAN
dengan teofilin monohidrat terhadap
kecepatan disolusi partikulat sebagai
preformulasi untuk bentuk sediaannya
Berdasarkan perbedaan struktur teofilin
PRINSIP anhidrat dan teofilin monohidrat pada
media disolusinya
 Disolusi partikulat
disolusi didefinisikan sebagai proses melarutnya

TEORI zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat


kedalam suatu media tertentu, uji disolusi bergun
a untuk mengetahui sebarapa banyak obat melar
ut dalam media asam atau basa (lambung atau
usus) (Ansel,1898). Disolusi partikulat di gunakan
untuk mempelajari pengaruh ukuran partikel terh
adap kecepatan disolusi.
Monografi Zat Aktif Theophyllinum (Teofilina)
Pemerian Serbuk hablur, putih; tidak berbau; pahit ; mantap di udara (Dep
kes RI, Edisi III, 1979, hal 598).
Kelarutan Larut dalam lebih kurang 180 bagian air ; lebih mudah larut dala
m air panas ; larut dalam lebih kurang 120 bagian etanol (95%)
P, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida dan dalam amomi
a encer P. (Depkes RI, Edisi III, 1979, hal 598).

BM 198.18 (Depkes RI, Edisi III, 1979, hal 597).


Titik leleh Lebih kurang 272℃ (Depkes RI, Edisi III, 1979, hal 598).

Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, Edisi III, 1979, hal 598).

Khasiat Spasmolitikum bronkial (Depkes RI, Edisi III, 1979, hal 598).
ALAT DAN BAHAN

 Timbangan Analitik
 Tabung Disolusi
 Stopwatch
 Spektrofotometer UV
ALAT
 Alat-alat gelas

 Teofilin Monohidrat
 Dapar fosfat 6,5
BAHAN
Prosedur

01 Pembuatan Dapar

02 Uji Disolusi

Proses
Pembuatan Dapar
50 ml kalium fosfat m
ono basa 0,2 M 0
1 0
Campurkan dengan
22,4 ml NaOH 0,2 N
0
encerkan dengan
air hingga 200 ml. 2
3 0 pH di cek hingga mem
peroleh dapar fosfat
4 pH 6,8
Uji Disolusi
ambil cuplikan pada interval
waktu yang telah di tentukan
sebanyak 5ml pada daerah
pertengahan

Siapkan alat dan bahan 0


panaskan dapar di water b
0 4
tentukan kadar tablet den
gan spektrofotometer
ath alat disolusi hingga me
ncapai 37oC 1 0 hitung jumlam zat aktif yang

± 0,5 masukkan teofilin anhid


0 5 terdisolusi pada setiap renta
ng waktu tersebut
rat kedalam tabung disolusi
yang berisi media disolusi. 2 0
0 6
3
Tabel Hasil Pengamatan Absorbansi
Teofilin Anhidrat Dapar Fosfat pH 6,8
waktu cuplikan absorbansi awal absorbansi pengencer
an 100x
5 3,533 0,327
10 3,550 0,440
20 3,542 0,479
30 3,552 0,466
45 3,571 0,406
60 3,552 0,556
Tabel Hasil Pengamatan Uji Disolusi Teofilin Anhidrat
Dapar Fosfat pH 6,8 Pengenceran 100x
Jumlah media : 500 ml
Jumlah zat aktif : 300 mg – pengenceran 100x
Jumlah cuplikan : 5 ml
waktu absorbansi ppm mg terdisolusi faktor kore
cuplikan x fp mg koreksi % terdisolusi
ksi

5 0,327 495,5 247,7 0 247,7 82,57


10 0,440 752,3 376,1 3,761 379,9 126,63
20 0,479 840,9 420,5 4,205 428,5 142,83
30 0,466 811,4 405,7 4,057 417,8 139,27
45 0,406 675,0 337,5 3,375 353,0 117,67
60 0,556 1015,9 508,0 5,080 528,6 176,20
Tabel Hasil Pengamatan Uji Disolusi Teofilin Monohidrat
Dapar Fosfat pH 6,8 Pengenceran 10x
Jumlah media : 500 ml
Jumlah zat aktif : 300 mg – pengenceran 10x
Jumlah cuplikan : 5 ml
waktu mg terdisol faktor kore % terdisolu
absorbansi Ppm x fp mg koreksi
cuplikan usi ksi si
5 0,180 49,95 24,98 0 24,98 83,257
10 0,219 55,87 27,94 0,28 28,22 94,052
20 0,242 59,36 29,68 0,30 30,26 100,858
30 0,356 76,66 38,33 0,38 39,29 130,968
45 0,408 84,55 42,28 0,42 43,66 145,528
60 0,425 87,13 43,57 0,44 45,38 151,280
Berdasarkan hasil percobaan yang
KESIMPULAN telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa teofilin anhidrat memiliki
% disolusi yang lebih baik daripada
teofilin monohidrat dengan dapar
fosfat pH 6,8
Ansel, C. H. 1989. Pengantar Bentuk Sed
iaan Farmasi Edisi keempat, Pene
DAFTAR rjemah Farida. UI Press : Jakarta.
PUSTAKA
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia
Edisi III. Jakarta: Depkes RI.
TERIMAKASIH