Anda di halaman 1dari 37

Kajian Kelembagaan Sanitasi

Perdesaan Padat Karya


Jakarta, 27 November 2018
1. Pendahuluan
Arahan Presiden pada Rapat Diperlukan intervensi pemerintah untuk meningkatkan
Terbatas akses terhadap infrastruktur dasar permukiman yang
Tanggal 18 Oktober 2017 dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat

Arahan Menteri Pekerjaan Lingkup kegiatan padat karya di Direktorat Jenderal Cipta
Umum dan Perumahan Rakyat Karya meliputi seluruh kegiatan pembangunan infrastruktur
pada rapat koordinasi permukiman berbasis masyarakat yang telah dilaksanakan
Tanggal 11 November 2017 selama ini baik di perdesaan maupun perkotaan

Ruang lingkup pembangunan infrastruktur permukiman berbasis masyarakat:


1. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Perdesaan Padat Karya
Surat Edaran Nomor:
2. Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS)
02/SE/DC/2018 Tentang
3. Sanitasi Perdesaan Padat Karya
Pedoman Teknis Pelaksanaan
4. Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS)
Kegiatan Padat Karya Direktorat
5. Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R)
Jenderal Cipta Karya
6. Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW)
7. Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Buku Pedoman Teknis Pelaksanaan Bagaimana Implementasi pelaksanaan Masukan ketentuan terkait
Sanitasi Perdesaan Padat Karya terkait Kelembagaannya (KPP)? kelembagaan (KPP)
Mengkaji Tersedianya
keberadaan masukan bagi
kelembagaan perbaikan
pengelola (KPP) pedoman

Tujuan
Maksud sanitasi kelembagaan
perdesaan padat kelompok
karya penerima
manfaat
program sanitasi
perdesaan padat
karya
2. Metodologi

Surat Edaran Nomor:


02/SE/DC/2018 Tentang
Kondisi Yang
Kajian Pustaka Pedoman Teknis Pelaksanaan
Diharapkan
Kegiatan Padat Karya Direktorat
Jenderal Cipta Karya

Pengumpulan Data/
Analisis
Informasi

Pengamatan
Observasi & Wawancara KPP dan KSM di Kab. Brebes
Lapangan
3. Gambaran Perbandingan Program Sanimas dan Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya

Sanimas Sanitasi Perdesaan Padat Karya


Pendekatan Pelaksanaannya menggunakan pendekatan Pelaksanaannya menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat
pemberdayaan masyarakat melalui: melalui:
• Mendorong Keberpihakan pada Masyarakat • Mendorong Keberpihakan pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Berpenghasilan Rendah (MBR) (MBR) Mendorong Keterlibatan Masyarakat
• Mendorong Keterlibatan Masyarakat • Mendorong Inisiatif Masyarakat dengan Iklim Keterbukaan
• Mendorong Inisiatif Masyarakat dengan Iklim • Meningkatkan Keswadayaan Masyarakat
Keterbukaan • Menguatkan Kapasitas Masyarakat
• Meningkatkan Keswadayaan Masyarakat
• Menguatkan Kapasitas Masyarakat
Kriteria Lokasi Kawasan Perkotaan atau Kawasan Semi Perkotaan Kawasan Perdesaan
1. Kepadatan Penduduk ≥ 150 Jiwa/hektar; 1. Desa yang memiliki angka gizi buruk (stunting) tinggi;
2. Berada di daerah rawan Sanitasi serta memiliki 2. Desa yang mayoritas penduduknya tidak memiliki mata pencaharian
kebutuhan untuk penanganan permasalahan sanitasi tetap;
sesuai dengan buku dokumen SSK; 3. Desa yang mayoritas penduduknya berada dibawah garis kemiskinan
3. Diutamakan bagi MBR; (MBR);
4. Cakupan pelayanan minimal 50 KK atau setara dengan 4. Termasuk desa tertinggal dan Desa berkembang;
+ 200 jiwa 5. Desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai Tenaga Kerja
5. Memiliki tingkat Partisipasi masyarakat yang tinggi Indonesia;
6. Masyarakat masih melakukan BABs (Buang Air Besar Sembarangan) /
tidak punya akses sanitasi;
7. Masyarakat yang belum memiliki tangki septik dan jamban yang layak;
dan
8. Ada Sumber Air yang dapat digunakan untuk penggelontoran.
Sanimas Sanitasi Perdesaan Padat Karya
Pembina Teknis Direktorat PPLP Direktorat PPLP
(Subdit Air Limbah) (Subdit Perencanaan Teknis)
Sumber Dana  APBN  APBN
Pembangunan  Dana Sharing APBD  APB Desa
 Dana Swadaya Masyarakat  Swadaya Masyarakat
Besaran Pendanaan APBN Rp400.000.000 s/d Rp500.000.000 Rp300.000.000 s/d RP350.000.000
setiap 1 (satu) titik lokasi Cakupan layanan minimal 50 KK
sasaran
Penggunaan Dana Membangun sarana sanitasi baru: Membangun sarana sanitasi baru:
 SPALD-T Skala Permukiman dengan sistem  Jamban Individu;
perpipaan untuk minimal 50 KK atau 200 Jiwa;  Cubluk kembar, tangki septik dengan bidang resapan, bio filter
 Sistem gabungan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dan dan unit pengelolaan air limbah fabrikasi yang sudah
sistem perpipaan sederhana minimal 25 SR dan tersertifikasi SNI;
MCK dengan 4 pintu kamar mandi  Kloset berikut aksesoris (pengadaan/rehabilitasi);
 Bilik jamban (pembangunan/rehabilitasi);
 Bak kontrol
 Kombinasi Jamban Individu dan Tangki Septik Komunal; (untuk
komunal 1 unit minimal melayani 5KK)
 TPS Individu; dan
 Kombinasi TPS Individu dan Komunal
Pelaksana pembangunan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan didampingi oleh Fasilitator
didampingi oleh Fasilitator Provinsi dan Tenaga Fasilitator Kabupaten dan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL)
Lapangan (TFL)
Penerima manfaat Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP)
(kelembgaan)
Sumber: Surat Edaran Nomor: 02/SE/DC/2018 Tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Kegiatan Padat Karya Direktorat Jenderal Cipta Karya, diolah
4. KPP Pada Program Sanimas dan Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya
Sanimas Sanitasi Perdesaan Padat Karya

Legalitas KPP Surat keputusan kepala lurah yang diketahui camat Surat keputusan kepala Desa yang diketahui camat

KPP harus berbadan hukum KPP harus berbadan hukum (Pada SE tersurat, tetapi pada buku
pedoman tidak ada)
Pengurus KPP Kepengurusan/ keanggotaan KPP diutamakan berasal dari calon Kepengurusan/keanggotaan KPP diutamakan berasal dari calon
pemanfaat dan minimal satu orang dari KSM pemanfaat dan minimal satu orang dari KSM
Tugas a. Merencanakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana; 1. Merencanakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana;
b. Mengumpulkan iuran, membuat perencanaan belanja, 2. Mengumpulkan iuran, membuat perencanaan belanja,
membukukan dan melaporkan secara rutin operasional dan membukukan dan melaporkan secara rutin operasional dan
pemeliharaan; pemeliharaan;
c. Mengoperasikan dan memelihara sarana fisik SANIMAS; 3. Mengoperasikan dan memelihara sarana sanitasi;
d. Mengontrol semua saluran perpipaan secara rutin; 4. Mengontrol semua saluran perpipaan secara rutin;
e. Mengembangkan mutu pelayanan dan jumlah sarana pengguna; 5. Mengembangkan mutu pelayanan dan jumlah sarana pengguna;
f. Melakukan kampanye PHBS. 6. Melakukan kampanye PHBS
• Dalam melaksanakan pengelolaan perlu menyusun Standard • Dalam melaksanakan pengelolaan perlu menyusun Standard
Operating Procedure (SOP) yang akan menjadi acuan. Selain SOP, Operating Procedure (SOP) yang akan menjadi acuan.
untuk operasional kegiatan juga diperlukan AD/ART. • SOP disusun oleh pengurus KPP bersama warga pemanfaat,
• SOP dan AD/ART ini disusun oleh pengurus KPP bersama warga dimusyawarahkan bersama dalam forum rembuk warga dan setelah
pemanfaat, dimusyawarahkan bersama dalam forum rembuk warga dicapai mufakat disahkan oleh kepala Desa
dan setelah dicapai mufakat disahkan oleh kepala desa/lurah.
Kepengurusan Seksi Usaha Dana Seksi Usaha Dana
Seksi Operasi dan Pemeliharaan Seksi Operasi dan Pemeliharaan
Seksi Penyuluhan dan Pemeliharaan Seksi Penyuluhan dan Pemeliharaan
Seksi Kesehatan Seksi Kesehatan
Perbedaan antara SE dengan buku pedoman, terkait ketentuan KPP harus berbadan hukum
5. Sebaran Lokasi dan Jumlah Pemanfaat Program Sanitasi Perdesaan Padat karya

A. Jumlah Penerima Manfaat (KK) Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya Per Provinsi

PAPUA 400
MALUKU 345
GORONTALO 384
SULAWESI TENGGARA 50
SULAWESI UTARA 50
KALIMANTAN BARAT 438
NUSA TENGGARA BARAT 564
BANTEN 56
JAWA TENGAH 1267
JAWA BARAT 543
LAMPUNG 434
BENGKULU 71
SUMATERA SELATAN 56
RIAU 534
SUMATERA BARAT 54
B. Jumlah Tanki Septik (Unit) Program Sanitasi Perdesaan C. Persentase Jenis Tanki Septik Program
Padat Karya Per Provinsi dan Per Jenis Sanitasi Perdesaan Padat Karya
0 2.76%
PAPUA 40

MALUKU 0
345
GORONTALO 12
358

SULAWESI TENGGARA 0
50
0 97.24%
SULAWESI UTARA 40

KALIMANTAN BARAT 17
357

NUSA TENGGARA BARAT 0


0
Tanki Septik Individual Tangki Septik Komunal
BANTEN 0
56

JAWA TENGAH 11
719 D. Persentase Tanki Septik Komunal
JAWA BARAT 47 1.72%
335

LAMPUNG 23 24.14%
369

BENGKULU 6
0

SUMATERA SELATAN 0
54
74.14%
RIAU 0
503

SUMATERA BARAT 0
54

komunal individual
2 KK 5 KK 10 KK
6. Gambaran KPP Eksisting Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya

1. Desa Janegara Kec. Jatibarang Kab Brebes Septiktank Individual


± 59 KK

Ketua KPP: Moh Maksun

Jamban

Ketua KSM:Khalimi
Sekretaris
Desa TFL Tanda Rumah
Penerima Manfaat
Informasi yang diperoleh di Desa Janegara, Kec Jatibarang

KSM Nama KSM: Janegara Sehat


Ketua KSM dijabat salah satu perangkat desa
Sarana Sanitasi Perdesaan Padat karya Jamban Individu seluruhnya
KPP Ketua, sekretaris, Seksi Usaha Dana, Seksi O&P dan Seksi Kesehatan
seluruhnya merupakan penerima manfaat, Pembentukan KPP di tetapkan
kepala desa
Operasional • Cara pemeliharaan diperoleh melalui arahan yang disampaikan pada saat
serah terima jamban kepada KPP, tanpa SOP
• Apabila ada masalah/kendala terkait sarana sanitasi yang terbangun,
penerima manfaat melaporkan kepada perangkat desa
• Iuran belum diterapkan, karena pengurus tidak memiliki kemampuan
pengelolaan uang. Selain itu warga lebih memilih memberikan bantuan
dalam bentuk makanan atau minuman dibandingkan Uang
• KPP tidak memiliki program kerja, pasca pembangunan Ketua KPP bersama
Ketua KSM secara swadaya, sesekali melakukan kunjungan ke rumah-
rumah warga yang menerima program sanitasi padat karya, tidak ada
pertemuan rutin
Program sejenis • Dinas Kesehatan, pembangunan menggunakan KSM yang ada dan tidak
dibentuk KPP
• Dana Desa, pembangunan tidak menggunakan KSM
Pemberdayaan Pasca Pembangunan Tim sanitarian puskesmas datang ke rumah-rumah
Tanda Rumah
± 60 KK
2. Desa Wanasari Kec. Wanasari Kab Brebes Penerima Manfaat

Ketua KPP: Nur Kholik TFL Ketua KSM: Hasanudin


Jamban

Septik tank Individual


Informasi yang diperoleh di Desa Wanasari, Kec Wanasari

KSM Nama KSM: Mulyasari


Ketua KSM dijabat oleh tokoh masyarakat
Sarana Sanitasi Perdesaan Padat karya Jamban Individu seluruhnya
KPP Ketua dan Bendahara merupakan penerima manfaat, tetapi Sekretaris bukan
berasal dari penerima manfaat karena alasan penerima manfaat tidak ada
yang memiliki kemampuan mengetik/komputer, Pembentukan KPP di tetapkan
kepala desa
Operasional • Cara pemeliharaan diperoleh melalui arahan yang disampaikan pada saat
serah terima jamban kepada KPP, tanpa SOP
• Apabila ada masalah/kendala terkait sarana sanitasi yang terbangun,
penerima manfaat melaporkan kepada Ketua KSM
• Iuran sudah berjalan 2 bulan sebesar Rp.2500 per bulan
• Memiliki catatan penerimaan iuran, sejauh ini belum berani memanfaatkan
iuran. Ketua KSM bersama Ketua KPP sesekali melakukan kunjungan ke
rumah-rumah warga yang menerima program sanitasi padat karya secara
swadaya
• KPP tidak memiliki program kerja, tidak ada pertemuan rutin
Program sejenis • Dinas Kesehatan, pembangunan menggunakan KSM selain Sanitasi
Perdesaan Padat Karya dan tidak dibentuk KPP
• Dana Desa, pembangunan tidak menggunakan KSM
Pemberdayaan Pasca Pembangunan Tidak ada
± 59 KK
3. Desa Grinting Kec. Bulakamba Kab Brebes

Ketua KSM: Suwiryo

Kepala Desa

Ketua KPP: Kiswondo

Septik tank
Individual

Jamban
Informasi yang diperoleh di Desa Grinting, Kec Bulakamba

KSM Nama KSM: Grinting Mas


Ketua KSM dijabat oleh Tokoh Masyarakat
Sarana Sanitasi Perdesaan Padat karya Jamban Individu dan 1 unit tangki septik komunal
KPP Ketua, Sekretaris dan Seksi Usaha dan dana merupakan penerima manfaat,
Pembentukan KPP di tetapkan kepala desa
Operasional • Cara pemeliharaan diperoleh melalui arahan yang disampaikan pada saat
serah terima jamban kepada KPP, tanpa SOP
• Apabila ada masalah/kendala terkait sarana sanitasi yang terbangun,
penerima manfaat melaporkan kepada Ketua KSM/ Desa
• Iuran belum diterapkan
• Ketua KSM bersama Ketua KPP sesekali melakukan kunjungan ke rumah-
rumah warga yang menerima program sanitasi padat karya
• KPP tidak memiliki program kerja, tidak ada pertemuan rutin
Program sejenis • Dinas Kesehatan, pembangunan menggunakan KSM selain Sanitasi
Perdesaan Padat Karya dan tidak dibentuk KPP
• Dana Desa, pembangunan tidak menggunakan KSM
Pemberdayaan Pasca Pembangunan Tidak ada
4. Desa Cigadung Kec. Bandarharjo Kab Brebes

Ketua KSM: Wanto

Septik tank Individual


Septik tank Komunal
(2 rumah, bersaudara)

Septik tank Komunal


(3 rumah, bersaudara)
Informasi yang diperoleh di Desa Cigadung, Kec Banjarharjo

KSM Nama KSM: Cigadung Sehat


Ketua KSM dijabat oleh Perangkat Desa
Sarana Sanitasi Perdesaan Padat karya Jamban Individu dan tangki septik komunal
Struktur KPP Ketua bukan berasal dari penerima manfaat (perangkat desa), Sekretaris dan
Seksi Usaha Dana merupakan penerima manfaat
Operasional • Cara pemeliharaan diperoleh melalui arahan yang disampaikan pada saat
serah terima jamban kepada KPP, tanpa SOP
• Apabila ada masalah/kendala terkait sarana sanitasi yang terbangun,
penerima manfaat melaporkan kepada Desa
• Iuran belum diterapkan
• Ketua KSM bersama Ketua KPP sesekali melakukan kunjungan ke rumah-
rumah warga yang menerima program sanitasi padat karya
• KPP tidak memiliki program kerja, tidak ada pertemuan rutin
Program sejenis • Dinas Kesehatan, pembangunan menggunakan KSM dan tidak dibentuk
KPP
• Dana Desa, pembangunan tidak menggunakan KSM
Pemberdayaan Pasca Pembangunan Tidak ada
Contoh SK Pembentukan KSM
Contoh SK Pembentukan KPP
1. Desa Janegara
2. Desa Wanasari
3. Desa Grinting
4. Desa Cigadung
5. Desa Glonggong
Gambaran Tingkat Pendidikan di wilayah yang dikunjungi

Pendidikan Yang Ditamatkan

Desa Tamat
Tidak Tamat
Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Diploma/
SD
Universitas
Janegara 392 1.780 733 591 49
Wanasari 2.781 1.774 220 122 18
Grinting 2.520 4.430 4.458 3.192 1.677
Cigadung 1.716 2.411 1.519 176 34

Cigadung

Grinting

Wanasari

Janegara

0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000
Tamat SMP dan diatasnya Tidak Tamat SD dan Tamat SD
7. Analisis Kajian Kelembagaan Sanitasi Perdesaan Padat Karya

Pembentuk Kelompok

kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk


Kedekatan
kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok

Faktor Pembentuk Kesamaan kepentingan atas


Kelompok Kesamaan sesuatu yang digunakan/
Kepentingan dimanfaatkan bersama atau
kesamaan tujuan
Kesamaan
Kesamaan
Keturunan

Kesamaan Nasip
Kepentingan Bersama
Jenis Prasarana & Sarana Pasca Pembangunan Keterangan
Pra Pembangunan Saat Pembangunan
(Pemanfaatan)
Jamban dan tanki septik
√ √ - Penerima manfaat tersebar
Individual
Jamban Individu dan Tanki Septik komunal digunakan
Tanki Septik Komunal bersama oleh penerima manfaat dengan
√ √ √
jumlah yang terbatas, dan umumnya
memiliki ikatan keluarga

Faktor Pembentuk Kelompok Pra Pembangunan Saat Pembangunan Pasca Pembangunan


Kedekatan Wilayah (desa) 1 desa 1 desa 1 desa
Fisik (bersebelahan/ tersebar tersebar tersebar
tetangga)
Kesamaan Kepentingan Sama-sama memiliki Sama-sama memiliki Tidak ada kepentingan
kepentingan mendapatkan kepentingan terbangunnya bersama atas prasarana
program sanitasi perdesaan prasarana sanitasi perdesaan terbangun, karena
padat karya program padat karya prasarana tidak digunakan
bersama  tanki septik
individual
Kewenangan Desa
2. Wilayah administratif kerja Bupati/ Walikota,
Kab/Kota terkait pelaksanaan Urusan Pemerintahan Umum

Kecamatan perangkat daerah kab/kota


1. Daerah otonom, terkait
pelaksanaan urusan konkuren

Koordinasi, pembinaan dan


pengawasan

Perangkat Kecamatan, dengan


tugas membantu/ melaksanakan Desa
sebagian tugas camat
Kewenangan Desa meliputi:
• kewenangan berdasarkan hak asal usul;
• kewenangan lokal berskala Desa;  bid pemerintahan desa, bid. Pemb.
Kelurahan desa, bid. Kemasy desa, pemberdayaan masy desa
• kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota; dan
• kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
Kepala Desa
Tugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan
masyarakat
Fungsi a) menyelenggarakan Pemerintahan Desa, seperti tata praja
Pemerintahan, penetapan peraturan di desa, pembinaan masalah
pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, melakukan
upaya perlindungan masyarakat, administrasi kependudukan, dan
penataan dan pengelolaan wilayah.
b) melaksanakan pembangunan, seperti pembangunan sarana
prasarana perdesaan, dan pembangunan bidang pendidikan,
kesehatan.
c) pembinaan kemasyarakatan, seperti pelaksanaan hak dan
kewajiban masyarakat, partisipasi masyarakat, sosial budaya
masyarakat, keagamaan, dan ketenagakerjaan.
d) pemberdayaan masyarakat, seperti tugas sosialisasi dan motivasi
masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup,
pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna.
e) menjaga hubungan kemitraan dengan lembaga masyarakat dan
lembaga lainnya
Kepala Urusan
Sekretaris Desa
Tugas membantu Kepala Desa dalam bidang administrasi Tugas membantu Sekretaris Desa dalam urusan pelayanan
pemerintahan administrasi pendukung pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan
Fungsi a) Melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tata naskah, Fungsi a) Kepala urusan tata usaha dan umum memiliki fungsi seperti
administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi. melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tata naskah,
b) Melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi, dan
perangkat desa, penyediaan prasarana perangkat desa dan penataan administrasi perangkat desa, penyediaan
kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian aset, prasarana perangkat desa dan kantor, penyiapan rapat,
inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum. pengadministrasian aset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan
c) Melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan pelayanan umum.
administrasi keuangan, administrasi sumber-sumber b) Kepala urusan keuangan memiliki fungsi seperti
pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan
keuangan, dan admnistrasi penghasilan Kepala Desa, administrasi keuangan, administrasi sumber-sumber
Perangkat Desa, BPD, dan lembaga pemerintahan desa pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi
lainnya. keuangan, dan admnistrasi penghasilan Kepala Desa,
d) Melaksanakan urusan perencanaan seperti menyusun Perangkat Desa, BPD, dan lembaga pemerintahan desa
rencana anggaran pendapatan dan belanja desa, lainnya.
menginventarisir data-data dalam rangka pembangunan, c) Kepala urusan perencanaan memiliki fungsi
melakukan monitoring dan evaluasi program, serta mengoordinasikan urusan perencanaan seperti menyusun
penyusunan laporan rencana anggaran pendapatan dan belanja desa,
menginventarisir data-data dalam rangka pembangunan,
melakukan monitoring dan evaluasi program, serta
penyusunan laporan
Kepala Seksi Kepala Kewilayahan
Tugas membantu Kepala Desa sebagai pelaksana tugas operasional Tugas membantu Kepala Desa dalam pelaksanaan tugasnya di
Fungsi a) Kepala seksi pemerintahan mempunyai fungsi melaksanakan wilayahnya
manajemen tata praja Pemerintahan, menyusun rancangan Fungsi a) Pembinaan ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya
regulasi desa, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan perlindungan masyarakat, mobilitas kependudukan, dan
ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya perlindungan penataan dan pengelolaan wilayah.
masyarakat, kependudukan, penataan dan pengelolaan wilayah, b) Mengawasi pelaksanaan pembangunan di wilayahnya.
serta pendataan dan pengelolaan Profil Desa. c) Melaksanakan pembinaan kemasyarakatan dalam
b) Kepala seksi kesejahteraan mempunyai fungsi melaksanakan meningkatkan kemampuan dan kesadaran masyarakat
pembangunan sarana prasarana perdesaan, pembangunan bidang dalam menjaga lingkungannya.
pendidikan, kesehatan, dan tugas sosialisasi serta motivasi d) Melakukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam
masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup, menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan
pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna. pembangunan
c) Kepala seksi pelayanan memiliki fungsi melaksanakan penyuluhan
dan motivasi terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban
masyarakat, meningkatkan upaya partisipasi masyarakat,
pelestarian nilai sosial budaya masyarakat, keagamaan, dan
ketenagakerjaan
Hasil Pengamatan
Hasil Pengamatan
Lokasi Kawasan Perdesaan Masyarakat perdesaan biasanya ciri masyarakatnya
memiliki hubungan kekerabatan yang tinggi
• Desa tertinggal dan berkembang • Tingkat pendidikan & pendapatan masyarakat
• Masyarakat dengan penghasilan rendah rendah
• Daerah gizi buruk • Desa Cigadung, kebutuhan air bersih masyarakat
harus membeli
Jenis Prasarana & Sarana Kedekatan Tempat Tinggal Pemanfaatan
• Jamban dan tanki septik Individual • Menyebar • Dimanfaatkan sendiri (1
rumah)
• Jamban Individu dan Tanki Septik Komunal, 1 unit • Bersebelahan • Dimanfaatkan bersama (2
melayani minimal 2 KK Lokasi prasarana berada rumah atau lebih yang
area/pekarangan rumah biasanya bersaudara)
penerima manfaat
Pemeliharaan/pemanfaatan • memastikan pipa ventilasi tidak tersumbat sama • Pengelolaan prasarana tidak rumit (cukup mudah
prasarana sampah atau benda lain yang dapat menimbulkan dilaksanakan oleh setiap penerima manfaat)
bau; • Tugas/ tanggungjawab pemeliharaan dapat
• menjaga agar sampah atau benda lain tidak dilaksanakan oleh masing-masing individu penerima
menyumbat toilet, saluran, dan tangki septik; manfaat
• menjaga agar bahan kimia berbahaya tidak masuk • Biaya penyedotan lumpur tinja sebaiknya menjadi
ke tangki septik yang dapat mengganggu proses beban Pemerintah Daerah mengingat karakteristik
biologis; lokasi merupakan wilayah tertinggal/ berkembang
• memantau kondisi lumpur dan scum di tangki dengan tingkat penghasilan masyarakat yang rendah
septik serta kondisi lahan resapan paling sedikit 2
– 3 tahun;
• menyedot lumpur tinja secara berkala
Hasil Pengamatan
Kelembagaan Legalitas Surat Keputusan Kepala Desa
Kepengurusan Bervariasi struktur kepengurusannya
• Ketua, Sekretaris, Bendahara dan anggota
• Ketua, Sekretaris dan Seksi Usaha Dana
• Ketua, sekretaris, Seksi Usaha Dana, Seksi O&P dan Seksi
Kesehatan
Operasional KPP Dokumen SOP • Tidak mengetahui apakah tersedia dokumen SOP
Rencana Kerja KPP • Tidak memiliki
Iuran Anggota • Belum semua desa, desa yang telah menerapkan iuran, ada
yang belum berani menggunakannya
Laporan Keuangan • Desa yang telah menarik iuran memiliki buku catatan
penerimaan iuran, desa yang belum menerapkan iuran belum
memiliki
Sosialisasi/ kampanye pola hidup bersih • Ketua KPP sesekali berkeliling memeriksa sarana dan
dan sehat prasarana, terutama saat ada monitoring dari pusat
Pemberdayaan/ pelatihan pasca Belum ada kegiatan pelatihan/pemberdayaan pasca
pembangunan pembangunan, tetapi membutuhkan terutama terkait
pengelolaan iuran
Peran KSM pasca Dapat difungsikan dalam rangka pembinaan masyarakat penerima
pembangunan dalam pemanfaatan prasarana, karena ketua KSM adalah tokoh
masyarakat/ perangkat desa memiliki pengaruh yang kuat di
masyarakat
Program sejenis di desa • Dinas Kesehatan • Dana Dinas Kesehatan, pembangunan dilakukan oleh KSM
tersebut • Dana Desa yang dibentuk pada program padat karya Kemenpupr, tetapi
KPP tidak dibentuk
• Dana Desa, pembangunan tidak menggunakan KSM
Kesimpulan:
1. Terdapat variasi pelaksanaan di lapangan terkait beberapa aspek kelembagaan (KPP) yang telah diatur dalam SE
Dirjen Pelaksanaan Padat Karya /Buku Pedoman Sanitasi Padat Karya, antar lain
Aspek Ketentuan Pada SE Dirjen Pelaksanaan Padat Darya dan Buku Kondisi Pelaksanan Di Lapangan
Pedoman Sanitasi Padat Karya
a. Pembentukan KPP Surat keputusan Kepala Desa yang diketahui camat Hanya SK Kepala Desa
KPP harus berbadan hukum Tidak ada yang berbadan hukum
b. Tugas Pokok KPP 1. Merencanakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana; • Penarikan iuran dari 4 desa yang
2. Mengumpulkan iuran, membuat perencanaan belanja, dikunjungi, hanya 1 desa yang
membukukan dan melaporkan secara rutin operasional dan menerapkan, tetapi KPP tidak
pemeliharaan; berani menggunakannya
3. Mengoperasikan dan memelihara sarana sanitasi; • Kegiatan pengurus KPP, sesekali
4. Mengontrol semua saluran perpipaan secara rutin; keliling mengontrol penerima
5. Mengembangkan mutu pelayanan dan jumlah sarana manfaat. Tidak memiliki rencana
pengguna; kegiatan/ rencana kerja
6. Melakukan kampanye PHBS • Tidak ada kegiatan pertemuan
rutin
• Dalam melaksanakan pengelolaan perlu menyusun Standard Pengurus KPP tidak mengetahui
Operating Procedure (SOP) yang akan menjadi acuan. ketentuan tersebut
• SOP disusun oleh pengurus KPP bersama warga pemanfaat,
dimusyawarahkan bersama dalam forum rembuk warga dan
setelah dicapai mufakat disahkan oleh kepala Desa
Aspek Ketentuan Pada SE Dirjen Pelaksanaan Padat Darya dan Buku Kondisi Pelaksanan Di Lapangan
Pedoman Sanitasi Padat Karya
c. Kepengurusan KPP • Seksi Usaha Dana Struktur kepengurusan bervariasi
• Seksi Operasi dan Pemeliharaan
• Seksi Penyuluhan dan Pemeliharaan
• Seksi Kesehatan

2. Sebagian besar pilihan jenis prasarana yang dibangun adalah jamban dengan tanki septik individual.

3. Ditemukan adanya perbedaan antara Surat Edaran dengan Buku Pedoman, pada SE terdapat ketentuan “KPP harus
berbadan hukum”, tetapi Buku Pedoman tidak.

4. KPP kegiatan Sanimas dan Sanitasi Padat Karya Perdesaan pada SE Dirjen DJCK tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan
Kegiatan Padat Karya DJCK / Buku Pedoman Teknis Pelaksanaan Sanitasi Perdesaan Padat Karya substansi isinya
hampir sama. Melihat dari jenis prasarana yang dibangun antara program Sanimas dan Sanitasi Padat Karya berbeda,
sebaiknya ada perbedaan ketentuan terkait KPP
5. Perangkat desa memiliki keterlibatan yang baik dalam program sanitasi, hal ini dapat diketahui mulai dari keterlibatan
dalam pemilihan penerima manfaat, adanya dana desa yang dialokasikan untuk membuat tanki septik serta
keterlibatan menjadi ketua KSM
Rekomendasi:
KPP Catatan
Alternatif 1 Dibentuk • KPP ditetapkan Kepala • Bersama penerima manfaat mengontrol jamban
Desa dan kondisi sekitar tanki septik secara berkala;
• Penyesuaian Struktur & • Menjadwalkan pertemuan berkala dengan
Tugas KPP penerima manfaat dalam rangka:
 Melakukan penyuluhan kepada penerima
manfaat agar menjaga sampah atau benda lain
tidak menyumbat toilet dan saluran serta
bahan berbahaya kimia tidak masuk ke dalam
tangki septik;
 Melakukan kampanye PHBS;
• Melakukan pengelolaan dana/ iuran anggota yang
diperoleh (misal: simpan pinjam, keuntungan
simpan pinjam digunakan untuk keperluan
penerima manfaat)
Alternatif 2 Tidak Dibentuk Pengembangan & • Ketua KSM diutamakan berasal dari perangkat
penguatan tugas KSM pasca desa,
pembangunan untuk • KSM pasca pembangunan diarahkan untuk dapat
mengontrol pemanfaatan mengelola kegiatan ekonomi produktif (KSM
jamban & tankiseptik oleh dibentuk tidak hanya berorientasi hanya untuk
penerima manfaat, program sanitasi perdesaan padat karya)
1. Pembentukan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) pada program sanitasi perdesaan padat karya:
a. KPP dapat dibentuk dan ditetapkan cukup melalui Surat Keputusan Kepala Desa, dengan kepengurusan KPP
dibebaskan. Minimal Ketua, bendahara dan anggota selurahnya penerima manfaat, serta penyederhanaan lingkup
tugasnya :
• Bersama Penerima Manfaat mengontrol jamban dan kondisi sekitar tanki septik secara berkala;
• Menjadwalkan pertemuan berkala dengan penerima manfaat dalam rangka:
 Melakukan penyuluhan kepada penerima manfaat agar menjaga sampah atau benda lain tidak
menyumbat toilet dan saluran serta bahan berbahaya kimia tidak masuk ke dalam tangki septik;
 Melakukan kampanye PHBS;
• Melakukan pengelolaan dana/ iuran anggota yang diperoleh (misal: simpan pinjam, keuntungan simpan
pinjam digunakan untuk keperluan penerima manfaat).
b. KPP dapat tidak dibentuk mengingat, prasarana tidak digunakan bersama, tersebarnya penerima manfaat.

2. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)


a. Penunjukan Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), sebaiknya diarahkan berasal dari perangkat desa (kepala
kewilayahan/ kepala dusun) agar tugas pemberdayaan masyarakat kepada penerima manfaat dapat langsung
melekat pada tugasnya selaku perangkat desa pada fase pasca pembangunan. Dimana salah satu kewenangan
desa adalah kegiatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat dan fungsi kepala kewilayahan/ kepada dusun,
antara lain melaksanakan pembinaan kemasyarakatan dalam meningkatkan kemampuan dan kesadaran
masyarakat dalam menjaga lingkungannya.
b. KSM difungsikan untuk kegiatan ekonomi produktif, pasca pembangunan (KSM dibentuk tidak hanya berorientasi
hanya untuk program sanitasi perdesaan padat karya).