Anda di halaman 1dari 15

UU

TENTANG KESEHATAN
REPRODUKSI
OLEH
TRI MAYA SYAFPUTRI
IMELDA GANEZA
VIVIN PUSPASARI
SANDY SETIAWATI

Program Martikulasi Ilmu Kebidanan


Program Pascasarjana Universitas Andalas Padang
TAHUN 2018/2019
MATERI

PP RI NO 61 TAHUN 2014
TENTANG KESEHATAN
REPRODUKSI

UU NO 36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN
PENDAHULUAN

Awal mula Perundingan yang berfokus pada


Kespro
Pada bulan September 1994 di Kairo, 184
negara berkumpul untuk pertama kalinya,
perjanjian internasional memfokuskan kesehatan
reproduksi dan hak-hak perempuan sebagai tema
sentral.
Salah satu bagian terpenting dari kesehatan
adalah kesehatan reproduksi.
Pengertian kesehatan reproduksi hakekatnya telah
tertuang dalam Pasal 71 Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan
bahwa kesehatan reproduksi merupakan keadaan
sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak
semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang
berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi
pada laki-laki dan perempuan.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 36 TAHUN
2009 TENTANG KESEHATAN
BAB VI UPAYA KESEHATAN
 Bagian Keenam Kesehatan Reproduksi
 Pasal 71 (pengertian kespro,kegiatan yang menunjang
kespro)
 Pasal 72 (hak masyarakat mengenai kespro)
 Pasal 73 (kewajiban pemerintah dalam penyedia
layanan kespro)
 Pasal 74 (pelayanan dan bantuan kespro)
 Pasal 75 (aborsi)
 Pasal 76 (ketentuan mengenail indikasi aborsi yang
diperbolehkan)
 Pasal 77 (kewajiban pemerintah mengenai aborsi)
PP RI NO 61 TH 2014 TTG
KESPRO
BAB I KETENTUAN UMUM (PASAL 1-3)
BAB II TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMDA (PASAL 4-5)
BAB III PELAYANAN KESEHATAN IBU
 BAG 1 UMUM (PASAL 8-10)
 BAG 2 PEL KESPRO REMAJA (PASAL11-12)
 BAG 3 PEL KES MASA SBLM HAMIL,HAMIL,PERSALINAN, DAN SESUADAH MELEHIRKAN
(PASAL 13-18)
 BAG 4 PEL PENGATURAN KEHAMILAN,KONTRASEPSI,DAN KES SEKSUAL (PASAL 19-29)
 BAG 5 PEL KES SISTEM REPRODUKSI (PASAL 30)
BAB IV INDIKASI DARURAT MEDIS DAN PERKOSAAN SBG PENGECUALIAN ATAS LARANGAN
ABORSI
 BAG 1 UMUM (PASAL 31)
 BAG 2 INDIKASI KEDARURATAN MEDIS (PASAL 32-33)
 BAG 3 INDIKASI PERKOSAAN (PASAL 34)
 BAG 4 PENYELENGGARAAN ABORSI (PASAL 35-39)
BAB V REPRODUKSI DENGAN BANTUAN/KEHAMILAN DI LUAR CARA ALAMIAN (PASAL 40-46)
BAB VI PENDANAAN (PASAL 47)
BAB VII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
 BAG 1 PEMBINAAN (PASAL 48-49)
 BAG 2 PENGAWASAN (PASAL 50-51)
BAB VIII KETENTUAN PENUTUP (PASAL 52)
CONTOH KASUS

TANGGUNG JAWAB DOKTER DALAM MELAKUKAN


ABORSI TANPA SEIZIN IBU YANG MENGANDUNG ATAU
KELUARGA
 Seorang ibu dan keluarga datang ke rumah sakit karena ibu
mengalami perdarahan, setelah diperiksa ibu mengalami
abortus imsipiens di usia kehamilan 14 minggu. Tanpa pikir
panjang dokter langsung melakukan kuretase tanpa
memberikan penjelasan terlebih dahulu. Ibu dan keluarga
merasa khawatir dengan tindakan dokter. Setelah ibu tahu,
maka dokter dimintai pertanggungjawaban dalam hal
melakukan aborsi tanpa ada ijin ataupun tanpa ada
penjelasannya terlebih dahulu pada ibu yang mengandung atau
pihak keluarga
PENJELASAN ABORSI

 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014


Tentang Kesehatan Reproduksi Pasal 31
sampai dengan Pasal 39
menjelaskan tentang indikasi kedaruratan
medis dan perkosaan sebagai
pengecualian atas larangan aborsi atau
509 Vol. I No. 02 Edisi Juli-Desember 2015.
dengan kata lain memperbolehkan aborsi
berdasarkan indikasi medis dan atau akibat
dari korban pemerkosaan
Larangan aborsi di atur juga pada
• Pasal 75 ayat (1) UndangUndang Kesehatan Nomor 36 Tahun
2009 Tentang Kesehatan.
• Adapun Pengecualian yang dijelaskan dalam Pasal 75 ayat
(2) Undang-Undang Kesehatan terhadap larangan melakukan
aborsi diberikan hanya dalam 2 kondisi.
• Tindakan aborsi yang diatur dalam Pasal 75 ayat (2) Undang-
Undang Kesehatan itu pun hanya dapat dilakukan setelah
melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan
diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan
oleh konselor yang kompeten dan berwenang, yang dijelaskan
pada Pasal 75 ayat (3) Undang-Undang Kesehatan.
PERTANGGUNG JAWABAN DOKTER

 Tanggungjawab dokter dalam melakukan


aborsi tanpa seijin ibu yang mengandung
atau keluarga, yang berdasarkan indikasi
medis dan dalam keadaan darurat maka
dianggap tidak melawan hukum.
 Dokter, tidak bertanggungjawab dihadapan
hukum.
HUKUM PIDANA

Dokter atau ahli medis yang memeriksa atau


menangani si pasien wajib memberikan penjelasan
kepada keluarganya atau yang mengantar.
Jika Ilegal maka,“Setiap orang yang dengan
sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75
ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 tahun dan denda paling banyak Rp.
1.000.000.000.- (satu miliar)”.
NAMUN,

Sebagaimana dijelaskan pada


Pasal 4 ayat (1) sampai dengan (3) Peraturan Menteri
Kesehatan (PERMENKES) Nomor 290 Tahun 2008 Tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran, apabila ibu yang akan di
aborsi dalam keadaan darurat maka dokter boleh
melakukan tindakan tanpa seijin ibu atau keluarga untuk
menyelamatkan jiwanya, Maka tindakan dokter tersebut tidak
dapat dipidana, bila mana keadaan si ibu dalam keadaan ,
Pendarahan yang hebat, Depresi berat akibat pemerkosaan,
Kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu, dan
Kehamilan yang mengancam kesehatan serta nyawa janin
PERATURAN YANG MENDUKUNG

 Peraturan Menteri Nomor 290 Tahun 2008


Tentang Tindakan Persetujuan Kedokteran,
dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004
Tentang Praktik Kedokteran, ini tidak diatur
sedikitpun tentang sanksi hukuman bagi
dokter yang melakukan pengguguran
kandungan (aborsi) atas indikasi medis
tanpa seijin ibu yang mengandung atau
keluarganya.
KESIMPULAN

 Dokter dapat dipidana dalam tindakan


pengguguran kandungan (aborsi) atas
indikasi medis tanpa ijin ibu yang
mengandung atau keluarganya kecuali
dalam keadaan darurat
 Dalam kasus tersebut, dapat dikatakan hak
atau wewenang profesi dokter.
TERIMA KASIH