Anda di halaman 1dari 50

MATERI SOAL

PEMBAHASAN BREAFING
UKOM
BY:
IKATAN ALUMNI NERS UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURABAYA
(KANERSMAYA)
7 DIAGNOSA KEP JIWA
1. gangguan proses pikir (WAHAM)
2. resiko perilaku kekerasan.
3. halusinasi.
4. harga diri rendah.
5. resiko bunuh diri.
6. defisit perawatan diri
7. isolasi sosial.
ISOLASI SOSIAL
• Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan
kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain
tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 )
Data Subjektif :
• Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah
menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata “tidak “, “iya”, “tidak
tahu”.
Data Objektif :
• Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
• Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang
lain, misalnya pada saat makan.
• Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien
lain / perawat.
• Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
• Berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya.
• Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau
pergi jika diajak bercakap-cakap.
• Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah
tangga sehari-hari tidak dilakukan.
• Posisi janin pada saat tidur.
HARGA DIRI RENDAH
• harga diri rendah adalah suatu perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya kepercayaan diri, dan gagal
mencapai tujuan yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung, penurunan harga diri ini dapat
bersifat situasional maupun kronis atau menahun.
2. Tanda dan gejala

• Data subjektif:

a. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
b. Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-lebihan
c. Perasaan tidak mampu
d. Rasa bersalah
e. Sikap negatif pada diri sendiri
f. Sikap pesimis pada kehidupan
g. Keluhan sakit fisik
h. Pandangan hidup yang terpolarisasi
i. Menolak kemampuan diri sendiri
j. Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
k. Perasaan cemas dan takut
l. Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan balik positif
m. Mengungkapkan kegagalan pribadi
n. Ketidak mampuan menentukan tujuan
Data objektif:

a. Produktivitas menurun
b. Perilaku destruktif pada diri sendiri
c. Perilaku destruktif pada orang lain
d. Penyalahgunaan zat
e. Menarik diri dari hubungan sosial
f. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
g. Menunjukkan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan)
h. Tampak mudah tersinggung/mudah marah
WAHAM
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara
kuat terus-menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
(Budi Anna Keliat, 2006)
Data subyektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang
agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali
secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
Data obyektif
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga,
bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut,
kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan
/ realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung
.
PERILAKU KEKERASAN
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan
secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

• TANDA DAN GEJALA


• Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:
• 1. Fisik
• a. Muka merah dan tegang
• b. Mata melotot/ pandangan tajam
• c. Tangan mengepal
• d. Rahang mengatup
• e. Postur tubuh kaku
• f. Jalan mondar-mandir

• 2. Verbal
• a. Bicara kasar
• b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
• c. Mengancam secara verbal atau fisik
• d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
• e. Suara keras
• f. Ketus

• 3. Perilaku
• a. Melempar atau memukul benda/orang lain
• b. Menyerang orang lain
• c. Melukai diri sendiri/orang lain
• d. Merusak lingkungan
• e. Amuk/agresif
PROSES PENYEMBUHAN TULANG
• Tahap Inflamasi : berlangsung beberapa harTerjadi inflamasi,
pembengkakan dan nyeri.
• Tahap Proliferasi Sel :Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi,
terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk
jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast
• Tahap Pembentukan Kalus :Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran
tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah
terhubungkan.Perlu waktu tiga sampai empat minggu
• Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi) : embentukan kalus mulai mengalami
penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang, melalui proses
penulangan endokondral.
• Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling) :Tahap akhir perbaikan patah
tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke
susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-
bulan sampai bertahun – tahun
ETIK KEPERAWATAN
• Otonomi (Autonomi) prinsip otonomi didasarkan pada
keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
mampu membuat keputusan sendiri.
• Beneficence (Berbuat Baik) prinsip ini menentut perawat
untuk melakukan hal yan baik dengan begitu dapat
mencegah kesalahan atau kejahatan
• Justice (Keadilan)
• Non-maleficence (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak
menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien
• Veracity (Kejujuran)
• Fidelity (Menepati janji)
• Confidentiality (Kerahasiaan)
• Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas adalah standar
yang pasti bahwa tindakan seorang professional dapat
dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanda tekecuali
JENIS PATAH TULANG
Menurut tipe fraktur ada beberapa macam, diantaranya ;
• a. Fraktur spiral.
Garis patah tulang (fraktur) yang tidak ada & penyebab terjadinya fraktur
spiral biasanya karena jatuh terpelincir (memutar).
b. Fraktur Comminuted.
Terjadi patah tulang dimana tulang itu terbagi menjadi lebih dua bagian.
c. Fraktur Tranversal.
Biasanya terjadi karena benturan langsung /spontan. garis patah tulang
(fraktur) melintang memotong dari arah luar sampai menembuskan ke
dalam bagian tengah secara tegak lurus.
d. Fraktur Oblique.
Dima garis patah tulang (fraktur) itu melintang pada tulang tegak lurus
serta oblik.
e. Fraktur Greenstick.
Biasanya terjadi patah tulang (fraktur) pada tulang anak maupun bayi yang
masih bisa di bengkokkan.
TAKSIRAN KELAHIRAN
HPHT-nya pada bulan Januari, Februari dan Maret.
• Perkiraan Melahirkan/Taksiran Persalinan= (Tanggal + 7 hari),
(Bulan + 9), (Tahun + 0)

Jadi kalau HPHT-nya Tgl 5 Maret (bulan 3) 2017 maka,

Perkiraan Melahirkan= Tanggal 5 + 7, Bulan 3 + 9, Tahun 2017 + 0


Perkiraan Melahirkan= Tanggal 12 Bulan 12 Tahun 2017 atau 12
Desember 2017.
HPHT bulan April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober,
November atau Desember.
• Taksiran Persalinan= (Tanggal + 7), (Bulan – 3), (Tahun + 1)

Jadi misal, HPHT Tgl 11 April 2017 maka :

Taksiran Persalinan= Tanggal 11 + 7, Bulan 4 – 3, Tahun 2017 + 1


Taksiran Persalinan= Tanggal 18, Bulan 1, Tahun 2018 atau 18 Januari
2018.
CARA MENGHITUNG BERAT JANIN

(TFU – 11) X 155


GCS
KALA 1
Fase ini disebut juga kala pembukaan. Pada tahap ini terjadi
pematangan dan pembukaan mulut rahim hingga cukup untuk jalan
keluar janin.
Pada kala 1 terdapat dua fase yaitu :
1. Fase laten: pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung
sekitar delapan jam.
2. 2. Fase aktif: pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm),
berlangsung sekitar enam jam.

Pada tahap ini ibu akan merasakan kontraksi yang terjadi tiap 10 menit
selama 20-30 detik. Frekuensi kontraksi makin meningkat hingga 2-4
kali tiap 10 menit, dengan durasi 60-90 detik. Kontraksi terjadi
bersamaan dengan keluarnya darah, lendir, serta pecah ketuban secara
spontan. Cairan ketuban yang keluar sebelum pembukaan 5 cm kerap
dikatakan sebagai ketuban pecah dini.
KALA 2
• Pada fase ini janin mulai keluar dari dalam kandungan yang
membutuhkan waktu sekitar dua jam.
• Fase dimulai saat serviks sudah membuka selebar 10cm
hingga bayi lahir lengkap.
• Pada kala 2, ketuban sudah pecah atau baru pecah spontan,
dengan kontraksi yang lebih sering terjadi yaitu 3-4 kali tiap
10 menit.
• Refleks mengejan juga terjadi akibat rangsangan dari
bagian terbawah janin yang menekan anus dan rektum. T
• ambahan tenaga mengejan dan kontraksi otot-otot dinding
abdomen serta diafragma, membantu ibu mengeluarkan
bayi dari dalam rahim.
KALA 3
• Tahap ini disebut juga kala uri, yaitu saat
plasenta ikut keluar dari dalam rahim. Fase ini
dimulai saat bayi lahir lengkap dan diakhiri
keluarnya plasenta. Pada tahap ini biasanya
kontraksi bertambah kuat, namun frekuensi
dan aktivitas rahim terus menurun. Plasenta
bisa lepas spontan atau tetap menempel dan
membutuhkan bantuan tambahan.
KALA 4
• Tahap ini merupakan masa satu jam usai
persalinan yang bertujuan untuk
mengobservasi persalinan. Pada tahap ini
plasenta telah berhasil dikeluarkan dan tidak
boleh ada pendarahan dari vagina atau organ.
Luka-luka pada tubuh ibu harus dirawat
dengan baik dan tidak boleh ada gumpalan
darah.
LUKA BAKAR
• Berikut ini rumus Baxter untuk menghitung total
kebutuhan cairan pasien luka bakar:
• Kebutuhan cairan = 4 cc x BB (dalam Kg) x Luas
luka bakar (%) cc
• Tahapan pemberian cairan untuk pasien luka
bakar:
• 8 jam pertama diberikan setengah dari
kebutuhan cairan
• 16 jam berikutnya diberikan setengah sisa
kebutuhan cairan
TONUS OTOT
• Skala 0 = artinya otot tak mampu bergerak, misalnya jika tapak
tangan dan jari mempunyai skala 0 berarti tapak tangan dan jari
tetap aja ditempat walau sudah diperintahkan untuk bergerak.
• Skala 1 = jika otot ditekan masih terasa ada kontraksi atau
kekenyalan ini berarti otot masih belum atrofi atau belum layu.
• Skala 2 = dapat mengerakkan otot atau bagian yang lemah sesuai
perintah misalnya tapak tangan disuruh telungkup atau lurus
bengkok tapi jika ditahan sedikit saja sudah tak mampu bergerak
• Skala 3 = dapat menggerakkan otot dengan tahanan minimal
misalnya dapat menggerakkan tapak tangan dan jari
• Skala 4 = Dapat bergerak dan dapat melawan hambatan yang
ringan.
• Skala 5 = bebeas bergerak dan dapat melawan tahanan yang
setimpal
Fungsi keluarga
• Fungsi reproduksi.
Dalam keluarga, anak-anak merupakan wujud cinta kasih dan tanggung jawab suami-istri meneruskan
keturunannya.
• Fungsi proteksi (perlindungan)
Fungsi perlindungan sangat dibutuhkan anggota keluarga, terutama anak, sehingga anak akan merasa
aman hidup di tengah-tengah keluarganya.
• Fungsi sosialisasi
Keluarga berperan dalam membentuk kepribadian anak agar sesuai dengan harapan orang tua dan
masyarakatnya.
• Fungsi ekonomi
Keluarga, terutama orang tua, mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan ekonomi anak-anaknya. Pada
masyarakat tradisional, kewajiban ini dipikul oleh suami. Namun, pada masyarakat modern yang
menganggap peran laki-laki dengan wanita kian sejajar, suami dan istri memikul tanggung jawab ekonomi
yang sama terhadap anak-anak mereka.
• Fungsi afeksi
Dalam keluarga, diperlukan kehangatan, rasa kasih sayang, dan perhatian antaranggota keluarga yang
merupakan salah satu kebutuhan manusia.
• Fungsi pengawasan social
Setiap anggota keluarga, pada dasarnya, saling melakukan kontrol atau pengawasan karena mereka
memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga nama baik keluarga.
• Fungsi pemberian status
Melalui perkawinan, seorang akan mendapatkan status atau kedudukan yang baru di masyarakat, yaitu
sebagai suami atau istri. Secara otomatis, ia akan diperlakukan sebagai orang yang telah dewasa dan
mampu bertanggung jawab kepada diri, keluarga, anak-anak, dan masyarakatnya.
• Windshield Survey merupakan pengamatan
terhadap suatu wilayah untuk mendapatkan
gambaran umum situasi dan keadaan suatu
wilayah, yang didapat melalui wawancara dengan
penduduk setempat, tokoh masyarakat dan
observasi lingkungan.
• Literature review adalah uraian tentang teori,
temuan, dan bahan penelitian lainnya yang
diperoleh dari bahan acuan untuk dijadikan
landasan kegiatan penelitian untuk menyusun
kerangka pemikiran yang jelas dari perumusan
masalah yang ingin diteliti.
• Phantom pain adalah rasa sakit berkelanjutan
yang dirasakan oleh seseorang setelah amputasi,
padahal bagian tubuh tersebut sudah tidak lagi
ada.
• Nyeri Viseral diartikan sebagai nyeri yang berasal
dari organ dalam tubuh yang memiliki rongga,
seperti lambung, usus, kandung empedu,
pancreas, dan jantung. nyeri visceral tidak dapat
menunjukkan secara tepat letak nyeri.
• Nyeri Somatik. Adalah nyeri yang dipicu karena
adanya kerusakan pada jaringan yang terjadi
dibagian permukaan tubuh (soma), meliputi
jaringan muskulo-skeletal dan kulit atau deep
somatic, yaitu : ligamentum, tulang, otot dan
sendi.
SP ISOS
• SP1. Mengidentifikasi tanda gejala, penyebab,
akibat isos serta mendiskusikan keuntungan
memiliki teman dan kerugian tidak memiliki
teman.
• SP2. Menjelaskan dan melatih klien untk
berkenalan
• SP3. Menjelaskan dan melatih klien bercakap-
cakap saat melakukan kegiatan sehari-hari.
• SP4. Menjelaskan dan melatih klien berbicara
sosial seperti meminta sesuatu,berebelanja, dsb.
SP HDR
• SP1. Menjelaskan tanda gejala,proses
terjadinya, penyebab,akibat HDR dan
mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif
yang dimiliki klien.
• SP2. Membantu klien menilai kemampuan yang
dapat digunakan
• SP3. Membantu klien memilih kemampuan yang
akan dilatih
• SP4. Melatih kemampuan yang dipilih klien.
SP HALUSINASI
• SP1. Mendiskusikan dengan pasien isi, frekuensi,
waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, respon
terhadap halusinasi dan menjelaskan dan melatih
cara mengontrol halusinasi dengan menghardik.
• SP2. Menjelaskan dan melatih klien minum obat
dengan prinsip 6 benar, manfaat minum obat dan
kerugian bila tidak minum obat.
• SP3. Menjelaskan dan melatih klien mengontrol
halusinasi dengan bercakap-cakap
• Sp4. Menjelaskan dan melatih klien mengontrol
halusinasi dengan aktifitas terjadwal.
SP WAHAM
• SP1. Menjelaskan tanda gejala,penyebab,akibat
waham serta melatih orientasi realita.
• SP2. Menjelaskan dan melatih klien minum obat
dengan prinsip 6 benar, manfaat minum obat
dan kerugian bila tidak minum obat.
• SP3. Menjelaskan dan melatih cara pemenuhan
kebutuhan dasar.
• SP4. Menjelaskan dan melatih kemampuan postif
yang dimiliki klien.
SP perilaku kekerasan
• SP1. Mengidentifikasi tanda gejala, penyebab,
akibat perilaku kekerasan serta melatih latihan
tarik nafas dalam dan pukul kasur dan bantal
• SP2. Menjelaskan dan melatih klien minum
obat dengan prinsip 6 benar, manfaat minum
obat dan kerugian bila tidak minum obat.
• SP3. Menjelaskan dan melatih klien dengan
cara verbal/bicara baik-baik.
• SP4. Menjelaskan dan melatih klien dengan
cara spiritual.
SP defisit perawatan diri
• SP1. Menjelaskan tanda dan
gejala,penyebab,akibat DPD serta melatih klien
merawat diri:mandi
• SP2. Menjelaskan dan melatih klien cara
perawatan kebersihan diri : berhias
• SP3. Menjelaskan dan melatih klien cara
perawatan diri :makan dan minum
• SP4. Menjelaskan dan melatih klien cara
perawatan diri : BAK/BAB
SP jiwa untuk Resiko bunuh diri
• SP1. Mengidentifikasi beratnya masalah RBD :
isyarat,ancaman atau percobaan.(bila percobaan segera
dirujuk) serta mengidentifikasi benda-benda berbahaya
dan mengamankannya.
• SP2. Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan
bunuh diri : buat daftar aspek positif diri sendriri,
keluarga, lingkungan dan latihan afirmasi(berfikir positif)
yang dimiliki diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
• SP3. Mendiskusikan harapan masa depan dan cara
mencapai harapan dan masa depan. Melatih cara-cara
mencapai harapan dan masa depan secara bertahap.
• SP4. Melatih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan
• Extended family : Keluarga besar
• Nuclear family : keluarga inti
• Furosemide : obat untuk mengurangi cairan
berlebih dalam tubuh (edema) yang
disebabkan oleh kondisi seperti gagal jantung,
penyakit hati, dan ginjal. Efeknya peningkatan
output urin.
• terapi okupasi : menggunakan aktivitas
sebagai media terapi. Misalnya membuat
kerajinan, dll.
JENIS LUKA :
1. Vulnus Laceratum (Laserasi/Robek) : Jenis luka ini disebabkan oleh
karena benturan dengan benda tumpul, dengan ciri luka tepi luka tidak
rata dan perdarahan sedikit luka dan meningkatkan resiko infeksi.
2. Vulnus Excoriasi (Luka Lecet) : Penyebab luka karena kecelakaan atau
jatuh yang menyebabkan lecet pada permukaan kulit merupakan luka
terbuka tetapi yang terkena hanya daerah kulit.
3. Vulnus Punctum (Luka Tusuk) : Penyebab adalah benda runcing tajam
atau sesuatu yang masuk ke dalam kulit, merupakan luka terbuka dari
luar tampak kecil tapi didalam mungkin rusak berat, jika yang mengenai
abdomen/thorax disebut vulnus penetrosum(luka tembus).
4. Vulnus Contussum (Luka Kontusio) : Penyebab: benturan benda yang
keras. Luka ini merupakan luka tertutup, akibat dari kerusakan pada soft
tissue dan ruptur pada pembuluh darah menyebabkan nyeri dan
berdarah (hematoma) bila kecil maka akan diserap oleh jaringan di
sekitarya jika organ dalam terbentur dapat menyebabkan akibat yang
serius.
5. Vulnus Scissum/Insivum (Luka Sayat) : Penyebab dari luka jenis ini
adalah sayatan benda tajam atau jarum merupakan luka terbuka akibat
dari terapi untuk dilakukan tindakan invasif, tepi luka tajam dan licin.
• 6.Vulnus Schlopetorum (Lika Tembak) : Penyebabnya adalah tembakan,
granat. Pada pinggiran luka tampak kehitam-hitaman, bisa tidak teratur
kadang ditemukan corpus alienum.
• 7.Vulnus Morsum (Luka Gigitan) : Penyebab adalah gigitan binatang atau
manusia, kemungkinan infeksi besar bentuk luka tergantung dari bentuk
gigi.
• 8.Vulnus Perforatum (Luka Tembus) : Luka jenis ini merupakan luka
tembus atau luka jebol. Penyebab oleh karena panah, tombak atau proses
infeksi yang meluas hingga melewati selaput serosa/epithel organ
jaringan.
• 9. Vulnus Amputatum (Luka Terpotong) : Luka potong, pancung dengan
penyebab benda tajam ukuran besar/berat, gergaji. Luka membentuk
lingkaran sesuai dengan organ yang dipotong. Perdarahan hebat, resiko
infeksi tinggi, terdapat gejala pathom limb.
• 10. Vulnus Combustion (Luka Bakar) : Penyebab oleh karena thermis,
radiasi, elektrik ataupun kimia Jaringan kulit rusak dengan berbagai
derajat mulai dari lepuh (bula – carbonisasi/hangus). Sensasi nyeri dan
atau anesthesia.
• Refleks Babinski adalah tindakan refleks jari-jari kaki, yang
normal selama masa bayi tetapi abnormal setelah usia 12
sampai 18 bulan.
• Reflek Inkurvasi batang tubuh (gallant)Sentuhan pada punggung
bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul bergerak
ke arah sisi yang terstimulasi
• Reflex Glabela : Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara
2 alis mata) menyebabkan mata menutup dengan rapat
• Refleks Moro : Jika bayi dikagetkan oleh suara keras, gerakan
mendadak atau seperti memeluk bila ada rangsangan, cahaya
atau posisi secara mendadak, seluruhtubuhnya bereaksi dengan
gerakan kaget
• Reflek Rooting : Jika seseorang mengusapkan sesuatu di pipi
bayi, ia akan memutar kepala ke arah benda itu dan membuka
mulutnya. Refleks ini terus berlangsung selama bayi menyusu.
• Refleks mengisap (sucking)
Jenis permainan
• Onlooker play : anak hanya mengamati temannya yang sedang
bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam
permainan.
• Solitary play : anak tampak berada dalam kelompok permainan,
tetapi anak bermain sendiri, alat permainan beda.
• Parallel play : anak dapat menggunakan alat permainan yang
sama, tetapi antara satu anak dengan anak lainnya tidak terjadi
kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dengan anak
lain tidak ada sosialisasi satu sama lain (toodler).
• Associative play : Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi
antara satu anak dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi,
tidak ada pemimpin, dll. (main boneka, masak2an, robot2an)
• Cooperative play : terorganisir, ada yang mimpin, mengarahkan
(main sepak bola)
a. COMPOS MENTIS : Yaitu sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya
maupun terhadap lingkungannya. klien dapat menjawab pertanyaan
pemeriksa dengan baik.
b. APATIS : Keadaan di mana klien tampak segan dan acuk tak acuh
terhadap lingkungannya.
c. DELIRIUM Yaitu penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan
siklus tidur bangun yang terganggu. Klien tampak gaduh gelisah, kacau,
disorientasi dan meronta-ronta.
d. SOMNOLEN (Letergia, Obtundasi, Hipersomnia) Yaitu keadaan
mengantuk yang masih dapat pulih bila dirangsang, tetapi bila rangsang
berhenti, klien akan tertidur kembali.
e. SOPOR (Stupor) : Keadaan mengantuk yang dalam, Klien masih dapat
dibangunkan dengan rangsang yang kuat, misalnya rangsang nyeri, tetapi
klien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawaban
verbal yang baik.
f. SEMI-KOMA (koma ringan) : Yaitu penurunan kesadaran yang tidak
memberikan respons terhadap rangsang verbal, dan tidak dapat
dibangunkan sama sekali, tetapi refleks (kornea, pupil) masih baik.
Respons terhadap rangsang nyeri tidak adekuat.
g. KOMA : Yaitu penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada gerakan
spontan dan tidak ada respons terhadap rangsang nyeri.
TINGKAT KETERGANTUNGAN PASIEN
• Kategori Perawatan mandiri/self care : Kegiatan
sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan
secara umum baik, tidak ada reaksi emosional, pasien
memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian
shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan
sederhana.
• Kategori Perawatan sedang/partial/intermediate care
: Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu,
mengatur posisi waktu makan, memberi dorongan
agar mau makan, eliminasi dan kebutuhan diri juga
dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar mandi.
• Kategori Perawatan total/intensive care : Kebutuhan
sehari-hari tidak bisa dilakukan sendiri, semua
dibantu oleh perawat, penampilan sakit berat.