Anda di halaman 1dari 141

B.

BENCANA, KEJADIAN LUAR


BIASA PENYAKIT
Indonesia secara geo-spatial memang telah
menyimpan potensi bencana, karena terletak pada
wilayah pertemuan lempeng Asia dan Australia.
Jawa dan Sumatera merupakan Vulcanic Arc
termasuk juga Sulawesi dengan lempeng Palu Moro
yang hari Jumat 28 September 2018 sekitar
sebelum magrib waktu Indonesia bagian Tengah
(WITA) belum lama ini bergeser dan selain gempa
bumi, Tsunami dan likuipasi.
• Hal ini secara geo-politik-sosial-ekonomi yang
merupakan wilayah persimpangan Asia-Australia
dan Pasifik.
• Kejadian bencana alam maupun bencana akibat
kesibukan melakukan eksploitasi alam merupakan
salah satu penyebab timbulnya bencana.
• Wabah atau dalam bahasa sehari-hari kita kenal
sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada dasarnya
juga merupakan sebuah rangkaian bencana alam.
Bahkan bencana yang terencana rapi terorganisir
untuk tujuan dan maksud tertentu juga merupakan
masalah kesehatan yang dikaitkan dengan
globalisasi, yaitu terorisme.
• Dengan demikian, dalam pembahasan globalisasi
perlu dikemukakan dampak terhadap lingkungan
hidup penduduk lokal.
• Salah satunya adalah bagaimana mengelola
kesehatan msyarakat dalam situasi bencana.
• Kejadian Luar Biasa kejadian Penyakit dan
Terorisme.
• Pada tahun 2004, bencana telah menyebabkan 40
juta orang korban di dunia, baik korban cacat dan
luka-luka, korban meninggal dan korban dalam
pengungsian.
• Hal tersebut termasuk 5.8 juta anak-anak
dibawah umur 5 tahun pada 55 negara. Korban
anak-anak selain meninggal, juga korban akibat
tidak terurus kesehatannya dalam pengungsian.
• Terutama pangan dan gizinya serta meninggal
akibat penyakit menular seperti campak, diare,
dan infeksi saluran napas (WHO, 2004; Wilder
Smith 2005; Spradley et al. 2006).
• Pengertian Kejadian Luar Biasa atau KLB sering
juga disebut sebagai wabah. Wabah penyakit
pada hakikatnya juga sebuah bencana.
• Keduanya timbul dan meledak dan tiba-tiba
menimbulkan korban baik manusia maupun
harta benda. Atau sebaliknya pada setiap
kejadian bencana seringkali meniumbulkan
dampak wabah penyakit menular terutama di
pengungsian.
• Sedangkan terorisme adalah sebuah bencana yang
dibuat oleh manusia itu sendiri.
• Terorisme seperti hal bencana bisa menggunakan
kuman yang bisa menimbulkan wabah penyakit
infeksi, maupun bahan kimia beracun
sebagaimana bencana ledakan sebuah industri
yang mengandung bahan kimia.
• Bencana maupun KLB sering menjadi isu politik,
baik ditinngkat Nasional maupun tingkat provinsi
dan kabupaten atau kota, baik untuk tujuan
bagaimana mengatasi bencana dan wabah itu
sendiri maupun untuk tujuan-tujuan lain.
Mengelola Kesehatan Dalam Situasi
Bencana
• Bencana adalah sebuah fenomena akibat dari
perubahan ekosistem yang terjadi secara tiba-tiba
dalam tempo relatif singkat dalam hubungan antara
manusia dengan lingkungannya, sedemikian rupa
sehingga memerlukan tindakan penaggulangan
segera.
• Dalam UU 24/2004 tentang Penanggulangan
Bencana, bencana didefinisikan sebagai peristiwa
atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor
nonalam maupun faktor manusia sehingga meng-
akibatkan timbulnya korban jiwa manusia.
• Kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologi.
• Bencana dapat digolongkan pada dua katagori
yaitu bencana alam dan bencana akibat
manusia.
• Bencana alam misalnya letusan gunung merapi,
gempa bumi angin puyuh, banjir, tanah
longsong (landslides).
• Bencana akibat kegitan manusia misalnya:
tabrakan kereta api, ledakan sebuah pabrik,
bencana akibat konflik sosial, terorisme atau
kebakaran pemukiman (WHO, 2007,
Branderburg and Regen, 2006, Spredley et al.
2006).
• Indonesia dikenal sebagai wilayah yang memiliki
potensi rawan bencana. Hal ini disebabkan karena
Indonesia terletak pada pertemuan empat (4)
lempeng tektonik :
• Lempeng Benua Asia, Lempeng Benua Australia,
Lempeng Samudra Hindia dan Lempeng Samudra
Pasific.
• Pada bagian Selatan dan Timur terdapat sabuk
Vulkanik atau Vulcanic Arc yang memanjang dari
pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi.
• Sepanjang sabuk vulkanik ini sisinya berupa
pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang
sebagian besar didominasi oleh rawa-rawa.
• Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus
rawan bencana seperti letusan gunung
berapi, gempa bumi, Likuikpasi, stunami,
banjir dan tanah longsor.
Karakteristik Dampak Kesehatan
Akibat Bencana
• Meskipun memiliki kesamaan, dampak
kesehatan setiap bencana berbeda satu wilayah
dan wilayah lain, serta satu bencana dengan
bencana lainnya.
• Faktor waktu atau temporal juga memberikan
perbedaan tersendiri.
• Letusan gunung berapi satu berbeda dengan
letusan gunung api ditempat lain, terutama
kandungan gas beracun maupun karakteristik
lainnya.
Gunung Meletus
Hasil Letusan Gunung Berapi adalah :
• 1. Awan panas yaitu campuran material letusan
antara gas dan bebatuan. Suhunya antara 300-
700 derajat Celcius dengan kecepatan lumpurnya
diatas 70 km/jam.
• 2. Lontaran material pijar ini yang terjadi ketika
letusan berlangsung. Luncuran pijar ini mampu
membakar apapunyang dilaluinya.
• 3. Hujan abu terjadi ketika gunung api meletus.
Abu yang diterbangkan angin membahayakan
pernapasa.
• Lava merupakan magma yang mencapai
dalam bentuk cairan kental. Suhunya
mencapai 700-1.200 derajat Celcius. Apabila
lava gas racun yang keluar bisa menyebabkan
kemmaatian.

Tanda-tanda gunung mmeletus


• Sebelum meletus, gunung berapi biasanya
akan memberi tan-tanda atau gejala sebagai
berikit :
• 1. Suhu disekitar kawah naik
• 2. Sumber mata air mulai banyak yang kering
• 3. Gempa bumi mulai muncul
• 4. Binatang mulai turun gunung
• 5. Suara gemuruh mulai terdengar
Jika kita mengetahui tanda-tanda tersebut, kita
harus segera meninggalkan dan mencari tempat
yang aman untuk ditempati.
Keuntungan dan Kerugian Gunung
Meletus
Keuntungan tersebut adalah :
• 1. Letusan gunung berapi mampu menyuburkan
tanah. Tanah yang subur ini disebabkan oleh abu
vulkanik dan tanah yang hancur memberikan
unsur hara yang membuat tanah subur.
• 2. Gunung berapi merupakan daerah penangkap
hujan yang baik
• 3. Dapat menghasilkan bahan tambang yang
berharga, misalnya emas, belerang, maupun
besi.
Kerugian Gunung Meletus
Berikut bebrapa kerugian gunungg meletus :
1. Material yang berwujut padat baik yang
berukuran besar atau kecil mampu merusak
rumah, gedung, ladang dan jembatan.
2. Abu yang berterbangan di angkasa dapat
mengganggu penerbangan, selin itu juga dapat
membuat tanaman menjadi gagal panen karena
tertimbun.
3. Lava dan lahar yang panas mampu merusak apa
saja yang dilewatinya.
• 4. Lava yag dingin apabila bercampur dengan
hujan akan menjadikan bencana lahar dingin
dan akan merusak apa saja yang di lewatinya.
• 5. Awan panas dapat membuat penduduk
tewas, tanaman mati dan binatangpun mati.
• 6. Gas beracun akan muncul dan
akanmengaancam penduduk disekitarnya.
• 7. Apabila gunung meletus di tengah laut
maka akan menimbulkan gelombang tsunami
yang mampu menghantam apa saja yang
dilaluinya. Gelombang dapat mencapai 40 m.
Penanggulangan Gunung Meletus
• Usaha untuk mengurangi jumlah korban jiwa
dan materi, maka perlu diadakan
penanggulangan.
• Terdapat beba, atau beberapa tingkatan yang
harus diketahui oleh masyarakat yang
menunjukkan bahawa gunung tersebut
istirahat, atau aktif dan siap meletus.
• Isyarat tersebut adalah sebagai berikut :
• Isyarat Makna Tindakan
• Awas + Menandakan gunung + Wilayah yang terancam
• berapi yang segera atau bahaya direkomendasi
• sedang meletus atau ada kan untuk dikosongkan
• dalam keadaan kritis yang + Koordinasi dilakukan
• menimbulakn bencana. Secara harian.
• + Letusan pembukaan + Piket Penuh
• dimulai dengan abu dan
• asap.
• + Letusan berpeluang terjadi
• dalam waktu 24 jam.
• Siaga + Menandakan + Sosialisasi di wilayah ter-
• gunung berapi yang ancam
• sedang bergerak kearah + Penyiapan sarana darurat
• letusan atau menimbul- + Kordinasi harian
• kan bencana + Piket Penuh.
• + Peningkatan intensif
• kegiatan seismic
• + Semua data menunjuk
• kan bahwa aktifitas dapat
• segera berlanjut keletusan
• atau menuju pada keadaan
• yang dapat menimbulkan
• bencana
• + Jika tren peningkatan
• berlanjut, letusan dapat
• terjadi dalam waktu 2 minggu.
• __________________________________________________
• Waspada + Ada aktifitas apapun + Penyuluhan/Sosialisasi
• bentuknya + Penilaian bahaya
• + Terdapat kenaikan + Pengecekan sarana
• aktifitas di atas level + Pelaksanaan piket
• normal terbatas
• + Peningkatan aktifitas
• seismic dan kejadian
• vulkanis lainnya
• + Sedikit perubahan
• aktifitas yang diakibatkan
• oleh magma, tektonik dan
• hidrotermal
• Normal + Tidak ada gejala aktifitas + Pengamatan rutin
• tekanan magma + Survey dan
• + Level aktifitas dasar penyelidikan
_______________________________________________________

Beberapa cara penanggulangan gunung meletus adalah sebagai


berikut :
1. Adanya peringatan dini mengenai adanya gunung meletus
2. Masayarakat cukup untuk mendapatkan informasi
3. Daerah rawan letusan tidak dijadikan pemukiman
4. Amemakai masker untuk menutupi hidung dan mulut
5. Lingdungi mat dengan kacammata.
BANJIR
• Banjir meupakn peristiwa terendamnya
daratan oleh air yang jumlahnya terlalu
banyak.
• Pada dasarnya banjir terjadi akibat sungai
tidak mampu menampung debit air yang
terlalu banyk sehingga air itu meluap dan
memasuki daratan
Penyebab banjir
• Penyebab banjir sebagian besar disebabkan oleh
ulah manusia sendiri.
• Beberapa penyebab banjir adalah sebagai
berikut:
1. Hujan yang terus-menerus
2. Erosi Tanah
3. Saluran air yang tidak dipelihara/tersumbat
4. Kerusakan hutan
5. Membuang sampah sembarangan
6. Membangun perumahan di daerah resapan air
Jenis-jenis banjir
1. Banjir Bandang :
• Banjir bandang adalah banjir yang terjadi akibat
meluapnya air sungai. Banjir bandang ini muncul
secara tiba-tiba yang dikarenakan banyaknya air
yang ada disuatu tempat.
• Banjir bandang terjadi akibat penjenuhan air yang
berada diwillayah tersebut yang berlangsung
secara cepat, ssehingga tanah tidak mampu lagi
untuk mnyerapnya. Contoh banjir bandang yang
terjadi adalah jobolnya tanggul di Situ Gintung
diCiputat pada waktu subuh.
2. Banjir lumpur :
• Banjir lumpur adalah peristiwa
menyemburnya lumpur panas dari dalam
perut bumi menuju permukaan bumi.
• Di Indonesia ada banjir lumpur yang terkenal
yaitu banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo.
3. Banjir Missoula :
• Banjir Missoula adalah banjir yang bersifat
periodik dan terjadi di Amerika Serikat. Banjir
ini terjadi pada musim dingin dan musim
semi. Missoula disebut juga dengan nama
Spokane atau banjir Bretz.
Pencegahan dan Penyelamatan
• 1. Tidak menggunduli hutan.
• 2. Penanaman kembali hutan yang sudah
gundul
• 3. Tidak membuang sampah sembarang.
• 4. Merawat saluran air dengan baik
• 5. Membuat tempat peresapan air
• 6. Membuat bangunan di daerah dataran
tinggi
• Banjir merupakan bencana alam yang tersering.
40% bencana alam di dunia disebabkan oleh
banjir (Noji, 1997).
• Banjir seringkali menyebabkan kontaminasi
sumber-sumber air minum dimana-mana. Data
Pengalaman diberbagai negara di dunia, ternyata
ada perbedaan-perbedaan jenis penyakit
endemik yang kemudianmuncul ketika banjir
datang.
• Penyaki-penyakit yang berkenaan dengan banjir
itu sendiri bisa terjadi secara langsung maupun
tidak langsung.
• Yang dimaksud akibat langsung, selain akibat
kontaminasi air banjir kesumber-sumber lain
• Leptospirosis, kolera, dan kejadian penyakit
disentri dan shigella.
• Banjir di musim panas di Missouri misalnya,
Amerika Serikat yang merendam 75 %
merendam wilayah Missouri ini, selain
menyebabkan wabah juga menyebabkan
timbulnya penyakit radang saluran napas atau
respiratory tract dan leptospirosis (Wilder
Smith, 2005).
• Akibat secara tidak langsung dari kejadian
penyakit pasca banjir cotohnya adalah penyakit
yang ditularkan oleh nyamuk atau disebut
vectorborne desease.
• Diantara penyakit vertorborne adalah demam
berdarah dan JE-Japanese Encephalitis.
• Banjir di Equador pada tahun 1983, telah
menyebabkan peningkataan kasus malaria
sebanyak 7 kali,
• Banjir di Khartoum Sudan, menimbulkan
epidemi hepatitis, dan infeksi saluran
pencernaan.
• Banjir di Bangladesh pada tahun 1988
menyebabkan wabah penyakit pencernaan
(Wilder-Smith, 2005).
GEMPA DAN LETUSAN GUNUNG
BERAPI
• Bencana akibat gempa dan letusan gunung
berapi umumnya berlangsung singkat dan
mendapat perhatian baik skala nasional maupun
internasional.

• Selain luka-luka yang memerlukan perhatian di


tempat-tempat pengungsian, juga penyakit-
penyakit berkaitan dengan masalah kesehatan
masyarakat seperti akibat gas beracun, radang
penyakit mata, saluran nafas dan lain-lain.
• Namun demikian diantara kegiatan gunung
berapi, ada sedikit perbedaan satu sama lain. Di
dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah terkenal
dengan gas beracun seperti Karbon Monosida
yang keluar dari kawah Sinila, maka gunung
merapi di Jawa Tengah, memiliki karakteistik
dengan awan panas dan lelehan awan panas yang
mengalir deras melalui lembah dan sungai-
sungai.
• Secara umum potensi bahaya letusan ketika
meletus partikel yang membahayakan adalah gas-
gas beracun, lahar panas, awan panas, partikel
debu yang mengandung berbagai bahan beracun,
serta batu-batuan berdiameter 1 cm hingga
puluhan centimeter.
• Korban keruntuhan bahan bangunan
menyusul gempa vulkanik, luka bakar,
keracunan gas beracun, debu sangat iritan
adalah masalah –masalah kesehatan yang
sering dihadapi.
• Tsunami dapat pula dialami oleh sebuah pulau
atau pulau-pulau yang dikelilingi gunung
berapi di dalam laut.
• Di Amerika Serikat dan Jepang (Noji, 1997)
Gempa bumi merupakan bencana alam
utama. Dalam menghadapi gempa bumi yang
terpenting adalah kesiapan menghadapinya.
• Korban gempa umumnya berupa rudapaksa atau
injuris. Hal-hal yang berkaitan dengan kesipan
menghadapi bencana gempa misalnya aturan aturan
tata guna lahan dan atau tata ruang, konstruksi dan
bahan-bahan bangunan yang boleh digunakan dan lain-
lain.
• Diperlukan integrasi berbagai ilmu seperti Ahli
Kesehatan Masyarakat terutama epidemiologi, arsitek,
geologi, meteorologi.
• Ahli Epidemiologi juga harus memeiliki catatan,
distribusi prekuensi luka-luka yang diakibatkan oleh
gempa bumi di daerahnya,sehingga dapat
mempersiapkan kebutuhan pelayanan kesehatan
dimasa mendatang apabila terjadi bencana serupa
diwilayahnya.
• Demikian juga perlu pemetaan penyakit-penyakit
endemik dan kesipan wilayah pengungsian harus
di siapkan selama fase pra bencana.
• Pelatihan-pelatihan perlu diberikan kepada
masyarakat bagaimana melakukan pertolongan
pertama, dan bagaimana harus menyelamatkan
diri ketika datang bencana gempa bumi maka
dalam hal upaya persiapan sistem pelayanan
sering kali menghadapi kesulitan.
• Untuk mempelajari kejadian bencana gempa dan
bagaimana penanganannya harus dipelajari,
untuk diterapkan dalam simulasi diwilayahnya
(WHO, 2007; Kemp, 2006; Brend et al. 2006).
• Sedangkan bencana alam letusan gunung
berapi, khusunya bagi masyarakat Indonesia
merupakan suatu hal yang harus benar-benar
disiapkan.
• Gambaran di seluruh dunia, diperkirakan pada
tahun 2000 terdapat 500 juta penduduk yang
tinggal di daerah rawan gunung berapi yang
sewaktu-waktu bisa meletus.
• Bagi penduduk diwilayah ini harus
disiapkanbagaimana menghadapi letusan
gunung berapi itu sendiri
TSUNAMI
• Tsunami berbeda dengan banjir, kejadian begitu
cepat tidak terduga namun bisa diprediksi.
• Daerah daerah pantai dimana laut rawan gempa
seperti halnya pantai Selatan Jawa, pantai Barat dan
Utara Sumatra, serta sebelah Timur Utara Australia.
• Solomon island rawan gempa dan rawan tsunami.
Tsunami sendiri merupakan kata yang berasal dari
kata Jepang, karena sering gempa diwilayah Jepang.
Yaitu Tsu= Pelabuhan dan nami=gelombang
• Jadi Tsunami dapat diartikan ombak besar di
pelabuhan.
• Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember
2004 di Asia Selatan dan di Asia Tenggara telah
melanda 11 negara dan 5 juta penduduk,
dianggap sebagai di greatest natural disaster.
• Menyusul tsunami yang melanda Asia Selatan
termasuk Aceh pada tahun 2004 serta tsunami di
kepulauan Solomon di dekat Papua New Guinea,
maka kini Australia memasang Sistem Deteksi
Dini (SDD) datangnya tsunami.
• Penduduk Australia khusunya Queensland dekat
PNG dan Solomon sempat panik karena tsunami
melanda tsunami melanda Solomon pada tahun
2007.
• Dampak langsung kejadian tsunami adalah
drowning, yakni masuknya cairan air laut berlumpur
serta kotoran lainnya kedalam paru-paru baik
sebagian maupun keseluruhan bagian paruh.
• Kasus ini banyak sekali terjadi pada saat peristiwa
tsunami Aceh Darussalam. Dampak kesehatan
masyarakat lainnya berkenan dengan pengungsian,
mulai dari ancaman diare, kolera, campak, malaria
dan berbagai penyakit menular lainnya.
• Indonesia dinilai berhasil mencegah wabah penyakit
menular menysul tsunami di NAD, berkat kesiapan
Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit
Menular yang bekerjasam dengan LSM, lintas
sektoral.
• Dampak kesehatan akibat tsunami tidak saja
berhenti sampai rehabilitasi, namun justru
rehabilitasi sering kali atau dapat menimbulkan
ekosistem baru bagi sejumlah vektor penyakit.
• Sebagai contoh pembangunan perubahan
korban tsunami yang cenderung seragamtelah
menjadi habitat Aedes agepty nyamuk penular
demam berdarah (Hermansyah, 2012).
BENCANA KEKERINGAN DAN
KELAPARAN
• Bnecana kelaparan adalah bencana umat manusia,
yang nyaris tergantung sepenuhnya kepada
fenomena alam (Noji, 1997).
• Masyarakat pertanian yang tergantung kepada
terutama musim hujan. Sektor pertanian beserta
masyarakat petani akan mengalami bencana. Kalau
ada musim kering berkepanjangan .
• Bagi nelayan pulau kecil bencana melanda ketika
datang musin angin Barat atau angin Timur
berkepanjangan sehingga tidak bisa melaut.
• Kelaparan akan menyusul bencana tersebut , bahkan
derajat status gizi masyarakat wilayah pantai akan
terkena imbasnya.
• Bagi kabupaten yang mempunyai langganan
kelaparan akibat bencanaini, harusnya bisa
mengantisipasi.
• Bagi penduduk pulau kecil, karena hubangan
komunikasi putus sama sekali maka mereka tidak
bisa menceritrakan derita mereka akibat
keterbatasan komunikasi.
• Bagi petugas kabupaten hendaknya memahami dan
perlu mengumpulkan evidence untuk membuat
perencanaan menghadapi bencana alam yang
menyebabkan kelaparan.
TANAH LONGSOR
• Tanah Longsor merupakan jenis gerakan
tanah. Tanah longsor sendiri merupakan gejala
alam yang terjadi di kawasan pegunungan.
• Semakin curam kemiringan lereng suatu
kawasan, semakin besar pula kemungkinan
terjadi longsor.
• Longsor terjadi saat lapisan bumi paling atas
dan bebatuan terlepas dari bagian utama
gunung atau bukit.
Penyebab tanah longsor
1. Faktor Alam :
a. Kondisi geologi antara lain batuan lapuk
kemiringan lapisan tanah, gempa bumi dan letusan
gunung berapi.
b. Iklim yaitu pada saat curah hujan tinggi.
c. Keadaan topografi yang lereng yang curam.
2. Faktor manusia
a. Pemotongan tobing pada penambangan batu di
lereng yang terjal.
b. Penimbungan tanah di daerah lereng.
c. Penebangan hutan secara liar di daerah lereng.
d. Budidaya kolam ikan di atas lereng
e. Sistem drainase di daerah lereng yang tidak baik.
f. Pemompaan dan pengeringan air tanah yang
menyebabkan turunnya level air tanah.
g. Pembebasan berlebihandari bangunan dikawasan
perbukitan.

Pecegahan dan Penyelamatan


1. Tahap awal atau tahap preventif
2. Tahap bencana
3. Tahap Pascabencana.
BENCANA INDUSTRI
• Salah satu bencana industri abad ke 20 yyang
sangat terkenal adalah peristiwa Bhopal di India
pada tahun 1984.
• Dari ledakan dan kebakaran pabrik insektisida ini
mengeluarkan bahan beracun yang dikenal sebagai
methyl isocyanat yang sangat yang sangat
beracun.
• Korban bergelimpangan di antaranya ada korban
yang meninggal dan luka serta cacat seumur hidup
yang mencapai hingga ribuan orang.
• Pada abad ke-21 mendatang di Indonesia,
khususnya di pulau Jawa dan kota-kota besar lain
di pulau-pulau besar di Indonesia, banyak terdapat
Industri yang berlokasi di tengah-tengah penduduk
atau penduduk yang mengerubuni industri.
• Di antara ribuan industri ini, sebagian rawan
kecelakaan dan musibah kecil hingga ledakan
besar. Salah satu contohnya adalah kejadian di
Gresik, pada tahun 2002.
• Mesikpun ada yang mengatakan bencana lumpur
di Sidoarjo sebagaian adalah dipicu kejadian alam,
namun karena bencana tersebut dipicu oleh
kegiatan manusia maka dapat pula dikatagorikan
sebagai bencana industri.
• Bencana industri pada umumnya mengandung atau
berpotensi mengeluarkan atau menimbulkan bahan
beracun (Cassaret and Doulls, 1991; Spradley et al.
2006; WHO, 2006).
• Untuk itu secara bersama antara sektor
perindustrian, Kepala Pemerintahan lokal, Dinas
Kesehatan dan Dinas-dinas terkait perlu membuat
agenda bersama.
• Agenda bersama tersebut adalah Disaster
preparedness, berupa bahaya apa yang mungkin
bisa ditimbulkan serta bagaimana menanganinya
dan siapa menolong apa.
• Harus ada kerja sama diantara semua yang
berkepentingan.
• Ada baiknya diadakan pertemuan
periodikuntuk operasi kesiapan dalam setiap
menghadapi bencana industri.
• Kepala pemerintahan Otonom bertanggung
jawab untuk mengkoordinir berbagagai
kegiatan persiapan atau pre paradness ini.
• Dalam mempersiapkan disaster pre paradness
ini, faktor alamia juga juga harus
diperhitungkan. Misalnya peta badan air, arah
dan kecepatan anginrata-rata, potensi wilayah
yang terkena risiko dan lain sebagainya
dalam mana kesemuanya digambarkan ke
dalam peta kesiap-siagaan.
BENCANA KOMPLIK SOSIAL
• Bencana konflik sosial sudah sering dialami
Indonesia , mulai peristiwa Ambon, Poso dan
NAD. Dampak langsung tentu luka-luka dan hal-
hal korban yang memerlukan pertolongan segera.
• Namun dampak tidak langsung adalah di
pengunsian yang memakan waktu berbulan-
bulan.
• Diperlukan perencanaan matang untuk
penlayanan kesehatan sebaik-baiknya.
• Beberapa penyakit pengungsian sebagaimana
telah digambarkan adalah diare, infeksi
saluran pernapasan, campak, tetanus dan
penyakit berkaitan dengan sanitasi darurat
lainnya.
• Penyakit endemik yang yang terdapat di
daerah pengungsian juga harus diwaspadai,
seperti demam berdarah dan Japanese
Encephalitis (Noji, 1997).
• Bencana sosial lainnya yang pernah terjadidi
Indonesia adalah ketika tenaga kerja Indonesia
dipaksa keluar dari Malaysia ke pulau
Nunukan Kalimntan Timur.
EFEK RUMAH KACA
• Efek rumah kaca, yang pertama kali di usulkan
oleh Joseph Fourier pad tahun 1824, merupakan
proses pemanasan permukan suatu benda langit
(terutama planet dan satelit) yang disebabkan
oleh komposisi dan keadaan atmosfirnya.
• Mars, Venus, dan benda langit yang memiliki
atmosfir lainnya ( seprti satelit alami Saturnus,
Titan) memiliki efek rumah kaca, hanya saja
artikel ini hanya membahas pengaruh di bumi.
• Efek Rumah Kaca dapat digunakan untuk menunjuk
dua hal yang berbeda : Efek rumah kaca alami yang
terjadi secara alami dibumi.
• Efek Rumah Kaca di tingkatkan yang terjadi akibat
kegiatan manusia.
• Yang belakang diterima kebanyakan oleh ilmuan
meskipun ada beberapa bperbedaan pendapat.
• Efek rumah kaca yang disebabkan oleh gas karbon
dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di di atmosfir.
• Meningkatnya konsentrasi gas CO2 ini disebabkan
oleh adanya pembakaran bahan bakar minyak, batu
bara dan bahan bakar organik lainnya, melebihi
kemampuan tumbuh-tumbuhan dan laut untuk
menyerapnya.
Energi yang masuk ke bumi :
• 25 % dipantulkan oleh awan dan partikel lain di
atmosfir
• 25 % diserap awan
• 45 % diserap permukaan bumi 10 % dipantulkan
kembali oleh permukaan bumi.
• Energi yang diserap di pantulkan kembali dalam
bentuk radiasi infra merah oleh awan dan
permukaan bumi.
• Namun sebagian besar infra merah yang
dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2
dan gas lainnya, untuk dikembalikan di permukaan
bumi.
• Dalam keadaan normal, efek rumah kaca
diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca
perbedaan suunsiang dan malam tidak terlalu
jauh berbeda.
• Selain gas CO2 yang dapat menimbulkan efek
rumah kaca adalah belerang dioksida,
Nitrogen monoksida (NO) dan Nitrogen
diaksida (NO2) serta beberapa senyawa
organik seperti gas metana, dan
Chlorofluorokarbon (CFC).
• Gas-gas tersebut memegang peranan penting
dalam meningkatkan Efek Rumah Kaca (ERK)
Radiasi Matahari Radiasi panas ke angkasa Radiasi langsung ke
Yang diserap bumi 195 permukaan 40
295 W/m2
67
Penyerapan gas
rumah kaca 350

Panas dan Energi di atmosfir 452


---

324
168 Efek Rumah Kaca
---

Pemanasan Bumi dan Lautan dipanaskan


Hingga rata-rata 14 derajat Celcius

EFEK RUMAH KACA


Sumber : www.id.wikipedia.org
• Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan
adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi.
• Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan
ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya
untuk menyerap karbon di oksida di atmosfir.
• Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-
gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya
permukan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan
meningkatnya suhu air laut sehingga berakibat kepada
beberapa pulau kecil tenggelam di negra kepulauan, yang
membawa perubahan dampak yang sangat besar.
• Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah
meningkatkan peningkatan suhu rat-rata bumi 1-5 derajat
celcius.
• Apabila kecenderungan peningkatan Gas rumah kaca tetap
seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan
pemanasan global antara 1,5-4,5 derajat celcius thn 2030.
MENGELOLA BENCANA
• Bencana adalah sebuah peristiwa yang
melibatkan berbagai sektor. Oleh karen itu
penanggulangan bencana harus dikelola oleh
Kepala Pemeintahan Otonom. Mengelola
bencana dapat dipilah menjadi tiga tahapan.
PRABENCANA
• Bencana bisa datang dari alam maupun ulah atau
kegiatan manusia. Meski bencana merupakan
kejadian yang diduga namun sebenarnya dapat
dilakukan upaya penceahan.
• Setidaknya mengurangi berbagai penyakit dengan
menyusun contingency plan pelayanan
kesehatan.
• Kepala Pemerintahan Otonom unttuk dilakukan
penyusunan contingency plan lebih lanjut.
• Selanjutnya contingency plan di bahas
bersama lintas sektor untuk memperoleh
dukungan dan pembagian tugas kewenangan.
• Koordinasi pembahasan ada pada sekretariat
kordinasi (Achmadi, 2005).
• Bencana alam yang sifatnya man made atau
ulah manusia misalnya ledakan pabrik yang
menimbulkan kebakaran, bahan rdioaktif, atau
gas beracun.
• Dalam hal ini setiap Dinas Kesehatan
hendaknya membuat peta kerawanan atau
potensi bencana.
• Sebuah kota yang memiliki banyak pabrik, hendaknya
mempelajari karakteristik pabrik tersebut.
• Apakah terdapat pabrik kimia, jenis kimia apa?
• Kemudian dipertimbangkan bagaimana potensi bahaya
terhadap kesehatan dalam jangka panjang, jangka
pendek apabila terjadi ledakan dan kebocoran.
• Apabila terjadi kebakaran dan ledakan, bahan gas
toksik sekunder apakah yang akan terbentuk. Bagaimna
dampaknya terhadap kesehatan dalam jangka panjang
dan jangka pendek. Juga diperhitungkan bagaimana
arah dan kecepatan angin rata-rata, bagaimana struktur
topografi, pantai, pegunungan kemudian apa
pengaruhnya terhadap aliran udara atau aliran sungai.
• Mengingat bahwa bencana alam potensial di
Indonesia adalah ledakan gunung berapi,
tsunami, angin ribut, banjir, kebakaran hutan
dan lain-lain.
• Setiap wilayah yang memiliki atau berdekatan
dengan pusat-pusat kejadian bencana harus
memiliki rencana contingency.
• Oleh karena itu, semua wilayah kabupaten,
kota, provinsi harus memiliki contingency plan
untuk mengantisipasi adanya bencana,
terutama kemungkinan adanya pengungsian.
• Didaerah-daerah yang memiliki masalah penyakit
menular, hendaknya memiliki atau membuat peta
endemisitas penyaki-penyakit tertentu.
• Dalam keadaan memungkinkan perlu
mengadakan simulasi. Dalam kesiapan
menghadapi bencanaharus ditujukan hal-hal
spesifik bencana apa yang akan disiapkan.
Misalnya untuk bencana gempa bumi, vaksin
seperti tetanus amat diperlukan, bencana banjir
karena hal-hal yang berkenaan dengan
tenggelam, berpotensi bahan kimia, bencana
meletusnya gunung berapi dan lain-lain.
• Untuk menghadapi bencana bahan kimia beracun
khususnya ledakan atau kecelakaan sebuah industri
kimia maka diperlukan contingency plan yang
didukung oleh berbagai sektor.
• Setidaknya delapan langkah (Modifikasi dari WHO-
SEARO, 2007) :
• 1. Identifikasi jenis bahan kimia apa hal ini lazim
dikenal sebagai upaya risk identification , tentukan
sifat-sifat dan potensi bahayanya atau risk
prediction serta sebuah protokol pengebatan dan
penanggulangan misalnya bagaimana melaakukan
pembersihan terhadap bahan pencemar yang
mungkin dikeluarkan, atau potensi bahaya
perubahan bahan kimia tersebut setelah terjadinya
kebakaran dan lain-lain.
• 2. Siapkan alat-alat pelindung dari potensi
bahaya yang ada seperti misalnya bahn-bahan
untuk melakukan dekontaminasi, alat respirators
(alat untuk melingdungi saluran pernapasan)
serta obat-obatan yang diperlukan.
• 3. Siapkan antidotum untuk itu perlu membuat
daftar bahan kimia yang memiliki potensi bahaya
kesehatan, serta daftar prediksi bahan kimia
ikutan yang kadang justru lebih berbahaya akibat
adanya kebakaran.Untuk antidotum spesifik bisa
ditanyakan atau mendapatkan informasi dari
Pusat Keracunan Indonesia (Poison Center) di
Badan POM di Jakarta atau Badan POM di
Provinsi.
• 4. Tentukan population at risk yakni kelompok
penduduk mana di daerah mana yang terkena
resiko, perhatikan pula arah dan kecepatan
angin atau aliran sungan.

• 5. Siapkan protokol bagaimana melakukan


pertolongan pertama, bagaimana melakukan
rencana triage, perawatan dan rehabilitasi.

• 6. Definisikan triage kriteria siapa yang


dianggap prioritas pertama siapa prioritas
kedua dalam pertolongan medik ?
• 7. Siapkan alat dan bahan dekontaminasi,
sebelum pasien ditolong untuk mencegah bahan
kimia mengkontaminasi penderita lebih lanjut
maupun petugas yang menolong.
• 8. Jangan lupa adakan simulasi dan evaluasi ,
secara periodik.

• Sebaiknya pada bencana kimia, dianjurkan


masyarakat tinggal di dalam ruangan atau
gedung tertutup atau rumah masing-masing.
• Tutup semua makanan sedangkan tanaman
pertanian yang sekiranya terkena gas atau debu
dimusnakan dan jangan dikonsumsi.
• Pelatihan amat penting, evaluasi pelatihan dan kesipan
hendaknya dievaluasi.
• Tentukan siapa-siapa yang termasuknantinya dalam
latihan kesiap-siagaan, daftar tersebut itulah yang
senantiasa diundang, menjadi tenaga inti kesiap
siagaan bencana bahan kimia (Kemp, 2006).
• Pelatihan (Brrand et al. 2006) bagi masyarakat umum
yang dianjurkan. Berbagai upaya kesiap siagaan
menghadapi bencana ini dievaluasi secara periodik,
meski tidak ada bencana.
• Protokol tetap senantiasa di up date baik terhadap
perubahan potensi bahaya kimia yang ada maupun
teknologi mitigasi dan adaptasi terhadap potensi
bahaya bahan kimia tersebut.
KETIKA BENCANA BERLANGSUNG
• Dalam fase bencana yang diperlukan adalah
manajemen korban atau manajemen kasus
korban langsung bencana tersebut.
• Dalam presfektik kesehatan masyarakat, tidak
banyak yang dapat dilakukan, rujuk kepada triage
pertolongan ketika bencana berlangsung.
• Untuk itu rujukan kasus-kasus korban bencana
yang memerlukan pertolongan segera harus
dipersiapkan. Pelatihan penanganan darurat
medik harus diselenggarakan.
• Bencana tsunami di Nangroh Aceh Darussalam (NAD),
didapat pelajaran bahwa bencana berkenaan dengan
air khususnya tsunami maka korban drowing atau
tenggelam merupakan kasus-kasus istimewa.
• Kasus-kasus tersebut berkenaan dengan aspphyxia,
asrasi dan lain-lain.
• Ahli paru beserta peralatan hal diperlukan seperti
ventilator perlu disiagakan. Rujukan atau jaringan
Rumah Sakit Wilayah maupun secara regional
hendaknya segera diselenggarakan.
• Demikian pula korban bencana gempa bumi seperti
halnya di NAD sebelum adanya tsunami, banyak
korban luka (trauma) perlu diberikan serum anti
tetanus.
• Pada umumnya cakupan (coverage) imunisasi
tetanus, khusus anak-anak sekolah dan
dewasa karena belum merata oleh karena
imunisasi dewasa belum merupakan program
nasional.
• Dalam bencana batasan waktu antara fase
bencana berlangsung dengan fase pasca
bencana tidak berbatas tegas.
• Sesaat kejadian bencana akan diikuti
pengungsian dan akn menimbulkan masalah
penangan tersendiri.
• Sedangkan ketika bencana berlangsung, selain
korban luka juga perlu dipikirkan menangani
korban meninggal akibat bencana, untuk
penaganan mayat korban bencana serta
manajemen berita perlu diketahui.
PASCA BENCANA
• Setiap terjadi bencana selain menelan korban
jiwa dalam mana selalu memerlukan
pelayanan darurat medik, juga akan diikuti
tahap berikutnya yakni masalah pengungsian.
• Pengungsian pada dasarnya merupakan
pemukiman sementara dan berhubungan erat
dengan masalah kesehatan masyarakat.
• Dalam prospektik dengan kesehatan
masyarkat, penanganan bencana terbagi
menjadi ;
• Pertama bencana alam,
Kedua bencana berhubungan dengan
berbagai aktivitas manusia (man made).
• Keduanya memiliki karakteristik permasalahan
sedikit berbeda. Dalam prospektif kesehatan
masyarakat, masalah kesehatan
pengungsi(displaced people) akibat bencana
alam, biasanya hanya memerlukan waktu
pelayanan relatif singkat.
• Kecuali bencana Tsunami di Nangroe Aceh
Darusalam.
• Sedangkan pengungsi akibat bencana komplik
sosial bisa memeakan waktu berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun (Achmadi, 2005).
• Masalah kesehatan masyarakat ditempat
pengungsian sangat kompleks.
• Namun secara umum dapat dipelajari secara
empirik untuk menyusun contingency plan.
• Beberapa masalah kesehatan masyarakat
pengungsi antara lain masalah gizi atau pangan,
masalah kesehatan mental, ledakan penyakit
mennular dan hal-hal yang berkenaan dengan
sanitasi dasar (Achmadi, 2005)
• Berbagai masalah ini memerlukan penangan an
secara profesional bidang kesehatan masyarakat,
mulai dari masalah gizi dan pangan, vaksin, air
bersih, sanitasi, kesehatan pemukiman,
penanggulangan masalah psikososial, penyuluhan,
berbagai penyakit menular, seperti malaria, penyakit
hubungan seksual dan sebagainya.
• Informasi yang berasal dari surveilan ketika sebelum
adanya bencana yang kemudian dipetakan
(pemetaan) untuk menentukan endemisitas
penyakit, hendaknya dijadikan basis pemilihan
tempat pengungsian.
• Untuk itu pemetaan kandidat tempat pengungsian
perlu dipetakan dan disosialisasikan.
• Hal ini diperlukan untuk antisipasi penyediaan
alat-alat penyelamatan, penyediaan air bersih,
penyedian obat-obatan, atau penanggulangan
wabah pascabencana yang berasal dari kondisi
endemik penyakit lokal.
• Beberapa keahlian dalam penanggulangan
bencana disiapkan

• Endemiologi Bencana.
• Tugas ahli eppidemiologi kabupaten adalah
selain memetakan titik kerawanan untuk
menentukan contingency plan, juga harus
memiliki kemampuan prediksi terhadap
penyakit yang diperkirakan dapat muncul atau
• Melakukan surveilan epidemiologi di daerah
bencana, out break dan penangannya.
• Beberapa pertanyaan dapat menjadi arahan
keahlian tersebut. Apakah daerah
pengungsian merupakan wilayah endemik
malaria ? Wilayah filariasis ? Wilayah anthrax,
wilayah endemik Japanese encepphalitis ?
• Jenis penyakit apa yang diperkirakan muncul
ketika datang bencana dan pengungsian ?
• Kebutuhan logistik apa yang diperlukan ?
KESEHATAN LINGKUNGAN BENCANA
• Kini masalah ini sudah menjadi cabang
kekhususan sendiri di bidang ilmu Kesehatan
Lingkungan.
• Kesehatan Lingkugan bencana menfokuskan
diri dalam hal keperluan sanitasi darurat atau
sanitasi dasar, kebutuhan air bersih, tempat
pengungsian sehat, ventilasi, kebersihan
pangan.
• Pemetaan atau survei vektor penyakit daerah
bencana baik fase prabencana, maupun
pascabencana harus dilakukan secara terus
menerus.
• Dengan kata lain Kepala Dinas Kesehatan
harus memilih pengetahuan kesehatan
masyarkat dalam bencana (Noji, 1997; WHO,
2007).
• Termasuk di dalamnya berbagai macam
kondisi bencana akibat kemarau pannjang (El
Nino), kebakaran hutan, tsunami, gempa
bumi, bencana di pulau-pulau kecil.
Pangan dan gizi dalam Situasi
Bencana
• Struktur pengungsi serta kebutuhan pengungsi
serta kebutuhan gizi perlu diketahui.
• Masyarakat sering melupakan bahwa
dipengungsian justru bayi dan anak-anak yang
paling menderita dari aspek pangan.
• Sumbangan pangan biasanya hanya untuk orang
dewasa, namun anak-anak sulit diketahui serta
banyak masalah.
• Karena untuk balita, faktor air bersih untuk
memasak dan mencuci tempat minim bayi,
• Amat rawan. Pemahaman terhadap budaya,
kebutuhan pangan , kecukupan pangan
khususnya balita hendaknya disiapkan jauh-jauh
hari.
• Sungguh ironis apabila pengungsi yang biasa
makan sagu dikirim beras, atau bayi dipaksa
makan mie instan.
• Bagi sebagian penduduk Jakarta menyumbang
makanan bagi pengungsi identik dengan
menyumbang mie instan tanpa peduli sebagian
pengungsi adalah bayi.
• Pascabencana tsunami, WHO (2004) telah
membuat panduan bagaimana menyusui anak-
anak di tempat pengungsiaan.
• Dalam panduan tersebut telah diatur
bagaimana menyusui atau harus ada jaminan
bahwa anak-anak umur hingga 6 bulan
mendapat ASI secara penuh.
• Kalau hendak diberi tambahan maka pastikan
tidak menggunakan botol atau sejenisnya.
Serta kalau hal tersebut harus dilakukan ,
harus dengan supervisi ketat.
• Botol susu terutama ketika
mempersiapkannya, merupakan sumber
infeksi pencernaan karena tidak bersih.
HUBUNGAN KLB, BENCANA DAN
PENYAKIT ENDEMIK SETEMPAT
• Endemik adalah istilah untuk menggambarkan suatu
kondisi kejadian penyakit di masyarakat.
• Dalam istilah kodokteran atau gambaran kondisi
kejadian penyakit yang dialami seseorang maka kondisi
endemik dapat dikatakan sebagai kondisi penyakit
tanpa gejala atau gejala tidak muncul dipermukaan
atau tidak ada tanda-tanda gejala penyakit.
• Namun demikian penyakit tersebut bisa secara tiba-
tiba, kalau misalnya badan sedang terkena stres atau
capek penyakit itu kemudian muncul kembali atau
kambuh.
• Istilah endemik juga sering digunakan untuk
menggambarkan sebuah kondisi di bidang non
kesehatan, misalnya sektor pertanian, sektor
pertahanan keamanan dan lain-lain.
• Dalam bidang kesehatan istilah endemik
adalah suatu keadaan dimana suatu penyakit
atau bibit penyakit tertentu secara terus
menerus ditemukan dalam suatu wilayah
tertentu, atau dapat juga berarti penyakit
yang umumnya terjadi pada suatu wilayah
yang bersangkutan.
• Kondisi endemik menyimpan suatu potensi
suatu saat bisa eksaserbasi atau meluas
dalam waktu yang singkat dan menmbulkan
kejadian luar biasa atau KLB atau sering pula
disebut dengan wabah.
• Penyebabnya bisa bermacam sebab, antara
lain disebabkan perubahan ekosistem, seperti
kemarau panjang, atau hujan terus menerus
terjadi, banjir dan lain sebagainya.
• Istilah ini pada umumnya juga diperuntukan
juga bagi penyakit yang berhubungan dengan
mahluk hidup seperti bakteri, virus, parasit
malaria, dan kehidupan binatang penular
penyakit.
• Salah satu contoh gambaran wilayah endemik
adalah wilayah Boyolali dan Pasuruan yang
menyimpan potensi ledakan penyakit pes.
• Kasus-kasus penyakit pes di kedua daerah itu
jarang terjadi.
• Menurut catatan kejadian terakhir penyakit pes di
wilayah Pasuruan terjadi pada tahun 1999.
Kejadian tahun 1999 tersebut disebut KLB
penyakit endemik.
• Hingga kini kegiatan surveilan penyakit pes masih
berlangsung secara terus menerus dengan cara
memantau perkembangan faktor risiko agar dapat
diketahui tanda-tanda KLB secara dini, sebagai
indikasi tidakan pencegahan.
• Kunci pencegahan agar penyakit endemik tidak
berkembang jadi KLB terletak pada kegiatan
surveilan.
• Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan
contoh penyakit endemik yang terdapat di
perkotaan di Indonesia. Juga di negara-negara
tetangga (ASEAN).
• Masih banyak penyakit-penyakit endemik di
Indonesia yang memiliki potensi berkembang
menjadi KLB. Misalnya hepatitis A, kolera,
campak, malaria dan sebagainya.
• Tiap wilayah hendaknya melakukan identifikasi
penyakit endemik apa yang ada di wilayahnya
yang meiliki potensi KLB.
• Kemudian melakukan program pemantauan
faktor risiko, termasuk memperhitungksn
faktor musim serta kemungkinan suatu
bencana baik bencana alam maupun bencana
akibat pembangunan dan sebagainya.

• Dalam kaitan dengan penanggulangan


bencana maka penyakit Endemik, perlu di
petakan agar ketika bencana datang maka
selain logistik, juga kasus-kasus yang
diperkirakan terjadi, dapat segara di antisipasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam Pengelolaan Bencana
• Ada dua jenis pengungsian. Pengungsian amat
tergantung dari lama pemulihan.
• Bencana alam pada umumnya berlangsung
relatif singkat, kecuali pascatsunami di Aceh.
• Sedangkan bencana sosial seperti konflik
sosial di Ambon atau Poso, lama sekali bisa
berbulan-bulan .
• Untuk perlu diperhatikan hal-hal seperti
berikut :
Kesehatan Lingkungan Pasca Bencana
• Overcrowding (kepadatan).
• Masalah Kesehatan Lingkungan dalam bencana,
khususnya di tempat pengungsian antara lain adalah
masalah kepadatan di tempat pengungsian.
• Kepadatan pengungsian memang merupakan
masalah pelik. Kepadatan memicu penularan penyakit
utamanya berkenaan dengan penyakit yang dapat
disebarkan melalui saluran pernapasan atau udar di
tenda-tenda pengungsian (Noji, 1997; Wilder Smith,
2005).
• Berbagai penyakit menular dapat berpindah
dari satu orang ke orang lain.
• Kepadatan juga memicu wabah penyakit
seprti infeksi saluran pernapasan, tbc,
pneumonia, campak dan lain-lain.
• Penyakit kulit yang menular berpindah dari
satu pengungsi ke pengungsi lainnya.
• Demikian pula penyakit yang ditularkan oleh
nyamuk seperti malaria dan demam berdarah.
• Masalah lain yang dapat ditimbulkan oleh
tingkat kepdatan pengungsi adalah masalah
keperluan air bersih.
• Harus dipikirkan berapa jumlah MCK yang
diperlukan serta berapa kebutuhan air bersih.
Satu MCK untuk 5 orang sangat ideal. Satu
MCK digunakan untuk 10 orang merupakan
rasio maksimum yang bisa ditoleransi.

Pengelolaan Air Bersih


Bencana identik dengan pengungsian dan
penyediaan air bersih, baik bencana banjir,
gempa bumi maupun kekeringan. Alat-alat
penjernih airapalagi yang menggunakan sistem
Jaringan listrik biasa dipastikan tidak dapat
berfungsi.
• Generator harus mencukupi kalau hendak
digunakan untuk menjernihkan atau
mengangkat air dari sumbernya.
• Diperlukan perencanaan masalah air bersih
ini. Sumber-sumber air minum harus hati-hati
karena bisa tercemar oleh limbah atau pun
sumber air alami seringkali memiliki
kandungan minneral atau logam berat yang
berbahaya.
• Kontaminasi ketika distribusi, pengangkutan,
ember, penampungan dan lain-llain.
• Kualitas air harus terjaga, baik bakteri maupun
bahan kimia.Penyakit yang berhubungan
dengan penyedian air bersih pengungsian
antara lain kolera, dan penyakit infeksi saluran
pencernaan lainnya.
• Penanganan khususnya limbah manusia harus
pula direncanakan. Ide pengelolaan limbah
adalah karena limbah memiliki potensi
sumber penularan penyakit.
• Terutama penyakit-penyakit berkenaan
dengan pencernaan. Penanganan limbah juga
harus memperhatikan atau berkenaan dengan
budaya yakni kebiasan masyarakat.
• UNICEF menyarankan setiap 100 orang ada satu
penampungan limbah kotoran 3-5 meter dengan
kedalaman sekurang-kurangnya 1.5 meter, dengan
memperhatikan jarak dari rumah atau air minum.
• Sedangkan sarana unttuk mandi dan/atau toilet
diharapkan 1 untuk 5 orang, dengan maksimum 1
untuk 10 orang.
• Sarana tersebut harus dikelola agar tidak penuh
dan berceceran keman-mana.
• Kebutuhan air bersih diperkirakan 20 liter/orang
/hari.Sedangkan keperluan sabun untuk mencuci
diri 250 gram/orang/bulan (Noji, 1997).
• Rodent atau tikus biasanya meningkat
populasinya setelah pengungsi bebberapa
lama.

• Tikus memiliki potensi penyebaran


leptospirosis dan penyakit pes, tergantung
endemisitas penyakit diwilayah bencana.

• Untuk mengendalikan gunakan rodenticide


yang slow action. Hati-hati penggunaannya
karena bisa meracuni anak-anak (WHO-
SEARO, 2007).
Penyakit Menular dalam Bencana
• Masalah penyakit menular sering menjadi obyek
berita, dan obyek politisi sebagai bahn
populeritas partai atau dirinya.
• Perasaan-perasaan yang tent saja yang dialami
oleh pengungsi seperti rasa yang tidak enak
badan, sedikit demam, batuk pilek dan lain-lain
pasti dialami.
• Hal ini seringkali disalah tafsirkan. Untuk itu
surveilain sangat penting untuk meluruskan
berita ataupun pengelolaan kesehatan
pengungsi.
• Berbagai jenis penyakit menular misalnya
penyakit yang disebabkan oleh makanan atau
lazim disebut sebagai foodborne disease, dan
penyakit-penyakit yng ditularkan oleh vektor
atau vektorborne disease.
• Penyakit –penyakit yang ditularkan melalui
udara pernapasan lazim penyerang saluran
napas hingga paru-paru.
• Beberapa penyakit disebabkan oleh virus
yang sangat cepat menular dipengungsian
seperti misalnya campak, mumps atau
gondongan, polio, dan lain-lain sebagainya.
• Penyakit yang disebabkan oleh bakteri misalnya
mulai dari TBC, hingga kolera.
• Komplikasi atau perkembangan penyakit lebih
lanjut adalah penyakit seperti maningitis. Jenis
penyakit berbeda disuatu tempat pengungsian
dengan tempat pengungsian lain.
• Yang terpenting adalah penyakit endemik apa
yang terdapat disekitar wilayah pengungsian.
• Sebagian penyakit menular dapat dicegah
dengan imunisasi, sebagian hanya dapat dicegah
dengan perbaikan sanitasi dasar seperti
penyediaan air bersih, sebagian lagi dengan
pengendalian nyamuk penular penyakit.
Campak
• Wabah penyakit campak dipengungsian , untuk itu
di perlukan program imunisasi campak dengan
segera.
• Seperti diketahui penyakit campak atau measles
menular melalui udara pernapasan.
• Campak adalah penyakit menular yang paling
sering diderita pengungsi khususnya anak-anak.
• Case fatality rate biasanya mencapai 33 %.
Sedangkan dalam kondisi normal angka kematian
1 %.
• Di tempat penampungan pengungsi di Sudan pada
tahun 1985, campak merupakan penyebab
kematian pada anak-anak pengungsi pada anak-
anak pengungsi anak-anak terbesar yakni 53 %.
• Namun ketika bencana tsunami di NAD tahun 2004,
tidak ada satupun kasus campak muncul.
• Hal ini di karenakan kesigapan Dirjen P2MPL
Departemen Kesehatan yang langsung menerjunkan
Tim Imunisasi campak dalam hari-hari pertama
dalam pengungsian, dibantu oleh petugas bantuan
internasinal (Wilder Smith, 2005). Penanggulangan
campak dalam bencana tsunami NAD merupakan
prestasi Nasional bahkan Internasional.
Infeksi Saluran Napas
• Infeksi Saluran Pernapasan baik yang akut maupun
kronik merupakan penyakit penting dalam
pengungsian.
• Biasanya penyakit saluran pernapasan merupakan
penyakit urutan pertama baik mulai dari batuk pilek
hingga radang seluruh paru-paru.
• Kondisi pengungsian, udara pengap, sirkulasi udara
yang kurang, stres dan kepadatan merupakan faktor-
faktor yang berperan dalma timbulnya gangguan
pernapasan dalam pengungsian. Kondisi giizi para
pengungsi juga memberikan kontribusi terhadap
merebaknya penyakit saluran pernapasan.
• Penyakit infeksi saluran pernapasan termasuk
di dalamnya pneumonia, sering kali tidak
berdiri sendiri namun merupakan akibat
samping dari kejadian penyakit campak dan
morbilli.
• Oleh sebab itu, salah satu vaksin esensial yang
harus disediakan dalam menghadapi
pengungsian adalah pemberian vaksin
campak, terutama pada daerah-daerah yang
memiliki track record cakupan yang kurang
baik.
Imunisasi
• Imunisasi sangat penting untuk mencegah
penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi,
terutama campak dan kolera, thypoid dan
penyakit lain yang bisa dicegah dengan
imunisasi dalam situasi pengungsian.
• Di anntara penyakit, imunisasi campak
adalah suatu keharusan . Oleh sebab itu,
vaksin campak harus disiapkan dalam setiap
contingency plan.
Vector dan Foodborne Disease
• Vector Borne adalah penyakit-penyakit yang
ditularkan melalui nyamuk dan foodborne
disease adalah penyakit yang berhubungan
dengan sanitasi makanan dan ketersediaan air.
• Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk
misalnya Demam Berdarah atau Malaria.
• Penyakit Demam Berdarah ditularkan oleh
nyamuk Aedes agypti yang memiliki perindukan
di tempat-tempat penampungan air terutama air
jernih seperti air minum.
• Penyakit lain adalah penyakit saluran pencernaan
yang berkenaan dengan sanitasi makanan maupun
kesediaan air bersih di tempat pengungsian, mulai
dari diare atau mentcret biasa hingga kolera.
• Dari berbagai studi diketahui bahwa bahwa 40 %
kematian disebabkan diare sedangkan pada balita
pengungsian diare merupakan penyebab kematian
hingga 80 %.
• Sebagian air tercemar ketika transportasi atau
antrian pengambilan air bersih maupun pada
penampungan.
• Data dari Rwanda dan di Goma Congo, pada tahun
1994, 85 % dari 50.000 kematian bulan pertama
• Disebab kan oleh diare. Dari jumlah tersebut
60 % adalah kolera dan sisanya 40 %
disebabkan disentri shigela.
• Gambaran tersebut tentu tidak selamanya
berlaku atau terjadi ditempat pengungsian
lain.
• Namun demikian masalah tempat
penampungan air, penyediaan air bersih, dan
limbah serta pencegahan penyakit menular
adalah hal-hal yang harus diantisipasi.
• Untuk disiapkan pada fase paradness dan
monitoring pada waktu pelaksanaannya.
• WHO (2006) menerbitkan Pedoman Pengendalian
Serangga dalaam pengungsian, termasuk
pengendalian nyamuk. Dalam situasi emergensi
penggunaan bahan insektisida dianjurkan.
• Penggunaannya harus hati-hati dan kaleng bekas
jangan sampai menimbulkan masalah kesehatan
masyarakat lainnya seperti menjadi tempat
perindukan nyamuk yang baru.
• Dalam penggunaan insektisida , Kesehatan dan
Keselamatan petugas juga harus diperhatikan.
• Usahakan penggunaan insektisida secara seragam.
• Pilihan kedua adalah penggunaan bednet atau
kelambu. ITN atau Insecticide Treated Mosquitoes
Net (ITNs) dianjurkan tapi sebaik menggunakan
yang Long Lesting Net (LLIN).
• Indoor Spraying atau residual praying juga
dianjurkan untuk mengurangi gangguan tidur para
pengungsi.
• Tujuannya membantu pula kenyamanan para
pengungsi. Pengunaan insektisida juga dianjurkan .
Periksa tempat-tempat perindukan di sekitar
pengungsian kurang dari 100 meteruntuk Aedes
agypti dan 500 meter atau kurang untuk
Anopheles.
Malaria dan Penyakit Menular
lainnya.
• Achmadi (2003) Bruce and Chwatt (1985), Wilder Smith
(2005) menganjurkan untuk memperhatikan masalah
malaria, mengingat bahwa malaria merupakan
ancaman di setiap kejadian pengungsian khususnya
Indonesia.
• Hal ini disebabkan bahwa penyakit ini nyaris endemik
diseluruh wialyah Indonesia.
• Setiap Dinas Kesehatan Kabupaten hendak membuat
peta malaria, mulai dari jenis nyamuk yang ada
diwilayahnya, peta wilayah-wilayah yang ada, tempat
perindukan dan variabel lain yang menggambarkan
dinamika transmisi penyakit.
• Hal ini dilakukan ketika fase pra bencana atau
preparadness dilakukan.
• Ketika bencana datang data informasi
tersebut penting untuk menangani pengungsi
yang ada diwilayahnya.

Penyakit.
• Penyakit menular lain masih banyak yang
harus diperhatikan diberbagai wilayah
Indonesia, baik yang sifatnya spesifik lokal
maupun yang universal.
• Dalam menghadapi bencana pemetaan tiap
penyakit berkenaan dengan distribusi dan
berbagai faktor risikonya, hendaknya dipetakan
di setiap wilayah kabupaten atau pemerintah
kota.

Mental Health.
• Masalah penyakit atau kondisi mental
pengungsian adalah hal-hal yang berkenaan
dengan konndisi psikososial.
• Setiap orang tidak sama dalam menghadapi
situasi yang menakutkan dan mengerikan.
• Pengalaman hidup menghadapi dan
mengalami bencana sering kali merupakan
pemicu dari kondisi prabencana seseorang.
• Oleh sebab itu, contingency plan utnuk
mengatasi masalah ini. Bencana tsunami di
NAD tahun2004 mengindikasikan bahwa
penanganan masalah psikososial harus
menjadi salah satu perhatian utama.
PENATALAKSANAN MAYAT KORBAN
BENCANA
• Salah satu pertanyaan penting dalam
menghadapi situasi bencana adalah apakah
mayat merupakan sumber penyakit menular ?
• Jawabannya tidak atau bukan.
• Meski pembusukan mayat menimbulkan bau
yang tidak sedap, namun berbagai
kepustakaan menyebutkan bahwa mayat
tidak berbahaya sebagai penyebab sumber
penyakit menular.
• Hampir dapat dipastikan bahwa setiap kejadian
bencana alam, pasti terdapat korban kematian, dan
bagi penolong maupun orang –orang yang terlibat
dalam pertolongan selalu merasa ketakutan atau
menganggap bahwa mayat-mayat adalah sumber
penyakit.
• Hal itu tidak benar dan harus diluruskan . Anggapan
semacam itu juga dipicu oleh persepsi media yang
menganggapnya demikian.
• Berbagai media atau desas desus masyarakat
membesarkan anggapan bahwa mayat-mayat ,
terlebih adalah mayat yang sudah berapa hari
terlantar dianggap sebagai sumber penyakit
menular.
• Oleh karena itu mereka cenderung beranggapan
langsung dikubur tanpa diindentifikasi terlebih
dahulu, terlepas dari kepercayaan atau agama
masing-masing anggota masyarakat.
• Identifikasi menjadi hal penting, yang harus
dilaksanakan sebelum “pulasara” atau dikelola
secara adat dan/atau agama yang dianut
masyarakat.
• Baik ketika kejadian pascagempa disusul tsunami
di Aceh, maupun pasca gempa di Nicaragua, Turki
dan lain-lain, membuktikan bahwa kita tidak perlu
takut terhadap ancaman penularan penyakit dari
mayat korban bencana.
• Tidak ada bukti bahwa mayat korban bencana
yang bergelimpangan mampu menularkan
atau berhubungan dengan penyakit-penyakit
seperti kolera, tifoid ataupun plague (Kalis,
2006; WHO-PAHO, 2005).
• Tidak adanya artikel atau pedoman
penatalaksanaan mayat pascabencana,
menyususl tsunami Aceh , membuktikan
bahwa Tat a Laksana Mayat Korban Bencana
amat diperlukan oleh semua orang terutama
pemerintah yang harus menangani berbagai
persoalan bencana.
• Deperlukan standar penatalaksanaan mayat
pascabencana khusunya bencana alam. Tatacara
penatalaksanaan ataupun panduan tata cara
bagaimana mengidentifikasi mayat, seperti catatan
medik, tanda-tanda khas keluarga, dan hal ini harus
disebar luaskan.
• Ada baiknya juga pemerintah lokal kabupaten
harus memiliki catatan baik setiap warganya. Hal
ini harus disiapkan oleh Pemda pada fase
preparadness.
• Catatan yang baik untuk warga beserta identitas
tempat tinggal dan lainsebgainya sangat baik.
• Hal ini sangat bermanfaat pada waktu terjadinya
bencana yang meneimpa warganya.
• Diperlukan Pedoman Penatalaksanaan Mayat,
serta biar bagaimanapun mayat harus dihormati.
• Teernyata jika tidak memiliki identitas atau tidak
melakukan identifikasi mayat terlebih dahulu,
terutama kebiasaan langsung dikubur sebelum
diidentifikasi maka banyak kerugiannya.
• Kerugian tersebut antara lain, bagi anggota
keluarga korban yang tidak memiliki kejelasan
maka terbebani pencarian sebanjang masa.
• Bagi seseorang yang terikat pernikahan maka
sertifikat pernikahan atau rencana perkawinan
• lagi akan tergannggu. Sertifikat kematian juga amat
diperlukan untuk catatan ahli waris, asuransi dan lain
sebgainya.
• Kalau itu kebetulan wisatawan atau warga luar negeri,
tanpaknya merupakan keharusan untuk diidentifikasi
terlebih dahulu.
• Berbagai masalah sehubungan dengan
penatalaksanaan mayat pascabencana bukan hanya
terjadi di Indonesia.
• Sebagai contoh misalnya menyusul bancir di Haiti dan
Republik Dominika media masa disana memberitakan
pendapat pejabat lokal yang menyatakan bahwa mayat
korban harus dimakamkan untk mencegah penyakit
menular, perintah ini diberikan tanpa melakukan
• Identifikasi terlebih dahulu. Pada akhirnya
timbul masalah dikemudian hari, terutama
sehubungan dengan turisme.
• Di India juga seorang pejabat juga menyatakan
mayat yang mulai membusuk merupakan
media pertumbuhan bakteri dan sumber
penyakit dan dipicu oleh mass media.
• Di NAD seperti kita ingat kembali mayat-mayat
korban sebagian langsung dimakamkan tanpa
identifikasi terlebih dahulu.
Mengelola Bencana Terorisme
• Terorisme adalah malapetakaperadaban. Terorisme
adalah bencana. Meskipun terorisme cenderung
membunuh manusia dewasa sebagai target,
beberapa data korban terorisme dunia
menunjukan sejumlah anak menjadi korban.
• Bom Ammonium Nitrat yang menggunakan sebuah
truk di Oklahoma City pada tanggal 19 April 1995,
sejumlah 19 dari 168 atau 11,3 % yang meninggal
adalah anak-anak. Demikian pula serangn Chechen
di Beslan Rusia pada tahun 2004, setengah dari 350
korbanadalah anak-anak (Brandenburg, 2006)
• Terorisme di Indonesia pada abat ke 21 merupakan
ancaman kesehatan termasuk kesehatan masyarakat
(Levy dan Sidel, 2009).
• Serentetan telah mengguncang Denpasar sebanyak
dua kali, sedangkan di Jakarta sudah beberapa kali.
• Teror adalah cara-cara utnuk menimbulkan ketakutan,
kegentaran orang lain atau pihak kelompok yang
dianggap lawan, atau bertujuan menimbulkan
keresahan masyarakat untuk mendapatkan
keuntungan tertentu.
• Cara untuk menimbulkan ketakutan atau kengerian
agar mengikuti kehendaknya, menggunakan berbagai
ragam cara namun terutama menggunakan bahan
kimia yang beracun, bahan peledak atau bahan
kuman.
• Di Amarika Serikat bahwa terorisme juga akan
mengarah kepada target pertanian, termasuk
produknya seperti daging.
• Terorisme pertanian di artikan sebagai as the
deliberate intruduction disese agent, either
against livestock or into teh general food chainn,
for purpose undermining national stability or
engineering public fear.
• Teror dapat dilakukan baik pada sumbernya
ataupun pada proses pertanian dan produksinya
misal pencampuran bahan beracun atau bakteri
pada daging maupun pada sistem distribusinya.
• Apabila yang digunakan adalah kuman atau
mikroorganisme, maka akan menimbulkan wabah
penyakit menular,
• Sedangkan kalau menggunakan bahan kimia
misalnya gassarin seperti yang digunakan di
jaringan kereta api bawah tanah di Tokyo pada
tahun1995 maka akan menimbulkan keracunan
bagi orang-orang yang tidak berdosa atau tidak
mengerti apa-apa.
• Tindakan terorisme dapat dikelompokkan ke
dalam beberapa kelompok tergantung kepada
cara-cara yang digunakan.
• Terorisme juga dapat menimbulkan dampak
kesehatan lingkungan seperti ledakan bangunan
tertentu dapat menimbulkan masalah sekunder
• Seperti bahan radiasi dan bahan kimiatoksik.
Ledakan di World Trade CentreNew York dengan
runtuhnya bangunan dapat menimbulkan masalah
asbestos, lead, partikulate matter, polychlorinated
biphenyls dan bahan-bahan lain ditempat
reruntuhan bangunan ( Levy dan Sidel, 2008).

Tindakan terorisme konvensional.


Serangan teror atau Terror attack yang konvensinal
umumnya menggunakan bahan peledak, termasuk
bom untuk langsung membunuh atau meruntukan
bangunan dan tentu saja menimbulkan korban.
• Peristiwa penembakan dengan sejata mesin
juga termasuk katagori ini. Dalam terorisme ini
maka diperkirakan akan timbul korban luka-
luka , luka tembk patah tulang fraktur,
multiinjuries atau luka-luka berbagai macam
jenis.
• Untuk itu, perlu disusun prosedurtetap
tentang car-cara penanganan korban
termasuk didalamnya.
• Population Triage dan kesiapsiagaan darurat
medik.
• Dalam setiap penyusunan rencana
penanggulangan, hendaknya memperhatikan
korbananak-anak.
• Prosudur korban anak-anak harus ada, termasuk di
dalamnya tentang berbagai prosedur
farmakodinamik, dosis obat karena anak-anak
berbeda dengan dewasa.
• Dokter spesialis trauma anak-anak diperlukan
dalam setiap penangann korban bencana.
• Tiap rumah sakit sebaiknya mempersiapkan
penanganan anak-anak sekitar 50 hingga 100
pasien. Rumah Sakit yang ditunjuk hendaknya RS
disekitar kepadatan penduduk atau mudah
terjangkau dengan transportasi.
Senjata Pemusnah Massal
• Termasuk katagori ini adalah ledakan nuklir.
Mungkin di Indonesia teknologi yang dikuasai
teroris asli Indonesia belum sampai kesana.
• Namun masih demikian mengingat zaman
globalisasi, ada teroris asing yang melakukan
penyusupan ke Indonesia tetap harus diantisipasi.
• Ledakan bahan kimia juga dapat memberikan
dampak masal. Oleh sebab itu, harus pula
disiapkan contingency plan untuk senjata pemusna
masal jenis ini.
Bioterorisme
• Penggunaankuman sudah dibuktikan di
Washington pada tahun 2001. Kuman antrax
telah dikirim melalui paket dan menimbulkan
korban hingga ratusan orang.
• Untuk itu setiap Rumah Sakit di kota-kota
besar harus dilengkapi dengan penanganan
korban teror kuman.
Teror bahan Kimia
• Teror bahan kimia juga sering dilakukan. Salah satu
diantaranyaadalah gas sarin ditebarkan di subway
kereta api bawah tanah di Tokyo.
• Kita ketahui 5000 orang luka-luka mati 12 orang.
Mengingat dosis anak-anak akan berbeda dengan
dewasa maka anak-anak rawan teror gas kimia serta
bagaimana penanganannya harus disiapkan.
• Pedoman Tat Laksana Penanganan anak-anak harus
disiapkan secara nasional oleh berbagai
perkumpulan organisasi profesi.
Estimasi Sasaran
• Menduga sasaran atau keinginan para teroris sangat
sulit. Namun demikian, kemampuan prediktif sasaran
teror perlu dikembangkan, sebgaimana analisis
probabilitas yang digunakan oleh berbagai cabang
ilmudi perguruan tinggi ( Gard et al., 2007).
• Dari berbagai data empirik misalnya faktor
kependudukan merupakan suatu hal yang harus di
analisis.
• Untuk melakukan contingency plan, Amerika Serikat
telah mengembangkan analisis prediksi daerah-daerah
yang padat penduduk.
• Tempat-tempat pusat keramaian, pada umumnya
merupakan sasaran, karena tujuan teroris adalah
menimbulkan ketakutan dan kegentaran
dikalangan masyarakat.
• Kelompok sasaran lain adalah simbol-simbol
tertentu, simbol negar, simbol kekuasaan atau
simbol keagamaan.
• Demikian pula sebuah jaringan, seprti jaringan
listrik, jaringan air minum maupun sistem
jaringan distribusi pertanian seperti daging
merupakan kesuakaan teroris berikutnya.
• Alat tranportasi terutama pesawat terbang telah
lama menjadi sasaran teroris.
• Estimasi penting untuk preparadness dan
pencegahan penting dikembangkan di Indonesia.
• Para ahli penanganan teror perlu melibatkan para
ilmuan, baik ketika teror belum berlangsung, ketika
teror berlangsung maupun dampak pascateror.
• Untuk menghadapi teror yang menggunakan bahan
kimia dapat menggunakan Tehnik Analisis Risiko
Bahan berbahaya.Tehnik ini sering digunakan
sebagai analisi prediksi kejadian kecelakaan.
• Analisis kejadian kecelakaan yang umumny
menjadi sasaran Analalis Risiko, diganti
kemungkinan (probability) seseorang teroris
melampiaskan hasratnya.Meskipun motif teroris
sulit diduga, namun kemampuan analisis
prediktif semacam ini harus dikembangkan
menjadi semacam knowledge atau keilmuan.
• Sebagai contoh misalnya , prediksi bahwa teroris
lebih suka menyerang sesuatu yang berskala
besar, bersifat umum melibatkan banyak orang,
fasilitas-fasilitas strategis, melibatkan emosi
banyak orang, fasilitas-fasilitas strategis,
melibatkan emosi orang banyak dan lain-lain.
• Ada kecendrungan bahwa penggunaan kuman atau
virus akan lebih populer mengingat telror
menggunakan bahan kimia memerlukan volume
banyak, sedangkan bakteri apalagi virus sedikit
saja sudah berlipat ganda dengan sendirinya dan
seterusnya.

Penanggulan Kesehatan Terhadap Teror


Untuk melakukan kesiap-siagaan tidak perlu
bentuk-bentuk pelayanan seperti siaga 1 atau
siaga 2.
Secara umum pengelolaan teroris dalam bidang
Kesehatan Masyarakat terbagi ke dalam
Dua bagian, yakni a. Pencegahan,
b. Penanggulangan korban.
• Untuk pencegahan mengingat bahwa maslah
teroris adalah bidang garapan banyak sektor,
maka kegiatan terpulang kepada sektor masing-
masing.
• Sedangkan untuk penanggulangan korban maka
pelayanan darurat medik merupakan tanggung
jawab sektor kesehatan, khususnya wilayah-
wilayah strategis seprti yang telah di
kemukakan di atas.
• Untuk pencegahan Spradley et.al., 2006
membuat rancangankhususnya kepada tempat
yang kemungkinan menjadi sasaran potensial
sebagai berikut :
• a. Detterence (mencegah) yang bertujuaan
mengurangi minat teroris misalnya dengan
melakukan penjagaan ketat, memasang kawat
berlapis-lapis.
• b. Detection (diteksi). Hendakny adiciptakan
mekanisme untuk menditeksi bahan
kontaminan dengan segera, pengembangan
sistem diteksi dini dan lain sebagainya.
• Mengingat bahwa untk diteksidini
memerlukan upaya laboratorium canggih,
maka sistem rujukan laboratorium atau
jaringan kerja sama perlu dibangun.
• c.Response cepat, perlu disiapkan bahan maupun
tehnik untuk menetralisir bahan kimia, mematikan
kuman dengan desinfektan, menutup saluran dan
lain-lain.
• Sedangkan untuk penanggulangan korban,
prinsipnya harusdisiapkan melalui berbagai rumah
sakityang ditunjuk.
• Rumah sakit ini dilengkapi dengan unit pelayanan
darurat medik, baik ditujukan terhadap penyakit
infeksi seperti virus maupun bahan kimia.
• Korban ledakan memerlukan tenaga ahli bedah,
namun untuk penyakit infeksi maupun bahan kimia
• memerlukan tenaga yang terlatih.
• Penunjukan tim serta mekanisme untuk
menyiapkan pelayanan harus disiapkan atau di
latih terlebih dahulu.
• Pelayanan darurat medik untuk menhadapi
terorisme harus siap 24 jam.
• Pedoman-pedoman penanganan kasu bagi
kelompok vulnerable aau rentan, seperti
halnya pedoman tata laksana korban anak-
anak atau orang jompo perlu di susun.
Aturan Presentasi
1. Kelompok 1 & 2 Mempresentasi ke 1 ssd UTS
Kelompok 3 & 4 Mempresentasi ke 2 ssd UTS
Kelompok 5 & 6 Mempresentasi ke 3 ssd UTS
2. Masing-masing kelompok kelompok membuat power point yang akan
dipresentasikan di kirim seminggu sebelum tanggal presentasi ke E-mail :
rauf.sue@gmail.com untuk di nilai.
3. Syarat power point harus menyeluruh/bukan di potong-potong dan inti materi
4. Pok. 1 (1-52 h): Pok.2 (53-104): Pok 3(105-156): Pok 4 (157-208): Pok 5 (209-260):
Pok 6 (216-311).
5. Halaman materi terdiri dari A= 171 hal dan B = 140 hal, Jadi jumlah seluruhnya
(171+140 = 311 halaman).
6. Bagi kelompok yang mendapat nilai power point dan presentasi nilai A bagi
anggota yang hadir tidak perlu ujian UAS