Anda di halaman 1dari 18

KULIAH KIMIA AMAMI

OKSIGEN
TERLARUT
Mastuti Widi Lestari, M.Si
Oksigen terlarut dalam air
• Oksigen terlarut (dissolved oxygen) disebut juga dengan
kebutuhan oksigen (oxygen demand).
• Nilai DO menunjukkan jumlah oksigen yang tersedia dalam

Jens Martensson
suatu badan air.  menunjukkan sejauh mana badan air
mampu menahan biota air (ikan, mikroorganisme)
• DO dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi,
dan oleh mikroorganisme untuk penguraian zat-zat organik
• Nilai DO tinggi  kualitas air baik
• Nilai DO rendah  kualitas buruk
2
• DO juga berfungsi untuk menguraikan senyawa-senyawa
anorganik yang berasal dari limbah (industri)
• Kecepatan difusi oksigen dari udara tergantung beberapa
faktor: kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air
dan udara (arus, gelombang, pasang surut).

Jens Martensson
• Semakin rendah suhu  DO besar
• Semakin tinggi salinitas  DO berkurang
• Pada lapisan permukaan  DO besar, karena difusi air
dengan udara bebas

3
Jens Martensson
4
Penentuan Dissolved Oxygen (DO)
• Penentuan DO tidak dapat ditunda, harus dilakukan di
lapangan
• Kadar oksigen akan berubah karena kegiatan biologi

Jens Martensson
sehingga diperlukan pemantapan (fiksasi) dengan
penambahan reagen O2 (campuran NaOH dan KI) di
lapangan, kemudian penentuan dapat dilanjutkan di
laboratorium
• Cara ini berguna untuk menghambat kegiatan jasad renik,
sampai 6 jam
• Kemudian sampel dibawa ke laboratorium dengan
memasukkannya dalam termos es 5
Penentuan DO menggunakan metode titrasi iodometri

• Prinsip:
• Oksigen dalam air (sampel) bereaksi dengan ion Mn2+ dalam
suasana basa menjadi hidroksida mangan dengan valensi yang

Jens Martensson
lebih tinggi (Mn4+).
• Dengan adanya ion iodida dalam suasana asam, ion Mn4+ akan
kembali menjadi ion Mn2+ dengan membebaskan iodin (I2) yang
setara dengan kandungan oksigen terlarut
• I2 yang terbentuk kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 dengan
indikator amilum.

6
• Reaksi
MnSO4 + NaOH + 2 O2  MnO2 + Na2SO4 + H2O
MnO2 + H2O + KI  Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
I2 + 2 S2O32-  S4O62- + I-
• Perhitungan

Jens Martensson
• V = mL Na2S2O3
• N = N Na2S2O3
• F = faktor (volume botol dibagi (Vbotol – Vpereaksi)
7

• Vpereaksi = V MnSO4 + V alkali iodida azida


Biochemical oxygen demand (BOD) dalam air

Mikroorganisme dalam
Senyawa air menggunakan DO
energi
organik untuk mendegradasi
senyawa organik

Jens Martensson
Biasanya air alami
mengandung sejumlah kecil Senyawa organik sebagai makanan
senyawa organik

• Populasi mikroorganisme meningkat dengan jumlah


“makanan” yang tersedia dalam air
• Populasi mikroorganisme yang meningkat juga akan
meningkatkan jumlah oksigen yang dibutuhkan 8
• Di beberapa kondisi, mikroorganisme memetabolisme
oksigen lebih cepat dibandingkan difusi oksigen dari
atmosfer ke air.
• Hal ini menyebabkan kekurangan oksigen terlarut dalam
air  ikan, dll mati

Jens Martensson
• BOD adalah jumlah oksigen terlarut yang
dibutuhkan oleh mikroba aerobik untuk
mengoksidasi bahan organik karbon
9
Hal-hal yang mempengaruhi BOD
• Tingkat aliran air
Aerasi aliran air  dekomposisi senyawa organik dan
anorganik  BOD rendah

Jens Martensson
• Kedalaman air

10
Penentuan BOD (Biochemical Oxygen Demand)
• BOD Merupakan salah satu parameter yang digunakan
untuk mengukur tingkat pencemaran air
• Dinyatakan dalam mg oksigen yang dikonsumsi per liter
sampel selama 5 hari inkubasi pada 20oC

Jens Martensson
• Semakin besar BOD  semakin cepat oksigen habis 
oksigen yang tersedia lebih sedikit untuk kebutuhan biota
air
• BOD tinggi  DO rendah

11
• Prinsip penentuan BOD: sejumlah sampel ditambahkan
ke dalam larutan pengencer jenuh oksigen yang telah
ditambahkan larutan nutrisi dan bibit mikroba 

Jens Martensson
diinkubasi (ruang gelap pada suhu 20oC ± 1oC selama 5
hari.
• BOD dihitung berdasarkan selisih konsentrasi oksigen
terlarut pada 0 hari dan 5 hari
• Sebagai kontrol standar uji BOD digunakan larutan
glukosa-asam glutamat
12
• Perhitungan nilai BOD5

Jens Martensson
• A1 = kadar oksigen terlarut sampel sebelum inkubasi (0 hari) (mg/L)
• A2 = kadar oksigen terlarut sampel setelah inkubasi 5 hari (mg/L)
• B1 = kadar oksigen terlarut blanko sebelum inkubasi (0 hari) (mg/L)
• B2 = kadar oksigen terlarut blanko setelah inkubasi 5 hari (mg/L)
• VB = volume suspensi mikroba (mL) dalam botol DO blanko
• VC = volume suspensi mikroba (mL) dalam botol sampel
• P = perbandingan volume sampel (V1) per volume total (V2)
13
COD dalam air
• Chemical oxygen demand (COD) adalah jumlah oksigen
untuk mengoksidasi senyawa terlarut dan partikel organik
di air.

Jens Martensson
• Dinyatakan dalam mg/L
• Berkurangnya oksigen terlarut dalam air juga disebabkan
oleh adanya senyawa kimia (dari limbah industri)
• COD tinggi  banyaknya senyawa kimia yang teroksidasi
pada sampel  DO berkurang  kondisi anaerob 
organisme air mati
14
Penentuan COD
• Prinsip: COD adalah jumlah oksidan C2O72- yang bereaksi
dengan sampel dan dinyatakan sebagai mg O2 untuk tiap 1 L
sampel
• Senyawa organik dan anorganik (terutama organik) dalam

Jens Martensson
sampel dioksidasi oleh Cr2O72- dalam refluks tertutup
menghasilkan Cr3+ .
• Kelebihan Cr2O72- ditera dengan titrasi menggunakan ferro
amonium sulfat atau spektrofotometri.
• Cr2O72- kuat mengabsorbsi pada panjang gelombang 400 nm,
dan Cr3+ kuat mengabsorbsi pada panjang gelombang 600 nm
15
• Reaksi: Ag SO
2 4

CaHbOc + Cr2O72- + H+  CO2 + H2O + Cr3+


Reaksi ini berlangsung sekitar 2 jam dengan cara di refluks.
• Hasil:
• Spektro  Selisih antara absorbansi blanko

Jens Martensson
(yang tidak direfluks) dengan sampel yang direfluks.

• Titrasi 
COD (mg/L) = (a-b) x N x 8000 / mL contoh

16
• Tidak semua zat organik dalam limbah dapat diuraikan
(dioksidasi)
• Protein, glukosa dapat diuraikan
• NO2-, Fe2+, S2-, dan Mn3+ tidak dapat diuraikan
• Homolog senyawa aromatik dan rantai hidrokarbon, hanya
dapat dioksidasi oleh adanya katalisator Ag2SO4

Jens Martensson
17
Thank
You