Anda di halaman 1dari 18

PAGT pada Penyakit

Pulmonary
Farida Nur Isnaeni
Capaian Pembelajaran
Perkuliahan

• Mahasiswa mampu memahami patofisiologi


penyakit saluran nafas
• Mahasiswa mampu merencanakan asuhan
terapi diet untuk pasien dengan gangguan
saluran nafas
Anatomi Saluran Nafas
Fisiologis Pulmo
Macam Gangguan
Respiratori
Efek Samping Gangguan
Respiratori ada Status Gizi
1. Peningkatan energi ekspenditur
• Meningkatkan kerja untuk nafas
• Infeksi kronik
• Terapi medis (bronkodilator, dll)
2. Penurunan asupan
• Pembatasan cairan
• Napas cepat
• Penurunan saturasi oksigen saat makan
• Anoreksia
• Ketidaknyamanan sal cerna dan muntah
Efek Samping Gangguan
Respiratori ada Status Gizi

3. Keterbatasan lainnya
• Mudah lelah → kesulitan menyiapkan makan
• Kesulitan finansial
• Gangguan metabolisme
Tuberculosis (TBC)

– Infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, M.


africanum, M. bovis
– Penularan: inhalasi (droplet dari sputum orang yg
terinfeksi-tahan beberapa jam di udara)
– Efek samping: memperlambat produksi sitokin,
peningkatan IF-γ, IL-10, IL-6, cortisol, prolaks=tin,
hormon tiroid serta penurunan testosteron dan
dehydroepiandosteron
– End result: penurunan sistem imun (esp HIV +)
Tuberculosis (TBC)

Terapi Medis:
– Antibiotik: mengobati infeksi
– First-line drugs: isoniazid, rifampicin, ethambutol,
pyrazinamide
• Isoniazid: inhibit vitamin D
• Rifampicin
• Ethambutol: bisa konsumsi bersamaan dg makan
• Pyrazinamide
– Aturan konsumsi: 1 jam sebelum makan atau 2
jam setelaah makan
Tuberculosis (TBC)

Konsekuaensi nutrisi:
– Peningkatan energi ekspenditur
– Nafsu makan turun dan BB
– Peningkatan katabolisme protein
– Malabsorbsi menyebabkan diare→ kehilangan
cairan dan elektrolit
MNT Tuberculosis (TBC)

– Energi: 35-40 kkal/kg BB


– Protein: 1,2-1,5 gram/kb BB atau 15% dari energi
– Multivitamin: 100-150% DRI (esp. vitamin D, A, C,
besi, zinc)
Tips:
– Persiapan makan: dibantu orang lain
– Istirahat sebelum makan
– Makan pelan-pelan
– Menggunakan oksigen
Penyakit Paru Obstruksi
Kronis (PPOK)
→ slow, progressive, obstruksi sal. napas
→ perokok aktif maupun pasif, polusi udara, genetik
→ emfhysema dan bronkitis

EMPHYSEMA
– Pembesaran alveoli secara abnormal & permanen
– Kurus dan cachecia
– Hipoksia
– HCT normal
Penyakit Paru Obstruksi
Kronis (PPOK)
BRONKITIS
– Inflamasi bronkus
– Batuk berdahak kronis
– Normal/overweight
– HCT tinggi
Manifestasi PPOK

– Malnutrisi terjadi pada


24-35 pasien dengan
PPOK sedang, dengan
penurunan BB sebanyak
5-10% dari BB

– Peningkatan energi
ekpenditur akibat
kesulitan napas maupun
hipermetabolisme
akibat inflamasi
MNT PPOK

– Energi: 125-156% diatas basal energi ekspenditur


(rata-rata 140%) → energi >1,5 BEE dpt
menyebabkan overfeed (meningkatkan produksi
CO2)
– Protein: 1,2 – 1,7g/kgBB (rata-rata 1,2 g/kgBB)
atau 15-20%
– Karbohidrat: 40-55% dari TEE
– Lemak: 30-45% TEE
MNT PPOK

– Vitamin: minimal DRI


– Perokok butuh vitamin C lebih (16-32 mg
tergantung jumlah rokok)
– Mineral: minimal DRI, monitor fosfor dan Mg pada
pasien yang beresiko refeeding
– Motilitas GI: cairan dan serat
– Kembung: menghindari makanan bergas
– Kelelahan makan: istirahat sebelum makan,
konsumsi makanan padat energi, bantuan
persiapan makanan
MNT PPOK

TIPS:
– Penggunaan oksigen
– Makan pelan
– Makanan dikunyah sampai lembut
– Makan-napas-makan-napas
– Makan min pposisi duduk (mencegah aspirasi)
– Suplementasi oral