Anda di halaman 1dari 27

INTERAKSI ZAT DALAM

TOKSIKOLOGI
FINKA REZTYA SUTANTO, MKM
Interaksi Zat
Suatu kerja toksik pada umumnya merupakan hasil dari
sederetan proses mulai dari proses biokimia, fisika dan biologi
yang begitu kompleks

Fase Eksposisi

Fase Toksikokinetik

Fase Toksikodinamika
Fase Eksposisi
Meliputi : Paparan Bahan Kimia pada gas/uap, debu, kabut dan fume

Kombinasi Zat yang Membahayakan

Kombinasi zat yang membahayakan adalah kombinasi dari zat-zat yang hanya b
erbahaya jika diberikan bersama-sama.

Contoh :
1. Jika zat asam bersentuhan langsung dengan sianida akan terbentuk gas asa
m sianida yang sangat toksik (HCN)
2. Berbagai zat peroksida dapat menimbulkan ledakan kalau berkontak dengan
logam atau senyawa logan tertentu
3. Logam alkali, aluminium dan magnesium bubuk tidak boleh berkontak deng
an halogen dan karbontetraklorida (Bom Bali)

Oleh karena itu zat semacam ini harus disimpan secara terpisah, harus dibungku
s rapat dan diangkut secara terpisah pula.
Bahaya Kebakaran

1. Uap dan gas beracun dapat terbentuk saat kebakaran


2. Penggunaan air pada penanggulangan kebakaran mempun
yai masalah tersendiri. Berbagai zat kimia, bila bereaksi den
gan air membebaskan gas yang mudah terbakar (Misalnya l
ogam alkali natrium dan kalium, kalsium karbida).
3. Bila Aluminium klorida, fosfortriklorida dan fosfida terkena a
ir akan terurai dan membentuk gas beracun serta kalor dala
m jumlah besar sehingga berpotensi menyebabkan kebakar
an
4. Jika pada pembuatan kerangka kapal digunakan pembakar
asetilen, serta kapal dicat dengan zat warna yang mengand
ung timbal atau senyawa timbal, akan sangat berbahaya kal
au pekerjaan tersebut dilakukan dalam ruang tertutup.
Pembentukan Produk toksik dalam lingkungan

1. Kabut Fotokimia  Kabut terdiri dari zat yang terbent


uk karena interaksi nitrogen oksida dan hidrokarbon t
ertentu dengan oksigen, dibawah pengaruh sinar mat
ahari  Reaksi alami toksik

2. Senyawa raksa anorganik  Senyawa raksa organik (


Oleh bantuan mikroorganisme)  Metil & Dimetil rak
sa (II)  Bersifat lipofil (berkembang biak dalam lipid
/ lemak)  Biota Laut (Kerang, Ikan Anjing laut)
Adsorbensia dalam Filter

Penggunaan adsorbensia dalam filter (termasuk filter pada topeng


gas) juga dapat dilihat sebagai interaksi zat selama fase eksposisi.

Karena terdapat begitu banyaknya racun yang berbeda-beda, mak


a tidak dapat digunakan filter universal. Tergantung pada jenis ua
p atau gas racun yang mungkin terjadi, maka digunakan filter tert
entu yang ditandai dengan nomor atau warna tertentu.
Pembentukan produk toksik oleh kerja sistem biologik

1. Pembentukan asam sulfida yang toksik selama proses pembusukan

2. Penggunaan pupuk pada tanaman yang mengandung Nitrit dalam


jumlah yang besar.
Peningkatan Absorpsi racun oleh ikan

Contoh :
Deterjen  Ikan  Absorpsi racun oleh Insang ikan
semakin besar
Fase Toksikokinetik

Interaksi toksikokinetik akan menyebabkan naik atau turunnya kon


sentrasi zat dalam plasma atau menyebabkan bertambah lama ata
u bertambah singkat nya suatu obat / zat dalam organisme.

Zat kimia  Obat-obatan  Komponen bahan makanan termasuk


dalam bagian ini
Interaksi antara senyawa yang menginhibisi biotransformasi zat a
sing dengan zat toksik

Inhibisi  Pencegah / Penghambat


Biotransformasi  Perubahan atau modifikasi senyawa kimia oleh
enzim / sel mikrob

Inhibisi enzim yang berperan pada biotransformasi dapat menaikkan


kerja biologik suatu zat dan dengan demikian akan memperkuat efek
toksiknya karena sejumlah besar senyawa kimia yang masuk ke dalam
organisme , pada metabolisme nya diuraikan oleh beberapa enzim ya
ng sama, maka seringkali terjadi interaksi pada proses enzimatiknya.
Interaksi akibat reaksi pendesakan

Pendesakan zat toksik dari berbagai tempat ikatan, dapat


mengubah distribusi zat tersebut dalam jarigan, dan kerja
toksik akan meningkat atau pada keadaan tertentu juga d
apat turun.

Contoh :
Interaksi pada ikatan protein plasma  karena pendesaka
n suatu toksik dari tempat ikatannya pada protein plasma,
maka konsentrasinya dalam jaringan akan naik
Interaksi Kimiawi Langsung

Berbagai antidot (zat anti racun) bekerja dengan melakukan interaksi


dengan zat toksik yang ada dalam tubuh.
Jika pada keracunan secara oral digunakan emetika (obat mual) atau l
aksansia (obat pencahar) misalnya magnesium atau natrium sulfat, ma
ka interaksi terjadi pada peralihan dari fase ekposisi ke fase farmakoki
netik.

Contoh :
Perubahan asam sianida menjadi asam rodanida dengan pemberian ti
osulfat, atau menciptakan terjadinya methehemoglobinemia secara se
ngaja dengan nitrit pada keracunan HCN.
Cara mempengaruhi laju ekskresi

Pada ekskresi juga dapat terjadi interaksi dan interaksi ini akan menyebab
kan perubahan laju ekskresi.
Zat pengasam atau pembasa yang mengubah pH urine akan dapat mem
pengaruhi laju ekskresi asam atau basa lemah.
Pengaruh pada ekskresi ini terjadi pada transpor pasif, artinya pada absor
psi ulang zat bersangkutan dari urine melalui epitel tubulus masuk ke dal
am plasma.
Interaksi pada proses angkutan aktif, antara lain dalam ginjal, terjadinya ji
ka suatu zat mengusir zat lain dari sistem pengemban (carrier) yang berp
eran pada transpor aktif
Fase Toksikodinamik

Penggolongan interaksi toksikodinamik dari zat aktif biologi dapat dig


unakan untuk mengenal dan mengatasi persoalan yang timbul akibat
pemakaian kombinasi beberapa zat. Pada kombinasi dua zat dapat ter
jadi kemungkinan berikut :

1. Kombinasi suatu zat aktif A dengan zat B yang tak aktif akan tetapi
dapat mengubah kerja zat A
2. Kombinasi dua zat yang keduanya aktif
Antagonisme
 Antagonisme Persaingan (Kompetitif)
 Agonis dan antagonis bekerja pada pusat aktif ya
ng sama dan reseptor yang sama.
 Antagonis mendesak agonis dari tempat kerjanya.
 Banyak antidot mendasarkan kerjanya pada antag
onisme ini
 Jenis antagonisme semacam ini terjadi antara :
o metabolit dan anti metabolit,
o vitamin dan anti vitamin,
o histamin dan anti histamin.
 Antagonisme Kimia
 Suatu bentuk antagonisme yang bereaksi seca
ra kimia dengan antagonis kemudian mengina
ktifkannya.

 Berguna pada penanganan keracunan


 Terjadi pada fase toksikokinetik
 Antagonisme non-kompetitif
 Antagonis mengganggu timbulnya efek oleh agonis
 Tanpa bereaksi sendiri dengan agonis ataupun reseptor spesi
fiknya
 Antagonis non-kompetitif bekerja pada salah satu tingkat rea
ksi biokimia atau biofisika yang ada setelah interaksi agonis

 reseptor  efek sesungguhnya


 Sejumlah antidot terutama yang digunakan untuk penangana
n simptomatik keracunan, bekerja sebagai antagonis non ko
mpetitif
Antagonisme Fungsi
 Jika efek suatu agonis diperlemah oleh efek berlawana
n dari agonis lain yang bekerja pada sistem sel yang s
ama tetapi pada reseptor yang berlainan
 Antagonisme Fisiologi
 Terjadi antagonisme antara dua agonis, tetapi agonis bek
erja pada sistem sel yang berbeda dan menimbulkan efek
berlawanan pada sistem sel ini sehingga efek yang diukur
merupakan hasil kedua efek tersebut.
Sinergisme
Sinergisme antara suatu toksik dengan zat yang menin
ggikan absorpsinya atau yang menghambat inaktivasi
biokimia atau ekskresinya

Sinergisme pada fase toksodinamik terutama sinergism


e zat karsinogenik dan mutagenik
EFEK ZAT TOKSIK
ABSORPSI
 Via Paru-Paru
 Faktor yang berpengaruh pada absorpsi bahan toksik
dalam sistem pernapasan adalah bentuk bahan misaln
ya gas, uap (ukuran partikel zat yang larut dalam lema

k dan air)
 Paru-paru dapat mengabsorpsi bahan toksikdalam juml
ah besar karena area permukaan yang luas dan aliran
darah yang cepat
 Via Kulit
 Bahan toksik paling banyak terabsorpsi melalui lapisan e
pidermis (lapisan terluar)
 Absorpsi bahan toksik tergantung pada kondisi kulit, keti
pisan kulit, kelarutannya dalam air dan liran darah pada
titik singgung.
 Efek bahan toksik antara lain pengikisan atau pertukaran
lemak pada kulit yang terekspos dengan bahan alkali at
au asam dan pengurangan pertahanan epidermis
 Via Saluran Pencernaan
 Dapat terjadi di sepanjang saluran pencernaan (gastroin
testinal)
 Faktor yang mempengaruhi terjadinya absorpsi adalah
sifat kimia dan fisik bahan tersebut serta karakteristikny
a seperti tingkat keasaman atau kebasaan
DISTRIBUSI

Bahan toksik didistribusikan ke seluruh tubuh melalui darah,


kelenjar getah bening, atau cairan tubuh yang lain.

Bahan toksik tersebut didistribusikan untuk :


 Disimpan dalam tubuh pada hati, tulang dan lemak
 Dikeluarkan melalui feses, urine, atau pernapasan
 Metabolisme dimana bentuk akhirnya lebih siap dikeluark
an
EKSKRESI
 Ekskresi Urine
Ginjal membuang toksik dari tubuh dengan mekanisme filtr
asi glomerulus, difusi tubuler dan sekresi tubuler

 Ekskresi Empedu
Terjadi di hati, senyawa yang polaritas nya tinggi (anion da
n kation), konjungat yang terikat pada protein plasma dan
senyawa yang memiliki berat molekul > 300 tidak dapat di
serap kembali ke dalam darah dan dikeluarkan lewat feses
 Ekskresi Paru-paru
Semua zat yang berbentuk gas pada suhu badan teruta
ma diekskresikan lewat paru-paru. Cairan yang mudah m
enguap juga dengan mudah keluar lewat ekspirasi. Ekskr
esi toksikan melalui paru-paru terjadi karena difusi seder
hana lewat membran sel.