Anda di halaman 1dari 24

Ni Putu Sri Wiadnyani (P07120216057)

Ni Putu Nita Ayu Sandra (P07120216058)


I Gede Agus Narayana (P07120216059)
Ni Ketut Ratri Purwani (P07120216060)
PENGERTIAN PEMBERDAYAAN

• MUNCULNYA ISTILAH PEMBERDAYAAN


(EMPOWERMENT) SEKITAR AKHIR PERIODE 1980-AN PADA
HAKIKATNYA DILATAR BELAKANGI OLEH ADANYA
KELOMPOK YANG TIDAK MEMILIKI DAYA (POWERLESS)
SEHINGGA MEREKA HARUS DIBERI KEKUATAN DARI
LUAR AGAR KEMBALI MAMPU MEMILIKI DAYA UNTUK
MENOLONG DIRINYA SENDIRI
DALAM PENGERTIAN LAINNYA DITEGASKAN OLEH
SHARDLOW (1998) DALAM ADI (2003),BAHWA PENGERTIAN
PEMBERDAYAAN PADA DASARNYA BERKAITAN DENGAN
BAGAIMANA INDIVIDU, KELOMPOK ATAU KOMUNITAS
BERUSAHA MENGONTROL KEHIDUPAN MEREKA SENDIRI
DAN MENGUSAHAKAN UNTUK MEMBENTUK MASA DEPAN
SESUAI DENGAN KEINGINAN MEREKA.
• PEMBERDAYAAN SEBAGAI KONSEP ALTERNATIF PEMBANGUNAN
MENEKANKAN PADA OTONOMI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
SUATU KELOMPOK MASYARAKAT YANG BERLANDASKAN PADA
SUMBER DAYA PRIBADI, PARTISIPASI, DEMOKRASI, DAN
PEMBELAJARAN SOSIAL MELALUI PENGALAMAN LANGSUNG
(SUMODININGRAT, 2007).
• MENURUT HIKMAT (2004) MIRIP DENGAN ALIRAN NEO-MARXISME,
FREUDIANISME, DAN SOSIOLOGI KRITIK YANG MENOLAK
INDUSTRIALISASI, KAPITALISME DAN TEKNOLOGI.DALAM PANDANGAN
DOKTRIN INI, KETIGA HAL TERSEBUT (INDUSTRIALISASI, KAPITALISME
DAN TEKNOLOGI) DIANGGAP DAPAT MEMATIKAN MANUSIA DAN
KEMANUSIAAN
• DALAM PERSPEKTIF POLITIS, IFE (2002) MENYATAKAN BAHWA
PEMBERDAYAAN BERHUBUNGAN DENGAN USAHA UNTUK MEMAHAMI
SIFAT POWER DALAM MASYARAKAT MODERN DAN DAPAT DIBAGI KE
DALAM EMPAT PERSPEKTIF : PLURALIS, ELIT, STRUKTURAL, DAN
POSTSTRUKTURAL.
• BERGABUNG DENGAN MEREKA DENGAN TUJUAN UNTUK
MERUBAH ATAU MEMPENGARUHI ELIT
• MENCOBA MELAKUKAN ALIANSI DENGAN ELIT UNTUK MENGEJAR
SATU ATAU BEBERAPA TUJUAN, DAN
• MENCOBA UNTUK MENGURANGI KEKUATAN ELIT MELALUI
PERUBAHAN FUNDAMENTAL.
• DALAM KONTEKS LAIN, SUMODININGRAT (2007) MEMANDANG BAHWA
KONSEP PEMBERDAYAAN MERUPAKAN HASIL INTERAKSI PADA TINGKAT
IDEOLOGIS MAUPUN PRAKSIS. PADA TINGKAT IDEOLOGIS,
PEMBERDAYAAN MERUPAKAN HASIL INTERAKSI ANTARA KONSEP
TOPDOWN DAN BOTTOM-UP, ANTARA GROWTH STRATEGY DAN PEOPLE
CENTERED STRATEGY. SEMENTARA PADA TINGKAT PRAKSIS,
PEMBERDAYAAN MERUPAKAN HASIL INTERAKSI YANG TERJADI LEWAT
PERTARUNGAN ANTAR OTONOMI.
KONTEKS PEMBERDAYAAN

ILMU SOSIAL CIVIL SOCIETY


HUMANISTIK MOVEMENT
• SECARA PARADIGMATIK MUNCULNYA KONSEP PEMBERDAYAAN BISA
DILACAK DARI PERLAWANAN ILMU-ILMU SOSIAL HUMANISTIK TERHADAP
POSITIVISME YANG SUDAH LAMA MENJADI IDEOLOGI HEGEMONIK DALAM
TRADISI ILMU-ILMU SOSIAL.
• POSITIVISME ADALAH SEBUAH ALIRAN DALAM TRADISI
KEILMUAN YANG HENDAK MEMBERSIHKAN PENGETAHUAN
DARI KEPENTINGAN DAN AWAL PENCAPAIAN CITA-CITA
UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN DEMI PENGETAHUAN,
YAITU TEORI YANG DIPISAHKAN DARI PRAKSIS KEHIDUPAN
MANUSIA.IA MENGANGGAP PENGETAHUAN MENGENAI
FAKTA OBYEKTIF SEBAGAI PENGETAHUAN YANG SAHIH.
ILMU, MENURUT POSITIVISME, HARUS NETRAL, BEBAS DARI
NILAI, BEBAS DARI KEPENTINGAN DAN LAIN-LAIN (A.
GIDDENS DAN V. KRAFT).
• GERAKAN SOSIAL (SOCIAL MOVEMENT) BUKANLAH FENOMENA BARU
BAIK DARI SISI WACANA MAUPUN PRAKSIS. GERAKAN SOSIAL LAMA
UMUMNYA BANYAK DIPENGARUHI OLEH TRADISI MARXISME, YANG
MENGAMBIL BENTUK GERAKAN SOSIAL BERBASIS KELAS, YAITU
PERJUANGAN KELAS BURUH DAN TANI SECARA MASSAL UNTUK MELAWAN
NEGARA MAUPUN KAUM KAPITALIS. MENURUT COHEN DAN ARATO,
GERAKAN SOSIAL LAMA INI MENGAMBIL PARADIGMA “MOBILISASI
SUMBERDAYA”.
• SEJAK TAHUN 1980-AN GERAKAN SOSIAL LAMA ITU MULAI KEHILANGAN
PENGARUH. GERAKAN SOSIAL BARU SEJAK 1980-AN TIDAK LAGI
BERBASIS KELAS, MELAINKAN MELINTASI BATASAN KELAS, ETNIS,
AGAMA, RAS, DAN LAIN-LAIN. GERAKAN SOSIAL BARU INILAH YANG
DISEBUT DENGAN CIVIL SOCIETY MOVEMENT YANG LEBIH DEMOKRATIS,
PLURALIS DAN INKLUSIF (COHEN DAN ARATO, DAVID KORTEN).
• MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT ADALAH UPAYA UNTUK MENINGKATKAN
HARKAT DAN MARTABAT LAPISAN MASYARAKAT BAWAH (GRASS ROOT),
AGAR MEREKA MAMPU BERUSAHA SENDIRI UNTUK MELEPASKAN DIRI
DARI PERANGKAP KEMISKINAN DAN KETERBELAKANGAN. INI BERARTI
BAHWA PEMBERDAYAAN ADALAH MEMAMPUKAN DAN MEMANDIRIKAN
MASYARAKAT.
• MENURUT PAYNE, PROSES PEMBERDAYAN PADA DASARNYA BERTUJUAN
UNTUK MEMBANTU MASYARAKAT MEMPEROLEH KEKUATAN DALAM
MEMUTUSKAN DAN MENENTUKAN TINDAKAN YANG AKAN DIAMBIL
DENGAN CARA MENGURANGI DAMPAK SOSIAL ATAU HAMBATAN PRIBADI.
• PEMBERDAYAAN PERSONAL MELALUI PEMBELAJARAN,
PENGETAHUAN, KEPERCAYAAN DIRI, DAN SKILL
• AKSI POSITIF YANG TERKAIT DENGAN KEMISKINAN, KESEHATAN, RAS,
GENDER, KETIDAKMAMPUAN/CACAT, SERTA ASPEKASPEK
DISKRIMINASI YANG MENENTANG STRUKTUR KEKUASAAN.
• ORGANISASI KOMUNITAS YANG MENYANGKUT KUALITAS DAN
KEEFEKTIFAN KELOMPOK KOMUNITAS SERTA HUBUNGAN MASING-
MASING KELOMPOK DAN DENGAN PIHAK LUAR.
• PARTISIPASI DAN KETERLIBATAN UNTUK MENUJU PERUBAHAN
KOMUNITAS KE ARAH YANG LEBIH BAIK.
• MENGACU PADA KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI ATAS, MAKA
TERDAPAT BERBAGAI RANAH KAJIAN YANG DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI ISU
PENELITIAN. RANAH KAJIAN INI DAPAT DITINJAU DARI DIMENSI-DIMENSI
YANG TERDAPAT DALAM PROSES PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ITU
SENDIRI.
• PEMBERDAYAAN PERSONAL YANG MELIPUTI PEMBELAJARAN SECARA
INDIVIDUAL, PENGETAHUAN, KEPERCAYAAN DIRI DAN SKILL.
• AKSI POSITIF MENCAKUP KEGIATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEMISKINAN, KESEHATAN, RAS, GENDER, KETIDAKMAMPUAN DAN
BERBAGAI ASPEK DISKRIMINASI STRUKTUR KEKUASAAN YANG
DOMINAN.
• ORGANISASI KEMASYARAKATAN, MENCAKUP JARAK, KUALITAS DAN
KEEFEKTIFAN KELOMPOK MASYARAKAT, HUBUNGAN SATU SAMA LAIN
SERTA DENGAN LINGKUNGAN YANG LEBIH LUAS LAGI.
• PARTISIPASI SERTA KEIKUTSERTAAN DALAM MENSUKSESKAN
PERUBAHAN DALAM MASYARAKAT.
• BAB I : KETENTUAN UMUM, PASAL 1
• BAB I : KETENTUAN UMUM PASAL 2
• BAB IV : KEWENANGAN DESA, PASAL 18
• BAB IV : KEWENANGAN DESA, PASAL 22
• BAB V : PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA, BAGIAN KEDUA:
KEPALA DESA, PASAL 26
• BAB V: PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA, BAGIAN KEDUA:
KEPALA DESA, PASAL 26 AYAT (2)
• BAB VI : BADAN PERMUSYAWARATAN DESA, PASAL 61
• BAB VI : HAK DAN KEWAJIBAN DESA DAN MASYARAKAT DESA PASAL 67
• BAB VI : HAK DAN KEWAJIBAN DESA DAN MASYARAKAT DESA PASAL 68
AYAT (1)
• BAB VI : HAK DAN KEWAJIBAN DESA DAN MASYARAKAT DESA PASAL 68
AYAT (2)
• BAB VIII : KEUANGAN DESA DAN ASET DESA, BAGIAN KESATU : KEUANGAN
DESA PASAL 74
• BAB VIII : KEUANGAN DESA DAN ASET DESA, BAGIAN KEDUA :
PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN, PASAL 83
• BAB X : BADAN USAHA MILIK DESA, PASAL 89
• BAB XI : KERJASAMA DESA, BAGIAN KESATU: KERJASAMA ANTAR DESA, PASAL
92
• BAB XI : KERJASAMA DESA, BAGIAN KEDUA: KERJASAMA DENGAN PIHAK
KETIGA, PASAL 93
• BAB XII : LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN LEMBAGA ADAT DESA,
BAGIAN KESATU: LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA, PASAL 94
• BAB XII : LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN LEMBAGA ADAT DESA,
BAGIAN KESATU: LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA, PASAL 94
• BAB XIII : KETENTUAN KHUSUS DESA ADAT, BAGIAN KEDUA: KEWENANGAN
DESA ADAT PASAL 106
• BAB XIV : PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAL 112