Anda di halaman 1dari 30

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN

PENDAPATAN
PENDAHULUAN
• Seperti yang kita ketahui bersama, kemiskinan bukan
lagi hal yang biasa bagi Indonesia. Masalah kemiskinan
setiap tahun menjadi pembicaraan yang hangat, dan
selalu saja sulit untuk mengentaskannya secara
maksimal, walaupun pemerintah mengatakan angka
kemiskinan di Indonesia tahun 2011 ini berkurang,
namun tampaknya itu hanyalah sebuah angka.
Nyatanya masih banyak kasus – kasus yang muncul
berlandaskan masalah ekonomi. Kesenjangan
pendapatan menjadi salah satu masalah perekonomian
yang terjadi, mungkin kesenjangan pendapatan dinilai
sebagai hal yang harfiah merupakan hal yang biasa.
• Namun kesenjangan pendapatan di Indonesia ini
sangatlah jelas terlihat, yang kaya semakin kaya
dan yang miskin semakin miskin.
• Jasa-jasa petani dan pedagang tidak di hargai
sebagaimana mestinya, di Jepang petani sangat di
hargai, maka dari itu di sana pendapatan / gaji
mereka besar. Petani yang harusnya hidup
makmur, di Indonesia justru hidup melarat.
Petani menanam di sawah milik mereka sendiri,
tapi mereka masih harus membeli beras.
• Berikutnya akan di bahas lebih lanjut mengenai
permasalahn kemiskinan dan kesenjangan
pendapatan.
• PEMBAHASAN
KONSEP DAN DEFINISI
• Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan.
• Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan.
• Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian
orang memahami istilah ini secara subyektif dan
komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari
segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
• Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa
mengacu kepada garis kemiskinan.
• Konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut
kemiskinan relative,
• sedangkan konsep yang pengukurannya tidak
didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan
absolute.
1. Kemiskian relatif adalah suatu ukuran mengenai
kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, yang
biasanya dapat didefinisikan di dalam kaitannya
dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang
dimaksud.
2. Kemiskinan absolute adalah derajat dari kemiskinan
di bawah, dimana kebutuhan minimum untuk
bertahan hidup tidak terpenuhi.
BEBERAPA INDIKATOR KESENJANGAN DAN
KEMISKINAN
1. Indikator Kesenjangan
• Ada sejumlah cara untuk mrngukur tingkat kesenjangan
dalam distribusi pendapatan yang dibagi ke dalam dua
kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic
dominance.
• Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari
kelompok pendekatan pertama dengan tiga alat ukur,
yaitu the generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan
koefisien gini.
• Yang paling sering dipakai adalah koefisien gini. Nilai
koefisien gini berada pada selang 0 sampai dengan 1. Bila
0 : kemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi
yang sama dari pendapatan) dan bila 1 : ketidakmerataan
yang sempurna dalam pembagian pendapatan.
2. Indikator Kemiskinan
• Batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara ternyata
berbeda-beda. Ini disebabkan karena adanya perbedaan
lokasi dan standar kebutuhan hidup.
• Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari
besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk
memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan
makanan (BPS, 1994).
• Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan
2.100 kalori per hari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan
minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk
perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa.
• Dengan kata lain, BPS menggunakan 2 macam pendekatan,
yaitu pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach)
dan pendekatan Head Count Index. Pendekatan yang
pertama merupakan pendekatan yang sering digunakan.
• Dalam metode BPS, kemiskinan
dikonseptualisasikan sebagai ketidakmampuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar.
• Sedangkan Head Count Index merupakan ukuran
yang menggunakan kemiskinan absolut. Jumlah
penduduk miskin adalah jumlah penduduk yang
berada di bawah batas yang disebut garis
kemiskinan, yang merupakan nilai rupiah dari
kebutuhan minimum makanan dan non makanan.
Dengan demikian, garis kemiskinan terdiri dari 2
komponen, yaitu garis kemiskinan makanan (food
line) dan garis kemiskinan non makanan (non
food line).
• Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat
kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Yang sering
digunakan yaitu:
1. Kurva Lorenz
• Menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan
nasional di kalangan-kalangan lapisan penduduk,
secara kumulatif pula. Kurva ini terletak di dalam
sebuah bujur sangkar yang sisi tegaknya
melambangkan persentase kumulatif pendapatan
nasional, sedangkan sisi datarnya mewakili persentase
kumulatif penduduk. Kurva Lorenz yang semakin dekat
ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan distribusi
pendapatan nasional yang semakin merata. Sebaliknya,
jika kurva Lorenz semakin jauh dari diagonal, maka ia
mencerminkan keadaan yang semakin bururk.
2. Koefisien Gini
• Adalah suatu koefisien yang berkisar dari
angka 0 hingga 1, menjelaskan kadar
kemerataan (ketimpangan) distribusi
pendapatan nasional. Semakin kecil (semakin
mendekati nol) koefisiennya, pertanda
semakin baik atau merata distribusi. Begitu
pula untuk sebaliknya.
PENGUKURAN KEMISKINAN
a. Kemiskinan relatif Konsep yg mengacu pada
garis kemiskinan yakni ukuran kesenjangan
dalam distribusi pendapatan. Kemiskinan
relatif proporsi dari tingkat pendapatan rata-
rata.
b. Kemiskinan absolute (ekstrim)  Konsep yg tidak
mengacu pada garus kemiskinan yakni derajad
kemiskinan dibawah dimana kebutuhan
minimum untuk bertahan hidup tidak terpenuhi.
• Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahaman utamanya mencakup:
• Gambaran kekurangan materi, yang biasanya
mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang,
perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan
dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan
barang-barang dan pelayanan dasar.
• Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk
keterkucilan sosial, ketergantungan, dan
ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam
masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari
kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah
politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi.
• Gambaran tentang kurangnya penghasilan
dan kekayaan yang memadai. Makna
"memadai" di sini sangat berbeda-beda
melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di
seluruh dunia.
PENYEBAB KEMISKINAN
• Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
• Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan
sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si
miskin; penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan
dengan pendidikan keluarga;
• penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan
kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau
dijalankan dalam lingkungan sekitar;
• penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
• penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa
kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
MENGHILANGKAN KEMISKINAN
• Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
• Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada
orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari
masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan. Bantuan
terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang
dijalank untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan
perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial,
pencarian kerja, dan lain-lain. Persiapan bagi yang lemah.
Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk
orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin
miskin, seperti orang tua atau orang dengan
ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin,
seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
DISTRIBUSI PENDAPATAN
• Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada
umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran
konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas). Data pengeluaran konsumsi dipakai sebagai suatu
pendekatan (proksi) untuk mengukur distrubusi pendapatan
masyarakat. Walaupun diakui bahwa cara ini sebenarnya
mempunyai suatu kelemahan yang serius, data pengeluaran
konsumsi bisa memberikan informasi yang tidak tepat
mengenai pendapatan, atau tidak mencerminkan tingkat
pendapatan yang sebenarnya.
• Akan tetapi, karena pengumpulan data pendapatan di
Indonesia seperti di banyak LCDs lainnya masih relatif sulit,
salah satunya karena banyak rumah tangga atau individu yang
bekerja di sektor informal atau tidak menentu, maka
penggunaan data pengeluaran konsumsi rumah tangga
dianggap sebagai salah satu alternatif.
KEBIJAKAN ANTI KEMISKINAN

• Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi


pendapatan mulai muncul sebagai salah satu
kebijakan yang sangat penting dari lembaga-
lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB,ILO,
UNDP, dan lain sebagainya.
• Untuk mendukung strategi yang tepat dalam
memerangi kemiskinan diperlukan intervensi-
intervensi pemerintah yang sesuai dengan
sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi
menurut waktu, yaitu :
Intervensi jangka pendek, berupa :
• Pembangunan sektor pertanian, usaha kecil,
dan ekonomi pedesaan Manajemen
lingkungan dan SDA Pembangunan
transportasi, komunikasi, energi dan keuangan
Peningkatan keikutsertaan masyarakat
sepenuhnya dalam pembangunan
Peningkatan proteksi sosial
Intervensi jangka menengah dan panjang, berupa :
• Pembangunan/penguatan sektor usaha
• Kerjsama regional
• Manajemen pengeluaran pemerintah (APBN) dan
administrasi
• Desentralisasi
• Pendidikan dan kesehatan
• Penyediaan air bersih dan pembangunan
perkotaan
• Pembagian tanah pertanian yang merata
DAMPAK KEMISKINAN
• Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya
begitu banyak dan kompleks.
1. Pertama, pengangguran. Dengan banyaknya
pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki
penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja
dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu
memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis
pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli
masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara
langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan
tingkat pengeluaran rata-rata. Meluasnya pengangguran
sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat
pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan
pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro
atau pertumbuhan.
2. Kedua, kekerasan. Sesungguhnya kekerasan
yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek
dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu
lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan
halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang
dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan
hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan.
Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau
menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di
atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau
sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya
besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia
mendapatkan uang dari memalak.
3. Ketiga, pendidikan. Tingkat putus sekolah yang
tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini.
Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin
tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau
pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia
pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu
miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah
kesulitan. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak
pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan
begitu akan mengurangi kesempatan seseorang
mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan
menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak
mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut
keterampilan di segala bidang.
4. Keempat, kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya
pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik
pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar
menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya
melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh
kalangan miskin.
5. Kelima, konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa
bersikap munafik konflik SARA muncul akibat
ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang
akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita
alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan
jaminan keadilan “keamanan” dan perlindungan hukum
dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif
disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang
subjektif.
• Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap
melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap
meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya
menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan,
semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di
Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.
KETIMPANGAN PENDAPATAN

• Ketimpangan pendapatan yang terjadi di


Indonesia sangat terlihat jelas, dari istilah yang
kayak semakin kaya dan yang miskin semakin
miskin.
• Hal ini sangat berdampak pada kesenjangan sosial yang
terjadi. Namun, tentu saja untuk mengatasi masalah
ketimpangan pendapatan tersebut tidak cukup hanya
bicara mengenai subsidi modal terhadap kelompok miskin
maupun peningkatan pendidikan (keterampilan) tenaga
kerja di Indonesia.
• Lebih penting dari itu, persoalan yang terjadi sesungguhnya
adalah akibat kebijakan pembangunan ekonomi yang
kurang tepat dan bersifat struktural. Maksud- nya,
kebijakan masa lalu yang begitu menyokong sektor industri
dengan mengorbankan sektor lainnya patut untuk direvisi
karena telah mendorong munculnya ketimpangan sektoral
yang berujung kepada kesenjangan pendapatan. Dari
perspektif ini agenda mendesak bagi
• Indonesia adalah memikirkan kembali secara serius
model pembangunan ekonomi yang secara serentak
bisa memajukan semua sektor dengan melibatkan
seluruh rakyat sebagai partisipan. Sebagian besar
ekonom meyakini bahwa strategi pembangunan itu
adalah modernisasi pertanian dengan melibatkan
sektor industri sebagai unit pengolahnya.
• Di samping itu upaya minimalisasi ketimpangan
pendapatan juga harus menyentuh aspek distribusi
faktor produksi. Nilai tawar modal yang begitu kuat
terhadap faktor produksi lainnya harus
dinegosiasikan ulang, dan itu tidak bisa dikerjakan
lewat mekanisme pasar.
• Di negara maju, akibat sudah mapannya serikat kerja,
memungkinkan negosiasi pembagian keuntungan ekonomi
dilakukan antara pihak perusahaan dan serikat kerja
tersebut (mekanisme pasar). Tetapi di negara berkembang
model serupa tidak dapat dikerjakan karena lemahnya
institusi serikat kerja dan hegemoniknya kekuasaan pihak
perusahaan.
• Dalam kondisi seperti ini fungsi pemerintah adalah
mengeluarkan regulasi yang mengatur pembagian
keuntungan ekonomi di antara faktor produksi tersebut, di
samping undang-undang yang mengatur masalah
pendapatan minimum. Sementara itu upaya penguatan
serikat kerja tetap harus dikembangkan agar dengan
sendirinya mereka bisa membicarakan persoalan distribusi
ekonomi dengan pihak pemilik modal.
KESIMPULAN
• Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh
utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab,
kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui
negara-negra berkembang. Khususnya Indonesia.
Mengapa demikian?
• Jawabannya karena selama ini pemerintah belum
memiliki strategi dan kebijakan pengentasan
kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan
kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro poor.
Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan,
pengangguran, dan kekerasan selalu diterapkan pola
kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan
ekonomi semata.
• Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau
statistik. Padahal kebijakan pengentasan kemiskinan
juga harus dilihat dari segi non-ekonomis atau non-
statistik.
• Misalnya, pemberdayaan masyarakat miskin yang
sifatnya “buttom-up intervention” dengan padat karya
atau dengan memberikan pelatihan kewirauasahaan
untuk menumbuhkan sikap dan mental wirausaha.
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas
menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam
kemiskinan bukan karena malas bekerja.
• Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki
kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah
tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau
melakukan mobilitas sosial secara vertikal.
DAFTAR PUSTAKA
• http://www.oppapers.com/essays/Kemiskinan
-Dan-Kesenjangan-Pendapatan/309992
• http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
• http://blog.uin-
malang.ac.id/nita/2011/01/06/kemiskinan-
dan-kesenjangan-pendapatan/
• Tulus TH. Tambunan, Perekonomian Indonesia
(Beberapa Permasalahan Penting), ……, hal. 95