Anda di halaman 1dari 17

ASKEP MENINGITIS

PADA ANAK
OLEH :
SYAHFITRI ADINDA RISKI
16.11.146
PSIK 3.1
Pengertian

 Meningitis adalah inflamasi lapisan disekeliling otak dan medula


spinalis yang disebabkan oleh bakteria atau virus (Smeltzer, 2014)
 Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi
otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau
organ-organ jamur (Smeltzer & Bare, 2002)
 Meningitis adalah infeksi yang menular. Dapat disebabkan oleh
mikroorganisme (seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang
menyebar dalam darah ke cairan otak),luka fisik,kanker, atau obat-
obatan tertentu.Dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran,
bahkan kematian.
Klasifikasi Meningitis dibagi
menjadi 3 :

Meningitis Bakterial
(Meningitis sepsis)

Meningitis Virus
(Meningitis aseptic) Meningitis Jamur
Etiologi
 Bakteri penyebab meningitis terbanyak  Faktor predisposisi untuk
terjadinya meningitis: Infeksi jalan
disebabkan oleh: Hemophilus influenzae, napas bagian atas,Otitis
Streptococcus pneumoniae dan Neisseria media,mastoiditis,Anemia sel sabit
meningitidis. dan hemoglobinopatis lain,
 Penyebab meningitis terbagi atas beberapa  Faktor maternal : ruptur membran
fetal, infeksi maternal pada minggu
golongan umur: terakhir kehamilan.
1. Neonatus : Eserichia coli, Streptococcus beta  Prosedur bedah saraf baru,trauma
hemolitikus, Listeria monositogenes kepala, dan pengaruh immunologis.
2. Anak di bawah 4 tahun : Hemofilus  Virus
influenza,meningococcus, Pneumococcus.  Virus herpes
3. Anak di atas 4 tahun dan orang dewasa :  Arbo virus
Meningococcus,Pneumococcus, Diplococcus  Campak dan varicela
pneumoniae
Manifestasi klinis
 Sakit kepala,Sakit-sakit pada otot-otot, Kejang yang bisa disebabkan oleh
iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia. Demam tinggi.,mual dan muntah
 Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah
laku.Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.
 Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata
pasien
 Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI
 Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap
lanjutan bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot.
 Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak
terdapat
 Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
 Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan
koma.
Patofisiologi
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi
radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat
menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan
serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen,
vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar
otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran
ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan
fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada
darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan
peningkatan TIK. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin
bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini
dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan
meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai
akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang
disebabkan oleh meningokokus.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Fungsi Lumbal Dan Kultur CSS : Glukosa Serum Meningkat ( Meningitis ),


Glukosa darah menurun, LDH Serum Meningkat ( Meningitis Bakteri ), Sel
Darah Putih (LEUKOSIT) Meningkat dengan Peningkatan Neutrofil ( Infeksi
Bakteri ) Elektrolit Darah Abnormal, ESR/LED Meningkat Pada Meningitis.
Elektrolit serum meningkat jika anak dehidrasi : Na+ naik dan k+ turun.
2. Kultur Darah/ Hidung/ Tenggorokan/ Urine Dapat Mengindikasikan
Daerah Pusat Infeksi Atau Mengindikasikan Tipe Penyebab Infeksi
3. MRI/ Scan CT : Dapat Membantu Dalam Melokalisasi Lesi, Melihat
Ukuran/Letak Ventrikel; Hematom Daerah Serebral, Hemoragik Atau
Tumor .
4. Rontgen Dada/Kepala/ Sinus ; Mungkin Ada Indikasi Sumber Infeksi Intra
Kranial.
PENATALAKSANAAN
 Penatalaksanaan Medis
• Dirawat di rumah sakit, pemberian terapi antibiotic, pemberian
obat bila pasien gelisah, diberikan sedative,nyeri kepala dapat
diatasi dengan pemberian analgetik , demam dengan
antipiretik.

 Penatalaksanaan keperawatan
• Memelihara status hidrasi dengan larutan infuse elektrolit dan
oksigenasi.
• Monitoring tanda-tanda vital.
Pencegahan Komplikasi
Meningitis yang disebabkan oleh 1. Hidrosefalus obstruktif
meningokokus dan hemofilus 2. MeningococcL Septicemia
tipe B bisa menular influenza (mengingocemia )
pada anak dan orang dewasa 3. Sindrome water - friderichen (septik
yang berhubungan erat dengan syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral)
penderita, yaitu yang tinggal dan 4. SIADH ( Syndrome Inappropriate
makan dalam 1 gedung yang Antidiuretic hormone )
sama. Oleh karena itu, perlu
dilakukan upaya pencegahan 5. Efusi subdural
antara lain : 6. Kejang Edema dan herniasi serebral
1.penderita diisolasi 7. Cerebral palsy
2.pemberian faksinasi 8. Gangguan mental
3.pemberian obat-obatan 9. Gangguan belajar
10. Attention deficit disorder Read
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian j) Pemeriksaan fisik
a) Biodata 1) Keadaan Umum : kesadaran, tanda-tanda vital.
Kaku kuduk (+) Kernig’g sign (+)
b) Keluhan utama 2) Kepala dan Leher
:Kejang,demam,kesadaran menurun. 3) Dada dan Thoraks
c) Riwayat penyakit sekarang 4) Abdomen
d) Riwayat penyakit dahulu 5) Ekstremitas
e) Riwayat penyakit keluarga 6)Pemeriksaan saraf cranial
f) Status imunisasi 7) Pemeriksaan Reflek
g) Status nutrisi Refleks patologis akan didapatkan pada klien
meningitis dengan tingkat kesadaran koma.
h) Riwayat perkembangan Adanya refleks Babinski (+)
i) Data Psikososial 8) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan lumbal fungsi : hasil kultur
+ Neisseria meningitidis
Pemeriksaan saraf cranial
1. Saraf I. Biasanya pada klien meningitis tiidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada
kelainan.
2. Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal.
3. Saraf III,IV, dan VI. Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada klien meningitis yang tidak
disertai penurunan kesadaran biasanya tanpa kelainan. Pada tahap lanjut meningitis yang
telah mengganggu kesadaran, tanda-tanda perubahan dari fungsi dan reksi pupil akan
didapatkan.
4. Saraf V. Pada klien meningitis umumnya tidak didapatkan paralisis pada otot wajah dan
refleks kornea biasanya tidak ada kelainan.
5. Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
6. Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
7. Saraf IX dan X. kemampuan menelan baik.
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Adanya usuha dari
klien untuk melakukan fleksi
leher dan kaku kuduk (rigiditas nukal).
8. Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan normal.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan perfusi Jaringan sehubungan dengan Peningkatan tekanan intrakranial
2. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan adanya kejang berulang, fiksasi kurang optimal
3. Nyeri yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak.
4. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan akumulasi secret, penurunan
kemampuan batuk, dan perubahan tingkat kesadaran.
5. Ketidakefektifan koping individu dan keluarga tidak yang berhubungan dengan prognosis
penyakit, perubahan psiko-sosial, perubahan persepsi kognitif, perubahan actual dalam strukltur
dan fungsi, ketidakberdayaan, dan merasa tidak ada harapan.
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
kektidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik.
7. Cemas yang berhubungan dengan ancaman, kondisi sakit dan perubahan kesehatan.
8. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbataaan informasi.
INTERVENSI
1.Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan
tekanan intracranial
mandiri :
1. Pasien bedrest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal
2. Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.
3. Monitor intake dan output
4. Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Respirasi dan
hati-hati pada hipertensi sistolik
kolaborasi
a. pemberian cairan infus serta O2
b.obat antibiotic,antipiretik, dll.
C. monitor AGD jika perlu.
2. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan adanya kejang
berulang, fiksasi kurang optimal.
1. monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka
lainnya
2. Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang,
papan pengaman,
3. Pertahankan bedrest total selama fase akut
Kolaborasi
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam.
3.Nyeri yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak.
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
lokasi,karakterisktik,durasi,frekuensi,kualitas.
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3. Ajarkan teknik relaksasi
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik
EVALUASI
Hasil yang diharapkan:
1. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya / membaik dan fungsi
motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
3. Tidak mengalami kejang / penyerta atau cedera lain.
4. Melaporkan nyeri hilang / terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu
tidur/istirahat dengan tepat.
5. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.
6. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.
7. Tampa krileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan
keakuratan pengetahuan tentang situasi.
8. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi
endogen atau keterlibatan orang lain.
TERIMAKASIH ATAS PERHATIAN ANDA 