Anda di halaman 1dari 19

AKAD ISTISHNA

TRIJAYANTO RAHAYU 0115101048


SITIO LEONARDO 0115101109
IRFAN BASUKI 0115101132
HAFI ULYA ALDIN 0115101218
NURWULAN OKTAVIANA 0115101510
AL-BAQARAH AYAT 110

ُ‫الز َكاة َ ۚ َو َما تُقَ ِد ُموا ِل َ ْنفُ ِس ُك ْم ِم ْن َخي ٍْر ت َ ِجدُوه‬


َّ ‫ص ََلة َ َوآتُوا‬ َّ ‫َوأَقِي ُموا ال‬
‫صير‬ ِ َ‫ون ب‬َ ُ‫َّللا ِب َما ت َ ْع َمل‬ ِ َّ ‫ِع ْن َد‬
َ َّ ‫َّللا ۗ ِإ َّن‬

Artinya:
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi
dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat
apa-apa yang kamu kerjakan”
AL-BAQARAH AYAT 183

َ ‫علَ الَّ ِذ‬


‫ين ِم ْن‬ َ ‫ب‬ ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬
َ ‫الصيَا ُم َك َما ُك ِت‬ َ ‫يَا أَيُّ َها الَّ ِذ‬
َ ‫ين آ َمنُوا ُك ِت‬
َ ‫ب‬
َ ُ‫قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّق‬
‫ون‬

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
AL- IMRAN AYAT 130

َ ‫َّللا لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُح‬


‫ون‬ ََّ ‫عفًًَ َواتَّقُوا‬ ‫ا‬ ‫ض‬ ‫م‬
َ َ ُ َ ‫ا‬ً ‫ف‬‫ا‬ ‫ع‬‫ض‬ْ َ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫ب‬‫الر‬
َ ِ ‫وا‬ُ ‫ل‬‫ك‬ُ ْ َ ‫يَا أَيُّ َها الَّ ِذ‬
‫ين آ َمنُوا ََل تَأ‬

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan
bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”
DASAR HUKUM ISTHISNA
1. Al-Qur’an

Mereka berkata: “Wahai Dzulkarnain! sungguh Ya'juj dan Ma'juj itu (sekelompok manusia) berbuat kerusakan di bumi,
maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?”.
Dia (Dzulkarnain) berkata: "Apa yang telah dianugrahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka
bantulah aku dengan kekuatan agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka “. (Q.S Al-
Kahfi: 94-95)

2. Al-Hadist

Dari Nafi’ dari ‘Abdillah; Bahwa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam pernah meminta dibuatkan cincin dari emas.
Apabila beliau memakainya, beliau selalu meletakkan mata cincin tersebut pada bagian dalam telapak tangan. Kemudian
para sahabat pun meniru apa yang dilakukan oleh Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Pada suatu ketika, beliau duduk
di atas mimbar dan langsung menanggalkan cincin itu sambil berkata: “Dulu aku selalu mengenakkan cincin ini dan
meletakkan mata cincinnya di bagian dalam.” Lalu Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam membuang cincin itu seraya
berkata: ‘Demi Allah saya tidak akan memakainya lagi.

3. Ijma

Ulama sepakat memperbolehkan isthisna


PENGERTIAN ISTISHNA’

• Istishnâ’ secara etimologi adalah bentuk masdas yang artinya: meminta/menyuruh orang lain
untuk membuatkan sesuatu untuknya. Contoh:Ahmad meminta seseorang untuk membuatkan
pintu. Sedangkan makna istishnâ’ secara terminologi menurut sebagian ulama Hanafiyyah
adalah suatu akad terhadap suatu barang yang tertanggung dengan syarat mengerjakannya,
maka jika ada seseorang berkata kepada seseorang yang ahli dalam membuat sesuatu,
“buatkan untukku sesuatu dengan harga sekian dirham”, dan orang tersebut menerimanya.
• Akad Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni)
dan penjual (pembuat/shani). (Fatwa DSN MUI).
PERBEDAAN ISTISHNA’ DAN SALAM

SUBJEK SALAM ISTISHNA ATURAN DAN KETERANGAN

Pokok Muslam Mashnu’ Barang ditangguhkan dengan spesifikasi


kontrak fihi

Harga Dibayar Boleh saat Cara penyelesaian pembayaran


saat kontrak, boleh merupakan perbedaan utama antara
kontrak diangsur, boleh salam dan istishna’
kemudian hari
Sifat Mengikat Mengikat secara Salam mengikat semua pihak sejak
kontrak secara ikutan (thaba’i) semula, sementara istishna’ dianggap
asli mengikat berdasarkan pandangan para
(thabi’i) ahli fiki demi kemaslahan, serta tidak
bertentangan dengan aturan syariah
Kontrak Salam Iatishna’ paralel Baik salam paralel maupun istishna’
paralel paralel paralel sah asalkan kedua kontrak secara
hukum adalah terpisah
PERBEDAAN MURABAHAH, SALAM DAN ISTISHNA

SUBJEK MURABAHAH SALAM ISTISHNA

Barang Diserahkan di awal Diserahkan di akhir Diserahkan di akhir

Pembayaran Uang dibayar secara Pembayaran dilakukan Pembayaran dilakukan


berangsur(cicilan) di awal 100% secara berangsur
JENIS AKAD ISTISHNA’
1. Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan
kriteria danpersyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni) dan
penjual (pembuat, shani’).
Skema Akad Istishna’ :
1. Melakukan Akad Istishna’

2. Barang diserahkan kepada pembeli


Penjual Pembeli
3. Pembayaran dilakukan oleh pembeli
JENIS AKAD ISTSHNA’
2. Istishna paralel adalah suatu bentuk akad istishna’ antara penjual dan pemesan, di mana
untuk memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad istishna’
dengan pihak lain (subkontraktor) yang dapat memenuhi aset yang dipesan pemesan.
Syarat Akad Istishna
• pertama (antara penjual dan pemesan) tidak bergantung pada istishna’.
• Kedua (antara pembeli dan pemasok). Selain itu, akad antara pemesan dengan penjual dan
akad antara penjual dan pemasok harus terpisah danpenjual tidak boleh mengakui adanya
keuntungan selama konstruksi.
Skema Istishna’ Paralel

(1)

(4)
Penjual Pembeli
(5)

(3)
Pemasok
(2)
Keterangan:
1. Melakukan akad istishna’
2. Penjual memesan dan membeli pada supplier/produsen
3. Barang diserahkan kepada produsen
4. Barang diserahkan kepada pembeli
5. Pembayaran dilakukan oleh pembeli
RUKUN DAN KETENTUAN AKAD ISTISHNA’
Dalam akad istishna’ terdapat tiga rukun istishna’, yaitu:
1. Pelaku terdiri atas pemesan (pembeli/mustashni) dan penjual, shani’).
2. Objek akada berupa barang yang akan diserahkan dan modal istishna’ yang
berbentuk harga.
3. Melakukan ijab kabul / serah terima.

Ketentuan Syariah Akad Istishna’:


1. Pelaku, harus cakap hokum dan baligh.
2. Objek akad
3. Ijab Kabul, pernyataan saling rida/relan diantara pihak-pihak yang melakukan akad
yang dilakukan secara tertulis, verbal, melalui komunikasi yang modern.
RUKUN DAN KETENTUAN AKAD ISTISHNA’

Penjelasan Objek akad:


a) Ketentuan pembayaran sebagai berikut:
1) Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya.
2) Harga yang telah disepakati tidak dapat berubah.
3) Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
4) Pembayaran tidak boleh berupa pembebasan hutang.
RUKUN DAN KETENTUAN AKAD ISTISHNA’

Penjelasan Objek Akad:


b) Ketentuan tentang barang sebagai berikut:
1) Barang pesanan harus jelas spesifikasinya, sehingga tidak ada jahalah dan perselisihan.
2) Barang pesanan diserahkan kemudian.
3) Waktu dan penyerahan barang diserahkan sesuai kesepakatan diawal akad.
4) Barang pesanan yang belum diterima tidak boleh dijual
5) Tidak boleh menukarkan barang kecuali dengan barang yang sejenis sesuai dengan
kesepakatan.
6) Dalam kecacatan barang atau barang rusak, pembeli memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk
melanjutkan atau membatalkan akad.
7) Dalam barang WIP sesuai kesepakatan hukumnya mengikat, tidak boleh dibatalkan sehingga
penjual tidak dirugikan karena telah menjalankan sesuai dengan kesepakatan.
BERAKHIRNYA AKAD ISTISHNA’

Kontrak Istishna’ dapat berakhir apabila terjadi beberapa kondisi


dibawah, seperti:
1. Dipenuhi kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak.
2. Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kontrak.
3. Pembatalan Hukum Kontrak.
PSAK 104
• PSAK 104 mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi istishna’. Pernyataan ini diterapkan untuk lembaga keuangan
syariah dan koperasi syariah yang melakukan transaksi istishna’, baik sebagai penjual maupun pembeli.

Akuntansi untuk Penjual

Pendapatan istishna’ diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian atau metode akad selesai. Akad adalah selesai jika proses pembuatan
barang pesanan selesai dan diserahkan kepada pembeli.

Penjual menyajikan:
a. Piutang istishna’ yang berasal dari transaksi istishna’ sebesar jumlah yang belum dilunasi oleh pembeli akhir.
b. Termin istishna’ yang berasal dari transaksi istishna’ sebesar jumlah tagihan termin penjual kepada pembeli akhir.

• Akuntansi untuk Pembeli


Pembeli mengakui aset istishna’ dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui utang istishna’ kepada
penjual. Beban istishna’ tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi pelunasan utang istishna’.

Pembeli menyajikan:
a. Utang ishtisna’ sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor yang belum dilunasi.
b. Aset istishna’ dalam penyelesaian sebesar:
i. persentase penyelesaian dari nilai kontrak penjualan kepada pembeli akhir, jika istishna’ paralel; atau
ii. kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna’ (bukan istishna’ paralel).
FATWA AKAD ISTISHNA’
FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
Nomor 06/DSN-MUI/VI/2000
Tentang
Jual /Beli Istishna‘
Di tetapkan di: Jakarta
Tanggal 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 M

Ketua Sekretaris
Prof. K.H. Ali Yafie Drs. H. A Nazri Adlani
Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI ISTISHNA'
1.Ketentuan tentang Pembayaran: Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa
uang, barang, atau manfaat.
Pertama :
2.Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
3.Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
1.Ketentuan tentang Barang: Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
2.Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3.Penyerahannya dilakukan kemudian.
4.Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
Kedua :
5.Pembeli (mustashni') tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6.Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
7.Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki
hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
1.Ketentuan lain: Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya
mengikat.
2.Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual
beli istishna'.
Ketiga :
3.Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara
kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari'ah setelah
tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
TERIMAKASIH…