Anda di halaman 1dari 18

PENDEKATAN POSITIF,

PERATAAN LABA , DAN


MANAJEMEN LABA

DISUSUN OLEH:

NIKO ANUGERAH PUTRA (115040132)


IPUNG PURNAMA ZAKARIYA (115040134)
NURAISAH (115040140)
MA’ARIFAH (115040155)
PENDEKATAN LABA

1. Paradigma informasi /
ekonomi • Paradigma informasi /
ekonomi mengambil
pandangannya melaui
berbagai disiplin
ilmu,termasuk teori
keputusan, teori
permainan, teori informasi
dan ekonomi
PENDEKATAN LABA

Paradigma ini 2. Paradigma agensi –


memandang perusahaan analitis
sebagai suatu “nexus
(penghubungan) kontrak”
dengan pernyataan yang
dikeluarkan oleh Jensen
dan Meckling bahwa
perusahaan adalah “cerita
fiksi legal yang berfungsi
sebagai nexus dari
serangkaian hubungan
kontrak antara para
individu.”
PENDEKATAN LABA
Tujuan utama
pendekatan akuntansi
positif adalah untuk 3. Teori akuntansi positif
menjelaskan,
memprediksi pilihan
standar oleh
manajemen dengan
mengalisis biaya dan
manfaat ungkapan
keuangan tertentu
dalam hubungannya
dengan berbagai
individu dan alokasi
sumber daya dalam
perekonomian
PENDEKATAN LABA

Pendekatan positif melihat 4. Evaluasi pendekatan


pada “mengapa” praktik positif
dan/atau teori
dikembangkan dengan cara
tertentu dalam rangka untuk
menjelaskan memprediksi
peristiwa akuntansi. Dengan
cara seperti itu, pendekatan
positif berusaha untuk
menentukan berbagai faktor
yang mungkin
mempengaruhi faktor-faktor
rasional dalam bidang
akuntansi.
HIPOTESIS PERATAAN
LABA

1. Hakikat perataan laba

Gordon menteorikan perataan laba sebagai berikut:


•Dalil 1 : Kriterium yang digunakan oleh manajemen
perusahaan dalam memilih di antara prinsip akuntansi
adalah maksimisasi utilitas atau kemakmurannya.

Dalil 2 : Utilitas sebuah manajemen meningkat bersama


dengan (1) keamanan kerjanya, (2) tingkat income dan
tingkat pertumbuhan income manajemen, dan (3)
besarya perusahaan dan tingkat pertumbuhan besamya
perusahaan.
Dalil 3 : pencapaian tujuan manajemen yang dinyatakan dalam
Proposisi 2 tergantung sebagian pada kepuasan pemegang saham
terhadap kinerja perusahaan; yaitu, jika hal-hal lain sama, semakin
bahagia pemegang saham, semakin tinggi keamanan, income, dan
sebagainya, dari manajemen

Dalil 4 : kepuasan pemegang saham terhadap sebuah


perusahaan meningkat bersama dengan rata-rata tingkat
pertumbuhan dalam income perusahaan (atau ratarata
tingkat return atas modaInya) dan stabilitas income-nya.
Proposisi ini siap untuk diverifikasi sebagaimana
Proposisi 2.
2. Motivasi Perataan

Dua alasan bagi manajemen untuk meratakan eamings


yang dilaporkan yaitu:

Argumen pertama didasarkan pada asumsi bahwa


sebuah arus eamings yang stabil merupakan
pendukung yang kapabel bagi sebuah tingkat dividen
yang lebih tinggi daripada sebuah arus eamings yang
lebih variabel, memiliki sebuah pengaruh
menguntungkan terhadap nilai saham perusahaan
karena turunnya risiko total perusahaan.

Argumen kedua untuk perataan adalah


kemampuan untuk mengatasi sifat siklis
eamings yang dilaporkan dan mengurangi
korelasi retum ekspektasian perusahaan
Dinila dengan retum portofolio pasar.
3. Obyek Perataan

Para peneliti memilih indikator laba bersih atau laba


per saham sebagai objek perataan karena keyakinan
bahwa perhatian jangka panjang manajemen adalah
terhadap laba bersih dan para pengguna laporan
keuangan biasanya melihat pada angka paling akhir,
baik laba maupun laba per saham.
4. Dimensi Perataan

• Dimensi-dimensi perataan pada dasarnya merupakan cara


untuk mencapai perataan angka laba. Dascher dan Malcolm
membedakan menjadi dua:
1. perataan riil
2. perataan artifisial
5. Variabel Perataan
• Alat atau instrumen perataan adalah variabel-variabel yang
digunakan untuk meratakan indikator kinerja yang dipilih.
Copeland menguraikan lima kondisi yang diperlukan untuk suatu
1.instrumen
Sekali digunakan, instrumen
pertaan sebagai tersebut tidak harus membuat
berikut:
perusahaan memiliki komitmen untuk melakukan tindkaan
tertentu apa pun di masa depan.
2. Intrumen perataan harus didasarkan pada penerapan
pertimbangan profesional dan diperkirakan dalam wilayah
“Prinsip-Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum”
3. Instrumen perataan harus mengarah pada pergerakan yang
material secara relatif terhadap perbedaan pendapatan dari
tahun ke tahun.
4. Instrumen perataan tidak memerlukan suatu transaksi riil dengan
pihak kedua, tetapi hanya suatu reklasifikasi atau saldo akun
internal.
5. Instrumen perataan harus digunakan, secara sendirian atau
bersama-sama dengan praktik lainnya, selama suatu periode
waktu tertentu.
MANAJEMEN
LABA
Manajemen laba
sebagai manajemen
akrual

Pada dasarnya, definisi operasional dari


manajemen laba adalah potensi penggunaan
manajemen akrual dengan tujuan
memperoleh keuntungan pribadi.
Kesalahan penetapan harga
atas akrual pilihan

Persistensi kinerja laba ternyata bergantung pada besaran


relatif dari kas dan komponen akrual dari laba. Akan tetapi,
harga saham bertindak seakan-akan para investor gagal
dalam mengidentifikasi secara benar sifat-sifat yang
berbeda dari dua komponen laba. Pasar dengan salah
menilai terlalu tinggi penentuan komponen arus kas dari
akrual laba sekaligus pula menilai terlalu rendah
persistensi dari komponen arus kas. Akrual juga
menunjukkan serangkaian hubungan negatif atau
kecenderungan reversi rata-rata. Hasil akhirnya adalah
bahwa pasar merespon seakan-akan terkejut pada saat
pembalikan laba yang sepertinya dapat diramalkan terjadi
di tahun berikutnya.
Isu-isu dalam manajemen laba

1. Adalah sangat mudah untuk menduga bahwa


manajemen laba bertujuan untuk memenuhi harapan
dari analisis keuangan atau manajemen
2. Terdapat alasan yang baik untuk memiliki kecurigaan
3. Manajemen laba berakhir dan dapat bertahan karena
informasi yang simetris,
4. Manajemen laba terjadi dalam konteks suatu kumpulan
pelaporan yang fleksibel dan seperangkat kontrak
tertentu yang menentukan pembagian aturan di antara
pemegang kepentingan.
5. Permainan laba
6. Manajemen laba merupakan suatu hasil usaha untuk
melewati ambang batas.
7. Manajemen laba dapat berasal dari hasil pemenuhan
perjanjian dari kontrak kompensasi implisit.
8. Manajemen laba tumbuh dari ancaman dua bentuk aturan:
aturan industri yang spesifik dan aturan antitrust.
9. Penilaian perusahaan secara umum diasumsikan menjadi
salah satu sasaran manajemen laba.
10.Laba negatif secara tibak-tiba umumnya lebih merugikan
daripada revisi ramalan negatif.
STATUS AKUNTANSI YANG
BERSIFAT PARADIGMA

1. Evolusi atau revolusi di dalam


akuntansi?

2. Akuntansi: suatu ilmu yang


multiparadigma
KESIMPULAN

• Pendekatan positif dalam akuntansi adalah untuk menjelaskan


dan meramalkan pilihan standar manajemen melalui analisis
atas biaya dan manfaat dari pengungkapan keuangan tertantu
dalam hubungannya dengan berbagai individu dan
pengalokasian sumber daya ekonomi.
• Perataan laba dapat dipandang sebagai proses normalisasi
laba yang disengaja guna meraih suatu tren ataupun tingkat
yang diinginkan.
• Manajemen laba adalah potensi penggunaan manajemen
akrual dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi.
TERIMA KASIH 

Anda mungkin juga menyukai