Anda di halaman 1dari 26

Kamis (4/5/2017) Ketut Yasa warga kelurahan

panarukan kecamatan bulelang merasa keberatan dan


mendatangi Puskesmas bulelang lll, sebab yasa yang
keseharian sebagai kontraktor itu diberikan obat yang tidak
sesuai dengan penyakit yang dialaminya. Faktanya Ketut Yasa
sebelumnya sempat memeriksakan matanya yang perih.

Setelah diperiksa dokter langsung memberikan resep


obat. Namun petugas apotek Puskesmas setempat justru
memberikannya obat tetes telinga padahal yang sakit adalah
matanya. Dan itu baru diketahuinya setelah sampai
dirumahnya.
Obat pertama yang diberikan oleh apotek puskesmas adalah :
Phenol glycerol 10%.

Dimana kita ketahui bahwa obat ini merupakan obat yang


digunakan untuk tetes telinga.
Indikasinya : sebagai antiseptik pada bagian luar dan tengah
rongga telinga.
Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada bagian telinga.
Karena matanya tidak sembuh, kemudian yasa pergi ke puskesmas
lagi. Kemudian dokter memberikan

Obat Ke Dua :
Chloramfenicol 3%.
Indikasi : infeksi superfisial pada telinga luar oleh kuman gram
postif ataupun negatif yang peka terhadap kloramfenikol.
Kasus kesalahan pemberian obat terhadap seorang pasien
yang terjadi di puskesmas ini mendapat perhatian serius dari
beberapa pihak. Bahkan, ikatan apoteker indonesia (IAI)
menyebutkan bahwa kesalahan pemberian obat tersebut
merupakan kesalahan prosedur yang terjadi di puskesmas
setempat.

Pengurus IAI pusat kordinator wilayah bali, nusa tenggara,


dan kalimantan made wartana menjelaskan kasus tersebut
merupakan kesalahan prosedur yang dilakukan pihak puskesmas
buleleng III, mengingat puskesmas tersebut menempatkan tenaga
apotek yang bukan merupakan apoteker atau asisten apoteker,
sehingga terjadi sebuah kesalahan yang fatal.
Kejadian Kasus kesalahan pemberian obat terhadap
seorang pasien yang terjadi di Puskesmas tersebut juga
membuktikan bahwa Puskesmas Buleleng III tidak mengikuti
Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 2009 dan UU No. 36
Tahun 2009 Pasal 108 tentang Kesehatan kejadian Kasus kesalahan
pemberian obat terhadap seorang pasien yang terjadi di
Puskesmas tersebut juga membuktikan bahwa Puskesmas Buleleng
III tidak mengikuti Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 2009
dan UU No. 36 Tahun 2009 Pasal 108 tentang Kesehatan.

Dimana dalam peraturan itu disebutkan bahwa urusan


kefarmasian di Puskemas, klinik, rumah sakit, dan apotek wajib
dilakukan oleh apoteker atau asisten apoteker.
Praktik kefarmasiaan yang
meliputi pembuatan termasuk
pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian
obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan
obat tradisional harus dilakukan oleh
UU No. 36 Tahun 2009 Pasal
tenaga kesehatan yang mempunyai
108 tentang Kesehatan
keahlian dan kewenangan sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Ketentuan mengenai pelaksanaan


praktik kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan peraturan pemerintah.
Peraturan Pemerintah (PP)
No. 51 Tahun 2009

Pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan


sediaanfarmasi

Pekerjaan kefarmasian dalam produksi


sediaanfarmasi

Pekerjaan kefarmasian dalam distribusi


ataupenyaluran sediaan farmasi

Pekerjaan kefarmasian dalam pelayanan


sediaanfarmasi
BAGIAN KEDUA
PEKERJAAN KEFARMASIAN DALAM PENGADAAN SEDIAAN FARMASI
PASAL 6

1) Pengadaan sediaan farmasi dilakukan pada fasilitas


produksi, fasilitas distribusi atau penyaluran dan
fasilitas pelayanan sediaan farmasi.
2) Pengadaan sediaan farmasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian.
3) Pengadaan sediaan farmasi harus dapat menjamin
keamanan, mutu, manfaat dan khasiat sediaan farmasi.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengadaan
sediaan farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan menteri
Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
bertujuan untuk:
a. meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian;
b. menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan
c. melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat
yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient
safety).

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK


INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG
STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS
(1) Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas meliputi standar:
a. pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai; dan
b. pelayanan farmasi klinik.

(2) Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis


Pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a. perencanaan kebutuhan;
b. permintaan;
c. penerimaan;
d. penyimpanan:
e. pendistribusian;
f. pengendalian;
g. pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan; dan
h. pemantauan dan evaluasi pengelolaan.
(3) Pelayanan farmasi klinik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b, meliputi:
a. pengkajian resep, penyerahan Obat, dan pemberian informasi Obat;
b. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
c. konseling;
d. ronde/visite pasien (khusus Puskesmas rawat inap);
e. pemantauan dan pelaporan efek samping Obat;
f. pemantauan terapi Obat; dan
g. evaluasi penggunaan Obat.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan Sediaan Farmasi dan


Bahan Medis Habis Pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan
pelayanan farmasi klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.
(1) Penyelenggaraan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas harus
didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian, pengorganisasian
yang berorientasi kepada keselamatan pasien, dan standar prosedur
operasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Sumber daya kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. sumber daya manusia; dan
b. sarana dan prasarana.
(3) Pengorganisasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
menggambarkan uraian tugas, fungsi, dan tanggung jawab serta hubungan
koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan kefarmasian yang
ditetapkan oleh pimpinan Puskesmas.
(4) Ketentuan mengenai sumber daya kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Untuk menjamin mutu
Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas, harus dilakukan
(1) Penyelenggaraan
pengendalian mutu Pelayananan
Pelayanan Kefarmasian di
Kefarmasian meliputi:
Puskesmas dilaksanakan
a. monitoring; dan
pada unit pelayanan
b. evaluasi.
berupamruang farmasi.
(2) Ketentuan lebih lanjut
(2) Ruang farmasi
mengenai pengendalian mutu
sebagaimana dimaksud pada
Pelayananan Kefarmasian
ayat (1) dipimpin oleh
sebagaimana dimaksud pada ayat
seorang Apoteker sebagai
(1) tercantum dalam Lampiran
penanggung jawab.
yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri
ini.
Setiap Apoteker dan/atau
Tenaga Teknis Kefarmasian
yang menyelenggarakan
(1) Pembinaan dan pengawasan
Pelayanan Kefarmasian di
terhadap pelaksanaan
Puskesmas wajib mengikuti
Peraturan Menteri ini dilakukan oleh
Standar Pelayanan
Menteri, kepala dinas kesehatan
Kefarmasian sebagaimana
provinsi, dan kepala dinas kesehatan
diatur dalam Peraturan
kabupaten/kota sesuai dengan tugas
Menteri ini.
dan fungsi masing-masing.
(2) Pelaksanaan pembinaan dan
pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat melibatkan
organisasi profesi.
(1) Pengawasan selain dilaksanakan oleh Menteri, kepala dinas
kesehatan provinsi dan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Ayat (1), khusus terkait
dengan pengawasan Sediaan Farmasi dalam pengelolaan
Sediaan Farmasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
huruf a dilakukan juga oleh Kepala BPOM sesuai dengan tugas
dan fungsi masing-masing.

(2) Selain pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),


Kepala BPOM dapat melakukan pemantauan, pemberian
bimbingan, dan pembinaan terhadap pengelolaan sediaan
farmasi di instansi pemerintah dan masyarakat di bidang
pengawasan obat.
(1) Pengawasan yang dilakukan
oleh dinas kesehatan provinsi dan
dinas kesehatan kabupaten/kota
Pelanggaran terhadap ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam
dalam Peraturan Menteri ini dapat
Pasal 8 dan pengawasan yang
dikenai sanksi administratif sesuai
dilakukan oleh Kepala BPOM
dengan ketentuan peraturan
sebagaimana dimaksud dalam
perundang-undangan.
Pasal 9 ayat (1) dilaporkan secara
berkala kepada Menteri.
(2) Laporan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
disampaikan paling sedikit 1
(satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
(1) Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, bagi Puskesmas yang belum
memiliki Apoteker sebagai penanggung jawab, penyelenggaraan Pelayanan
Kefarmasian secara terbatas dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian atau
tenaga
kesehatan lain yang ditugaskan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.
(2) Pelayanan Kefarmasian secara terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai; dan
b. pelayanan resep berupa peracikan Obat, penyerahan Obat, dan
pemberian informasi Obat.
(3) Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian secara terbatas sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) berada di bawah pembinaan dan pengawasan
Apoteker yang ditunjuk oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.
(4) Puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyesuaikan
dengan ketentuan Peraturan Menteri ini dalam jangka waktu paling lama 3
(tiga) tahun sejak Peraturan Menteri ini diundangkan.
Berdasarkan permenkes diatas dapat kita simpulkan
bahwa “Kebijakan Pemerintah mengatur terkait kefarmasian itu,
karena obat adalah produk khusus. Karena sifatnya khusus,
pengaturan pemberian obat yang melakukan juga wajib
hukumnya memiliki keahlian di bidangnya. Dan tentunya yang
memiliki keahlian itu adalah apoteker atau asisten apoteker.

Atas kejadian di Puskesmas Bulelanng Berdasarkan


permenkes diatas dapat kita simpulkan bahwa “Kebijakan
Pemerintah mengatur terkait kefarmasian itu, karena obat adalah
produk khusus. Karena sifatnya khusus, pengaturan pemberian
obat yang melakukan juga wajib hukumnya memiliki keahlian di
bidangnya. Dan tentunya yang memiliki keahlian itu adalah
apoteker atau asisten apoteker.
Atas kejadian di puskesmas bulelanng ini seharusnya Pemerintah
kabupaten Buleleng tidak menganggap kejadian ini sebagai
persoalan yang ringan. Supaya Pemkab Buleleng bisa mengikuti
amanat dari permenkes tersebut, untuk menempatkan apoteker
atau asisten apoteker di setiap apotek yang ada di Puskesmas di
Buleleng.

Ini seharusnya Pemerintah kabupaten Buleleng tidak


menganggap kejadian ini sebagai persoalan yang ringan. Supaya
Pemkab Buleleng bisa mengikuti amanat dari permenkes
tersebut, untuk menempatkan apoteker atau asisten apoteker di
setiap apotek yang ada di Puskesmas di Buleleng.
Wakil Bupati Buleleng dr I Nyoman Sutjidra mengakui bahwa
tanaga apotek yang ditempatkan di Puskesmas Buleleng III bukan
tenaga ahli di bidang farmasi. Bahkan kondisi tersebut memang
terjadi di semua Puskesmas yang ada di kabupaten B

Wakil Bupati Buleleng dr I Nyoman Sutjidra mengakui bahwa


tanaga apotek yang ditempatkan di Puskesmas Buleleng III bukan
tenaga ahli di bidang farmasi. Bahkan kondisi tersebut memang
terjadi di semua Puskesmas yang ada di kabupaten Buleleng.

Sutjidra menambahkan, Pemkab Buleleng mengalami kesulitan


untuk melakukan perekrutan terhadap apoteker ataupun asisten
apoteker untuk ditempatkan di Puskesmas di Buleleng, mengingat
peminatnya memang tidak terlalu banyak
uleleng.

Sutjidra menambahkan, Pemkab Buleleng mengalami kesulitan


untuk melakukan perekrutan terhadap apoteker ataupun asisten
apoteker untuk ditempatkan di Puskesmas di Buleleng, mengingat
peminatnya memang tidak terlalu banyak
Persoalan kesalahan pemberian obat terhadap pasien di
Puskesmas Buleleng III ini juga disikapi Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Cabang Buleleng. IDI Cabang Buleleng bahkan langsung
melakukan investigasi atas masalah kesalahan pemberian obat di
Puskesmas tersebut. Secara khusus, IDI Cabang Buleleng, juga
mengundang Kepala Puskesmas Buleleng III dr. Dewa Made Suteja
serta petugas kesehatan di puskesmas setempat, dr. Gede
Sudimartana yang diduga melakukan kesalahan prosedur.

Hasil investigasi sementara, IDI menyatakan tidak ada


kesalahan resep. Hanya saja ada kesalahan komunikasi antara
dokter dengan pasien, ketika pasien menyampaikan protes pada
pelayanan yang diberikan. Dimana resep yang dituliskan oleh
dokter bersangkutan sudah sesuai dengan hasil diagnosa, IDI
Buleleng juga menemukan komunikasi yang kurang etis antara
dokter dengan pasien. Pada saat pasien mengajukan komplain
pada Rabu siang lalu, dokter justru berdalih bahwa obat tetes
telinga yang salah diberikan di bagian awal, adalah obat untuk
melicinkan mata
Selain beberapa hasil investigasi tersebut, IDI cabang
Buleleng juga menemukan track record buruk dari dokter
bersangkutan, terutama pada masalah komunikasi. Insiden itu
disebut terjadi sekitar enam tahun lalu. Sehingga dengan adanya
fakta fakta tersebut, IDI Buleleng merekomendasikan agar dokter
yang bersangkutan ditarik dari tugas pelayanan.
Sementara, Sekretaris Dinas Kesehatan Buleleng I Nyoman
Suasa Giri mengaku tak bisa menjawab hal itu karena kewenangan
pemindahan harus dilakukan melalui SK Bupati.

Hal itu juga diungkapkan ketika Komisi IV DPRD Buleleng


dengarkan pendapat seluruh dokter di Puskesmas, yang
menghadirkan Dinas Kesehatan, dan pihak RSUD Buleleng, Dalam
pertemuan yang dipimpin Ketua Komisi IV, Gede Wisnaya Wisna
itu, dokter dari masing-masing Puskesmas memang diminta
menyampaikan kondisi sarana, prasarana dan jumlah SDM. Nah,
dari penjelasan masing-masing dokter Puskesmas terungkap rata-
rata tidak punya tenaga farmasi.
Selama ini, pelayanan resep pengambilan obat, ditugaskan
pada seorang perawat atau bidan. “Tenaga farmasi memang belum
ada. Dokter dari masing-masing Puskesmas itu juga mengungkap
selain tidak punya tenaga farmasi, pelayanan di Puskesmas juga
belum memiliki tenaga rekam medik yang kompeten. Salama ini
mereka hanya memanfaatkan tenaga kontrak dari tamatan SMA.
“Tenaga rekam medik juga belum, masih memanfaatkan tenaga
kontrak. Padahal rekam medik ini sebagai salah satu persyaratan
dalam akreditasi pelayanan Puskesmas, karena rekam medik ini
menjadi catatan penting dalam masalah kesehatan warga,”
katanya

Terkait persoalan itu, anggota Komisi IV, Nyoman Gede Wandira


Adi minta agar persoalan-persoalan ditingkat Puskesmas
disampaikan secarai detail, sehingga lembaga DPRD Buleleng bisa
memperjuangkan dalam penyusunan anggaran. “Tolong nanti
dicatat dan disampaikan kepada kami, sehingga kami bisa
memperjuangkan dari sisi kebutuhan anggaran. Sedang untuk
tenaga rekaman medik dan farmasi, adalah kewenangan dalam
perekrutan CPNS,” katanya.
Pada saat ini belum ada sanksi terhadap puskesmas
tersebut, hanya saja sanksi yang diberikan terhadap dokter yang
bertugas. Kemudian pihak kepala puskesmas telah meminta maaf
atas kesalahan ini kepada korban, dan berjanji akan membina
bawahannya. Kemudian setelah kejadian itu pemerintah telah
melakukan pemantauan terhadap korban dan teguran kepada
petugas apotek serta melakukan penataan SDM di puskesmas
tersebut.

Kemudian dari pihak korban juga menyampaikan bahwa


dia bersedia memaafkan, tetapi jika terjadi yang tidak di inginkan
dengan kesehatan matanya maka dia akan membawa ke jalur
hukum.