Anda di halaman 1dari 27

By. Safariah Anggraini,S.Kep.Ners,M.Kep.

LATAR BELAKANG


Dalam dunia kesehatan, seorang perawat
harus mengadakan suatu komunikasi
terutama saat menghadapi klien

Informasi yang ada dapat tersampaikan


dengan baik. Terutama informasi yang
berkenaan dengan kebutuhan klien akan
asuhan keperawatan yang akan
diberikan.

komunikasi adalah faktor yang paling


penting ,yang digunakan untuk
menetapkan hubungan antara perawat
dengan klien.

Hambatan Dalam
Komunikasi

RESISTEN

TRANSFEREN

KONTERTRANSFEREN
Resistens

 Merupakan upaya klien untuk tidak
menyadari aspek dari penyebab cemas atau
kegelisahan yang dialami.

 Resisten sering merupakan akibat dari


ketidaksediaan klien untuk berubah ketika
kebutuhan untuk berubah telah dirasakan.
Perilaku resisten biasanya diperlihatkan
oleh klien selama fase kerja, karena fase ini
banyak berisi penyelesaian masalah
Transference
Transference merupakan respon tak sadar


berupa perasaan atau perilaku terhadap
perawat yang sebetulnya berawal dari
berhubungan dengan orang-orang tertentu
yang bermakna baginya pada waktu dia masih
kecil

Reaksi transference membahayakan untuk
proses terapeutik hanya bila hal ini
diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat.
Ada dua jenis utama
reaksi transference yaitu reksi bermusuhan
dan tergantung.
Contoh :
reaksi transference bermusuhan

Gadafi (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah
sakit karena demam berdarah. Tanpa sebab yang jelas
klien ini marah-marah kepada perawat Tasya. Setelah
dikaji, ternyata Tasya ini mirip pacar Gadafi yang pernah
menyakiti hatinya. Hal ini dikarenakan klien mengalami
perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada
dasarnya terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.
Contoh reaksi transference
tergantung

Seorang klien, Kiki (18 tahun), dirawat oleh
perawat Ave. Perawat itu mempunyai
wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga
dalam setiap tindakan keperawatan yang
harus dilakukan pasien selalu meminta
perawat Ave yang melakukannya.
Coutertransference

Coutertrasference merupakan kebutuhan
terapeutik yang di buat oleh perawat
dan bukan oleh klien. Hal ini dapat
mempengaruhi hubungan perawat-
klien.
Beberapa bentuk countransference
( Stuart dan Sundeen dalam Intan, 2005):
 Ketidakmampuan berempati terhadap klien  Mencoba untuk menolong klien dalam


dalam masalah tertentu.

Menekan perasaan selama atau sesudah


 segala hal yang tidak berhubungan dengan
tujuan keperawatan yang telah

sesi. diidentifikasi.

 Kecerobohan dalam mengimplementasikan  Keterlibatan dengan klien dalam tingkat

kontrak dengan datang terlambat, atau personal dan sosial.

melampaui waktu yang telah ditentukan.  Melamunkan atau memikirkan klien.

 Mengantuk selama sesi.  Fantasi seksual atau agresi yang diarahkan

 Perasaan marah atau tidak sabar karena kepada klien.

ketidak inginan klien untuk berubah.  Perasaan cemas, gelisah atau perasaan

 Dorongan terhadap ketergantungan, pujian bersalah terhadap klien

atau efeksi klien.  Kecendrungan untuk memusatkan secara

 Berdebat dengan klien atau kecendrungan berulang hanya pada satu aspek atau cara

untuk memaksa klien sebelum ia siap. memandang pada informasi yang di

 Kebutuhan untuk mempertahankan berikan klien.

intervensi keperawatan dengan klien.


Reaksi coutrtrasference biasanya
dalam tiga bentuk

 Reaksi sangat mencintai atau “caring”
Perawat Rody melakukan perawatan pada klien An.
Thabita (17 thn) dengan cara yang berlebih-lebihan
yaitu dengan cara masih berlama-lama mengobrol
dengan klien tersebut padahal masih banyak klien
yang perlu di tangani. Perawat Rody juga mencoba
menolong klien dengan segala hal yang tidak
berhubungan dengan tujuan yang telah
diidentifikasi.

 Reaksi sangat bermusuhan.
Perawat Hanson mempunyai klien yang sangat
menjengkelkan Deliana (11 tahun). Deliana ini selalu
marah-marah dan menjengkelkan. Perawat Hanson
sangat dendam pada klien ini dan selalu mengacuhkan
Deliana meskipun dia membutuhkan pertolongan
Lima cara mengidentifikasikan
terjadi countertransference :

a. Perawat harus mempunyai standar yang sama terhadap
dirinya sendiri atas apa yang di harapkan kepada
kliennya.
b. Perawat harus menguji diri sendiri melalui latihan
menjalin hubungan, terutama ketika klien menentang
atau mengeritik
c. Perawat harus dapat menemukan sumber masalahnya
d. Ketika countertrasference terjadi, perawat harus dapat
melatih diri untuk mengontrolnya.
e. Jika perawat membutuhkan pertolongan dalam
mengatasi countertransference, pengawasan secara
individu maupun kelompok dapat lebih membantu.
Pelanggaran batas

Perawat perlu membatasi hubungannya dengan klien.
Batas hubungan perawat-klien adalah bahwa
hubungan yang di bina adalah hubungan
terapeutik,dalam hubungan ini perawat berperan
sebagai penolong dan klien berperan sebagai yang di
tolong. Baik perawat maupun klien harus menyadari
batas tersebut (Suryani, 2006).
Beberapa batas hubungan perawat dan klien
(stuart dan sundeen, dalam Intan, 2005)

1. Batas peran
Masalah batas peran ini memerlukan wawasan dan
pengetahuan yang luas dari perawat serta
penentuan secara tegas mengenai batas-batas
terapeutik perawat dan klien

2. Batas waktu
Penetapan waktu perlu dilakukan dimana perawat
mengadakan hubungan terapeutiknya dengan klien.

Waktu pengobatan atau hubungan terapeutik yang


tidak wajar dan tidak mempunyai tujuan terapeutik
harus dievaluasi kembali untuk mencegah
terjadinya pelanggaran batas.
3. Batas tempat dan ruang

Misalnya wawancara dimana?
Kapan dan berapa lama ?
Batas ini biasanya berhubungan dengan perawatan yang
dilakukan.

Pemanfaatan terapeutik diluar kebiasaan misalnya dimobil


atau dirumah klien, harus dengan tindakan terapeutik yang
rasional dan mempunyai tujuan yang jelas. Perawat tidak di
perbolehkan dalam melakukan tindakan dikamar klien
kadang perlu menghormati batas-batas tertentu misanya
pintu terbuka atau ada pegawai yang lain.
4. Batas uang


Batas ini berhubungan dengan penghargaan klien
dengan perawat berupa uang. Disini juga perlu adanya
perhatian mengenai tawar-menawar terhadap klien
miskin tentang biaya pengobatan untuk mencegah
timbulnya pelanggaran batas.
a. Batas pemberian hadiah dan pelayanan
Masalah ini controversial dalam keperawatan, namun
yang pasti hal ini melanggar batas.
b. Batas pakaian

Batas ini berhubungan dengan kebutuhan perawat
dalam berpakaian secara tepat dalam hubungan
terapeutik perawat dan klien. Dimana perawat tidak
diperbolehkan memakai pakaian yang tidak sopan.
c. Batas bahasa
Perawat perlu memperhatikan nada bicara dan pilihan
kata ketika komunikasi dengan klien. Tidak terlalu
akrab, mengarah sikap seksul dan memberikan
pendapat dengan nada menggurui merupakan
pelanggaran batas.

d. Batas pengungkapan diri secara personal;
Mengungkapkan diri secara personal dari perawat
yang tidak berhubungan dengan tujuan terapeutik
dapat mengarah kepada pelanggaran batas.
e. Batas kontak fisik;
Semua kontak fisik dengan klien harus dievaluasi
untuk melihat apakah melanggar batas atau tidak.
Beberapa jenis kontak fisik/ seksual terhadap kien
yang tidak pernah tercangkup dalam hubungan
terpeutik antara perawat dengan klien.
Mencegah terjadinya pelanggaran batas dalam
berhubungan dengan klien

Perawat sejak awal interkasi perlu menjelaskan
atau membuat kesepakatan bersama klien
tentang hubungan yang mereka jalin

Selalu mengingatkan kontrak dan tujuan


interaksi setiap kali bertemu dengan klien juga
dapat menghindari pelanggaran batas ini

Selama berinteraksi perawat harus berhati-hati


dalam berbicara agar tidak banyak terlibat
dalam komunikasi sosial.
Pemberian hadiah

 Hadiah dapat dalam berbagai bentuk misalnya yang
nyata seperti sekotak permen, rangkaian bunga,
rajutan atau lukisan.

 Sedangkan yang tidak nyata bisa berupa ekspresi


ucapan terima kasih dari klien kepada perawat
sebagai orang yang akan meninggalkan rumah sakit
atau dari anggota keluarga yang lega dan berterima
kasih atas bantuan perawat dalam meringankan
beban emosional klien

Pemberian hadiah merupakan masalah yang
kontroversial dalam keperawatan. Disatu pihak ada
yang menyatakan bahwa pemberian hadiah dapat
membantu dalam mencapai tujuan terapeutik, tapi
dipihak lain ada yang menyatakan bahwa pemberian
hadiah bisa merusak hubungan terapeutik
Cara mengatasi hambatan
komunikasi

 Untuk mengatasi hambatan teurapeutik, perawat harus
siap mengungkapkan perasaan emosional yang sangat
kuat dalam konteks hubungan perawat-pasien.

 Awalnya, perawat harus mempunyai pengetahuan


tentang hambatan teurapeutik dan mengenali prilaku
yang menunjukkan adanya hambatan tersebut.
Kemudian perawat dapat mengklarifikasi dan
mengungkapkan perasaan serta isi agar lebih berfokus
secara objektif pada apa yang sedang terjadi.

 Latar belakang perilaku dikaji, baik pasien (untuk reaksi
resistens dan transferensa) atau perawat (untuk reaksi
kontertransferens dan pelanggaran batasan) bertanggung
jawab terhadap hambatan teurapeutik dan dampak
negatifnya pada proses teurapeutik.

 Terakhir, tujuan hubungan, kebutuhan, dan masalah


pasien ditinjau kembali. Hal ini dapat membantu perawat
untuk membina kembali kerja sama teurapeutik yang
sesuai dengan proses hubungan perawat-pasien.

Anda mungkin juga menyukai