Anda di halaman 1dari 14

Gambut

Fajar k. Rohmala
2014-69-004
Pengertian Gambut
• Gambut (peat) merupakan akumulasi tumbuhan yang telah
membusuk.
• Gambut diartikan sebagai material atau bahan organik yang
tertimbun secara alami dalam keadaan basah berlebihan, bersifat
tidak mampat atau hanya sedikit mengalami perombakan. Gambut
terbentuk oleh lingkungan yang khas, yaitu rawa atau suasana
genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun.
• Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan sejumlah 4
trilyun m³, yang menutupi wilayah sebesar kurang-lebih 3 juta km²
atau sekitar 2% luas daratan di dunia, dan mengandung potensi
energi kira-kira 8 miliar terajoule.
Syarat Gambut
• Merupakan sisa timbunan tumbuhan yang telah mati dan diuraikan
oleh bakteri anaerobic dan aerobic atau zat organik

• Di lingkungan pengendapannya gambut ini selalu dalam keadaan


jenuh air (lebih dari 90%).

• Zat organik pembentuk gambut sama dengan tumbuhan dalam


perbandingan yang berlainan sesuai dengan tingkat bitumen (wak
atau resin), humus dan lain-lain. Misalnya cellulose pada tingkat
pembusukan dini (H1-H2) sebanyak 15-20%, tetapi pada tingkat
pembusukan lanjut (H9-H10) hamper tidak ditemukan.
• Unsur-unsur pembentuk gambut sebagian besar terdiri dari karbon
(C), hydrogen (H), nitrogen (N) dan oksigen (O). Selain unsure utama
terdapat juga unsure lain al, Si, S, P, Ca dll dalam bentuk lain terikat,
tingkat pembusukan pada gambut akan menaikan kadar karbon (C)
dan menurunkan oksigen (O).
• Berdasarkan lingkungan tumbuh dan pengendapannya gambut di
Indonesia dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
o Gambut ombrogenus yang kandungan airnya hanya berasal dari air
hujan, gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan
dimana tumbuhan pembentuk yang semasa hidupnya hanya tumbuh
dari air hujan, sehingga kadar abunya adalah asli (inherent) dari
tumbuhan itu sendiri.
o Gambut topogenus yang kandungan airnya berasal dari air permukaan.

Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa

hidupnya tumbuh dari pengaruh air permukaan tanah, sehingga kadar

abunya dipengaruhi oleh elemen yang terbawa oleh air permukaan

tersebut.

• Kedua jenis gambut tersebut pada hakikatnya secara megaskropis

agak sukar didefinisikan secara pasti karena kompleknya tahapan

proses pembusukan.Komposisi gambut menentukan mutu dan

kegunaannya yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti

kandungan zat prganik, abu, bulk density, kandungan kayu, dll.


Pembentukkan Gambut
• Pembentukan gambut merupakan tahap awal terbentuknya batu
bara. Gambut terbentuk di lahan basah yang disebut mire.
Pembentukan mire dan karakteristik gambut yang dihasilkan
bergantung pada beberapa faktor, yaitu evolusi tumbuhan, iklim,
serta paleogeografi dan struktur geologi daerah. Endapan gambut
yang tebal dapat terbentuk apabila (1) muka air naik secara
perlahan-lahan sehingga muka air tanah konstan mengikuti
permukaan endapan gambut, (2) mire terlindung dari
penggenangan (banjir) oleh air sungai maupun air laut, dan (3) tidak
ada interupsi oleh endapan sungai.
• Berdasarkan lingkungan pengendapannya, mire dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu paralic mire dan limnic mire. Mire disebut sebagai
paralic apabila terhubung dengan laut atau daerah pesisir, misalnya
laguna, estuarin, delta, dan teluk. Apabila terhubung dengan air
tawar, mire disebut limnic, misalnya danau dan rawa.
• Secara umum, mire dapat dibedakan menjadi (1) topogenous mire
apabila pembentukan gambut terjadi pada suatu level air yang
tinggi dan (2) ombrogenous mire (raised bog) apabila ketinggian air
berada di bawah permukaan gambut dan gambut memperoleh air
terutama dari air hujan. Gambar di bawah menunjukkan proses
pembentukan raised bog.
Daerah Penyebaran Gambut
• Jumlah areal gambut didunia diperkirakan 420 juta hectare atau mungkin
lebih dari 500 juta hectare.

• Endapan gambut terdapat diseluruh dunia yang memenuhi syarat-syarat


yang memungkinkan pembentukan beriklim dingin dan sedang serta
mempunyai sifat presipitasi yang tinggi dan evaporasi yang rendah
(Kalmari, 1982 dalam Endang Suarka 1988).

• Supraptohardjo & Driessen (1976 dalam Endang Suarka 1988)


menyebutkan bahwa dalam daerah hutan lebat dengan curah hujan tinggi
dan pengaruh air tanah kurang akan membentuk gambut ombrogen,
sedangkan gambut topogen pembentukannya dipengaruhi air tanah.
• Indonesia diperkirakan mempunyai cadangan gambut seluas 17 juta
Ha.2.2 Proses pembentukan Gambut secara umum lazimnya di
dunia, disebut sebagai gambut apabila kandungan bahan organik
dalam tanah melebihi 30%; akan tetapi hutan-hutan rawa
gambut di Indonesia umumnya mempunyai kandungan melebihi
65% dan kedalamannya melebihi dari 50cm. Tanah dengan
kandungan bahan organik antara 35–65% juga biasa disebut muck.

• Pertambahan lapisan-lapisan gambut dan derajat pembusukan


(humifikasi) terutama bergantung pada komposisi gambut dan
intensitas penggenangan.
• Gambut yang terbentuk pada kondisi yang teramat basah akan kurang
terdekomposisi, dan dengan demikian akumulasinya tergolong cepat,
dibandingkan dengan gambut yang terbentuk di lahan-lahan yang lebih
kering

• Pada kondisi yang tepat, gambut juga merupakan tahap awal


pembentukan batubara. Gambut bog yang terkini, terbentuk di
wilayah lintang tinggi pada akhir Zaman Es terakhir, sekitar 9.000 tahun
yang silam. Gambut ini masih terus bertambah ketebalannya dengan laju
sekitar beberapa milimeter setahun. Namun gambut dunia diyakini mulai
terbentuk tak kurang dari 360 juta tahun silam; dan kini menyimpan
sekitar 550 Gt karbon.
Manfaat Gambut
• Merupakan tahap awal pembentukkan
batubara
• Para klimatolog menggunakan gambut sebagai
indikator perubahan iklim pada masa lampau
• Analisis terhadap komposisi gambut, terutama
tipe dan jumlah penyusun bahan organiknya,
para ahli arkeologi dapat merekonstruksi
gambaran ekologi pada masa purba
Terima Kasih