Anda di halaman 1dari 22

Studi Kasus

When Everything Isn’t Half Enough


by Suzy Wetlaufer
“Norman gazed out his window again and felt a strange mix of
defiance and sadness. I’m 48 years old, he told himself, and
I’ve finally earned the right to say what I’m really thinking
and to act the way I‘m really feeling. I’ve finally earned the
right not to answer every voice mail message, show up at
every meeting, or remember every little detail about
everyone’s little life. I don’t have to prove myself anymore. In
fact, I don’t even have to come into the office anymore. But I
don’t know what else to do. I just keep doing the same things
I’ve always done—only now I do them without giving a damn. I
wish the world would just go away.”

 Walaupun kondisi perusahaan sangat stabil


dan terus sukses, Norman merasa kehilangan
semangat, hanya terjebak dalam rutinitas
yang menyita waktu dan perhatian.
 Norman sangat frustasi atas pekerjaannya.
“As for his family, Norman didn’t have to do anything else
for them either. There was nothing left to buy. They had
everything: the mansion in Pacific Heights, the yacht,
and just for the heck of it, the new “cottage” in
Nantucket. His 17-year-old daughter drove a BMW, his son
was taking flying lessons in his own small plane, and
recently his wife had found a new way to spend money: a
personal feng shui adviser to help her redecorate the
house—again.”

 Norman sibuk dengan pekerjaannya, dan keluarganya merasa


Norman tidak memperhatikan mereka. Keluarga Norman
berkelimpahan harta, tetapi hubungan Norman dengan keluarga
nya “dingin” dan tidak kondusif. Komunikasi dengan istri dan
anak-anaknya tidak berjalan baik. Dalam perspektif Norman, ia
telah berjuang selama 22 tahun bekerja sangat keras untuk bisa
membahagiakan keluarganya.
 Akhir-akhir ini, Norman mulai mencari informasi tentang adik
perempuannya yang hilang. Namun di saat yang sama, anehnya
ia juga mencari tahu bagaimana orang-orang tersebut bisa pergi
menghilang tanpa diketahui kerabatnya.
 Masalah hidup Norman disebabkan kurangnya
“kesadaran/pengetahuan akan diri” (lack of self-
knowledge)
 Dalam persepsi Norman, ia menghabiskan dua dekade
membunuh dirinya sendiri untuk memberikan keluarganya
segalanya, walaupun terdengar heroik tetapi menyedihkan,
 Orang seperti Norman selalu merasa tidak terpuaskan
dalam menaklukan tantangan, sampai akhirnya Norman
terus-menerus menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.
 Sedangkan salah satu hal tersulit dalam sebuah
kesuksesan, adalah sebuah resiko kehilangan penilaian
yang benar akan sesuatu. Dalam menaklukan tantangan
pekerjaan, seseorang perlahan kehilangan hubungan
emosional dengan segala hal yang tidak berkaitan langsung
dengan pekerjaannya.
 Norman terlalu berfokus pada hal-hal yang
materiil, karena itu dalam persepsi Norman
ia merasa kecewa keluarga nya tidak
menghargai smua yang ia berikan pada
mereka.
 Masa lalu Norman yang miskin, di bawah
alam sadar membentuk sindrom merasa tidak
pernah cukup. Oleh karena itu Norman terus
menaklukan tantangan pekerjaan.
 Namun saat perusahaan sudah berjalan
sukses tanpa perlu kerjakerasnya, ia
kehilangan tantangan
 Sedangkan keluarganya merasa gagal untuk
mendapatkan perhatian Norman.
 Norman terjebak dalam Faust Syndrome, saat
sudah mencapai sukses kemudian
mempertanyakan kembali apakah semua
yang telah dicapai benar-benar berarti dalam
hidupnya.
 Norman mengalami masalah krisis paruh baya
dimana ia merasa tidak nyaman dengan
dirinya sendiri, kehilangan energi, fokus,
ataupun ketertarikan terhadap hal-hal baik
di sekitar nya (dalam clinical parlance
disebut quasi-anhedonia).
When Everything Isn’t Half Enough
by Suzy Wetlaufer
 Norman seorang pengusaha sukses berusia 48
tahun. Bisnis utama Arrowhead Capital
Management, sebuah perusahaan yang sukses
dan terus menanjak. Norman sebagai pemilik,
presiden dan CEO.
“The first was from Tim Carson, chief trader at Arrowhead
Capital Management, the San Francisco investment firm that
Norman had founded and where he was owner, president, and
CEO. After 22 years in business, Arrowhead had about $25 billion
in assets under management and was well known on Wall Street
as a top-notch boutique firm, specializing in the quantitative
analysis of small and midcap technology stocks. Over the years,
Norman had put together one of the best teams of “quant jocks”
in the business. But that wasn’t the only reason Arrowhead had
soared, and he knew it. The new economy was the rising tide
that lifted all ships.”
 Norman memiliki keluarga dengan kondisi
finansial yang sangat berkelimpahan.
Menikah dengan Nancy, dan memiliki dua
orang anak: Juli 17 tahun dan Danny 13
tahun.
“As for his family, Norman didn’t have to do anything else for
them either. There was nothing left to buy. They had
everything: the mansion in Pacific Heights, the yacht, and
just for the heck of it, the new “cottage” in Nantucket. His
17-year-old daughter drove a BMW, his son was taking flying
lessons in his own small plane, and recently his wife had
found a new way to spend money: a personal feng shui
adviser to help her redecorate the house—again.”
 Norman berasal dari keluarga miskin, dengan masa lalu
yang kelam
 Ayahnya, Tom Spencer, seorang alkoholik, meninggal
karena kecelakaan saat pulang dari bar, saat Norman masih
7 tahun.
 Ibunya, Carolyn, tidak memiliki pekerjaan, sangat miskin
dan despresi.
 Samantha, adiknya, kabur dari rumah saat 14 tahun.
“Tom Spencer, Norman’s father, had been a schoolteacher, and a
good one at that. He’d also been an alcoholic. When Norman was
five years old, his father was fired from a middle school in a
suburb of Chicago. Two years after that, he was killed in an early-
morning car accident as he was driving home from a bar. Carolyn
Spencer packed up Norman and his sister and took them to her
parents’ home in Austin. The family settled into two cramped
rooms above the garage, and Carolyn went on welfare to squeak
by.”
 Norman tidak berprestasi di sekolah dan
hidup dalam kesulitan sampai bertemu Nancy
Rogers.
 Nancy Rogers anak dari Jack Rogers,
pengusaha minyak yang sukses. Kemudian
menyokong kehidupan Norman.
“But when Norman was a junior in high school, a miracle
occurred, or at least it seemed that way to him. For reasons
he could never understand, another junior, Nancy Rogers, fell
in love with him. She was smart, kind, pretty, and, most
astonishing to Norman, she was rich—the only daughter of a
self-made oil millionaire, Jack Rogers, a classic Texan
character as outspoken as he was revered by everyone in his
huge extended family of relatives, friends, and even
employees.”
 Dengan bantuan Jack Rogers, Norman menempuh kuliah di
Yale University, kemudian melanjutkan program bisnis di
Wharton.
 Awalnya Norman bekerja di perusahaan milik Jack Rogers.
 Kemudian memutuskan untuk membangun perusahaan
analisis saham Arrowhead. Dan Arrowhead sukses besar.
“With the help of the Rogers family, Norman landed at Yale,
where he graduated second in his class and married Nancy on the
same sunny May weekend. For two years after that, he worked
for Jack’s oil company, then returned north to attend business
school at Wharton. It was there that he fell in love with finance
and decided he would start his own company—one based on a
controversial, cutting-edge process for analyzing stocks. It was
completely quantitative, very hard to do well, but extremely
effective. The person who got the process right, Norman figured,
would make a fortune.”
When Everything Isn’t Half Enough
by Suzy Wetlaufer
 Menjalin hubungan kembali dengan : istrinya,
anak-anaknya, adiknya, dan masa lalunya,
dan tidak kalah penting dengan emosi
dirinya.
 Untuk depresi yang dialami Norman harus
menjalani psikoterapi intensif.
 Selanjutnya mulai mendelegasikan
pekerjaannya, menghabiskan waktu dengan
istrinya, mencari adiknya yang hilang.
 Yang terpenting mampu menjaga
keseimbangan hidup.
 Sebenarnya yang dibutuhkan adalah
pemenuhan kebutuhan emosional dan
spiritual, suatu hal yang Norman tidak
berikan pada keluarganya
 Mulai membatasi hidupnya, tidak lagi
menenggelamkan diri dalam pekerjaan
 Norman harus menetapkan hal apa yang paling
penting dalam hidupnya, dan menjadi sumber
kebahagiaannya.
 Menetapkan tujuan baru hidup dan tujuan jangka
panjang : restorasi keluarga, membangun kembali
keluarga yang hangat
 Norman harus meyakinkan Nancy untuk mendukung
perubahannya.
 Oleh karena Norman tidak memiliki figur ayah yang
baik, maka ia harus belajar untuk menjadi ayah
sekaligus mentor untuk anak-anaknya, dan
meyakinkan mereka bahwa mereka penting dalam
hidup Norman.
 Dalam karir, Norman harus membawa karirnya ke
arah yang baru. Misalnya melakukan pekerjaan untuk
pengabdian masyarakat
 Pepatah China mengatakan, kebahagiaan adalah
memiliki sesuatu yang dilakukan, seseorang untuk
dicintai, dan sesuatu untuk diharapkan.
 Norman tidak cukup memberikan cinta pada
keluarganya, ia harus menetapkan kembali prioritas
dalam hidupnya.
 Melakukan terapi keluarga dapat menjadi solusi,
untuk mengeratkan kembali kehangatan dalam
keluarganya.
 Juga untuk mengobati ingatan akan kehidupan kelam
di masa lalu yang tetap menghantui.
 Dalam karir, ia harus memikirkan kembali peran baru
dirinya dalam bisnis nya. Mungkin dengan menjadi
mentor untuk eksekutif muda yang selanjutnya akan
memimpin, dapat menjadi solusi.
When Everything Isn’t Half Enough
by Suzy Wetlaufer
 Menetapkan kembali prioritas hidup, dalam keluarga
dan karir.
 Jika seluruh usaha yang dilakukan adalah untuk
membahagiakan keluarga, maka Norman harus
mendelegasikan sebagian pekerjaannya untuk waktu
bersama keluarga
 Membangun kembali hubungan yang hangat dengan
keluarga. Memberikan bentuk perhatian emosional
dan spiritual yang dibutuhkan istri dan anak-anaknya.
 Menetapkan arah baru dalam karir. Melakukan
pekerjaan disektor non profit, pengabdian
masyarakat, dan menjadi mentor untuk para
eksekutif muda, bisa menjadi alternatif.
 Menemukan kembali adiknya (Samantha) yang hilang
kontak. Untuk dapat berkumpul kembali.