Anda di halaman 1dari 29

ALDOSTERONISME

ALMAINI
• Kelenjar adrenal yang terletak di bagian atas
kedua ginjal menghasilkan hormon yang
disebut dengan aldosteron.

• Aldosteron merupakan hormon penting yang


diperlukan oleh tubuh untuk menjaga
keseimbangan natrium dan kalium dalam
darah.
• Faktor-faktor tertentu menyebabkan kelenjar
adrenal menghasilkan terlalu banyak
aldosteron.
• Kondisi ini dikenal sebagai
hiperaldosteronisme (hyperaldosteronism)
atau disebut juga sebagai aldosteronisme
primer (primary aldosteronism).
• Hiperaldosteronisme menyebabkan tubuh
kehilangan sejumlah besar kalium yang diiringi
dengan tingkat natrium berlebih sehingga
berpotensi memicu terjadinya masalah
kesehatan.

• Tubuh yang memiliki kandungan natrium


terlalu tinggi akan memicu peningkatan
volume sekaligus tekanan darah.
Faktor-faktor Penyebab
Hiperaldosteronisme

• Aldosteronoma dan hiperplasia adrenal bilateral.

• Sindrom Conn adalah pertumbuhan tumor jinak pada kelenjar adrenal.


• Sementara hiperplasia adrenal bilateral terjadi karena hiperaktivitas
kelenjar adrenal.

• Selain kedua penyebab umum diatas, terdapat pula penyebab yang lebih
langka seperti pertumbuhan ganas pada lapisan bagian luar kelenjar
adrenal dan mutasi genetik.

• Glucocorticoid-Remediable Aldosteronism (GRA) yang merupakan kondisi


yang sangat langka juga merupakan jenis hiperaldosteronisme.
• Hiperaldosteronisme primer secara klinis
dikenal dengan triad terdiri dari hipertensi,
hipokalemia dan alkalosis metabolik.
• Sindrom ini dilaporkan pertama kali tahun
1955 oleh Jerome W. Conn.
• Efek metabolic aldosterone berkaitan dengan
keseimbangan elektrolitdan cairan.
• Aldosterone meningkatkan reabsorbsi natrium
tubulus proksimal ginjal dan menyebabkan
ekskresi kalium dan ion hydrogen.
• Konsekuensi klinis kelebihan aldosterone adalah
retensi natrium dan air , peningkatan volume
cairan ekstrasel dan hipertensi.
• Selain itu juga terjadi hypernatremia,
hypokalemia dan alkalosis metabolic.
Epidemiologi
• Terdapat pada sekitar 1% dari populasi yang
hipertensif.
• Lebih banyak pada wanita, terutama pada
umur antara 30-50 tahun

• Rasio kejadian antara wanita : pria adalah


sekitar 2 : 1
Etiologi :

• Sindrom conn disebabkan oleh sekresi


aldosterone yang terlalu banyak sehingga
mengakibatkan retensi natrium, alkalosis yang
hipokalemik dan urin yang alkalis.
• Tumor dikorteks suprarenal
• Bilateral cortical nodular hyperplasia.
Manifestasi-klinis
• Rasa haus akan air, polyuria, nokteuria, polidipsi,
hipertensi,kelemahan, paralisis periodic, konvulsi
otot-otot dan tetani

• Keadaan ini sering disebut sebagai


hiperaldosteronisme primer

• Berbeda dg hiperaldosteronisme sekunder yang


merupakan mekanisme kompensatoir pada
beberapa keadaan edema (renal,kardiak, dan
hepatic) dan pada salt-losing nephritis.
Diagnosis :
• Diagnosis aldosteronisme didasarkan pada
pengukuran peningkatan kadar aldosteron dalam
plasma dan urine dan pengukuran renin plasma.
• Renin plasma akan rendah pada aldosteronisme
primer, tetapi tinggi pada aldosteronisme
sekunder.
• CT scan dan photo scanning inti dapat juga
membantu menemukan dan melokalisasi lesi
adrenal pada pasien dengan aldosteronisme
primer.
Pengobatan
• Spironolakton, suatu antagonis aldosteron
dapat menghilangkan gejala gejala
hiperaldosteronisme.
• Obat ini juga dapat digunakan untuk tes
diagnostic, persiapan operasi dan pengobatan
jangka panjang jika operasi merupakan
kontraindikasi.
• Jika dijumpai adenoma harus diangkat.
2.Hiperaldosteronisme sekunder
• Dijumpai pada keadaan dimana terjadi
perangsangan renin persisten.
• Gejala klinis dan pengobatan ditujukan pada
penyebabnya dan jarang diperlukan
pemeriksaan aldosterone.
• Hiperaldosteronisme sekunder dapat dijumpai
pada keadaan hipersekresi renin primer akibat
hyperplasia sel jukstaglomerulus di ginjal (
sindrom barter ).
Pengaruh androgen
serta mekanisme kerjanya
• a. Peningkatan kadar androgen dalam darah akan
mengganggu gonadostat di hipotalamus dan akan
menekan GnRH.
• Akibatnya adalah terganggunya perkembangan seksual,
dan terjadinya penekanan langsung terhadap
gonadotropin baik pada tingkat hipotalamus maupun
hipofisis.
• Dalam hal ini LH lebih jelas dipengaruhi daripada FSH.
• Ini berarti bahwa peningkatan androgen yang beredar
dalam darah mengganggu keserasian poros
hipotalamus-hipofisis-ovarium.
• b.Perifer Terjadi gangguan pada tingkat ovarium
dan folikel. Terjadi pemutusan androgen dalam
sel-sel perifolikuler, sehingga folikel ovarium
menjadi resisten terhadap rangsangan
gonadotropin.
• Belum jelas adanya hambatan pada reseptor
gonadotropin maunpun penjenuhan dengan
androgen.
• Tetapi yang jelas ialah kadar androgen lokal yang
tinggi akan menyebabkan perkembangan folikel
ovarium yang resisten.
• Peningkatan androgen adrenal dapat menyebabkan
hiper estronemia karena akan memanjangkan fase
folikuler dan memendekkan fase luteal.
• Konsekuensinya terjadi peningkatan rasio LH/FSH.
Peristiwa ini yang menerangkan kerapnya infertilitas
dan ketidak teraturan haid pada wanita dengan
hiperandrogen.
• Terapi deksametason dapat mengoreksi rasio LH/FSH
yang abnormal pada beberapa pasien dengan polikistik
ovarium, yang dapat menyebabkan terjadinya ovulasi
lagi.
• Beberapa penelitian percaya bahwa pada pasien-
pasien polikistik ovarium, abnormalitas adrenal
adalah gangguan yang primer.
• Penelitian lain telah menyimpulkan bahwa itu
adalah sekunder dari kelainan hormonal.
• Pada pihak lain, hiperandrogen endogen akan
menebalkan tunika albuginea ovarium.
• Juga ternyata bahwa pemberian androgen
eksogen yang berlebihan dapat menebalkan
kapsul ovarium.
• Selanjutnya keadaan tersebut akan
mengganggu pelepasan folikel dan
pecahannya bintik ovulasi.
• Ini merupakan bentuk lain dari androgen
dalam mengganggu mekanisme ovulasi.
• Secara klinis dengan menekan kadar androgen
yang tinggi akan menyebabkan folikel ovarium
menjadi lebih peka terhadap gonadotropin
endogen dan eksogen.
• Pengkajian:
• Keluhan utama Klien dengan aldosteronisme
biasanya mengeluh badan terasa lemah,banyak
minum, banyak kencing, sering kencing malam,
sakit kepala
• Riwayat kesehatan:
• Riwayat kesehatan sekarang Tanyakan sejak
kapan klien merasakan keluhan seperti yang ada
pada keluhan utama dan tindakan yang dilakukan
untuk menaggulanginya
• Riwayat penyakit dahulu:
• Tanyakan tentang adanya riwayat penyakit
atau pemakaian obat-obatan bebas yang bisa
mempengaruhi.
Riwayat kesehatan keluarga:
• Tanyakan apakah ada keluargayang pernah
menderita penyakit yang sama
(aldosteronisme)
• Pemeriksaan Fisik:
• Observasi tanda-tanda neurologis (kelemahan
otot, keletihan, paresthesia).
• Kardiovasikuler (kardiomegali,penurunan
konduksi melalui myocardium .
• Ginjal (poliuri,polidipsi,azotemia)
• Diagnosa keperawatan Intervensi Rasional
• 1. Kelebihan volume cairan b/d hipernatremia sekunder terhadap
hiperaldosteronisme
• 1. Timbang pasien tiap hari pada waktu yang sama,laporkan bila terjadi
penambahan berat badan > 0,5 kg/ hari
• 2. Ukur intake dan output setiap 8 jam
• 3. Pertahankan diet rendah natrium
• 4. Pantau kadar natrium serum
• 5. Pantau efektivitas dan efek samping diuretik
• 1. Untuk mengetahui adanya penambahan BB karena edema
• 2. Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan seimbang
• 3. Menghindari terjadinya hipernatremia
• 4. Mengetahui keseimbangan kadar natrium dalam tubuh
• 5. Mengetahui apakah ada efek tertentu dari diuretik
• Diagnosa keperawatan Intervensi Rasional 2. Perubahan
kenyamanan b/d ekskresi urine berlebih dan polidipsi
• 1. Ukur intake dan output setiap 8 jam
• 2. Anjurkan klien untuk miksi dalam 1 jam sekali
• 3. Anjurkan klien untuk makan dengan pola seimbang 4.
Berikan suasana senyaman mungkin pada klien pada saat
miksi
• 1. Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan
seimbang
• 2. Memastikan pola nutrisi klien teratur untuk kenyamanan
3. Menghindari terjadinya obesitas pada klien
• 4. Memberi rasa nyaman pada klien
Diagnosa keperawatan
• Diagnosa keperawatan Intervensi Rasional 3. Kurang pengetahuan
b/d kurang informasi mengenai proses penyakit, pengobatan dan
perawatan diri
• 1. Jelaskan konsep dasar proses penyakit
• 2. Jelaskan mengenai obat-obatan
• 3. Jelaskan perlunya untuk menghindari obat-obatan yang dijual
bebas
• 4. Berikan penkes yang berhubungan dengan proses penyakit
• 1. Agar klien mengetahui proses dan penyebab terjadinya penyakit
2. Agar klien mengetahui jenis obat yang boleh dikonsumsi dan
tidak untuk penyakitnya 3. Agar tidak menemukan masalah yang
b/d pemberian obat yang salah 4. Klien dapat memahami
pentingnya penkes bagi kesembuhannya.
Rasional
• 1. Agar klien mengetahui proses dan
penyebab terjadinya penyakit
• 2. Agar klien mengetahui jenis obat yang
boleh dikonsumsi dan tidak untuk penyakitnya
3. Agar tidak menemukan masalah yang b/d
pemberian obat yang salah
• 4. Klien dapat memahami pentingnya penkes
bagi kesembuhannya.
. Diagnosa keperawatan Intervensi
Rasional 4.
• Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan,
• 1. Ukur intake dan output setiap 8 jam
• 2. Anjurkan klien untuk miksi dalam 1 jam sekali
• 3. Anjurkan klien untuk makan dengan pola seimbang
• 4. Berikan suasana senyaman mungkin pada klien pada
saat miksi
• 5. Pertahankan diet tinggi kalium
• 6. Berikan kalium dan suplemen sesuai pesanan
• 7. Pantau kadar kalium serum setiap 8 jam
• 8. Pantau terhadap tanda dan gejala hipokalemia
• . Bantu saat melakukan
Rasional
• 1. Mengetahui apakah masukan dan keluaran cairan
seimbang
• 2. Memastikan pola nutrisi klien teratur untuk kenyamanan
• 3. Menghindari terjadinya obesitas pada klien
• 4. Memberi rasa nyaman pada klien
• 5. Agar kadar kalium dalam tubuh normal
• 6. untuk menambah masuk kalium yang tidak didapatkan
• 7. Mengetahui kadar kalium normal
• 8. Mengetahui adanya gejala hipokalemia
• 9. Agar klien tidak mengalami kerusakan