Anda di halaman 1dari 18

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT

DARURAT TERPADU(SPGDT)
BY ABDUL KADIR HASAN, SST, M.Kes
Pengertian
• SPGDT adalah suatu alur penanganan
penderita gawat darurat yang
berkesinambung dan terintegrasi/ terpadu
dalam suatu sistem dengan melibatkan
seluruh komponen dan sumberdaya, sehingga
penderita mendapatkan pertolongan secara
cepat dan tepat dari mulai tempat kejadian, di
rumah sakit dan setelah keluar dari rumah
sakit.
Fase pertolongan
1. Fase pra RS
2. Fase RS
3. Fase pasca RS
1. Fase Pra RS
• Fase ini adalah periode pertolongan di tempat
kejadian sesaat setelah kejadian sampai
dengan tiba di RS.
• Keberhasilan pertolongan penderita gawat
darurat pada fase ini ditentukan oleh
beberapa hal, sebagai berikut:
a. Kecepatan dan ketepatan dalam menemukan
melakukan pertolongan sesaat setelah
kejadian.
b. Kemudahan akses meminta pertolongan ke
pusat komunikasi gawat darurat.
c.Kecepatan response time ambulance gawat
darurat ke lokasi kejadian dan meneruskan
pertolongan.
d. Ketepatan dalam memilih rumah sakit
rujukan.
• Keberhasilan pertolongan pada fase ini akan
menentukan keberhasihan pertolongan pada
fase selanjutnya.
Sistem Pra RS
• Kejadian kasus kegawatdaruratan sehari2
paling sering ditemukan, yang perlu dilakukan
adalah:
a. Pembinaan masyarakat melalui pelatihan
peningkatan kemampuan
b. Pembentukan elemen2 organisasi yang
pengorganisasiannya dibawah Pemda, spt
pembentukan Public Safety Center, Poskesdes,
Lembaga Swadaya masyarakat.
c. Pembentukan unit khusus Pra RS yg
organisasinya berada dijajaran kesehatan
seperti Brigade siaga Bencana (BSB)
d. Pelayanan ambulans pada tahap ini menjadi
hal yang sangat penting sehingga harus ada
standarisasi ambulans dalam menangani
keadaan gawat darurat.
e. Membangun jejaring kerja dan sistem
komunikasi.
• Penanggulangan kegawatdaruratan pada bencana
tergantung pada baik atau buruknya
penanggulangan kegawat daruratan sehari2,
setelah itu perlu dilakukan adalah:
1. Sistem koordinasi berubah jadi komando
2. Eskalasi dan mobilisasi sumber daya manusia
(sdm, fasilitas kesehatan dan sdm lainnya)
3. Deiperlukan protap penanggulangan bencana
yang menjadi petunjuk pelaksanaan/petunjuk
teknis penanggulangan bencana.
4. Sistematika pelaporan, monitoring dan evaluasi
• Pada fase acute response thd bencana maka yang
dilakukan adalah:
a. Acute ememrgency response
• Melaksanakan tindakan rescue, triage,
resusitasi, stabilisasi, diagnosis, dan terafi
definitif.
b. Emergency relief
• Menyediakan makan, minum, tenda, jamban,
dan sarana lainnyauntuk korban yang sehat
c. Emergency rehabilitation
• Perbaikan infrastruktur: jalan, jembatan, listrik,
telepon, air bersih, dan sarana dasar lain untuk
kelancaran pertolongan.
2. Fase RS
• Fase ini adalah periode pertolongan dari mulai
korban/pasien masuk ke UGD kemudian
melakukan rujukan inter RS dan antar RS.
• Berikut ini kategorisasi UGD RS sesuai dengan
kemampuan personilnya:
a. UGD Level I : Terdapat 4 dokter spesialis besar
yang berada di tempat 24 jam dan langsung
melakukan tindakan pertolongan ketika
pendeita masuk UGD
b. UGD level II: Hanya terdapat dokter jaga
(dokter umum) dan dokter spesialisnya tiba
bersamaan dengan kedangan pasien.
c. UGD level III: hanya terdapat dokter jaga
(dokter umum) sedangkan dokter spesialisnya
datang 30 menit setelah di pnggil.
d. UGD level IV: hanya terdapat dokter jaga
(dokter umum), tidak terdapat dokter spesialis
yang menangani pasien.
3. Fase Pasca RS
• Fase ini adalah periode dimana korban/pasien
keluar dari RS baik smbuh, cacat atau harus
menjalani perawatan lanjutan di rumah atau
melakukan kontrol ke RS.
• Berikut ini gambaran pelaksanaan SPGDT:
1. Ketika terjadi kecelakaan atau kegawatdaruratan
medis maka penderita akan terlebih dahulu
ditemukan oleh orang awam yang ada di
sekitarnya.
2. Orang awam bertugas untuk mengamankan
terlebih dahulu diri sendiri, lingkungan dan
penderita.
3. Setelah mengamankan lingkungan dan korban,
orang yang p[ertama kali menemukan penderita
harus mengaktifkan SPGDT dengan cara
meminta bantuan kepada pusat komunikasi
gawat darurat (dispatcher).
1. Dispatcher yang menerima panggilan harus
melakukan bimbingan pertolongan awal
kepada penolong pertama.
2. Petugas yang datang kelokasi bertugas untuk
melanjutkan pertolongan sebelumnya.
6. Petugas ambulance gawat darurat bertugas
untuk stabilisasi penderita ditempat kejadian
dan membawa penderita ke RS rujukan yang
sudah dihubungi dan ditunjuk Dispatcher
7.Sesampainya di RS rujukan petugas ambulance
dan petugas UGD melakuakn serah terima
penderita.
8.Petugas UGD melanjutkan tindakan
sebelumnya, melakukan tindakan invasif dan
pemeriksaan penunjang yang diperlukan.
9. Apabila akan melakukan rujukan ke ars lain
maka petugas UGD harus menghubungi
Dispatcher lagi untuk mencari RS rujukan yang
tepat
10. Penderita yang telah selesai mendapat
perawatan di RS pulang kerumanya dengan
sehat atau memerlukan perawatan
jalan/kontrol.
Orang awam (first responder)
• Orang awam biasa
Guru2
Pengemudi kendaraan bermotor
Ibu2 Rumah tangga
Petugas hotel, restoran, dll
Pelajar
• Orang awam khusus
Polisi
Petugas DAMKAR
Satpam/Hansip
Petugas DLLAJR
Petugas SAR
Pramuka/PMR