Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS RAWAT

INAP PNEUMONIA
GRECIA SINTYA D. SUNUR, S.Ked

Pembimbing:
dr. Tjahyo Suryanto, Sp.A, M.Biomed
dr. Debora Shinta Liana, Sp.A
1
Pendahuluan
Pneumonia adalah
penyakit infeksi akut Streptococcus pneumonia,
saluran napas yang stapylococcus
mengenai rongga alveoli aures, Haemophyllus
paru-paru yang influenza, Escherichia coli
disebabkan oleh dan Pneumocystis jirovenci
mikroorganisme.

Penyebab utama kematian anak di dunia khususnya


pada anak berusia dibawah 5 tahun.

2
Berdasarkan data WHO pada tahun 2013 terdapat
6,3 juta kematian anak di dunia, dan sebesar
935.000 (15%) kematian anak disebabkan oleh
pneumonia.

326,011
350,000
300,000
250,000
200,000 160,908
150,000
100,000
50,000 8,275 8,544
0
Usia < 1 tahun Usia 1-4 tahun
P. Ringan P. Berat

3
Lanjutan
Provinsi dengan kasus pneumonia ringan dan
pneumonia berat tertinggi dengan usia < 1 tahun dan 1
– 4 tahun terdapat di Jawa barat. Untuk NTT sendiri
target untuk ditemukanmnya kasus pneumonia di NTT
sendiri adalah sebesar 17.872 kasus, namun pada
realitanya kasus pneumonia sendiri tercatat nol pada
data Kemenkes RI atau tidak ditemukan adanya kasus
pneumonia di NTT.

4
Laporan Kasus
◦ Identitas pasien
Nama : An. M S
Jenis Kelamin : Laki – laki
Tanggal lahir/Umur : 16 Desember 2017/ 9 bulan
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Fatukoa RT 14 RW 04
No. MR : 499247

5
Anamnesis
◦ Keluhan Utama : Pasien datang dengan keluhan sesak napas.

◦ Riwayat penyakit sekarang:


Pasien dibawa oleh ibunya dengan keluhan sesak napas, sesak
dirasakan mendadak pada malam hari SMRS yang dan semakin
memberat beberapa jam SMRS. Saat sesak ibu tidak memberikan
obat, sesak di perberat dengan batuk, pilek yang dialami pasien
sebelumnya. Batuk, pilek muncul pertama kali 3 hari SMRS dan
terus menerus, saat awal muncul batuk keras dan berdahak, dahak
sulit keluar. Menurut ibu pasien warna dahak putih, tidak ada
bercak darah. Untuk memperingan batuk, pilek, pasien diberikan
obat namun tidak ada perubahan.

6
Ibu pasien juga mengeluhkan pasien mengalami demam 1 hari
sebelum pasien MRS. Demam dirasakan hilang timbul, demam lebih
sering dirasakan pada malam hari. Menurut ibunya saat demam
anaknya tidak kejang. Demam turun dengan pemberian obat. Tidak
ada riwayat mual, muntah, BAB lembek, berwarna kekuningan,
frekuensi 2x sehari, BAK baik. Riwayat alergi terhadap debu (-), alergi
terhadap dingin (-), alergi terhadap makanan (-), makan, minum cukup,
riwayat sering terpapar asap rokok (+), riwayat keringat malam (-),
riwayat kontak dengan orang batuk lama (-)

◦ Riwayat penyakit dahulu:


Pasien pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya, pada usia 6
atau 7 bulan, pada saat itu, sesak pasien dibawa ke IGD RSU W.Z.
Johannes. Sesampai di RS, pasien diuap, tetapi pasien tidak dirawat
inap. Riwayat sakit waktu lahir (-)

7
◦ Riwayat keluarga:
Di keluarga, tidak ada anggota keluarga yang mengalami sakit yang
sama seperti pasien.

◦ Riwayat Pengobatan:
Pasien sudah pernah 1x ke puskesmas sikumana untuk berobat, disana
pasien mendapatkan obat puyer yang menurut ibunya adalah obat
batuk, pilek dan demam. Pasien meminum obat selama 3 hari, demam
turun, namun batuk pilek tetap tidak berkurang.

◦ Riwayat imunisasi:
Menurut ibunya pasien sudah mendapat imunisasi lengkap sesuai usia
yaitu HB-0 saat lahir, BCG, Polio (4x), DPT (3x), IPV, campak dan
rubella.

8
◦ Riwayat Kehamilan ibu:
Pasien merupakan anak pertama. Selama kehamilan ibu rutin
memeriksakan kehamilannya di puskesmas sikumana sebanyak 6 kali
dari usia kehamilan 3 bulan sampai 8 bulan. Penyakit berat selama
kehamilan tidak ada. Kenaikan berat badan ibu saat hamil setiap
bulannya naik sekitar 1 – 2 kg.

◦ Riwayat persalinan ibu:


Pasien dilahirkan secara normal (pervaginam) saat usia ibu 21 tahun,
ditolong bidan, lahir dipuskesmas sikumana, dengan usia kehamilan
37 minggu dan berat lahir 2500 g, panjang badan 48 cm dan lingkar
kepala 30 cm. Pasien lahir langsung menangis.

9
◦ Riwayat ASI:
Pasien diberi ASI tapi tidak secara ekslusif, pada umur 2 bulan anak
sudah diberikan susu formula, tetapi anak mulai menolak minum susu
formula sejak anak berumur 3 bulan. Lalu ibu melanjutkan ASI sampai
dengan usia 9 bulan. Anak sudah diberikan MP-ASI saat anak berumur >
6 bulan. MP-ASI yang diberikan adalah bubur saring yang di campur
dengan sayur – sayur dan telur. Ibu tidak pernah mencapur MP-ASI
anaknya dengan ikan atau daging. Karena menurut ibunya sudah cukup
apabila dicampur dengan sayur dan telur.

◦ Riwayat Kebiasaan di Lingkungan Sekitar:


Pasien tinggal serumah dengan ayah yang seorang perokok aktif dan
pasien sering terpapar asap rokok

10
Pemeriksaan Fisik
Status Gizi :
◦ Keadaan Umum: tampak sakit
BB/U : { 0SD < BB/U +2SD}
sedang
Normal
◦ Kesadaran : compos mentis PB/U : {+2SD < PB/U <
(E4V5M6) +3SD} Tinggi
◦ Tanda vital : BB/PB : {-1SD < BB/PB < 0SD}
Gizi Baik
HR : 118 x/menit, reguler, kuat
angkat
RR : 50 x/menit, reguler
Suhu : 36,9oC (aksila)
◦ Antropometri
BB : 9 kg
PB : 77 cm
LK: 45cm

11
◦ Kulit : Pucat (-), Ikterus (-), Sianosis(-)
◦ Kepala : Normochepal
◦ Rambut : Hitam, lurus, tumbuh merata, tidak mudah dicabut
◦ Wajah : simetris, udem (-), mongoloid face (-)
◦ Mata : sekret (-/-), cekung (-/-), udem (-/-), pupil isokor, refleks
cahaya (+/+) konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
◦ Hidung : Rhinore (+/+), deviasi septum (-), pernapasan cuping
hidung (+/+), epistaksis (-/-).
◦ Mulut : mukosa bibir lembab, warna merah muda
◦ Lidah : atrofi (-), makroglosi
◦ Tenggorok : uvula di tengah, T1/T1 hiperemis (-), faring hiperemis (-)
◦ Telinga : Otore (-), deformitas (-/-)
◦ Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran
kelenjar tiroid (-)

12
◦ Thoraks:
◦ Jantung
Inspeksi : Iktus Kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS 5 linea midclavicula sinistra
Perkusi : Batas jantung kanan di ICS 4 parasternal dextra
Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)
◦ Paru
Inspeksi : pengembangan simetris, retraksi dinding dada (+)
(retraksi subkostal dan intercostal)
Palpasi : nyeri tekan (-), krepitasi (-),
Auskultasi : vesikular (-/-), Ronchi + + , Wheezing (-/-)
Perkusi : sonor (+/+) + +
+ +

13
◦ Abdomen :
Inspeksi : tampak datar
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, turgor
kulit <3 detik
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) kesan normal
◦ Ekstremitas : akral hangat, edema (-/-), CRT < 3 detik

14
Pemeriksaan Penunjang
◦ Hemoglobin 10,3 g/dL (L) Limfosit 42,6%
◦ Jumlah eritrosit 5,00 Monosit 6,8%
Jumlah Eosinofil 0,75 (H)
◦ Hematokrit 30,4% (L)
Jumlah Basofil 0,03
◦ MCV 60,8 fL (L) Jumlah Neutrofil 12,51 (H)
Jumlah Limfosit 11,19 (H)
◦ MCH 20,6 pg (L)
Jumlah Monodit 1,80 (H)
◦ MCHC 33,9 g/L (H) IG# 0,0
◦ RDW-CV 16,3 % (H) Jumlah Trombosit 353
PDW 9,8fL
◦ RDW-SD 35,1 fL (L) MPV 9,4 fL
◦ Jumlah Leukosit 26,28 (H) P-LCR 20,6%
PCT 0,33%
◦ Eosinofil 2,9%
GDS 112 mg/dL
◦ Basofil 0,1% IG% 0,1%
◦ Neutrofil 47,6%
 
15
Hasil
pemeriksaan
foto rontgen
thoraks

16
Hasil pembacaan:
Cor tidak membesar, bentuk normal. Tampak tymus pada
mediastinum superior. Corakan vaskuler kedua paru normal. Tidak
tampak infiltrat dikedua paru. Hilus kanan agak menebal. Sinus
kostofrenik dan diafragma normal.

Kesan:
◦ Cor dalam batas normal.
◦ Limfadenopati hilus dextra.
◦ Tidak tampak infiltrate paru bilateral.

17
Resume
Seorang anak laki-laki berusia 9 bulan datang ke IGD RSUD Prof.
Johannes Kupang dengan keluhan sesak napas, sesak dirasakan
mendadak pada malam hari SMRS yang dan semakin memberat
beberapa jam SMRS. Paasien juga merasakan batuk, pilek yang muncul
pertama kali 3 hari SMRS dan terus menerus, saat awal muncul batuk
keras dan berdahak, dahak sulit keluar, warna dahak putih, tidak ada
bercak darah. Untuk memperingan batuk, pilek, pasien diberikan obat
namun tidak ada perubahan. Pasien juaga mengalami demam 1 hari
sebelum pasien MRS. Demam dirasakan hilang timbul, demam lebih
sering dirasakan pada malam hari. Demam turun dengan pemberian
obat.

18
Tidak ada riwayat mual, muntah, BAB lembek, berwarna kekuningan,
frekuensi 2x sehari, BAK baik. Riwayat alergi terhadap debu (-), alergi
terhadap dingin (-), alergi terhadap makanan (-), makan, minum
cukup, riwayat sering terpapar asap rokok (+), riwayat keringat malam
(-), riwayat kontak dengan orang batuk lama (-)

HR : 118 x/menit, reguler, kuat angkat


RR : 50 x/menit, reguler
Suhu : 36,9oC (aksila)

◦ Terdapat pernapasan cuping hidung, terdapat rinorea, retraksi dinding


dada, dan bunyi pernapasan ronki. Bunyi jantung 1 dan 2, tunggal,
regular, murmur(-), gallop (-).

19
◦ Diagnosis kerja
Susp. Pneumonia
 
◦ Terapi
Oksigen nasal kanul 2 lpm
Infus D5 ¼ NS 500 cc/24 jam
IV ampisilin 3x300 mg
IV Gentamicin 1x50 mg
Dexametazone 1x5mg
Metamizole 3x100 mg
Nebul combiven 1/3respul dan NacL 0,9% 3cc/8 jam

20
Follow
Up

21
22
23
24
DISKUSI

25
Kasus

Pasien mengeluhan batuk, pilek, batuk berdahak,


dahak susah keluar, sesak napas, demam dan
penurunan nafsu makan.

Gejala infeksi umum:


Teori Demam, sakit kepala, gelisah,
malaise, penurunan nafsu makan,
keluhan gastrointestinal seperti
mual, muntah atau diare, kadang-
Gambaran Klinis kadang ditemukan gejala infeksi
Pneumonia ekstrapulmoner

Gejala gangguan respiratori:


Batuk, sesak napas, retraksi
dada, takipnea, napas cuping
hidung, air hunger, merintih
dan sianosis 26
Kasus
Ditemukan adanya distress pernapasan (napas cuping
hidung), retraksi subkosta, ronki, penurunan suara
respiratori, takipneu dan demam.

Teori

Pemeriksaan fisik:
Distress pernapasan seperti, napas cuping hidung,
retraksi interkosta dan subkosta, merintih, demam.
Auskultasi ditemukan ronki basah nyaring halus
atau sedang yang terlokalisir, penurunan suara
respiratori, takipneu.
Perkusi thorak sering tidak ditemukan adanya
kelainan

27
Kasus
Secara klinis pada kasus ini sulit
untuk membedakan etiologinya
apakah pneumonia bacterial atau
pneumonia viral.

Teori
mikroorganisme
(virus dan bakteri)
Pneumonia dan etiologi lainnya
seperti aspirasi,
radiasi dll.

28
Kasus

Darah lengkap  terdapat peningkatan leukosit (leukositisis)


yang merupakan tanda infeksi dan inflamasi, terdapat
peningkatan eosinofil (eosinofilia), peningkatan neutrofil
(neutrofilia) menunjukkan adanya infeksi bakteri akut,
peningkatan limfosit (limfositosis) yang menunjukkan adanya
infeksi virus atau infeksi kronik, peningkatan monosit
(monositosis) yang menunjukkan adanya penyakit yang
disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, protozoa maupun jamur.

Teori
Pem. Penunjang
Darah lengkap:
 pneumonia virus dan pneumonia mikoplasma umunya
ditemukan leukosit dalam batas normal atau sedikit
meninggkat.  pneumonia bakteri didapatkan leukositosis
yang berkisar antara 15.000 – 40.000/mm3 dengan
predominan PMN.
29
Kasus

30
31
Klasifikasi Pneumonia

Jika dilihat dari klasifikasi


pneumonia berdasar
umur 2 bulan – 5 tahun,
kasus ini memasuki
klasifikasi pneumonia
berat karena adanya
gejala klinis sesak napas,
karena itu pasien harus
dirawat inap dan
diberikan antibiotik.

32
Kasus

Terapi suportif Terapi Kasual


- oksigen nasal kanul 2 lpm - Ampisilin 3x300mg IV  25-50
- nebul combiven 1/3 respul, mg/kg BB
NaCL 0,9% 3cc /8 jam - Gentamicin 1x50mg IV 
- Infus D5 ¼ NS 500 cc/24 jam 8mg/kgBB  72 mg dalam sekali
 kebutuhan cairan pasien pemberian
900 cc.

Suportif  pemberian cairan


Teori intravena, terapi oksigen, koreksi,
elektrolit, gula darah, nyeri /demam
Tatalaksana
berikan analgetik/antipiretik.

kasual dengan antibiotik


-Lini 1 golongan beta-laktam atau kloramfenikol.
-Pneumonia tidak responsif lini 1  antibiotik lainnya seperti
gentamisin, amikasin, atau sefalosporin
-Neonatus dan bayi kecil, terapi awal antibiotik intravena  spektrum
luas  kombinasi beta-laktam/klavulanat dengan aminiglikosid atau
sefalosporin generasi ketiga 33
Kasus Teori
Diberikan kortikosteroid dexametazone Pemberian kortikosteroid 
dosis 0,5 mg/kgBB sehingga terapi adjuvant
seharusnya pemberian dexametazone
pada pasien ini adalah 4,5 mg dalam Menurut beberapa penelitian
sekali pemberian. pemberian kortikosteroid
dapat menurunkan mortalitas
pada pneumonia berat
dengan syok

Namun tidak dengan


penderita pneumonia berat
tanpa syok justru cenderung
meningkatkan mortalitas.

Penelitian lainnya mengenai


efek steroid pada pneumonia
anak menunjukkan bahwa
pasien dengan pemberian
terapi steroid sebagai terapi
tambahan memberikan efek
yang tidak berbeda jauh
dengan pasien yang diberikan
obat non-steroid
34
Kasus Teori
Pemberian metamizole pada Metamizole merupakan obat
kasus ini seharusnya 90 mg dalam golongan antiinflamsi non-steroid
sekali pemberian. yang memiliki efek untuk
meredakan nyeri dan demam.
Dosis pemberian metamizole bagi
anak-anak adalah 10 – 15
mg/kgBB

35
Kesimpulan
Telah dilaporkan satu laporan kasus, anak laki-laki berusia 9 bulan
dengan diagnosis pneumonia. Tatalaksana oksigen nasal kanul 2
lpm, Infus D5 ¼ NS 500 cc/24 jam, IV ampisilin 3x300 mg, IV
gentamicin 1x50 mg, Dexametazone 1x5mg, Metamizole 3x100
mg, nebul combiven 1/3 respul dan NacL 0,9% 3cc/8 jam.
Prognosis pasien dengan pneumonia yaitu dubia ad bonam apabila
ditangani dengan pemberian obat antibotik yang tepat dan
adekuat.

36
Daftar Pustaka
1. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Dkk. Pedoman Pelayanan Medis. I. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia; 2009. 1-322 p.
2. Anwar A, Dharmayanti I, Teknologi P, Kesehatan I, Badan M, Kesehatan P. Pneumonia pada Anak
Balita di Indonesia Pneumonia among Children Under Five Years of Age in Indonesia. 2013;(29):359–
65.
3. Hardhana B, Budiono CS, Kurniasih N, Manullang E V, Susanti MI, Pangribowo S, et al. Data dan
Informasi, Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017. 1-168 p.
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Respirologi Anak. 1st ed. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia; 2015. 350-365 p.
5. Marcdante KJ. Nelson. Ilmu kesehatan anak esensial. 6th ed. Jakarta: Elsevier; 2014. 527-534 p.
6. World Health Organiztion Indonesia. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. I. Jakarta: World
Health Organiztion Indonesia; 2009. 86-93 p.
7. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. PEDOMAN TATALAKSANA PNEUMONIA BALITA. I. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2015. 1-105 p.
8. Staf Pengajar Ilmu kesehatan Anak FK UI. Ilmu Kesehatan Anak. 3rd ed. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FK UI; 2007. 1228-1233 p.
9. Shann F. Drug Doses. 7th ed. Australia: Department of Pediatrics University of Melbourne; 2017. 1-
118 p.
10.Darmadi MA, Singh G, Darmadi MA. Efektivitas Kortikosteroid sebagai Terapi Adjuvan pada
Pneumonia Komunitas Berat : Laporan Kasus Berbasis Bukti. Indones J Chest Crit Care Med.
2017;4(1):1–12.
11.Ardyati S, Kurniawan NU, Darmawan E. Pengaruh Pemberian Steroid sebagai Terapi Tambahan
terhadap Rata-Rata Lama Pasien Dirawat di Rumah Sakit dan Tanda Klinis pada Anak dengan
Pneumonia. J Farm Klin Indones. 2017;6(3):1–9.
37
THANK
YOU 
38